Bunga Daisy Di Musim Dingin

Bunga Daisy Di Musim Dingin
Chapter 8


__ADS_3

"Hyun-ria!!! Ayo makan malam" Ajak Seo Yoon saat ia memasuki kamar Hyun-ri.


"Baik oppa. Maaf aku tidak membantu kalian menyiapkan makan malam" Jawab Hyun-ri.


"Tidak apa. Kau baik-baik saja kan?"


"Tentu oppa. Hyun-ri kalian ini baik-baik saja"


Hyun-ri menyembunyikan segala kesedihan yang ia rasakan. Bahkan, Hyun-ri saat sendiri dikamarnya ia manangis dalam diam seorang diri. Entah, apa yang dia rasakan sekarang benar-benar diluar dugaannya. Hyun-ri merasa kecewa, sedih, sesak, bahkan hatinya berdenyut sakit. Hyun-ri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya sendiri.


"Baiklah, ayo!!"


Hyun-ri dan Seo Yoon pun turun bersama dari lantai atas. Mereka segera bergabung dengan Hwan-ki dan Seok Gwan yang sudah duduk ganteng di meja makan untuk menunggu mereka.


"Wah!!! Apa kalian bertiga yang memasak semua ini?" tanya Hyun-ri dengan binar mata senang dan penuh minat.


"Tentu saja. Ini masakan kami bertiga, bukan masakan dari Restauran mewah" Sahut Hwan-ki dan diangguki kedua pria lainnya.


Hyun-ri merasa kagum akan masakan dari ketiga sahabatnya itu. Bagaimana tidak, ada atas meja sudah tersedia Steak dan pelangkapnya. Bahkan, mereka juga membuat cake untuk dessert, mereka juga menyiapkan sebotol wine untuk teman mereka makan dan juga buah-buahan yang sudah dikupas dan disusun rapi di atas piring. Sungguh, hidangan yang terlihat sangat mewah dan menggiurkan.


"Aku akan menikmatinya. Selamat makan semuanya" Ucap Hyun-ri dengan senang.


"Selamat makan" Jawab ketiga sahabatnya.


Mereka bertiga pun menikmati makan malam mereka sembari menikmati pemandangan malam hari dipulau Jeju yang sangat indah dan menenangkan. Bahkan, mereka tidak merasa terusik akan deburan ombak yang menabrak karang. Beruntunglah mereka menyewa villa mewah itu, yang memiliki ruang makan dengan pintu kaca terbuka langsung ke arah taman samping dan menghadap lautan lepas.


******


Hotel...


"Kau sudah menemukan lokasinya?" Ucap Gun-yo pada seseorang.


"Sudah tuan. Ini!!" Jawab seseorang dengan memberikan secarik kertas berisi alamat.


"Kau berkerja dengan baik. Pergilah, Aku akan segera mentrasfer sisa nya"


Gun-yo tersenyum licik, karena ia telah mendapatkan lokasi terakhir ponsel Hyun-ri dimatikan. Ia membayar mahal seorang hacker untuk melacak lokasi Hyun-ri berada lewat panggilan terakhirnya tadi siang saat ia sudah sampai di Jeju.


"Kita bertemu besok, Hyun-ri" Ucap Gun-yo dengan sunggingan senyum sambil menatap secarik kertas berisi alamat Villa yang disewa oleh Hyun-ri dan ketiga sahabatnya.


Entah apa sebenarnya yang Gun-yo inginkan dan rencanakan. Tidak ada yang tahu kenapa Gun-yo sampai rela menyusul dan membayar hacker untuk melacak Hyun-ri. Tapi yang pasti, semua akan terungkap dengan berjalannya waktu. Bukankah ada sebuah peribahasa, sebaik-baiknya bangkai disimpan, pasti akan tercium juga. Mungkin perumpaan ini akan cocok untuk Gun-yo. Mungkin...


Drtt..drrttt...drrrttt...


Getara ponsel menandakan panggilan masuk dari ponselnya mengalihkan atensi Gun-yo. Ia segera mengambil ponselnya yang berada di atas meja sampin tempat tidur. Gun-yo sedikit menghela nafasnya karena melihat nama si pemanggil. Dengan sedikit malas Gun-yo menjawab panggilannya.


*_*


"Hallo" Ucap Gun-yo saat menjawab panggilannya.


"Oppa!!!! Kenapa kau belum datang? Aku sudah menunggumu dari tadi. Ini bahkan sudah jam 8malam" tanya seseorang yang berada di sambungan telfon.


