
Nayla menangis dalam pelukan Andri, dan Nayla merasa terharu karena tidak pernah mengira jika Andri tetap akan menerima dirinya apa adanya.
"Terimakasih banyak Mas, Nayla tidak pernah mengira jika Mas Andri masih tetap menerima Nayla apa adanya meski pun saat ini Nayla hamil Anak Mas Jefri."
Andri menempelkan telunjuknya pada bibir Nayla.
"Bayi yang saat ini kamu kandung adalah Anak kita, bukan Anak Kak Jefri, dan sebentar lagi kita akan membuka lembaran baru. Nayla mau kan ikut Mas ke Jakarta setelah menikah nanti?"
Nayla terlihat bingung karena Nayla tidak mau tinggal satu atap dengan Mama Indri.
"Nayla tenang saja, kita akan tinggal terpisah dari rumah Mama dan Papa, karena Mas sudah memiliki rumah yang letaknya tidak jauh dari kantor, jadi Mas bisa selalu mengawasi Nayla."
Mas Andri benar-benar mengerti aku, aku beruntung karena ada lelaki yang benar-benar tulus mencintaiku, ucap Nayla dalam hati.
"Iya Mas, Nayla akan ikut kemana pun Mas Andri nanti membawa Nayla," jawab Nayla, dan Andri merasa bahagia mendengarnya.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita pulang, sebentar lagi Nayla selesai masa iddah, dan Mas akan langsung menikahi Nayla," ujar Andri dengan kembali membantu Nayla berjalan menuju mobil.
Saat ini Nayla bisa kembali tersenyum, karena Andri sudah berencana akan menikahinya, dan menjadi Ayah untuk Anak dari mendiang Jefri, padahal kenyataannya Jefri masih hidup, dan Jefri tengah melakukan operasi untuk memulihkan luka bakar pada seluruh tubuhnya.
Nayla, aku sangat merindukanmu, aku ingin segera sembuh supaya kita bisa kembali bersama. Semoga kamu percaya jika aku adalah Jefri, karena nanti wajahku pasti akan menjadi Kevin, ucap Jefri dalam hati ketika selesai melakukan operasi untuk yang kedua kalinya.
Mama Marlina selalu setia mendampingi Jefri, dan Jefri merasa bahagia dengan perhatian yang diberikan oleh Ibu kandungnya sendiri, meski pun Mama Marlina masih belum mengetahui identitas Jefri yang sebenarnya.
"Nak, Mama sudah tidak sabar ingin kembali melihat wajah tampan Kevin."
Jefri yang mendengarnya hanya tersenyum kecut, karena yang Mama Marlina sayangi adalah Kevin, bukan dirinya.
Apa sebaiknya aku terus menjadi Kevin supaya Mama tetap menyayangiku? tapi nanti aku akan berusaha mendekati Nayla sebagai Kevin, dan aku akan membuat Nayla jatuh cinta kepadaku, ucap Jefri dalam hati.
__ADS_1
......................
Setelah sampai halaman rumah, Bu Fatimah dan Bah Ujang langsung menghampiri Nayla yang saat ini tengah digandeng oleh Andri ketika turun dari mobil.
"Nak, bagaimana keadaan Nayla? Nayla baik-baik saja kan?" tanya Bu Fatimah yang terlihat khawatir.
"Dokter bilang asam lambung Nayla naik, jadi Nayla mengalami pusing juga mual dan muntah. Sebentar lagi juga Nayla pasti sembuh, apalagi sebentar kami akan segera menikah," jawab Andri dengan tersenyum. Maaf Bu, Andri dan Nayla terpaksa berbohong, lanjut Andri dalam hati.
"Ibu dan Abah bahagia mendengar kalian akan menikah, semoga acara pernikahan kalian berjalan lancar dan Pernikahan kalian langgeng hingga maut yang memisahkan," ujar Bu Fatimah yang di Amini oleh semuanya.
"Nak, apa Nak Andri sudah meminta restu kepada kedua orangtua Nak Andri?" tanya Bah Ujang.
"Mama sudah berkata jika beliau tidak akan merestui Andri menikahi Nayla, tapi Papa dari awal sudah mendukung Andri. Meski pun begitu, Andri akan tetap meminta restu kepada Mama dan Papa sebelum kami menikah."
"Abah bangga dengan sikap dewasa Nak Andri, dan Abah yakin jika Nak Andri akan bisa membahagiakan Nayla."
"Insyaallah Andri akan selalu berusaha untuk membahagiakan Nayla dalam seumur hidup Andri Bah."
"Andri tidak peduli dengan status Nayla saat ini, karena Andri mencintai Nayla karena Allah, dan Andri akan selalu mencintai Nayla hingga akhir hidup Andri, karena Nayla adalah cinta pertama dan cinta terakhir bagi Andri."
