
Hyun-ri terlalu fokus dan larut akan pikiran yang berkecamuk karena sorot mata sedih dan kecewa dari Hwan-ki. Ia bahkan lupa jika ia datang kepesta bersama Seok Gwan.
"Kenapa kau diam disini, anak kucing?" tanya Seo Yoon yang mendatangi Hyun-ri yang berdiam diri dimeja lainnya.
"Oh, oppa. Maaf aku sedikit haus jadi aku mengambil minuman dimeja sini" bohong Hyun-ri
"Ah, begitukah? Lalu, dimana Hwan-ki? Kau ditinggal sendiri?"
"Hwan-ki oppa sedang bertemu dengan tuan Kang. Mungkin ingin membahas bisnis" jawab Hyun-ri dan hanya di angguki oleh Seo Yoon.
"Oppa, dimana Seok Gwan oppa?" tanya Hyun-ri karena tidak melihat Seok Gwan bersama Seo Yoon.
"Entah" jawab Seo Yoon singkat.
"Dia tidak pamit denganmu?"
"Hm, kau tahu kan dia pria paling dingin antara aku dan Hwan-ki. Jadi ya, dia pergi begitu saja tadi" jelas Seo Yoon.
"Baiklah oppa. Aku akan menghubunginya dulu"
"Hm, jangan pergi terlalu jauh!!"
"Iya oppa. Kau berlebihan sekali" jawab Hyun-ri dengan jengah dan hanya mendapatkan gidikan bahu oleh Seo Yoon.
*****
Hyun-ri menjauh dari keramaian pesta untuk mencoba menghubungi Seok Gwan.
Tuthh...tutthh..tutthh...
Dering panggilan tersambung, tapi Seok Gwan tidak kunjung menjawab panggilan Hyun-ri.
"Kau menghubungiku?" ucap Seok Gwan tiba-tiba dari belakang Hyun-ri.
Hyun-ri yang mendengar suara Seok Gwan itupun membalikkan badannya dengan ponsel yang masih menempel ditelinganya.
"Oppa!!" Panggil Hyun-ri sambil mematikan panggilannya dan menyimpan kembali ponselnya.
"Kau dari mana? Kenapa pergi tidak pamit?" tanya Hyun-ri.
Grep...
Seok Gwan tidak menjawab pertanyaan Hyun-ri. Ia langsung memeluk erat Hyun-ri, seolah ia takut jika Hyun-ri akan hilang dari hadapannya.
__ADS_1
"Oppa, ada apa denganmu? Bagaimana kalau ada yang melihat kita?"
"Biarkan seperti ini dulu, aku mohon" jawab Seok Gwan semakin mengeratkan pelukannya.
Hyun-ri pun langsung membalas pelukan Seok Gwan, menepuk pelan punggung Seok Gwan seolah menenangkan Seok Gwan kalau semua baik-baik saja.
"Aku kehilangan lagi. Untuk yang ke tiga kalinya" ucap lirih seseorang dan tersenyum simpul.
*******
"Oppa, apa kau akan memelukku terus seperti ini?" tanya Hyun-ri.
"Hm, aku merasa nyaman saat memelukmu"
"Oppa, kita sedang dipesta. Kita harus segara kembali, jika tidak Seo Yoon oppa dan Hwan-ki oppa akan mencari kita karena tidak kunjung kembali"
Dengan perasaan tidak rela, Seok Gwan melepas pelukannya pada Hyun-ri dan mengubah wajahnya menjadi dingin.
"Baiklah" jawab datar Seok Gwan dan langsung menggandeng tangan Hyun-ri.
"Tunggu!!!" ucap Hyun-ri menahan langkah Seok Gwan yang menariknya untuk berjalan berdampingan.
"Kenapa?"
"Hanya luka kecil. Ayo!!" jawab acuh Seok Gwan.
"Tapi.."
"Ayo" ucap dingin Seok Gwan dan Hyun-ri pun menurut dengan pikiran yang penuh pertanyaan akan luka Seok Gwan.
Bagaimana itu bisa disebut luka kecil, sapu tangan yang membalut tangan Seok Gwan memiliki noda darah. Yang bisa Hyun-ri pastikan itu adalah darah dari luka Seok Gwan.
"Aeri"
*******
Malam telah berganti pagi, hari ini hari libur kerja. Hyun-ri masih setia menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut. Ia masih begitu malas untuk bangun, karena ia baru bisa tidur saat jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi.