"Maaf baby. Sepertinya aku tidak bisa menemui mu malam ini. Aku harus bertemu client di Jeju. Tapi, kau jangan kesal, setelah dari Jeju dan urusan pekerjaanku sudah selesai, aku akan segera menemui mu"


"Jeju? Kenapa kau baru mengabariku sekarang, jika kau pergi ke Jeju, oppa?"


"Maaf. Pertemuan ini dadakan dan tadi aku langsung mengambil penerbangan awal untuk ke Jeju."


"Baiklah. Aku akan menunggumu kembali, oppa" Sahut seorang wanita tersebut, dan hanya di jawab gumaman oleh Gun-yo.


"Cepat selesaikan pekerjaanmu dan segeralah kembali. Aku merindukanmu, oppa"


"Hmm, tentu. Yasudah aku matikan dulu ya. Bye baby"

__ADS_1


"Bye oppa..."


*_*


Gun-yo pun memutus panggilannya dan meletakkan kembali ponselnya. Ia berjalan ke arah balkon kamar hotelnya.


"Kau harus berada dijangkauanku, Hyun-ria." Ucap Gun-yo dingin sambil memandang langit malam.


******


Prakk...


"Berani kau berbohong pada ku, oppa!!!" Ucap kesal seorang wanita setalah membanting ponselnya.


"Aeri-a, tenanglah!!!" sahut seseorang.


"Dia membohongiku lagi, demi wanita sialan itu. Apa istimewahnya wanita itu. Aku tidak akan biarkan j*lang itu menggoda Gun-yo ku" Ucap Aeri dengan emosi.


Aeri, Kim Aeri. Wanita berusia 24 tahun, seorang model terkenal di korea selatan. Sosok wanita yang cantik dan anggun. Tapi, banyak wajah asli yang ia sembunyikan.


Aeri sangat marah, karena Gun-yo telah membohonginya. Aeri tahu jika Gun-yo ke Jeju untuk menyusul Hyun-ri. Darimana Aeri tahu? Tentu saja dari orang yang ia bayar untuk memata-matai Gun-yo. Ia terlalu terobsesi untuk memiliki Gun-yo seorang diri, dan dia tidak akan membiarkan wanita lain merebut Gun-yo darinya.


Apa kalian bertanya-tanya, hubungan Aeri dengan Gun-yo? Maka, jawabannya adalah tidak ada. Mereka tidak ada hubungan apa-apa. Sepasang kekasih? Tidak, mereka berdua bukan sepasang kekasih. Tapi, kedekatan mereka berdua sudah sangat intim layaknya sepasang kekasih. Dan Aeri, sangat menyukai dan mencintai Gun-yo. Hmm mungkin...


Aeri dan Gun-yo bertemu, saat Aeri menjadi model salah satu produk kosmetik milik perusahaan Gun-yo yang baru akan diluncurkan dipasaran. Hubungan mereka semakin dekat dan sangat dekat, tapi tidak ada kejelasan status. Mereka berdua hanya saling menikmati kebersamaan satu sama lain, dengan obsesi yang dimiliki masing-masing. Entahlah, hubungan macam apa yang mereka jalin. Yang jelas, semua itu mungkin hanya sebatas obsesi dan kesenangan semata.


"Atur penerbanganku ke Jeju, malam ini juga!!!" Perintah Aeri pada asisten pribadinnya.


******


"Hyun-ria!! Apa pertanyaanku tadi menyinggungmu dan menyakitimu? Jika iya, tolong maafkan aku, Hyun-ria" Tanya Seok Gwan pada Hyun-ri.


"Tidak oppa. Aku yang harusnya minta maaf. Maaf karena reaksiku terlalu berlebihan tadi" Jawab Hyun-ri.


"Kau yakin? Lalu kenapa kau menangis?" Tanya Seok Gwan memastikan.


"Tadi, aku hanya.. Hanya merasa bersalah saja padamu oppa" Jawab Hyun-ri dengan senyum manisnya.


"Karena tiba-tiba membentak ku?"


