
Andri mengerti kenapa Nayla nampak ragu untuk ke luar dari dalam mobil.
"Sayang, kalau Nayla belum siap untuk bertemu Mama, tidak apa-apa kok Nayla tunggu Mas di dalam mobil saja," ujar Andri.
Nayla beberapa kali mengembuskan napas secara kasar, sebelum akhirnya angkat suara.
"Nayla akan ikut Mas ke dalam, bagaimanapun juga orangtua Mas adalah orangtua Nayla juga," ujar Nayla, kemudian turun dari dalam mobil. Andri terus menggandeng tubuh Nayla untuk masuk ke dalam rumah.
Papa Ervan dan Mama Indri kebetulan sedang makan siang ketika Nayla dan Andri mengucapkan Salam, dan Mama Indri langsung menghentikan makannya ketika melihat Andri membawa Nayla.
"Kamu membuat Mama tidak berselera makan saja Andri," ujar Mama Indri, kemudian hendak masuk ke dalam kamar.
"Mama tenang saja, karena Andri datang ke sini hanya untuk mengambil pakaian Andri saja," ujar Andri, dan Mama Indri begitu terkejut mendengar Anak semata wayangnya berniat untuk pergi dari rumahnya.
"Andri, Nayla, sebaiknya kalian makan siang dulu," ajak Papa Ervan.
"Terimakasih Pa, tadi kami sudah makan saat dalam perjalanan," jawab Nayla.
Mama Indri langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar perkataan Andri yang hanya datang untuk mengambil pakaiannya saja, karena Mama Indri tadinya mengira jika Andri akan mengajak Nayla tinggal di rumahnya.
"Apa maksud kamu Andri? jadi demi perempuan ini kamu tega meninggalkan kedua orangtua kamu sendiri?" tanya Mama Indri.
"Maaf Ma, tapi saat ini Nayla adalah istri Andri, juga Menantu Mama, dan Andri akan membahagiakan istri dan calon Ibu dari Anak-anak Andri."
"Jadi kamu lebih memilih istri kamu dibandingkan dengan Mama?"
"Seandainya Mama berada dalam posisi Andri, Apa Mama akan memilih Andri dibandingkan Papa? Mama pasti sudah tau sendiri jawabannya," ujar Andri, sontak saja pertanyaan Andri membuat Mama Indri tidak bisa menjawabnya.
Andri membawa Nayla ke dalam kamarnya untuk mengambil pakaian serta barang-barang penting milik Andri.
Andri terlihat sedih, dan Nayla memeluk tubuh Andri supaya Andri merasa lebih tenang.
"Mas, maaf ya, semuanya karena Nayla, situasinya menjadi rumit seperti ini."
"Tidak sayang, semua ini bukan salah Nayla, tapi Mama terlalu egois karena hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa memikirkan perasaan kita."
Nayla membantu Andri memasukan pakaiannya ke dalam koper, meski pun Andri sudah berkali-kali melarang Nayla membantunya.
"Sayang, biar Mas saja yang melakukan semuanya sendiri. Sebaiknya Nayla istirahat, kasihan bayi kita kalau sampai Bunda nya kecapean."
"Mas, Nayla hanya membantu memasukan pakaian saja, jadi Nayla tidak akan merasa cape."
__ADS_1
"Kalau begitu nanti setelah kita sampai di rumah kita, Mas bakalan pijitin Nayla biar badannya gak pegal-pegal."
"Gak usah Mas."
"Kenapa? apa Nayla takut Mas meminta bayaran?" goda Andri.
"Itu tau," ujar Nayla, dan mereka berdua terdengar tertawa bahagia, sehingga membuat Mama Indri semakin merasa geram.
"Aku harus segera memisahkan perempuan kampung itu dari Andri," gumam Mama Indri dengan mengepalkan kedua tangannya.
Setelah selesai memasukan pakaian, Andri menggandeng Nayla untuk ke luar dari dalam kamarnya, dengan sebelah tangan menyeret koper.
Andri dan Nayla begitu terkejut ketika melihat Mama Indri yang sudah berdiri di depan pintu kamar Andri.
"Andri, Mama mohon jangan tinggalin Mama, Mama tidak akan sanggup berpisah dari Andri."
"Maaf Ma, sekarang Andri adalah seorang Pemimpin rumah tangga, dan Andri mempunyai kewajiban memberikan tempat tinggal untuk istri Andri."
"Andri, apa kamu tega meninggalkan Mama sendirian?"
"Mama tidak sendirian, karena ada Papa yang selalu ada untuk Mama. Seharusnya Mama mengerti bahwa tidak baik jika Anak yang sudah berkeluarga masih satu atap dengan kedua orangtuanya," ujar Andri.
"Ma, hentikan sandiwara Mama. Kenapa Mama selalu saja egois dan hanya memikirkan diri Mama sendiri? Biarkan Andri bahagia Ma," ujar Papa Ervan dengan memeluk tubuh Mama Indri.