Hyun-ri semalam suntuk memikirkan Hwan-ki dan Seok Gwan. Hwan-ki yang menatapnya dengan tatapan senduh dan kecewa yang sengaja ia sembunyikan dengan senyum hangatnya. Ditambah Seok Gwan yang tidak memberitahunya bagaimana ia mendapatkan luka di tangannya.
Hyun-ri yakin sekali, luka di tangan Seok Gwan bukan luka kecil dan bukan disebabkan karena kesengajaan. Lalu, ukiran nama dari sapu tangan yang membalut luka Seok Gwan. Siapa dia? Apa dia dekat dengan Seok Gwan? Apa Seok Gwan menemui seseorang secara diam-diam dibelakangnya? Apa Seok Gwan terlibat masalah dengan si pemilik sapu tangan, hingga menjadi penyebab tangannya terluka? Pertanyaan seperti itu terus berputar di kepala Hyun-ri.
Sungguh, perasaan dan pikiran Hyun-ri berkecamuk ingin mengetahui segalanya. Tapi, Hyun-ri hanya mampu diam dan menelan mentah-mentah semua yang ingin ia ketahui. Karena sikap dingin Seok Gwan yang tidak ingin membahas tentang luka tangannya.
__ADS_1
"Siapa dia? Apa kau berselingkuh dariku, Seok Gwan oppa?" ucap Hyun-ri lirih dibalik selimutnya dan tanpa sadar meneteskan air matanya.
Sebuah jalinan kasih, tidak melulu tentang keromantisan dan kemanisannya saja. Disetiap perjalanan hubungan itu juga akan menemui krikil-krikil kecil yang mengahadang dan menjadi kesakitan saat kita memijaknya. Entah, akan menghadapinya secara bersama dan tetap saling menggenggam. Atau malah saling melepaskan dan menyembunyikan segalanya hingga membuat kesalah pahaman di dalam hubungan.
Tidak ada yang berjalan dengan baik selama kita masih hidup. Segala masalah, baik dan buruk akan selalu menghadang langkah di depan kita. Tapi, selagi kita yakin untuk terus menghadapinya dengan langkah yang penuh kesabaran dan hati yang teguh. Semua masalah yang menghadang di depan kita akan terlewati begitu saja, walaupun harus dengan merasakan kesakitan yang menusuk.
"Hyun-ria, sayang!!!" panggil Sora saat ia sudah duduk di pinggir ranjang samping Hyun-ri.
"Kau kenapa, hm?? Tidak biasanya kau bangun siang dihari libur? Ada apa sayang?" tanya Sora pelan sambil mengelus sayang kepala Hyun-ri yang masih tertutup selimut.
Hyun-ri masih bungkam tidak menjawab pertanyaan sang eomma. Sora pun hanya menghela nafas pelan, melihat putrinya yang tetap diam dan bersembunyi dibalik selimut.
Hingga, beberapa detik kemudian Sora melihat selimut Hyun-ri bergetar dan mendengar isakan tertahan dari balik selimut Hyun-ri. Dengan perlahan Sora membuka selimut Hyun-ri. Ia sedikit terkejut melihat Hyun-ri yang meringkuk dan menangis dengan badan yang bergetar karena menahan isakannya.
Grep...
Dengan cepat tanpa menyakiti putrinya. Sora manarik tangan Hyun-ri agar bangun dari posisinya dan memeluknya erat dengan menepuk pelan punggung Hyun-ri.
"Ssstt.. Eomma disini sayang" ucap pelan Sora menenangkan Hyun-ri yang semakin terisak dipelukannya.
"Eomma disni"
*********
"Ada apa?" tanya dingin Hwan-ki saat Seo Yoon berkunjung ke mansionnya pagi-pagi.
"Kau semalam kemana? Kenapa pergi tidak memberitahu kami bertiga?" tanya Seo Yoon setelah mendudukan diri disofa panjang ruang tengah.
"Aku pergi ke Mansion keluarga. Appa dan eomma sudah kembali dari Jepang" jawab Hwan-ki datar dan mendudukan diri di single sofa.
"Appa dan eomma sudah kembali?"
"Ya, pesawat pribadi mereka landing semalam. Jadi, aku langsung ke Mansion keluarga untuk menemui mereka"
"Ckh..Kenapa kau tidak memberitahu kami bertiga? Akan lebih baik jika semalam kita pergi berempat menemui appa dan eomma" ucap Seo Yoon dengan berdecak kesal.
"Lalu meninggalkan pesta tuan Kang begitu saja?" tanya dingin Hwan-ki.
"Hm, kau benar juga. Kalau begitu aku akan mengabari yang lain, untuk berkunjung ke Mansion appa dan eomma"
"Hm, terserah"
******
__ADS_1