Bunga Daisy Di Musim Dingin

Bunga Daisy Di Musim Dingin
Chapter 44


__ADS_3

"Yeobo, keluarlah. Biarkan aku dan kedua anak buahku yang akan membuatnya mengaku."


"Tidak." jawab Sora dingin.


Grep..


"Keluarlah. Tenangkan dirimu, yeobo." ucap Jong-un kembali dengan menggenggam tangan Sora dan mengambil pistol dari tangan Sora.


"Aku tidak akan keluar sebelum dia memberitahu, keberadaan putriku."


Sora tidak mendengarkan perintah Jong-un. Ia tetap ingin berada dalam ruangan itu sampai Aeri memberitahu mereka, kemana Gun-yo membawah Hyun-ri.


"Keluarlah.."


"Aku tetap ingin disini." jawab Sora dengan dingin dan menatap Aeri dengan tajam.


"Aku bilang keluar, Han Sora."


Jong-un terbawah oleh amarahnya. Ia membentak Sora karena tidak menuruti perkataannya.


"Yeobo.." panggil Sora lirih.


Sora menundukkan kepalanya dalam dan mulai terisak. Sora tahu, jika suaminya sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.


"Keluarlah.. Aku akan membuatnya mengaku." ucap Jong-un datar.


Bugh...


Bugh...


"Aku mohon, bawah putriku kembali. Aku tidak ingin kehilangan dia.." mohon Sora dengan tangis sambil memukul dada Jong-un.


Ibu mana yang tidak akan sedih, khawatir dan marah jika sudah menyangkut keselamatan anaknya. Tentu, semua ibu akan melakukan apapun untuk melindungi anaknya. Seorang ibu tidak akan membiarkan siapapun menyakiti anak-anaknya, seorang ibu akan siap menjadi perisai untuk anak-anaknya dari marabahaya apapun.


"Dengarkan aku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Hyun-ri. Kalau sampai mereka menyakiti putri kita, aku akan membunuh mereka semua. Aku akan menjadi malaikat maut untuk mereka yang telah menyakiti putri kita. Percayalah padaku, aku akan bawah putri kita kembali." ucap Jong-un meyakinkan Sora istrinya dan memeluknya hangat.


Puft...


"Kau cukup percaya diri sekali, tuan Han" sahut Aeri dengan dengusan tawa kecilnya, "Sungguh menyedihkan sekali drama keluarga ini." ejek Aeri.


"Kau.." ucap geram Jong-un pada Aeri.


Brak...


"Appa.." panggil Seok Gwan yang baru saja datang dengan mendobrak pintu.


Seok Gwan berjalan mendekat ke arah Jong-un dan Sora, di ikuti kedua sahabatnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi, appa?" tanya Seok Gwan.


"Gun-yo membawah Hyun-ri pergi dan ini sudah 3 jam lamanya. Namun, Hyun-ri sendiri lah yang mau untuk pergi bersama Gun-yo." jelas Jong-un.


Jong-un menjelaskan semuanya lebih detail ke Seok Gwan, Hwan-ki dan Seo Yoon. Ia menceritakan semuanya mulai dari Hyun-ri membuat rencana untuk membuktikan sendiri kejahatan Gun-yo dan kegagalan rencana yang sudah di buat Hyun-ri dan Hye-mi.


"Kenapa dia melakukan itu sendiri, tanpa memberitahu kami?" ucap lirih Seok Gwan.

__ADS_1


Hwan-ki yang sedari tadi masih diam dan mendengarkan semua penjelasan Jong-un, langsung menunduk sedih. Ia merasa dialah penyebab dari kegagalan rencana yang telah Hyun-ri susun.


"Apa kau meninggalkan tas dan ponselmu, karena pengakuan ku tadi? Dan membuatmu lengah seperti ini, Hyun-ria.." batin Hwan-ki meresa bersalah.


"Dia memang wanita bodoh. Bahkan, dia sangat mudah untuk di manfaatkan. Benar-benar bodoh." sahut Aeri tiba-tiba.


Semua orang yang berada di ruangan itupun menatap kesal ke arah Aeri.


"Kenapa dia berada disini, appa?" tanya Hwan-ki,


"Hwan-ki oppa.. Kau disini?" panggil dan tanya Aeri ketika mengenali suara Hwan-ki, "Oppa, tolong aku.. Mereka jahat kepadaku." ucap Aeri dengan nada sedih.


"Appa, boleh aku yang mengurus dia?" tanya Hwan-ki pada Jong-un.


Jong-un masih diam tidak menjawabnya. Lalu kemudian, Jong-un menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi bersama istrinya keluar dari ruangan.


"Aku dan Seo Yoon akan mulai mencari dari apartemen Hyun-ri, siapa tahu ada cctv yang menangkap pergerakan Gun-yo." ucap Seok Gwan, "Hye-mi-ssi, ikut aku."


Mereka bertigapun langsung meninggalkan ruangan tersebut dan bergegas mencari kembali mulai dari apartemen rahasia Hyun-ri.


Tap...


Tap...


Tap...


Hwan-ki berjalan mendekati Aeri yang masih terikat dengan mata tertutup. Ia membuka ikatan di badan, tangan dan kaki Aeri.


"Oppa.." panggil Aeri dengan senyum senang saat membuka penutup matanya dan langsung di suguhkan oleh wajah tampan Hwan-ki.