"Hmm, Karena itu"


Hyun-ri menyembunyikan segalanya. Dia ingin menghapus segala perasaan yang tumbuh bersemi secara perlahan. Entah sejak kapan kuncup-kuncup perasaan itu mulai bersemi kembali. Yang Hyun-ri tahu perasaan itu sudah ada sejak ia dan Seok Gwan duduk di bangku sekolah menengah atas. Namun, Hyun-ri berusaha menyembunyikan dan membunuh perasaan yang dimilikinya untuk Seok Gwan. Bagimanapun Seok Gwan adalah sahabatnya dan mungkin akan tetap seperti itu selamanya. Ditambah hari ini, yang Hyun-ri pikir Seok Gwan akan mengakui segala perasaan yang dia miliki untuknya secara sadar, namun ternyata tidak. Seok Gwan dengan gamblang menyuruhnya membuka hati untuk lelaki lain. Tapi, Hyun-ri juga cukup lega. Karena tahu, jika Seok Gwan juga memiliki perasaan yang sama seperti yang sudah lama ia rasakan padanya. Seok Gwan mengakuinya, namun dalam keadaan kehilangan kesadarannya karena terlalu banyak meminum minuman beralkohol kemarin malam.


Flasback kemarin malam saat di club...


"Seok Gwan oppa, berhenti minum kau sudah terlalu banyak minum." Ucap Hyun-ri menghentikan Seok Gwan untuk menuangkan wine kedalam gelasnya lagi.


Saat ini Hyun-ri hanya berdua dengan Seok Gwan, karena Hwan-ki dan Seo Yoon pergi ke toilet bersama dan mencoba menghubungi supir untuk mengantar mereka pulang.


Hyun-ri sangat khawatir pada Seok Gwan. Karena sahabat tampan dan dinginnya itu sudah terlalu banyak minum. Entah, masalah apa yang membuatnya minum sangat banyak.


"Biarkan aku minum, aku merasa tidak berguna dan sakit.Sangat sakit, saat melihat orang yang aku sayang, yang. Yang aku cintai, dia terluka.. Hyun-riku terluka!" Ucap Seok Gwan dengan pandangan sendunya dan wajah yang memerah karena mabuk.


"Oppa, kau mabuk. Kau harus berhenti minum, aku mohon oppa!!" Ucap Hyun-ri dengan tatapan yang ikut sendu.


Hyun-ri juga minum tapi ia tidak kehilangan kesadarannya. Ia dengar dan ia ingat apa yang di katakan oleh Seok Gwan barusaja. Perasaan Hyun-ri campur aduk, antara ia merasa bersalah karena tidak menceritakan kenapa pergelangan tangannya memerah dan juga ia senang, Seok Gwan juga mencintainya. Seok Gwan memiliki perasaan yang sama yang sudah ia miliki sejak lama untuk Seok Gwan.


"Oppa, aku mohon. Berhenti minum!!! Ayo kita pulang, sadarlah oppa!!!" Ucap Hyun-ri lagi sambil memengang tangan kanan Seok Gwan.


"Aku gagal menjaga Hyun-ri ku. Aku tidak bisa menjaganya. Aku mencintai Hyun-ri ku.. Sangat..." Ucap Seok Gwan lalu ia kehilangan kesadarannya dan jatuh di pelukan Hyun-ri.


"Kau tidak gagal oppa, aku.. Aku juga mencintai mu. Maaf...maafkan aku.." Ucap Hyun-ri lirih dan memeluk Seok Gwan.

__ADS_1


Flasback off...


"Hyun-ria!! Aku tidak tahu, kenapa kau sangat menyukai Gun-yo. Aku tahu, aku tidak berhak ikut campur atas apa yang kau rasakan terhadapnya. Tapi, aku benar-benar tidak ingin melihatmu terluka" Ucap tulus Seok Gwan menatap sendu tepat ke mata Hyun-ri.


"Oppa!!! Aku tahu kau sangat menyayangi dan ingin selalu melindungiku. Tapi, percayalah padaku. Gun-yo oppa adalah orang yang baik. Aku sangat mengenalnya oppa" Ucap Hyun-ri lirih dan mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap ke mata sendu Seok Gwan.


"Apa kau sangat mempercayainya, Hyun-ria?" tanya Seok Gwan lirih, tapi masih tetap bisa di dengar Hyun-ri


"Hmm, Aku mempercayainya"


******


Menyembunyikan segala perasaan yang mulai tumbuh dihati untuk seseorang, bukanlah pilihan yang tepat. Bukankah itu sama saja kita menyakiti perasaan kita sendiri? Apalagi tahu jika seseorang itu memiliki perasaan untuk orang lain, apa tidak menambah rasa sakit pada hati kita sendiri? Namun, jika kita menyembunyikan dan membunuh perasaan itu karena hubungan persahabatan? Apa hati akan tetap baik-baik saja? Sepertinya tidak.


