
Saat ini Jefri dan Nayla sudah sampai di Rumah Sakit, tapi entah kenapa dari tadi hati Jefri dan Nayla sudah merasa tidak enak.
Jefri dan Nayla langsung menuju kamar perawatan Andri, tapi ternyata Andri tidak ada di sana, sampai akhirnya Jefri menanyakan keberadaan Andri kepada Perawat.
"Sus, Pasien atas nama Andri dimana ya?" tanya Jefri.
"Barusan Pasien kembali dibawa ke ruang ICU, karena keadaan pasien kembali kritis," jawab Perawat.
Nayla yang mendengarnya langsung merasa lemas dan hampir saja terjatuh karena merasa terkejut, untung saja Jefri segera menahan tubuh Nayla.
"Nay, Andri pasti baik-baik saja, sekarang sebaiknya kita ke ruang ICU untuk menemuinya," ajak Jefri dengan menggandeng tubuh Nayla.
Setelah sampai di depan ruang ICU, Mama Indri dan Papa Ervan terlihat menangis karena merasa khawatir dengan keadaan Andri.
"Pa, bagaimana keadaan Andri sekarang?" tanya Jefri, tapi tiba-tiba Mama Indri menjatuhkan tubuhnya dan duduk bersimpuh di bawah kaki Jefri dan Nayla.
"Nayla, Mama mohon selamatkan Andri, saat ini hanya kamu yang bisa menyelamatkan hidupnya," ujar Mama Indri yang terlihat begitu rapuh, padahal biasanya Mama Indri akan bersikap arogan saat bertemu dengan Jefri, bahkan tidak segan-segan menghinanya.
"Ma, jangan seperti ini, Mas Andri pasti akan baik-baik saja," ujar Nayla dengan membantu Mama Indri untuk berdiri.
"Nay, sebaiknya sekarang kamu segera masuk ke dalam," ujar Jefri dengan berat hati melepaskan pegangan tangannya kepada Nayla.
Setelah memakai pakaian steril, Nayla masuk ke dalam ruang ICU, dan lagi-lagi Nayla harus melihat lelaki yang dicintainya terbaring tidak berdaya.
"Mas Andri, bangun Mas, Nayla sudah datang. Maaf kalau Nayla sudah meninggalkan Mas Andri sehingga membuat kondisi Mas Andri semakin parah," ujar Nayla yang akhirnya menggenggam erat tangan Andri untuk memberikannya kekuatan.
Nayla terus saja melafalkan do'a dan dzikir dengan airmata yang terus menetes pada pipinya.
"Nayla, aku tidak sedang berhalusinasi kan?" tanya Andri dengan lirih.
__ADS_1
"Mas Andri, Alhamdulillah akhirnya Mas sadar juga," ucap Nayla, dan saking bahagianya Nayla sampai tidak sadar langsung berhambur memeluk tubuh Andri.
Jefri yang melihat Nayla dari kaca luar ruang ICU, awalnya biasa saja meski pun Nayla menggenggam erat tangan Andri, tapi ketika Nayla memeluk tubuh Andri, Jefri merasakan sesak dalam dadanya.
Kenapa rasanya sakit sekali ketika melihat Nayla memeluk Andri. Nay, ternyata cinta mengalahkan segalanya, padahal kamu selalu mempunyai prinsip tidak mau bersentuhan dengan lelaki yang bukan muhrim kamu, tapi ternyata sekarang apa yang kamu lakukan di depan mata kepalaku sendiri. Mungkin aku saja yang sudah terlalu banyak berharap jika Nayla akan mempunyai perasaan untukku, tapi kenyataannya semua itu hanyalah mimpi, ucap Jefri dalam hati.
Jefri memutuskan untuk pulang, karena dia sudah tidak sanggup jika terus melihat pemandangan yang menyesakkan dadanya.
"Jef, kamu mau kemana?" tanya Papa Ervan ketika melihat Jefri yang melangkahkan kaki menuju pintu keluar dari Rumah Sakit.
"Jefri mau pulang Pa," jawab Jefri singkat.
Papa Ervan sebenarnya tidak tega ketika melihat kesedihan pada mata Jefri, tapi Papa Ervan juga tidak mau Andri sampai kenapa-napa jika Nayla kembali ikut dengan Jefri.
Maafkan Papa Jef, Papa tau kalau kamu pasti sakit hati ketika melihat Nayla memeluk Andri, apalagi mereka saling mencintai, tapi Papa juga tidak mau melihat Andri terus-terusan sakit, ucap Papa Ervan dalam hati.
