
Andri yang melihat Nayla menangis merasa bersalah, dan saat ini hatinya begitu sakit melihat perempuan yang dia cintai menangis karena perbuatannya.
Secara perlahan Andri mendekati Nayla, kemudian duduk di sebelahnya.
"Nay, aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud bersikap kurang ajar sama kamu. Kamu jangan nangis ya, nanti kalau aku sudah sembuh, aku pasti bakalan nganterin kamu menemui Kak Jefri," ujar Andri.
"Aku bukan hanya kecewa sama Mas Andri, tetapi aku kecewa sama diriku sendiri karena aku tidak bisa menjaga kehormatan sebagai seorang istri."
"Nay, Kak Jefri beruntung karena telah memilikimu. Meski pun aku tidak bisa memilikimu, tapi nama kamu akan selalu terukir di dalam hatiku sebagai kenangan yang terindah, dan aku akan selalu menjagamu dengan do'a," ujar Andri.
"Terimakasih Mas, Mas Andri sudah mengerti Nayla," ujar Nayla dengan tersenyum.
"Nay, aku boleh kan memeluk kamu untuk yang terakhir kalinya, anggap saja ini adalah pelukan perpisahan," ucap Andri dengan menahan sesak dalam dadanya, karena Andri sudah memutuskan untuk melepaskan Nayla supaya bisa hidup bahagia dengan Jefri.
Andri akhirnya memeluk tubuh Nayla dengan erat, dan mencium keningnya sebagai Salam perpisahan.
Aku tau kalau aku telah berdosa, maafkan aku Tuhan. Mas Jefri, mulai sekarang aku akan benar-benar melupakan Mas Andri, dan membuka lembaran baru dengan Mas Jefri, ucap Nayla dalam hati.
Keduanya nampak berat untuk melepaskan pelukan mereka, sampai akhirnya mereka berdua terlonjak kaget ketika mendengar suara Jefri.
Prok..prok..prok.
"Jadi ini yang kalian lakukan di belakangku? ternyata kalian serendah itu," sindir Jefri dengan bertepuk tangan.
"Semua ini tidak seperti yang Mas Jefri pikirkan," ujar Nayla yang tidak mau Jefri sampai salah paham.
"Aku sudah melihat yang kalian lakukan dengan mata kepalaku sendiri, jadi kalian tidak perlu mengelak lagi. bahkan bukan kali ini saja aku melihat kalian berdua melakukan semua itu. Bisa-bisanya kalian melakukan semua itu di Rumah Sakit, apa semalam kalian belum puas tidur bersama?" ujar Jefri dengan memperlihatkan fhoto Andri dan Nayla pada handphonenya yang sedang berpelukan dengan posisi berdiri.
__ADS_1
"Kak, semua ini Andri yang salah, dan Andri yang sudah memaksa Nayla supaya memberikan pelukan terakhirnya kepada Andri, karena Andri akan melepaskan Nayla untuk hidup bahagia bersama Kak Jefri, jadi Kakak jangan pernah salahkan Nayla."
"Sudahlah Andri, aku sudah tidak bisa lagi mempercayai kalian," ujar Jefri, kemudian menarik tangan Nayla untuk pergi dari kamar perawatan Andri.
"Kak, Andri dan Nayla masih tau batasan, dan kami tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak senonoh," ujar Andri dengan mencoba menghalangi Jefri untuk membawa Nayla, tapi Jefri malah mendorong tubuh Andri hingga terjatuh di atas lantai .
Andri tidak bisa melakukan apa pun untuk mencegah Jefri, karena bagaimanapun juga Nayla adalah istri Jefri.
Jefri yang begitu marah karena lagi-lagi sudah memergoki Nayla berpelukan dengan Andri terus menyeret tubuh Nayla untuk ke luar dari Rumah Sakit meski pun Nayla sudah mengeluh kesakitan.
"Mas, lepasin Mas, tangan Nayla sakit Mas," ujar Nayla yang terus memohon kepada Jefri.
"Kamu bilang sakit Nay? bahkan hatiku lebih sakit karena ternyata istriku sendiri sudah berselingkuh di belakangku, apalagi kamu melakukan semua itu dengan Adikku sendiri," bentak Jefri.
Nayla hanya bisa menangis karena saat ini Jefri sudah diliputi amarah, apalagi sebelumnya Eliza sudah menghasut Jefri dengan mengirimkan fhoto Andri dan Nayla yang sedang berpelukan.
