Bunga Daisy Di Musim Dingin

Bunga Daisy Di Musim Dingin
Chapter 39


__ADS_3

"Hyun-ria.." panggil Sora saat Hyun-ri baru saja memasuki mansion.


"Eomma.." jawab Hyun-ri dengan tersenyum hangat ke sang eomma.


"Kau kemana saja?kenapa kau tidak pulang, semalam? Kau baik-baik sajakan?" tanya beruntun Sora dengan memeluk hangat Hyun-ri.


"Yeobo, sudahlah.. Kenapa kau mengajukan banyak pertanyaan seperti itu pada Hyun-ri? Yang terpenting putri kita sudah pulang." sahut Jong-un menghampiri kedua wanita kesayangannya.


"Appa.." panggil Hyun-ri dan melepas pelukannya dari sang eomma.


"Hm, kau sudah sarapan sayang?" tanya Jong-un dengan mengelus sayang kepala Hyun-ri.


"Belum." jawab Hyun-ri dengan senyum tipis.


"Baiklah, ayo kita sarapan. Setelah itu kau istirahat." ajak Sora, dan di angguki setuju oleh suami dan anaknya.


Jong-un, Sora dan Hyun-ri pun menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Sora tidak mempertanyakan lagi kemana Hyun-ri pergi, karena ia tidak ingin menuntut Hyun-ri untuk menjelaskan semuanya.


Jong-un dan Sora meresa tenang karena Hyun-ri mereka, telah kembali pulang dalam keadaan baik-baik saja.


"Appa.." panggil Hyun-ri disela mereka menikmati sarapan.


"Hm, kenapa sayang?" tanya Jong-un menatap Hyun-ri dan tersenyum hangat.


"Bisakah.. bisakah aku berbicara berdua dengan appa, setelah sarapan?" tanya Hyun-ri sedikit gugup.


"Tentu sayang.."


******


Disebuah mansion mewah, ada seorang wanita yang tengah duduk angkuh di kursi kebesarannya dengan menghadap jendela kaca besar, yang menampakkan pemandangan luas mansionnya. Wanita tersebut tengah menikmati suasana pagi di dalam ruang kerjanya di temani dengan secangkir teh.


"Apa mereka masih mengirim orang untuk mengawasi Gun-yo?" tanya wanita tersebut sembari meminum tehnya.


"Iya, mereka masih mengirim orang untuk mengawasi tuan Gun-yo." jawab sopan seorang pria bertubuh tegap yang menunduk sopan di belakang kursi wanita tersebut.


"Hm.. Kalau begitu, kalian tahukan apa yang harus kalian lakukan, kepada orang-orang itu?"


"Tentu. Kami akan menyingkirkan orang-orang itu, saat tuan Gun-yo membawah nona muda Han."


"Bagus. Pergilah."


Pria berbadan tegap itupun membungkuk sopan pada wanita tersebut dan berlalu pergi meninggalkan ruangan wanita tersebut.


"Sebentar lagi.. Dendamku akan terbalas, Han Jong-un dan Han Sora." ucap wanita tersebut dengan smirk, "Kalian akan merasakan kesakitan karena kehilangan orang yang begitu kalian cintai,"


"Sama seperti aku dulu." lanjut wanita tersebut dengan nada geram.


Prang...

__ADS_1


Wanita tersebut melempar gelas teh nya kelantai dan berdiri dari duduknya. Ia menggertakkan giginya kuat dan juga mengepalkan kedua tangannya kuat, dengan kilatan mata penuh amarah dan dendam yang menggebu.


"Sudah cukup aku membiarkan kalian hidup tenang. Sekarang aku akan buat hidup kalian menderita dan penuh luka."


********


Mansion Han...


"Appa.." panggil Hyun-ri mendekati sang appa yang sedang duduk di kursi taman belakang.


"Kau disini, kemarilah sayang. Duduklah." ucap Jong-un dengan senyum hangat menyambut putrinya,


Hyun-ri langsung mendudukan dirinya di samping sang appa, dan sedikit memiringkan posisinya untuk mengahadap sang appa.


"Kenapa? Apa yang ingin kau bicarakan dengan appa, sayang? Katakan." tanya Jong-un dengan mengenggam hangat tangan kanan Hyun-ri.


"Appa.. Hyun-ri tahu, jika appa sudah mengetahui tentang perusahaan utama yang hampir bangkrut, dulu." mulai Hyun-ri dengan menundukkan kepalanya dalam, "Maafkan Hyun-ri, karena sudah menyembunyikan semuanya dari appa." lanjut Hyun-ri penuh sesal.


Jong-un yang mendengar itupun tersenyum hangat dan mengelus sayang pucuk kepala Hyun-ri, untuk menenangkan.


"Jadi, putri appa ini sudah tahu. Jika, appanya ini sudah mengetahui semuanya?" tanya Jong-un dan hanya di angguki pelan oleh Hyun-ri.


"Sudahlah, tidak apa. Appa bangga padamu, karena kamu mampu melindungi perusahaan dan membangkitkan perusahaan utama dari kebangkrutan. Jangan merasa bersalah seperti ini, hum." ucap Jong-un pelan.


"Tapi appa..." ucap Hyun-ri terpotong dan mendongak menatap sang appa.