******


"Lepas oppa.. Kau menyakitiku.." ucap Aeri sambil melepas paksa genggaman tangan Hwan-ki.


Mereka kini tengah berada di halaman Mansion Han. Hwan-ki membawah Aeri menuju mobilnya yang terparkir di halaman dekat pintu masuk ruang kecil tempat Aeri di sekap.


"Masuklah. Tunjukkan jalannya." ucap dingin Hwan-ki.


"Jalan? Kau ingin aku menunjukkan jalan kemana oppa? Kau ingin mengantarku pulang, oppa?" tanya Aeri dengan senyum merekah.


Hwan-ki mendekat ke arah Aeri. Ia menghimpit Aeri ke mobilnya dan mencengkeram kedua bahu Aeri.


"Jangan pura-pura bodoh, Kim Aeri. Aku tahu, jika kau mengetahui keberadaan Hyun-ri sekarang." ucap Hwan-ki penuh penekanan dengan mendekatkan wajahnya dengan Aeri.


"Lepas."


Aeri melepas kasar cengkraman Hwan-ki pada kedua bahunya. Ia menatap tajam kedua manik hitam Hwan-ki.


"Aku tidak tahu. Kalaupun aku tahu, percuma saja, jika sekarang kau datang untuk menyelamatkannya.." ucap Aeri dan mendekat ke arah Hwan-ki.


"Kau tahu kenapa, oppa?" tanya Aeri dengan pelan tepat di telinga Hwan-ki, "Karena... Wush... Nyawa Hyun-ri sudah berpisah dengan raganya..Puft.." lanjut Aeri dengan dengusan tawanya.


Hwan-ki mengepalkan kedua tangannya kuat, hingga urat tangan kekar Hwan-ki terlihat begitu jelas. Ia sudah kehabisan kesabaran, ia sekarang sangat begitu khawatir dengan keadaan Hyun-ri yang tidak ia ketahui keberadaanya dan sekarang, ia harus dihadapkan dengan Aeri.


Bak..

__ADS_1


*****


Disebuah pinggiran desa terpencil, berdiri kokoh bangunan mansion mewah. Mansion tersebut dekat dengan hutan di desa tersebut dan jauh dari pemukiman warga sekitar.



Sumber picture : Pinterest


Suasana disekitar mansion tersebut begitu asri karena berada didekat hutan. Udara disekitar sangat segar walaupun jam sudah menunjukkan pukul 1siang, dimana matahari masih bersinar dengan teriknya.


"Hmm.. Aku sangat menyukai sekali suasana siang ini.." ucap seorang wanita yang tengah duduk di dekat jendela kaca besar dengan ditemani secangkir tehnya.


"Haruskah, aku bersiap sekarang? Tamu istimewaku pasti sudah menunggu lama." ucapnya kembali dengan senyum tipis.


"Kalian kemarilah.." panggilnya dengan anggun kepada dua orang pengawal berbadan tegap yang berdiri dibelakang tidak jauh darinya.


"Iya nyonya. Apa anda perlu sesuatu?" tanya salah satu pengawal.


"Hubungi dia. Beritahu kepadanya, aku akan segera kesana untuk menemuinya." ucap wanita tersebut.


"Baik nyonya."


*********


Byur....


Huh...


"Bagun, Hyun-ria.. Sudah saatnya kau bangun." ucap Gun-yo setelah menyiramkan satu ember air di atas kepala Hyun-ri.


Hyun-ri menggelengkan kepalanya pelan karena sedikit merasa pusing. Ia merasakan badannya dingin karena air yang disiramkan kepadanya.


Huh...


Hyun-ri menghela nafas pelan dan membuka pelan matanya dengan pandangannya yang masih sedikit buram. Hyun-ri memperhatikan sekelilingnya dengan pandangan yang masih buram. Ia melihat Gun-yo dan beberapa pria berbaju setelan hitam dengan kondisi ruangan yang minim cahaya.


"Dimana aku?" batin Hyun-ri.


"Apa kau masih merasa pusing, Hyun-ria?" tanya Gun-yo dengan senyum tipis, "Sadarlah, kau sudah terlalu lama tertidur." lanjutnya.


"Apa? Aku tertidur?"


Hyun-ri mencoba mentralkan pandangannya, ia menggelengkan kepalanya pelan agar sepenuhnya sadar. Namun, saat ia mencoba menggerakkan tangannya. Ia baru menyadarinya, jika badan, tangan dan kakinya terikat kuat pada kursi kayu yang ia duduki.


"Apa ini? Kenapa aku diikat seperti ini?" batin Hyun-ri sembari menggerakkan badannya untuk mencoba melepaskan diri.


"Hei, jangan terlalu banyak bergerak seperti itu, Hyun-ria.. Kau hanya akan menyakiti dirimu saja, jika kau bergerak seperti itu terus." ucap Gun-yo dengan sunggingan senyum jahatnya.


"Hmmm...Hmmm...Hmmmmm..."


Hyun-ri mencoba mengatakan sesuatu, namun mulutnya telah dibekap dengan lakban tebal, sehingga membuatnya tidak bisa membuka mulutnya untuk berbicara.


"Hahaha.. Kau ingin mengatakan apa, adik kecilku sayang?"


********

__ADS_1


__ADS_2