
Masih di 2jam yang lalu...
Hyun-ri sudah memutuskan untuk menemui Gun-yo. Ia masih duduk dicafe untuk menunggu pesanannya. Hingga..
"Hyun-ria!!" panggil seseorang
"Gun-yo oppa!!"
Gun-yo tersenyum hangat kearah Hyun-ri, ia pun mendudukan dirinya berhadapan dengan Hyun-ri.
"Bagaimana kabarmu? Aku tidak menyangka bisa bertemu disini" mulai Gun-yo
"Baik oppa, aku baru saja berencana ingin menemuimu dikantormu, oppa" jawab Hyun-ri dengan senyum manis
"Benarkah? Kebetulan sekali kalau begitu"
"Oppa, ada yang ingin aku tanyakan" ucap Hyun-ri
"Aku juga, tapi bisakah kita mengobrol ditempat lain?"
"Tempat lain?"
"Hm, bagaimana kalau di apartemen rahasiamu? Aku sudah lama tidak kau ajak berkunjung kesana" jawab Gun-yo dengan senyum simpul
"Hm, baiklah. Ide bagus, biar kita bisa mengbrol banyak juga"
"Kita berangkat sekarang saja! Kau tidak sibuk kan?" ajak dan tanya Gun-yo
"Tidak oppa. Tapi aku harus kembali ke kantor dulu untuk pamit ke Hye-mi eonni dan mengambil ponselku yang tertinggal"
"Nanti aku yang aku menghubungi Hye-mi. Aku tidak punya banyak waktu"
"Kenapa? Kau sibuk? Jika kau sibuk kita bisa bertemu lain waktu, oppa"
"Tidak Hyun-ria. Aku ingin berbicara penting denganmu, sekarang. Lebih cepat lebih baik" ucap Gun-yo meyakinkan Hyun-ri
"Baiklah oppa, kita berangkat sekarang"
Hyun-ri pun menyetujui ajakan Gun-yo. Mereka langsung meninggalkan cafe setelah pesanan Hyun-ri telah siap.
Setelah perjalanan 30menit ke apartemen rahasia Hyun-ri, kini keduanya telah berada di Apartemen. Hyun-ri memiliki apartemen rahasia di tengah kota, tidak ada yang mengetahuinya termasuk orangtua dan ketiga sahabatnya. Hanya Gun-yo yang beberapa kali ia ajak untuk ke apartemennya membahas kontrak kerja sama mereka diam-diam.
"Oppa, kau kemana saja? Aku berusaha menghubungimu, tapi nomermu tidak terdaftar" mulai Hyun-ri
Gun-yo mengernyitkan alisnya bingung mendengar itu, lalu sepersekian detik kemudian ia tersenyum simpul.
"Jadi mereka menutup aksesku agar aku dan Hyun-ri tidak bisa saling terhubung. Licik sekali, tapi aku lebih licik dari kalian" batin Gun-yo dan bersmirk.
"Oppa, kenapa kau diam saja?" tanya Hyun-ri saat Gun-yo tidak menjawabnya.
"Maaf Hyun-ria, aku mengganti ponsel dan nomerku. Aku terlalu sibuk juga, jadi belum sempat mengabarimu" bohong Gun-yo dengan senyum simpul.
"Begitukah? Apa perusahaanmu berjalan dengan baik oppa? Apa modal yang aku berikan yang terakhir kali sudah berkembang dengan baik untuk perusahaanmu, oppa?"
"Perusahaanku hampir bangkrut sekarang Hyun-ria. Maaf, aku belum bisa mengembalikan modal yang kau berikan kepadaku" jawab Gun-yo dengan nada dibuat sedih dan merasa bersalah.
"Tidak apa, oppa. Lagipula aku banyak berhutang budi padamu" ucap Hyun-ri dengan tersenyum hangat
__ADS_1
"Oppa sudah menolongku dulu, coba kalau oppa tidak datang waktu itu. Entah aku masih bisa tetap hidup atau tidak" lanjut Hyun-ri menunduk sedih
"Bodoh. Tentu saja aku harus menyelamatkanmu, karena itu semua adalah rencanaku untuk mendekatimu" batin Gun-yo dengan smirknya
"Hyun-ri, sudah jangan membahas hal itu lagi. Kenapa kau terus mengingat hal buruk itu, kau terlihat jelek jika sedih begitu"
"Jadi, menurutmu aku jelek oppa?" tanya Hyun-ri dengan memanyunkan bibirnya
"Tidak, kau cantik sangat cantik Hyun-ri" jawab Gun-yo dengan tawa kecil.
"Oh iya oppa, aku ingin bertanya satu hal padamu?"
"Apa? Katakan!"
"Apa kau pernah mengirim kontrak kerjasama ke kantorku? Sekitar satu bulan lalu mungkin?" tanya Hyun-ri sedikit tidak yakin
"Tidak, aku tidak pernah mengirim kontrak kerjasama lagi kepadamu" bohong Gun-yo
"Benarkah?"
"Hm, benar. Terakhir satu tahun lalu, aku sendiri yang bawahkan dokumen itu kepadamu. Apa ada masalah Hyun-ria?"