"Rasain kamu Nayla, Jefri pasti akan menceraikanmu," gumam Eliza dengan tertawa bahagia ketika melihat dari kejauhan Nayla yang terus Jefri tarik sampai ke parkiran.
Jefri langsung membawa Nayla menuju basecamp, dan Jefri yang diliputi amarah seakan tuli dengan teriakan Nayla yang minta dilepaskan.
Saat ini Jefri berniat untuk memberikan hukuman kepada Nayla, apalagi Jefri sudah curiga jika Nayla telah melakukan hubungan Suami istri dengan Andri.
"Mas sakit Mas," rengek Nayla dengan mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Jefri.
Jefri langsung membawa Nayla ke dalam kamar mereka, dan Nayla begitu terkejut ketika Jefri menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
"Apa yang akan Mas Jefri lakukan?" tanya Nayla yang terlihat ketakutan, karena Jefri telah membuka semua pakaiannya.
__ADS_1
"Aku akan menghukum kamu Nayla. Apa kamu takut ketahuan kalau kamu sudah bukan perawan, karena sebelumnya kamu sudah tidur dengan Andri kan?" bentak Jefri.
"Astagfirullah Mas, aku tidak serendah itu," ujar Nayla dengan menangis, karena Nayla merasa sakit hati atas tuduhan yang Jefri lontarkan.
Jefri kemudian merobek pakaian yang dipakai oleh Nayla, dan dengan ganasnya Jefri meluapkan amarahnya kepada Nayla dengan menjelajahi seluruh bagian tubuh Nayla secara paksa.
"Sakit Mas, sakit," ucap Nayla dengan lirih ketika Jefri berhasil mengambil kesucian Nayla dengan tidak berperasaan.
Jefri terkejut ketika merasakan sesuatu yang mengalir dari bagian inti tubuh Nayla, karena dirinya telah salah menilai Nayla, dan kenyataannya Nayla masih suci, bahkan saat ini Jefri dapat melihat sendiri bercak darah perawan Nayla di atas sprei.
Jefri langsung berlari ke dalam kamar mandi setelah menyelesaikan permainannya, kemudian berteriak kencang karena telah menyesali perbuatannya yang sudah menyakiti istrinya sendiri.
"Aaaaaaaakh, bisa-bisanya aku terhasut oleh perkataan Eliza," teriak Jefri.
Kenapa aku tidak percaya terhadap Nayla? bisa-bisanya aku menuduh dia yang tidak-tidak, sekarang Nayla pasti sangat membenciku, ucap Jefri dalam hati, kemudian ke luar dari dalam kamar mandi untuk meminta maaf kepada Nayla.
Nayla terlihat menangis dengan memeluk lututnya. Dia bukannya tidak rela memberikan kehormatannya kepada Jefri, tapi hatinya sangat sakit ketika Jefri menuduhnya sudah melakukan hal yang tidak senonoh dengan Andri.
"Nay, aku benar-benar meminta maaf, aku tau aku salah, dan tidak seharusnya aku terbawa emosi. Sebagai seorang Suami seharusnya aku lebih percaya terhadap istriku," ujar Jefri dengan memeluk tubuh Nayla, tapi Nayla langsung mendorong tubuh Jefri.
"Jangan dekati aku Mas, aku ini kotor, aku tidak pantas untuk Mas Jefri," ujar Nayla.
"Tidak Nay, maafkan aku, aku sudah bersalah sama kamu, ternyata kamu masih suci," ujar Jefri dengan berjongkok di depan tubuh Nayla, tapi Nayla masih terus saja menangis, bukan hanya tubuhnya saja yang sakit, tapi hatinya lebih sakit bagai tertusuk ribuan duri.
Nayla tidak menghiraukan Jefri yang terus meminta maaf kepadanya karena kali ini Jefri sudah benar-benar keterlaluan.
Nayla mencoba melangkahkan kaki menuju kamar mandi dengan menahan bagian inti tubuhnya yang sakit, dan lagi-lagi Nayla menepis tangan Jefri saat Jefri hendak membantunya.
__ADS_1
Jefri tidak tau harus melakukan apalagi untuk mendapatkan maaf dari Nayla, karena Jefri sadar jika dirinya sudah sangat bersalah, bahkan Jefri sudah berbuat kasar terhadap Nayla.
Jefri memunguti satu persatu pakaian miliknya dan juga milik Nayla yang berserakan di atas lantai, dan Jefri terus mengacak rambutnya secara kasar ketika melihat pakaian Nayla yang robek karena perbuatannya.