
Pagi yang cerah telah menyambut, Hyun-ri sudah bersiap di dalam kamarnya. Pagi ini, adalah hari dimana Hyun-ri akan bertemu dengan Gun-yo.
"Sepertinya aku sudah rapi dan siap untuk berangkat." ucap Hyun-ri dengan senyum kecil di depan cermin saat menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
Hyun-ri pun berjalan keluar kamarnya dan turun ke lantai bawah. Entah kenapa, pagi ini Hyun-ri terlihat sangat penuh semangat. Seolah ia akan menghadapi perlombaan dan akan berjuang untuk menang.
"Pagi, appa eomma.." sapa Hyun-ri ceria.
"Kau sudah rapi sayang? Ini akhir pekan, kau masih ke kantor?" tanya Sora saat Hyun-ri memasuki ruang makan. "Duduklah, kita sarapan." lanjutnya.
"Iya eomma. Aku harus kekantor, karena ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Biar appa saja yang menyelesaikan. Kau dirumah saja atau keluar lah berjalan-jalan dengan ketiga sahabatmu itu." sahut Jong-un.
"Tidak appa, biar aku saja. Aku bisa selesaikan sendiri."
"Baiklah, jika kau butuh bantuan appa. Kau bisa langsung hubungi appa. Kau mengerti?"
"Tentu appa.."
Keluarga Han pun memulai sarapan mereka dengan tenang, tanpa ada obrolan lagi.
*********
Dua jam kemudian, Hyun-ri sudah berada di apartemen rahasianya. Ia tengah menunggu Gun-yo untuk menjemputnya ke di apartemen.
Sesuai rencana, Gun-yo akan menjemput Hyun-ri di apartemen rahasianya pukul 10 pagi. Masih ada 1jam bagi Hyun-ri untuk menunggu Gun-yo.
"Hallo, Eonni. Bagaimana?" tanya Hyun-ri saat sedang berbicara dengan Hye-mi lewat panggilan.
"Baguslah kalau begitu. Aku harap semua berjalan sesuai rencana kita."
"Baiklah, eonni. Aku tutup dulu."
Bip.....
Hyun-ri menutup panggilannya. Dia beranjak menuju balkon apartemennya dengan senyum tipis.
"Semoga saja semuanya berjalan lancar. Dan, semoga kali ini tidak ada lagi sebuah permainan." ucap Hyun-ri seraya menatap langit cerah.
Drrtt...drrtt...
"Hwan-ki oppa?" ucap Hyun-ri saat menerima panggilan dari Hwan-ki.
"Hallo oppa. Ada apa?"
"*Kau ada dimana? Apa kau sibuk?" tanya Hwan-ki*.
"Aku, aku sedang diluar oppa. Aku ada jadwal bertemu dengan rekan bisnis. Ada apa, oppa? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Hyun-ri.
..........
"*Hallo, oppa. Kau masih disana*?" *tanya Hyun-ri disambungan telfon*.
Hwan-ki masih diam dan tidak menjawab pertanyaan Hyun-ri. Ia berdiam diri, berdiri di balkon kamarnya dengan tatapan kosongnya. Entah apa yang mengganggu pikiran Hwan-ki, hingga ia sedikit melamun dan terdiam cukup lama selama panggilan berlangsung.
"*Haruskah aku bicarakan sekarang?" batin Hwan-ki*.
"Hyun-ria.. Sebenarnya aku ingin mengajakmu bertemu hari ini. Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu." ucap Hwan-ki setelah terdiam cukup lama.
__ADS_1
"*Hm, maafkan aku oppa. Hari ini aku tidak bisa, bagaimana jika besok*?"
"Sore ini aku akan ke New York. Jadi, aku tidak bisa jika harus bertemu besok." jawab Hwan-ki dengan nada sedikit sedih.
"*New York? Kenapa tiba-tiba kau pergi kesana oppa? Kemarin-kemarin kau tidak memberitahu apapun ke kita bertiga? Kenapa kau baru memberitahu sekarang?" tanya Hyun-ri dengan nada sedikit kesal*.
"Maaf Hyun-ria. Aku ada jadwal dadakan."
"*Terserah." jawab Hyun-ri kesal*.
"Maaf. Baiklah, sekarang dengarkan aku baik-baik. Mungkin udah saatnya aku memberitahumu sekarang. Tapi, berjanjilah..kau tidak akan menjauhiku." mulai Hwan-ki.
"*Katakan." jawab Hyun-ri masih kesal*.
"Aku mencintaimu." ucap Hwan-ki mengakui perasaannya.
Hyun-ri membulatkan matanya terkejut mendengar pengakuan Hwan-ki secara tiba-tiba. Hyun-ri tidak menyangka jika Hwan-ki memiliki perasaan kepadanya.
"*Maaf, aku tahu kamu pasti terkejut dengan pengakuanku. Tapi, aku harus mengungkapkannya sebelum aku terbang ke New York sore ini. Sebenarnya aku ingin membicarakannya saat bertemu denganmu, tapi karena kau sibuk. Aku katakan semuanya dipanggilan saja.." jelas Hwan-ki*
"Oppa.." panggil lirih Hyun-ri.