"Jika dokumen kontrak kerjasama itu yang terakhir! Lalu, bagaimana appa bisa mengetahui jika aku bekerjasama dengan Gun-yo oppa? Dokumen itu masih aku simpan di apartemen ini. Dan, hanya aku dan Hye-mi eonni yang mengetahui kontrak kerjasama antara aku dan Gun-yo oppa. Apa yang telah aku lewatkan disini?" batin Hyun-ri penuh tanya
"Kau okey?" tanya Gun-yo yang melihat Hyun-ri tengah melamun
"Hu, ah.. Aku baik oppa, aku tidak apa" jawab Hyun-ri tersadar dari lamunannya.
"Lalu oppa! Jika perusahaanmu sedang diambang kebangkrutan, kenapa kau tidak meminta bantuan modal dariku?" tanya Hyun-ri penasaran.
"Aku akan berusaha mengatasinya sendiri Hyun-ria. Kau tidak perlu khawatir dan terimakasih untuk semuanya"
"Iya baiklah"
2jam lalu end...
*******
Kembali semula...
"Dimana ruang cctv?" tanya Seok Gwan dingin kekasir cafe
"Maaf, tidak sembarang orang bisa masuk ke ruang cctv"
"Panggilkan pemilik cafe ini!!!" ucap Seok Gwan sedikit meninggikan suaranya.
Perasaan Seok Gwan campur aduk, ia benar-benar khawatir tentang keadaan Hyun-ri yang entah pergi kemana. Seok Gwan tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Hyun-rinya.
"Seok Gwana tenang lah dulu. Jika kau panik dan marah seperti ini, kita tidak akan mendapatkan apapun" ucap Seo Yoon menenangkan
"Kami ingin melihat cctv dicafe ini untuk mengetahui siapa yang mengajak sahabat kami pergi, karena sudah hampir 3jam sahabat kami belum kembali" jelas tenang Seo Yoon
"Tolong izinkan kami melihat rekam cctv sekitar 3jam yang lalu" sahut Hwan-ki yang sedari tadi menahan emosi yang berkecamuk.
"Baiklah, mari"
Mereka bertigapun pergi bersama pegawai cafe ke ruang kendali cctv. Pegawai cafe memutar rekam cctv 3jam lalu sebelum Hyun-ri datang ke cafe. Dimenit ke 10 Hyun-ri baru terlihat memasuki cafe.
__ADS_1
Hampir 10menit Hyun-ri hanya duduk sendiri di meja cafe dekat jendela, masih belum ada tanda-tanda seseorang mendekati Hyun-ri. Hingga..
"Stop!" ucap Seok Gwan untuk memberhentikan rekam cctvnya
"Gun-yo!!" ucap geram ketiga sahabat itu bersamaan
"Aku tidak akan melepaskannya kali ini" ucap Seok Gwan dengan tatapan mata tajamnya.
"Bisa putarkan rekam cctv luar cafe?" ucap Seo Yoon dan di angguki pegawai cafe.
"Brengsek!!! Dia begitu licik" ucap geram Hwan-ki
Di rekam cctv tersebut, Gun-yo tidak membawah Hyun-ri memasuki mobil tapi mengajak Hyun-ri berjalan menjauh dari cafe.
"Dia pasti memarkir mobilnya sedikit jauh dari cafe" ucap Seo Yoon
"Dia benar-benar licik, dia pasti tidak ingin kita melacak mobilnya" sahut Seok Gwan geram
"Sekarang bagaimana kita mengetahui keberadaannya?" tanya Seo Yoon
Tidak ada yang menjawab, Seok Gwan langsung meninggalkan ruang cctv dengan wajah menahan amarahnya.
"Terimakasih, sudah mengizinkan kami melihat rekam cctv cafe ini" ucap Hwan-ki lalu menyusul Seok Gwan bersama Seo Yoon.
Duk...
Seok Gwan menendang ban mobilnya dengan penuh amarah.
"Brengsek!!! Aku akan membunuhmu, Lee Gun-yo" ucap geram Seok Gwan
"Tenanglah Seok Gwana, kita harus tenang. Jika kita tidak tenang, kita tidak bisa menemukan Hyun-ri dengan cepat" ucap Hwan-ki menenangkan.
"Seo Yoon, kau sudah menghubungi orangmu?" tanya dingin Seok Gwan
"Gun-yo tidak pergi kekantornya sedari pagi" jawab dingin Seo Yoon.
"Aku akan coba menghubungi Aeri, kita bisa memaksanya untuk memberitahu dimana keberadaan Gun-yo" sahut Hwan-ki
Hwan-ki pun langsung merogoh kantung celananya dan mendial nama Aeri di kontak nya.
"****!! Nomernya tidak terhubung" ucap geram Hwan-ki yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Kita pergi ke apartemen Gun-yo" ucap Seok Gwan.
Drrtt..drtt..drrrtt...
Getar ponsel Seok Gwan benar-benar menambah geram Seok Gwan yang baru saja mau memasuki mobilnya. Dengan gerakan kasar dan cepat ia menjawab panggilan masuk diponselnya.
"Hallo!!!" bentak Seok Gwan.
"Kau!!"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*