Bunga Daisy Di Musim Dingin

Bunga Daisy Di Musim Dingin
Chapter 45


__ADS_3

Hyun-ri tertegun dengan panggilan Gun-yo, karena untuk pertama kalinya Gun-yo memanggilnya dengan sebutan adik kecil.


"Adik? Apa maksudnya? Siapa dia sebenarnya?" batin Hyun-ri bertanya-tanya dan masih mencoba mencerna baik-baik maksud panggilan Gun-yo.


"Kenapa kau menatapku seperti itu, Hyun-ria? Apa kau bertanya-tanya kenapa aku memanggilmu adik kecilku?" tanya Gun-yo saat melihat tatapan Hyun-ri penuh dengan tanda tanya.


Gun-yo berjalan mendekat ke arah Hyun-ri dan berjongkok di depan Hyun-ri untuk mensejajarkan dirinya dengan Hyun-ri yang duduk terikat di kursi kayu.


"Kenapa kau melupakan Hyon oppa mu ini, adik kecilku? Apa kau tidak merindukan Hyon oppa mu ini, hm?" tanya Gun-yo pelan sambil mengelus pelan pipi kiri Hyun-ri.


"Hyon oppa? Apa maksudnya?" batin Hyun-ri masih bertanya-tanya dan semakin dibuat bingung tidak mengerti.


"Dari tatapanmu, kau memang benar-benar lupa dengan ku. Padahal aku sudah memberitahumu, siapa aku." ucap Gun-yo dengan tawa kecil, "Baiklah, aku maklumin itu. Karena memang waktu itu kita perpisah saat kau masih berumur 4 tahun. Jadi.. Wajar saja jika kau melupakanku."


Gun-yo tersenyum tampan di hadapan Hyun-ri, lalu berdiri tegap dan mengelus sayang kepala Hyun-ri.


"Aku akan pergi sebentar. Ada seseorang yang ingin aku kenalkan kepadamu." ucap Gun-yo datar dan langsung meninggalkan ruangan itu.


Gun-yo meninggalkan Hyun-ri bersama 2 orang pria berbadan tegap yang menjaga pintu dan menatap datar ke arah Hyun-ri.


"Apa maksudnya? Siapa Gun-yo oppa sebenarnya? Hyon? Siapa dia? Aku sungguh tidak mengenal siapa Hyon itu." batin Hyun-ri,


"Appa, eomma, Seok Gwan oppa, Hwan-ki oppa, Seo Yoon oppa, tolong... Tolong selamatkan aku."


Tubuh Hyun-ri bergetar karena isakannya. Ia menangis dan meminta tolong dalam batinnya. Bukan seperti ini rencana yang Hyun-ri susun, ia benar-benar lengah hingga ia bisa berakhir mengenaskan seperti ini.


"Dimana aku sekarang? Apa aku di apartemen Gun-yo oppa? Kenapa aku bisa tertidur tadi? Kenapa aku.. Tunggu, apa jangan-jangan..." batin Hyun-ri bertanya-tanya dan mengingat sesuatu sebelum berakhir di tempat itu.



Gun-yo dan Hyun-ri kini tengah di dalam mobil untuk perjalanan menuju tempat yang dimaksud oleh Gun-yo. Tempat dimana Gun-yo menenangkan dirinya ketika mengalami masalah.


"Hyun-ria?" panggil Gun-yo setelah menoleh sebentar ke arah Hyun-ri.


"Hm, kenapa oppa?" tanya Hyun-ri,


"Kenapa kau dari tadi diam dan melamun? Apa ada yang menganggu pikiranmu?"


"Hm, tidak oppa. Aku hanya sedikit kepikiran tentang pekerjaan saja."

__ADS_1


"Kenapa? Apa ada masalah?"


"Hm, tapi bukan masalah besar oppa." jawab Hyun-ri berbohong. Hyun-ri sampai saat ini masih memikirkan pengakuan Hwan-ki yang secara tiba-tiba.


"Ini minumlah. Setelah itu kau bisa bersantai atau tidur sejenak, perjalanan kita sedikit jauh." ucap Gun-yo sembari menyodorkan minuman untuk Hyun-ri, "Aku membelinya sebelum menjemputmu. Ada camilan juga di kursi belakang, kau bisa memakannya selama perjalanan."


"Terima kasih oppa."


Hyun-ri menerima minuman tersebut dan meneguknya beberapa kali. Namun, selang beberapa menit kemudian, Hyun-ri merasakan kepalanya pusing dan kantuk mulai menguasai Hyun-ri. Ia terus melawan kantuknya walau perlahan pengelihatan Hyun-ri mulai mengabur dan tidak lama kemudian, ia terlelap.



Hyun-ri memejamkan matanya sebentar. Ia tidak percaya dengan apa yang telah Gun-yo lakukan padanya.


"Dia mencampurkan sesuatu keminuman itu. Kau bodoh sekali Hyun-ria.. Kenapa kau tidak berhati-hati." keluh Hyun-ri dalam hati.


*****


Mansion Han...


Hwan-ki mencengkeram kembali kedua bahu Aeri dan menghimpitnya merapat ke mobil.