Nayla yang menyadari kesalahannya langsung melepaskan pelukannya pada Andri.
Sepertinya Mas Jefri marah karena melihat aku memeluk Mas Andri, sebaiknya aku ke luar untuk meminta maaf kepada Mas Jefri, ucap Nayla dalam hati, tapi ketika Nayla hendak melangkahkan kaki untuk ke luar, Andri mencekal pergelangan tangan Nayla.
"Nay, aku mohon jangan tinggalkan aku lagi, aku tidak bisa hidup tanpa kamu," ucap Andri, sehingga membuat Nayla berada dalam dilema.
Nayla kembali duduk karena tidak tega meninggalkan Andri yang kondisinya masih belum stabil.
Beberapa saat kemudian, Dokter masuk untuk memeriksa kondisi Andri, karena sebelumnya Nayla menekan tombol untuk memanggil Dokter ketika Andri sadar.
"Mas, Nayla tunggu di luar dulu ya," ujar Nayla ketika Dokter hendak memeriksa Andri.
"Tidak Nay, aku takut kamu ninggalin aku lagi," ujar Andri yang terus saja memegang erat tangan Nayla.
__ADS_1
Dokter memperbolehkan Nayla untuk tetap di sana selama pemeriksaan, karena Dokter sangat mengerti kondisi Andri yang membutuhkan keberadaan Nayla di sampingnya.
Setelah Dokter ke luar dari ruang ICU, Mama Indri dan Papa Ervan menghampiri Dokter untuk menanyakan kondisi Andri saat ini.
"Dok, bagaimana kondisi Anak kami saat ini?" tanya Mama Indri.
"Alhamdulillah, ini merupakan sebuah keajaiban, karena kondisi pasien jadi lebih baik setelah kehadiran Mbak Nayla. Saya sarankan supaya Mbak Nayla selalu ada di sampingnya untuk membantu kesembuhan Pasien," jawab Dokter.
Setelah kepergian Dokter, Mama Indri kembali mendesak Papa Ervan untuk memaksa Jefri supaya segera menceraikan Nayla.
"Pa, sebaiknya Papa paksa Jefri untuk segera menceraikan Nayla demi kesembuhan Andri, Mama tidak mau kalau Andri sampai kenapa-napa jika Nayla tidak berada di sisinya."
Papa Ervan bingung dengan posisinya saat ini, sampai akhirnya Papa Ervan meminta waktu kepada Mama Indri.
"Ma, Papa minta waktu untuk bisa membicarakan semuanya kepada Jefri. Mama tau sendiri kan bagaimana sifat Jefri? semakin dipaksa, Jefri akan semakin menolak keinginan kita."
"Tapi Nayla dan Andri saling mencintai Pa, tadi Papa lihat sendiri kan Nayla langsung memeluk tubuh Andri ketika Andri sadar. Jadi, Jefri tidak boleh egois memaksakan kehendaknya kepada Nayla."
"Ma, yang penting saat ini Nayla sudah menemani Andri, nanti kita bicarakan lagi setelah Andri sembuh. Meski pun Jefri dan Nayla bercerai sekarang, Nayla tidak akan langsung bisa menikah dengan Andri, karena Nayla harus menunggu masa Iddah selama tiga bulan."
......................
Jefri yang sudah sampai di basecamp merasakan sesuatu yang hilang dari dalam hidupnya.
"Padahal aku baru berpisah beberapa menit saja dengan Nayla, tapi kenapa aku merasakan sesuatu yang hilang dari hidupku? Nay, aku sangat merindukanmu, apa bisa aku menjalani hidup tanpa dirimu?"
Jefri mencoba memejamkan matanya, tapi wajah Nayla terus saja terbayang-bayang dalam ingatannya.
"Aaaaaakh, kenapa aku jadi seperti ini," teriak Jefri dengan mengacak rambutnya secara kasar.
__ADS_1
Jefri teringat dengan perkataan Nayla, karena Nayla selalu berkata ketika kita mempunyai masalah, kita harus ingat kepada Sang Pencipta, sampai akhirnya Jefri membuka buku panduan Shalat yang diberikan oleh Nayla.
"Aku harus belajar menjadi imam yang baik untuk Nayla," gumam Jefri yang sudah bertekad untuk merubah dirinya menjadi lebih baik lagi.