"Maafin Abah Nak, karena sebelumnya Abah sudah memisahkan cinta kalian. Abah tidak tau kalau nasib Nayla akan seperti ini. Kasihan Nayla karena harus menjadi Janda di usia muda. Untung saja Nayla belum sampai hamil Anak mendiang Nak Jefri."
Degg
Jantung Nayla rasanya berhenti berdetak, karena pada kenyataannya saat ini Nayla tengah hamil Anak Jefri.
"Bah, sekali pun Nayla hamil Anak Kak Jefri, Andri akan tetap menerima Nayla apa adanya, dan Andri akan menganggapnya sebagai Anak kandung Andri sendiri."
"Kami tidak tau harus mengatakan apalagi, karena Nak Andri begitu tulus mencintai Nayla, sampai-sampai Nak Andri rela mengorbankan diri sendiri. Kalau begitu sekarang kita masuk ke dalam, kita juga harus mempersiapkan acara pernikahan kalian setelah nanti masa iddah Nayla selesai," ujar Bah Ujang dan Bu Fatimah yang terus saja mengembangkan senyuman karena mendengar berita bahagia tentang pernikahan Nayla dan Andri.
__ADS_1
Setelah sampai di dalam rumah, Andri meminta ijin untuk mengantar Nayla masuk ke dalam kamar, karena saat ini Nayla masih terlihat lemas.
"Bu, Pak, Andri boleh kan bantu Nayla ke kamar, saat ini Nayla harus banyak istirahat supaya kondisinya cepat pulih," ujar Andri.
"Silahkan Nak, terimakasih banyak ya," ujar Bu Fatimah dan Bah Ujang.
Andri membantu Nayla berjalan secara perlahan, apalagi ketika mereka melewati tangga, karena Andri takut terjadi sesuatu yang buruk dengan kandungan Nayla.
Nayla begitu terharu sampai-sampai Nayla menitikkan airmata.
"Sayang, kenapa kamu menangis? Ibu hamil jangan sampai sedih, jangan terlalu banyak pikiran, apalagi sampai stres," ujar Andri dengan mengusap airmata yang menetes pada pipi Nayla.
"Ini adalah airmata bahagia Mas, terimakasih ya, karena Mas Andri sudah memberikan kebahagiaan kepada kami."
"Mas akan selalu membuat kalian bahagia. Baik-baik dalam perut Bunda ya sayang, jangan buat Bunda susah," ujar Andri dengan mengelus lembut perut Nayla yang masih rata, kemudian Andri menciumnya, dan Nayla semakin terharu melihat semua itu.
Apa Mas Jefri juga akan bersikap seperti itu saat mendengar kehamilanku seandainya Mas Jefri masih hidup? terimakasih Ya Allah, karena Engkau telah mengirimkan Mas Andri dalam kehidupanku, ucap Nayla dalam hati.
Andri membantu Nayla untuk berbaring, kemudian menyelimuti tubuh Nayla.
"Sekarang Nayla istirahat ya, kalau ada apa-apa Nayla panggil Mas saja," ujar Andri, dan Nayla mengembangkan senyuman serta menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Andri terlebih dahulu mengambil uang ke dalam kamarnya sebelum kembali menghampiri kedua orangtua Nayla untuk membicarakan tentang rencana pernikahannya.
"Bu, Bah, ini ada sedikit uang untuk biaya pernikahan Andri dengan Nayla, acaranya tidak perlu mewah, yang penting kita mengadakan acara syukuran keluarga saja dengan mengundang tetangga yang dekat," ujar Andri dengan memberikan amplop coklat yang berisi uang sebanyak seratus juta rupiah.
"Nak, apa ini tidak terlalu banyak?" tanya Bu Fatimah ketika melihat isi amplop yang diberikan oleh Andri, karena untuk mengadakan acara syukuran kecil-kecilan tidak akan menghabiskan uang sebanyak itu, dan dulu saja saat pernikahan Nayla dan Jefri, Papa Ervan hanya memberikan uang lima puluh juta rupiah saja.
"Andri justru malu karena tidak bisa memberikan uang lebih dari itu, karena saat ini hanya uang itu saja yang Andri bawa, tapi untuk Mas kawin Andri sudah mempersiapkannya."
__ADS_1
"Tapi ini terlalu besar jika hanya untuk mengadakan acara syukuran keluarga saja, karena dengan uang segini kita bisa mengundang tetangga satu kampung," ujar Bu Fatimah.
"Bu, jika memang ada sisanya Ibu bisa gunakan untuk keperluan Ibu dan Abah sehari-hari," ujar Andri dengan tersenyum.