Ketakutan jika persahabatan akan berakhir jika di ungkapkan dan takut bila perasaan yang kita rasakan tidak terbalaskan. Jika kita mendahulukan rasa takut yang belum terjadi itu. Maka, sama saja kita menyakiti hati sendiri dan juga hati orang lain yang kita tidak tahu jika memiliki perasaan yang sama.


Seperti Hyun-ri dan Seok Gwan. Mereka memilih untuk menjadi egois untuk diri mereka sendiri. Membunuh perasaan yang mereka miliki untuk satu sama lain, dan membohongi hati mereka sendiri karena persahabatan mereka yang sudah lebih dulu dan lama terjalin.


"Oppa!!! Boleh aku bertanya sesuatu?" Ucap Hyun-ri memecah kehingan yang beberapa menit terjadi di antara meraka berdua.


"Hmm, katakan!!!"


"Apa kau memiliki perasaan untuk wanita lain? Yang sedang dekat dengan mu mungkin? Apa kau pernah pergi berkencan oppa? Dengan siapa? Wanita seperti apa dia?" Tanya Hyun-ri dengan senyum manis dan membuat raut wajah seolah penasaran.


"Kau!!! Wanita pertama yang membuatku jatuh cinta"


"Tidak ada. Aku tidak pernah pergi berkencan" Jawab Seok Gwan malas.


"Ah, benar juga. Kalau dipikir lagi kau selalu menghabiskan waktu untuk bekerja. Dan juga, siapa yang mau berkencan dengan pria dingin sepertimu ini" Sahut Hyun-ri dengan tawa mengejeknya.


"Han Hyun-ri!!!! Kau meremehkan ku? Aku tampan, kaya dan sangat pintar. Tentu saja akan banyak wanita yang mau bersamaku. Bahkan, wanita-wanita diluar sana akan bersedia tidur denganku" Jawab Seok Gwan dengan bersmirik. Hingga...


Bugh...


Akh...


"Yak!!!! Han Hyun-ri!!!!" Teriak Seok Gwan dengan ringisan karena perutnya di hadiahi kepalan tangan Hyun-ri.


"Salah siapa berkata seperti itu. Pikiranmu terlalu kotor, oppa!!!" Sahut Hyun-ri santai tanpa rasa berasalah dan bersendekap dada.


"Kau!!!"


"Sssttt!!!! Aku tidak mau mendengar mu lagi oppa. Kau pria mesum!!!!!" potong Hyun-ri dan beranjak dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Seok Gwan yang masih memengang perutnya karena bogeman mentah tangan mungil Hyun-ri.


"Dia cukup kuat sekali dengan kepalan tangan mungilnya" Ucap Seok Gwan seorang diri dengan senyum tipis.


*******


Malam semakin larut, hembusan angin dari laut semakin membuat udara malam terasa begitu dingin. Suara deburan ombak pun masih terdengar bergemuru riuh. Walaupun begitu, dinginnya udara dan suara ombak bergemuru tidak menganggu ketiga pria yang sedang menikmati wine di gelas masing-masing.


"Apa kita harus memberi pelajaran pada Gun-yo?" Ucap Seo Yoon memulai obrolan.


"Tentu saja. Dia sudah berani melukai fisik Hyun-ri kita. Aku tidak akan melepaskan begitu saja!!" Sahut Seok Gwan.


"Ya, aku pun tidak akan melepaskannya" sahut Hwan-ki


Mereka bertiga sudah tahu, penyebab dari pergelangan tangan Hyun-ri yang memerah memar. Itu lah sebabnya mereka tidak mempertanyakan lagi tentang pergelangan tangan Hyun-ri malam itu. Karena sejak awal mereka hanya berpura-pura tidak tahu, tentang Hyun-ri menemui Gun-yo. Karena mereka ingin Hyun-ri sendiri yang memberitahu mereka. Mereka tahu itu, karena ada pengirim anonim yang mengirim rekaman cctv saat Gun-yo menarik paksa Hyun-ri keluar meninggalkan Hotel King. Dan mereka mendapatkan rekaman itu sesaat sebelum Hyun-ri menghubungi Seok Gwan.


"Akan aku pastikan dia tidak akan mendekati Hyun-ri lagi" Ucap Seok Gwan begitu dingin


"Lalu, haruskah kita mencari tahu juga, siapa pengirim itu?" Tanya Seo Yoon.


"Kim Aeri" jawab Hwan-ki.

__ADS_1


*******


__ADS_2