"Pa, tapi Mama tidak ingin jauh dari Andri."
"Andri akan sering mengunjungi Mama dan Papa, jadi Mama tidak perlu khawatir. Kalau begitu kami pamit dulu Ma, Pa," ucap Andri dan Nayla dengan mencium punggung tangan Papa Ervan dan Mama Indri, meski pun saat bersentuhan dengan Nayla, Mama Indri langsung mengelapkan tangannya di baju yang ia pakai, dan semua itu membuat Nayla merasa sedih.
Setelah berada di dalam mobil, Andri langsung meminta maaf kepada Nayla atas sikap Mama Indri.
"Sayang, maafin Mama ya, Mama sudah bersikap keterlaluan."
"Tidak apa-apa Mas, Nayla sangat mengerti perasaan Mama, karena Mama pasti ingin memberikan yang terbaik untuk Mas Andri."
"Tapi bagi Mas, Nayla adalah yang terbaik. Nayla jangan terlalu banyak pikiran ya, apa pun yang terjadi, kita akan selalu menghadapinya bersama," ujar Andri dengan mencium punggung tangan Nayla.
Setengah jam kemudian, Andri dan Nayla sampai di sebuah rumah yang begitu mewah, padahal sebelumnya Andri mengatakan jika dirinya baru mampu membeli rumah yang berukuran kecil saja.
"Mas, rumah siapa ini?" tanya Nayla ketika Andri membuka pintu rumahnya.
"Selamat datang di rumah kita sayang, semoga Nayla suka dengan rumahnya, dan nanti rumah ini akan ramai saat Anak-anak kita telah lahir," ujar Andri.
__ADS_1
Mata Nayla langsung berkaca-kaca ketika melihat fhoto pernikahannya dan Andri yang sudah banyak terpajang di setiap sudut ruangan rumah tersebut.
"Mas, kapan Mas mempersiapkan semua ini? kenapa di rumah ini sudah banyak fhoto kita?" tanya Nayla.
"Mas menyuruh Anak buah Mas untuk mencetak fhoto dan memajangnya sebelum kita datang, dan Mas mempunyai satu kejutan lagi untuk kamu sayang," ujar Andri dengan mengangkat tubuh Nayla.
"Mas, mau membawa Nayla kemana?"
"Mas akan membawa Nayla ke dalam kamar pengantin kita," jawab Andri, kemudian membuka pintu kamarnya yang sudah dirias begitu cantik seperti kamar pengantin.
Mata Nayla berbinar melihat keindahan kamarnya.
"Apa Nayla suka?"
"Tentu saja Mas, ini sangat cantik "
"Tapi tidak secantik dirimu sayang," ujar Andri, kemudian membaringkan tubuh Nayla, dan Andri juga ikut berbaring di sampingnya.
"Sekarang kita istirahat dulu, kasihan Nayla dan bayi kita pasti cape setelah perjalanan jauh," ujar Andri dengan membawa Nayla ke dalam pelukannya.
......................
Mama Marlina membicarakan keinginannya kepada Papa Richard untuk tinggal di Indonesia, tentu saja Papa Richard menyetujui usul Mama Marlina.
"Kenapa sekarang Mama berubah pikiran? bukannya dari dulu Mama tidak ingin tinggal di Indonesia?" tanya Papa Richard yang merasa penasaran kenapa Mama Marlina berubah pikiran.
"Mama ingin selalu dekat dengan Kevin Pa, Mama sudah kehilangan Jefri, dan Mama takut jika sampai kehilangan Kevin juga," jawab Mama Indri dengan meneteskan airmata.
Papa Richard merasa kasihan terhadap Mama Indri, karena Mama Indri terus saja menyesali kematian Jefri.
"Baiklah, kalau memang itu keinginan Mama, Papa akan mengabulkannya," ujar Papa Richard dengan memeluk tubuh Mama Indri.
"Makasih banyak Pa, Papa selalu mengerti Mama."
Jefri bahagia karena Mama Marlina dan Papa Richard memutuskan untuk ikut pulang bersama Jefri ke Indonesia, dan Dokter sudah mengijinkan Jefri untuk melakukan pemulihan di Indonesia saja.
Sepanjang perjalanan dari Singapura menuju Indonesia, Jefri terus mengembangkan senyuman, karena sebentar lagi dirinya bisa bertemu dengan perempuan yang sangat dicintainya.
"Sayang, apa Kevin bahagia?" tanya Mama Marlina yang melihat Jefri terus mengembangkan senyuman.
"Tentu saja Kevin sangat bahagia, karena akhirnya Mama dan Papa bisa ikut pulang bersama Kevin, dan kita akan tinggal bersama." Dan aku lebih bahagia lagi karena sebentar lagi aku akan bertemu dengan Nayla. Aku sangat merindukanmu Nayla, tunggu aku sayang, karena aku akan kembali untukmu, lanjut Jefri dalam hati.
__ADS_1