
Pesta telah dimulai, dari penyambutan sang tuan rumah dan bersulah bersama untuk memulai acaranya. Alunan melodi musik terdengar begitu indah, semua para tamu berkumpul di tengah-tengah untuk memulai dansa mengikuti alunan musik.
"Hwan-ki oppa!!" panggil Hyun-ri pelan.
"Hm, kenapa bayi besarku?" tanya Hwan-ki sambil menatap Hyun-ri.
"Mau berdansa denganku?"
"Tentu"
Hyun-ri sempat menoleh ke arah Seok Gwan untuk meminta persetujuan dan Seok Gwan mengangguk kecil menyetujuinya. Dengan senyum cantik Hyun-ri mengandeng lengan Hwan-ki dan berjalan berdampingan menuju area dansa.
"Apa kau kemarin menemuinya?" tanya Seo Yoon pada Seok Gwan.
"Hm, aku membuang waktuku untuk menemuinya dipagi hari"
"Kenapa dia belum menyerah juga?"
"Entahlah, jika dia masih berulah. Aku akan membuat bisnisnya lenyap dalam hitungan jam" jawab Seok Gwan sambil meminum wine dan memperhatikan Hyun-ri dan Hwan-ki.
"Hm, kita tetap harus selalu mengawasinya" ucap dingin Seo Yoon.
"Kau tahukan, pria bajingan itu tidak akan menyerah begitu saja" lanjut Seo Yoon
"Ya, aku tahu"
"Apa kita beritahu saja Hyun-ri yang sebenarnya? Agar Hyun-ri lebih wasapada dengannya" ucap Seo Yoon.
"Kau tidak ingat kata Jong-un appa dulu? Untuk tidak memberitahu Hyun-ri, agar Hyun-ri tidak merasa bersalah pada Jong-un appa" jelas Seok Gwan.
"Ya, aku ingat. Saat satu tahun lalu, saat Jong-un appa mengumpulkan kita bertiga. Karena masalah laporan keuangan yang dimanipulasi sendiri oleh Hyun-ri untuk menutupi semua kerugian karena suntikan dana ke perusahaan Gun-yo"
Ketiga sahabat Hyun-ri dan orang tua Hyun-ri sudah mengetahui, jika Gun-yo adalah pria bajingan dan licik. Itu sebabnya ketiga sahabat Hyun-ri tidak membiarkan Hyun-ri berdekatan atau bertemu berdua dengan Gun-yo.
Karena bisa dipastikan, Gun-yo akan membahas dokumen kerjasama, ahh lebih tepatnya suntikan dana sebagai kelicikannya menguras habis dana dari perusahaan Han.
"Kau masih ingat jelas itu. Dan karena itu juga kita selama ini selalu melarang dengan tegas agar Hyun-ri tidak mendekati Gun-yo lagi. Entah sampai kapan bajingan itu akan terus memanfaatkan kebaikan dan kepolosan Hyun-ri" jawab Seok Gwan dingin.
"Ya, bahkan Han Group sampai diambang kebangkrutan karena Gun-yo. Tapi selalu saja, kepintaran Hyun-ri bisa menyelamatkan perusahaannya"
"Hyun-ri memang berbakat dalam dunia bisnis. Tapi dia juga gampang untuk dimanfaatkan" jawab Seok Gwan dengan helaan nafas pelan.
__ADS_1
"Kau benar" jawab Seo Yoon membenarkan dan tersenyum tipis.
Hyun-ri memang pandai dalam mengelola bisnisnya, tidak heran kenapa dia bisa berbakat dalam dunia bisnis. Itu karena darah pembisnis sang appa yang mengalir padanya. Hyun-ri mampu menutup semua kerugian yang disebabkan oleh Gun-yo dengan bisnis lain yang ia kembangkan. Setiap bisnis yang Hyun-ri mulai akan dengan cepat berkembang pesat.
Seberapa kali rencana licik Gun-yo untuk meraibkan suntikan dana dari perusahaan Han, tetap saja tidak membuat perusahaan Han goyah. Hyun-ri terlalu pintar untuk mempertahankan perusahaannya tapi ia terlalu bodoh dan naif jika menyangkut untuk dimaanfaatkan Gun-yo.
*******
"Oppa!" panggil Hyun-ri pelan
Mereka sedang berdansa mengikuti alunan musik yang menenangkan.
"Hm, kenapa? Katakan!! Aku tahu, kau sedari tadi ingin mengatakan sesuatu kepadaku" jawab Hwan-ki menatap lekat manik cantik Hyun-ri.
"Bagaimana kau tahu, hubunganku dengan Seok Gwan oppa?" tanya pelan Hyun-ri dan membalas tatapan Hwan-ki.
Hwan-ki tersenyum hangat saat pertanyaan itu diajukan oleh Hyun-ri. Hwan-ki tahu semuanya, Hwan-ki mendengar dan melihat semuanya.