"*Aku tidak berharap kau membalas perasaanku, Hyun-ria. Aku hanya ingin mengakuinya saja sekarang... Karena aku sudah lama memiliki perasaan ini untukmu, saat pertama kali kita berempat bertemu. Aku selalu ingin melindungi dan menjagamu, hingga kita tumbuh dewasa, perasaanku semakin yakin. Kalau aku mencintaimu lebih dari sahabat. Maaf*.."
Bip...
"Hallo, oppa.. Hwan-ki oppa.."
Panggilan diputus secara sepihak oleh Hwan-ki, dan itu membuat Hyun-ri terisak. Hyun-ri benar-benar tidak tahu jika Hwan-ki memiliki perasaan untuknya.
Sekarang Hyun-ri tahu, arti dari tatapan sendu Hwan-ki waktu lalu. Tatapan penuh kecewa akan penyesalan, kehilangan, dan rasa sakit. Tatapan yang mencoba Hyun-ri abaikan waktu itu, namun ternyata sekarang membuat Hyun-ri merasa bersalah.
"Maaf Hwan-ki oppa.." ucap Hyun-ri sedih dan menghapus air matanya yang membasih pipi.
Ting..tong...
Bunyi bel mengalihkan atensi Hyun-ri, ia segera menyeka air matanya yang masih membasahi wajahnya dan menaruh ponselnya di meja. Dengan perasaan campur aduk dan tatapan sendu, Hyun-ri langsung berjalan ke arah pintu utama dan membukakan pintu.
"Gun-yo oppa. Kau sudah tiba?" ucap Hyun-ri ketika membukakan pintu,
"Maaf jika kau menunggu lama.. Ayo kita berangkat sekarang." ucap dan ajak Gun-yo yang sudah berdiri dengan senyum manis di depan pintu apartemen Hyun-ri.
"Kau tidak ingin masuk dulu, oppa?"
__ADS_1
"Tidak. Kita langsung berangkat saja sekarang. Ayo.."
Hyun-ri pun menuruti ajakan Gun-yo dan langsung mengunci apartemennya untuk pergi bersama Gun-yo. Ia bahkan melupakan tas dan ponselnya yang ia letakkan di meja ruang tengah. Pikiran dan perasaan Hyun-ri campur aduk karena ungkapan perasaan Hwan-ki dan kepergian mendadak Hwan-ki untuk ke New York.
\*\*\*\*\*\*\*
Mansion Lee Hwan-ki...
"Kau kenapa?" tanya Seo Yoon saat melihat Hwan-ki duduk melamun di tepi ranjang.
"Tidak apa." jawab datar Hwan-ki dan beranjak dari duduknya menuju ke lemari pakaiannya.
"Kau jadi pergi hari ini?"
"Ya, penerbanganku jam 3 sore nanti." jawab Hwan-ki sambil mengemas pakaiannya kedalam koper.
"Kau sudah mengungkapkan perasaanmu ke Hyun-ri? Apa dia tahu kalau kau akan ke New York dan tinggal disana untuk waktu lama? Kau sudah pikirkan lagi?" tanya beruntun Seo Yoon.
"Kenapa kau jadi banyak tanya, seperti wanita saja." ucap Hwan-ki jengah.
"Kenapa kau harus pergi, tidak bisakah kau disini saja?"
"Tidak. Aku harus pergi." jawab Hwan-ki dengan menunduk sedih.
"Apa kau pergi karena tidak sanggup melihatku dan Hyun-ri bersama?" tanya Seok Gwan tiba-tiba, yang baru masuk ke dalam kamar Hwan-ki tanpa mengetuk pintu.
"Kau disini?" tanya Hwan-ki dan Seo Yoon bersamaan.
\*\*\*\*\*\*\*
Tidak ada yang mampu mengendalikan perasaan seseorang jika bukan dirinya sendiri. Perasaan kasih sayang dan cinta yang muncul dalam hati tidak dapat dihilangkan begitu saja. Apalagi jika sudah bertahun-tahun lamanya, akan sulit untuk bisa menghapus dan menghilangkan semua perasaan yang telah tumbuh subur walaupun, perasaan itu hanya disimpan dalam diam.
Sakit? Tentu saja sakit jika semua perasaan yang disimpan dalam diam tidak terbalaskan. Namun, jangan menyalahkan pada orang yang tidak membalas perasaan kita. Tapi, salahkan pada diri sendiri karena tidak mampu untuk mengungkapkan semuanya.
Semakin lama kau diam dan menyimpan perasaan itu, untuk dirimu sendiri. Maka semakin dalam juga penyesalanmu dan rasa sakitmu, ketika melihat orang yang sudah begitu lama kau cintai dimiliki orang lain yang sangat berani dan percaya diri mengungkapkan segala perasaannya.
\*\*\*\*\*\*
Bugh...
Akh....
Brak...
Pandangannya secara perlahan mengabur dan dalam hitungan detik, pandangannya menjadi gelap karena mata terpejam rapat.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*