
Jefri bingung hendak menjawab pertanyaan Nayla seperti apa, karena selama ini dirinya jauh dari Tuhan, jangankan untuk Shalat, bahkan Jefri tidak tau caranya.
"A_aku lagi males aja," ujar Jefri mencari alasan.
"Mas, Shalat itu kewajiban bagi umat muslim, jadi kita tidak boleh berkata seperti itu, karena amalan pertama yang akan ditanyakan di akhirat nanti adalah Shalat. Jadi, selagi ada waktu Shalatlah sebelum dishalatkan," ujar Nayla.
"Maksud kamu apa, aku gak ngerti?" tanya Jefri dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maksud Nayla itu kita harus Shalat sebelum kita meninggal, karena setelah meninggal dunia, kita yang akan dishalatkan," jelas Andri, karena selama ini Andri selalu menyempatkan diri menghadiri acara-acara pengajian, meski pun kedua orangtua Andri juga jauh dari Tuhan, tapi Nayla selalu mengingatkan Andri sehingga sekarang Andri berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
"Sepertinya sejak bertemu dengan Nayla, kamu jadi berubah Dri, padahal dulu kamu juga jarang Shalat," ujar Jefri.
"Alhamdulillah, semuanya berkat Nayla. karena dulu ketika kami masih bersama, Nayla selalu mengingatkanku menuju jalan kebenaran," ujar Andri dengan tersenyum kecut, karena saat ini Nayla tidak akan mungkin memberikan perhatian lagi kepadanya.
"Semua itu bukan karena Nayla, tapi karena Mas Andri sudah mendapatkan hidayah. Semoga Allah SWT segera membukakan pintu hidayah juga untuk Mas Jefri, karena seorang Suami harus menjadi imam untuk keluarganya," ujar Nayla kemudian mencium punggung tangan Jefri serta mengucap Salam sebelum berangkat ke Mushala.
Jefri tertegun mendengar perkataan Nayla, dirinya merasa malu karena belum bisa menjadi imam yang baik untuk istrinya.
"Nayla spesial ya Kak, makanya Andri tidak akan pernah bisa melupakan Nayla."
"Iya, Nayla sangat spesial, jadi jangan berharap aku akan melepaskannya untuk kamu, meski pun kamu adalah Adikku," ujar Jefri.
"Bagaimana kalau aku memutuskan untuk berusaha merebut Nayla lagi dari Kak Jefri?"
"Apa kamu akan menerima Nayla jika dia sudah tidak suci lagi?" tanya Jefri yang merasa penasaran dengan jawaban Andri.
"Bagiku Nayla akan tetap suci, karena aku mencintainya karena Allah, dan aku selalu berharap jika kelak Nayla akan menjadi jodohku," jawab Andri.
Jefri tidak tau harus berkata apa lagi, karena cinta tidak mungkin bisa dipaksakan.
Ternyata cinta Andri kepada Nayla begitu besar, sampai-sampai Andri rela menerima Nayla apa adanya. Apa aku juga harus berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi supaya Nayla bisa mencintaiku, ucap Jefri dalam hati.
__ADS_1
......................
Setelah Nayla melaksanakan Shalat Maghrib, Nayla membeli makanan untuk Jefri dan dirinya, karena sebelumnya Andri sudah memakan makanan yang diberikan oleh pihak Rumah Sakit, sehingga Nayla membelikan buah-buahan saja untuk Andri.
Nayla mengetuk pintu, kemudian mengucap Salam sebelum masuk, tapi saat ini Jefri pura-pura tidur, karena dia ingin tau Nayla akan bersikap apa kepada Andri saat dia tertidur.
"Nay, aku mau bicara sama kamu," ucap Andri kepada Nayla, karena saat ini Nayla duduk di samping Jefri.
"Memangnya Mas Andri mau bicara apa?" tanya Nayla dengan wajah yang selalu tertunduk.
"Kenapa kamu tidak mau melihat wajahku? apa kamu tidak merindukanku?" tanya Andri.
"Saat ini aku adalah seorang istri yang harus selalu menjaga pandangan terhadap lelaki yang bukan muhrim ku Mas."
"Apa semudah itu kamu melupakan ku setelah dua tahun kita menjalin hubungan?" tanya Andri lagi.