Puft..


"Hahahaha, aku tidak sedang membual Hwan-ki ku sayang. Aku berkata yang sebenarnya." ucap Aeri dengan sunggingan senyum.


"Katakan padaku. Sekarang!!" bentak Hwan-ki mulai kehilangan kesabarannya.


"Sstt, jangan membentak ku seperti itu. Aku tidak suka dibentak."


Aeri tersenyum cantik dan melepaskan cengkraman tangan Hwan-ki dari bahunya. Ia merapikan kemeja Hwan-ki, mengibas-ibaskan tangannya seolah ada debu yang menempel di kemeja Hwan-ki.


"Aku akan memberitahumu, tapi ada syaratnya." ucap Aeri dengan menatap dalam kedua manik tajam Hwan-ki.


"Ini saatnya aku memanfaatkan situasi ini. Akhirnya, aku akan mendapatkan yang aku mau dengan memanfaatkan rencana Gun-yo yang sudah miskin itu." batin Aeri dengan tersenyum lebar.


"Apa yang kau inginkan? Katakan." jawab datar Hwan-ki.


"Menikahlah denganku."

__ADS_1


"Hahaha.."


Hwan-ki tertawa kecil mendengar syarat yang di ajukan Aeri. Namun, dalam hitungan detik ia menghentikan tawanya dan merubah raut wajahnya menjadi dingin.


Tap..


Hwan-ki maju satu langkah mendekat ke Aeri, ia sedikit menundukkan kepalanya untuk mensejajarkan wajahnya dengan Aeri. Jarak mereka begitu dekat, hingga membuat rona merah di pipi Aeri dan jantung Aeri pun berdetak tidak normal karena melihat wajah tampan Hwan-ki yang begitu dekat dengannya.


"Aku sudah menolakmu dulu untuk menjadi kekasihmu. Dan.. Sekarang kau ingin aku menjadi suamimu? Jangan harap aku akan menerima syaratmu itu. Karena aku tidak suka dengan wanita licik sepertimu." ucap Hwan-ki penuh penekanan.


Aeri mengepalkan kedua tangannya kuat. Ia sangat marah dengan Hwan-ki, bahkan Hwan-ki mengingatkannya pada penolakan yang ia terima dulu.


Hwan-ki dan Aeri adalah teman satu fakultas dan satu kelas. Aeri sudah menyukai Hwan-ki semenjak mereka dibangku kuliah. Aeri terus mendekati Hwan-ki walaupun hanya sikap dingin yang ia terima. Hingga suatu hari dimana mereka berada di semester akhir, Aeri menyatakan perasaannya pada Hwan-ki. Namun, Hwan-ki menolaknya dengan dingin dengan alasan ia sudah mencintai wanita lain.


Aeri merasa sakit hati karena penolakan yang dilakukan Hwan-ki, namun ia telah bertekad untuk menjadi nyonya Lee, istri dari Lee Hwan-ki. Anak dari keluarga yang kaya raya dan seorang pewaris dari keluarga Lee.


"Kau menolakku lagi? Baiklah. Lebih baik sekarang kau siapkan pemakaman untuk sahabatmu itu." ucap geram Aeri.


Hwan-ki tersenyum simpul mendengar ucapan dari Aeri. Kemudian Hwan-ki pun memundurkan dirinya dua langkah dari hadapan Aeri.


"Sepertinya tidak ada pilihan lain. Baiklah, aku akan menghancurkan karir mu saat ini." ucap Hwan-ki datar,


"Apa maksudmu?" tanya Aeri sedikit meninggikan suaranya.


"Apa kau pikir aku tidak mengetahui tentangmu? Dimana kau rela menjadi simpanan CEO agensimu demi karir modelmu saat ini. Kau benar-benar wanita yang licik dan gila harta, Kim Aeri."


"Diam! Semua yang kau katakan itu tidak benar." elak Aeri dengan tatapan tajamnya.


Hwan-ki pun merongoh kantung celananya dan mengeluarkan ponselnya. Ia membuka ponselnya dan memutarkan sebuah video yang berisi dengan des*h*n dan er*ng*n.


Aeri membulatkan matanya terkejut melihat video panasnya dengan CEO agensinnya, yang sedang memadu kasih di kamar hotel.


"Kau masih tidak mengakuinya? Dan jika kau tidak ingin memberitahuku keberadaan Gun-yo, maka aku akan mengirimkan video ini ke istri CEO agensimu." ucap Hwan-ki datar menyimpan kembali ponselnya, "Dan boom, karirmu akan hancur atau bahkan kau akan dihabisi oleh istri CEO agensi itu." lanjut Hwan-ki tersenyum miring.


"Kau salah memilih mainan, Kim Aeri. Jika kau berurusan dengan ku atau keluarga Han, maka karirmu akan tamat."


"Busan." jawab Aeri dengan menundukkan kepala dalam. "Dia membawah Hyun-ri ke Busan, rumah tepi hutan. Hanya itu yang Gun-yo katakan." jelas Aeri.


*******

__ADS_1


__ADS_2