"Tapi apa, appa?" tanya Hyun-ri dengan raut wajah cemas, karena Jong-un memasang wajah khawatir.


"Hyun-ria. Kau harus berhati-hati dengan Gun-yo.."


"Kenapa, appa? Gun-yo oppa adalah orang baik. Dia dulu pernah menyelamatkan Hyun-ri dari pria-pria yang ingin melecehkan, Hyun-ri." tanya dan jelas Hyun-ri dengan menunduk sedih.


"Melecehkan? Apa maksudmu sayang? Siapa yang berani melecehkan, putri appa? Beritahu appa, siapa mereka?"


"Sudahlah appa, semua itu sudah berlalu lama. Kejadian itu terjadi saat Hyun-ri masih duduk di bangku kuliah. Dan ya.. Gun-yo oppa yang menyelamatkan Hyun-ri dari pria-pria itu." jawab Hyun-ri dengan senyum tipis, "Itulah sebabnya aku membantu perusahaan Gun-yo oppa, dengan menyuntikkan dana ke perusahaannya. Aku merasa berhutang budi padanya appa, maafkan aku." lanjut Hyun-ri dengan tatapan sendu merasa bersalah.


Grep..


Jong-un memeluk putrinya. Ia merasa buruk menjadi seorang appa, karena tidak bisa menjaga putrinya dari orang-orang bajingan yang ingin melecehkan putrinya.


"Maafkan appa, sayang. Appa tidak mengetahui itu semua. Maafkan appa." ucap Jong-un semakin erat memeluk putrinya.


Hyun-ri menggelengkan kepalanya pelan dan membalas pelukan appanya.


"Appa jangan meminta maaf. Harusnya Hyun-ri menceritakan semuanya ke appa. Hyun-ri yang salah, bahkan Hyun-ri hampir membuat perusahaan utama kita bangkrut..."


"Ssstt.. Tidak sayang. Appa tidak perduli dengan perusahaan itu. Yang terpenting bagi appa hanya dirimu sayang. Putri kecil dan putri cantiknya appa." ucap Jong-un dengan penuh kasih sayangnya.


"Berjanjilah pada appa. Kau tidak akan menyembunyikan apapun lagi dari appa. Kau mau berjanji?" tanya Jong-un melepas pelukannya dari sang putri,

__ADS_1


"Tentu appa."


*******


Perusahaan Han...


Hyun-ri tengah berada di ruang kerjanya. Setelah ia berbicara dengan sang appa dan menjelaskan semuanya, ia memutuskan untuk pergi ke kantor menyelesaikan pekerjaannya. Namun, bukannya sibuk mengerjakan pekerjaannya. Hyun-ri justru melamun duduk dikursinya dengan bersandar, ia bahkan tidak mendengar suara ketukan pintu yang berkali-kali di ketuk dari luar.


Klek..


"Hyun-ria!!" panggil Hye-mi yang memasuki ruangan Hyun-ri, namun tetap tidak di sahuti oleh Hyun-ri yang masih melamun dan menatap kosong.


"Ada apa dengannya? Apa dia masih memikirkan laporan keuangan itu? Haruskah aku jujur padanya?" batin Hye-mi.


"Yak.. Han Hyun-ri!!" panggil Hye-mi kembali sedikit meninggikan suaranya.


"Oh.. Eonni. Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Hyun-ri yang sudah tersadar dari lamunannya.


"Kau kenapa?kenapa kau melamun seperti itu? Aku bahkan mengetuk pintumu berkali-kali tapi kau tidak menyahutinya. Ada apa denganmu?" tanya beruntun Hye-mi yang sudah duduk di hadapan Hyun-ri.


"Maaf eonni, aku hanya sedikit memikirkan pekerjaan saja." bohong Hyun-ri.


"Kau bohong. Kau pasti masih memikirkan dokumen keuangan itukan?" tanya Hye-mi dengan menatap sendu.


"Ti..."


"Maaf Hyun-ria. Aku yang sudah menyerahkan dokumen itu ke tuan besar Han." potong Hye-mi mengakui perbuatannya dan menunduk sedih, "Maaf Hyun-ria. Kau boleh marah padaku." lanjutnya.


Pufftt...


Hyun-ri menutup mulutnya menahan tawanya, mendengar pengakuan dari Hye-mi sekertarisnya.


Hye-mi yang mendengar tawa tertahan Hyun-ri itupun mendongakkan kepalanya dan menatap bingung ke Hyun-ri.


"Kenapa kau menahan tawamu? Harusnya kau memarahiku, Hyun-ria." tanya Hye-mi dengan dahi berkerut.


"Eonni, sudahlah. Aku tidak memikirkan dokumen itu lagi. Appa sudah menceritakan semuanya."


"Apa? Tu-tuan besar Han sudah menceritakan semuanya?" tanya Hye-mi memastikan.


"Hm, aku sudah berbicara dengan appa. Jadi, lupakan itu."


Hye-mi menghela nafasnya lega. Namun, seketika memicingkan matanya menatap Hyun-ri.


"Lalu, apa yang sedang kau pikirkan? Hingga melamun seperti tadi?"


"Kau mau membantuku, eonni?" tanya Hyun-ri dengan senyum cantiknya.


******

__ADS_1


__ADS_2