"Bohong jika aku sudah melupakan Mas Andri, karena semua itu akan sangat sulit untuk aku lakukan, tapi bagaimanapun juga aku harus berusaha, karena saat ini status kita sudah berbeda. Jadi, aku harap Mas Andri bisa melupakan aku juga, karena mungkin ini yang terbaik untuk kita," ujar Nayla.
"Selamanya nama kamu akan selalu tersimpan di dalam hatiku Nayla, dan aku tidak akan bisa melupakanmu."
"Tidak ada perempuan yang lebih baik di Dunia ini selain kamu Nay," ucap Andri, dan Nayla hanya diam tanpa mau berkata apa-apa lagi, karena Nayla berpikir jika saat ini Andri membutuhkan waktu untuk melupakan dirinya, sampai akhirnya Nayla ingat dengan nasi yang dia beli untuk dirinya dan Jefri.
"Mas Jefri, bangun Mas, katanya lapar, kenapa Mas Jefri malah tidur?" ujar Nayla dengan menggoyangkan tubuh Jefri.
"Kamu udah pulang Nay?" tanya Jefri dengan pura-pura mengucek matanya.
"Ya sudah, kalau begitu kita makan dulu," ujar Nayla dengan membuka nasi bungkus yang ia beli.
"Kok kamu beli lauknya makanan kesukaan Andri sih?" tanya Jefri yang melihat jika lauknya adalah rendang.
"Maaf Mas, Nayla tidak tau makanan kesukaan Mas Jefri," ucap Nayla dengan lirih.
__ADS_1
Andri sudah mengira jika Jefri akan marah sama Nayla, karena biasanya Jefri akan marah jika ada orang yang melakukan kesalahan.
"Kak, makanannya buat Andri saja, nanti biar Andri nyuruh OB beli makanan lagi buat Kak Jefri."
"Enak saja kamu mau makan makanan yang dibelikan istriku. Ayo makan Nay, meski pun aku tidak suka lauknya, tapi apa pun yang kamu belikan, aku pasti akan memakannya," ujar Jefri, kemudian makan dengan lahap.
"Mas, kalau Mas Jefri tidak suka, biar Nayla belikan yang baru."
"Nay, kalau memang Kak Jefri tidak suka, biar aku saja yang memakan makanannya," ujar Andri.
"Mas Andri makan buah-buahan saja ya," ujar Nayla dengan menyimpan buah-buahan yang dia beli di samping Andri.
"Aku kan sudah bilang, kalau aku akan memakan apa pun yang dibelikan oleh istriku. Bagaimana kalau kamu menyuapi aku makan, orang bilang makanan akan terasa enak ketika disuapi oleh orang lain," ujar Jefri.
Nayla tidak mungkin menolak keinginan Suaminya, dan akhirnya Nayla menyuapi Jefri.
"Kak Jefri kan tidak sedang sakit, kenapa sih pengen disuapi segala," protes Andri.
"Nayla saja tidak protes, kenapa kamu yang sewot," ujar Jefri.
Nayla menghela napas panjang karena Jefri dan Andri terus saja berdebat.
"Kalau kalian masih saja berdebat, sebaiknya aku pulang saja," ujar Nayla, sampai akhirnya Andri dan Jefri langsung diam karena takut jika Nayla sampai meninggalkan mereka.
"Ya sudah, kalau begitu aku makan sendiri saja," ujar Jefri dengan mengambil nasi bungkus miliknya dari tangan Nayla.
Setelah selesai makan, Jefri hendak merebahkan kepalanya pada paha Nayla.
"Mas, kalau udah makan itu jangan tiduran dulu, sekurang-kurangnya tiga puluh menit, supaya makanan bisa di cerna oleh perut," ujar Nayla, dan Jefri pun kembali duduk.
"Kak Jefri patuh banget sama Nayla, pasti Kak Jefri takut kalau Nayla sampai aku rebut kan?" ujar Andri.
__ADS_1
"Silahkan saja kamu coba rebut Nayla, karena aku yakin Nayla tidak akan mengkhianatiku, meski pun kenyataannya masih ada rasa cinta di hatinya untuk kamu," ujar Jefri.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan kembali mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku," ujar Andri.