Flasback..
"Aku mencintaimu" ucap Seok Gwan.
"Hm, aku juga oppa" jawab Hyun-ri.
Hwan-ki mendengar semua yang dikatakan Hyun-ri pada Seok Gwan yang terlelap dalam tidurnya. Dan ia juga mendengar pengakuan dan hal yang dilakukan Seok Gwan dan Hyun-ri dibalik pintu kamar Seok Gwan yang ia buka sedikit.
Hwan-ki yang mendengar dan melihat semua itu hanya tersenyum tipis dan menutup kembali pintu kamar Seok Gwan perlahan. Ia berjalan kembali ke ruang tengah dan meminum wine di gelasnya hingga tandas.
Flasback of.....
"Aku tahu, saat Seok Gwan mabuk di club ia mengakui perasaannya padamu. Dan.. Saat kita berlibur di Jeju. Aku juga mengetahui nya" jelas Hwan-ki dengan senyum hangat.
Hyun-ri yang mendengar itupun langsung menurunkan tanganya yang sedari tadi bergantung cantik memeluk leher Hwan-ki.
"Kau sudah tidak ingin berdansa denganku lagi, bayi besarku?" tanya Hwan-ki masih dengan senyum hangatnya.
Grep...
Hwan-ki menarik pinggang Hyun-ri untuk mendekat padanya. Ia memeringkan dan memajukan kepalanya agar sejajar dengan wajah Hyun-ri yang lebih pendek darinya.
"Kenapa kau diam saja, Hyun-ria?" tanya Hwan-ki tepat di depan bibir ranum Hyun-ri.
__ADS_1
"Apa kau terlalu terkejut, aku mengetahui semuanya? Sebenarnya aku sudah mengetahui nya sedari kita duduk dibangku sekolah menengah atas" jelas Hwan-ki.
"Tapi Seok Gwan bodoh dan dingin itu tidak peka akan perasaanmu" ucap Hwan-ki sambil menegakkan kepalanya dan masih mengeratkan rangkulannya dipinggang Hyun-ri.
"Kau mengetahuinya, selama itu oppa?" tanya lirih Hyun-ri.
"Tentu saja, walaupun aku memiliki sifat dan sikap dingin. Tapi aku tidak sedingin Seok Gwan hingga tidak peka dengan sekitarku" jawab Hwan-ki dengan senyum hangat.
"Hentikan senyumanmu itu, oppa!" ucap Hyun-ri dengan tatapan sendu.
Hwan-ki masih tersenyum hangat dan menatap manik cantik Hyun-ri lamat-lamat. Hwan-ki melepas rangkulannya pada pinggang Hyun-ri dan memberi jarak antara mereka.
"Kembali ke Seok Gwan dan Seo Yoon. Aku harus menemui tuan Kang sebentar" ucap dan pamit Hwan-ki yang langsung berbalik dan meninggalkan Hyun-ri di tengah-tengah kerumunan tamu yang berdansa.
"Ada apa denganmu, Hwan-ki oppa?"
********
Cemburu, sakit, dan marah. Semua bisa kita rasakan pada hati dan perasaan kita. Saat melihat orang terkasih kita begitu dekat dengan orang lain. Seok Gwan melihat semuanya, hatinya berdenyut nyeri melihat Hwan-ki menarik pinggang Hyun-ri dan mendekat padanya. Begitu intim sekali dimata Seok Gwan. Ia begitu marah melihat semua itu didepan mata kepalanya, dimana kekasihnya begitu dekat dengan pria lain.
Dengan rasa amarah yang dia tahan dan berusaha untuk memaklumi semuanya, ia berjalan meninggalkan area pesta untuk memberi waktu sendirian bagi dirinya meredam amarahnya. Bagaimanapun juga Hwan-ki adalah sahabatanya dan Hyun-ri. Mereka bersahabat dari kecil, jadi bukankah wajar jika mereka begitu dekat seperti itu.
"Sial" ucap Seok Gwan dengan mengepalkan tangannya kuat.
Bugh....
Seok Gwan memukul pohon didepannya dengan kuat, hingga melukai tangannya.
"Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri, tuan muda Kim?" tanya Aeri yang tiba-tiba datang dari belakang Seok Gwan.
Seok Gwan tidak menggubris ucapan Aeri, ia bahkan tidak menoleh sedikitpun ke arah Aeri.
Grep...
Aeri mengangkat tangan Seok Gwan dan membalut luka Seok Gwan dengan sapu tangannya.
"Jangan melukai diri sendiri. Aku sudah balut lukamu, tapi kau harus segara mengobatinya" ucap Aeri dengan manis.
Seok Gwan tetap diam dengan wajah dingin dan datarnya. Ia juga membiarkan Aeri membalut lukanya.
"Kau sepertinya irit sekali berbicara. Baiklah, aku pergi dulu. Ingat, jangan lupa obati lukamu"
__ADS_1
********