CAKA ( Cintai Aku Karena Allah )

CAKA ( Cintai Aku Karena Allah )
Bab 37 ( Tidak boleh ada orang ketiga )


__ADS_3

Andri mengatakan keputusannya untuk membawa Nayla tinggal di rumah miliknya saat nanti tinggal di Jakarta.


"Pa, sebenarnya saat nanti Andri dan Nayla kembali ke Jakarta, Andri tidak akan membawa Nayla tinggal di rumah Mama dan Papa."


Papa Ervan mengerutkan dahinya karena selama ini kedua orangtua Andri tidak pernah tau jika Andri sudah membeli rumah.


"Memangnya jika kalian tidak tinggal di rumah Papa, kalian mau tinggal dimana Nak?"


"Alhamdulillah Andri sudah memiliki rumah di dekat kantor, supaya Andri bisa terus memantau Nayla."


"Sejak kapan Andri beli rumah? kenapa Papa tidak mengetahuinya?"


"Andri sudah mempersiapkan semuanya sejak awal berpacaran dengan Nayla, dan maaf jika Andri memutuskan untuk tinggal terpisah dari kalian, karena Andri ingin Nayla merasa nyaman, Papa tau sendiri kan jika Mama masih belum merestui hubungan Andri dan Nayla."


"Iya Nak, apa pun keputusan kalian, Papa akan selalu mendukungnya. Kenapa Andri tidak memberitahu Papa kalau ingin membeli rumah? Papa kan bisa membelikannya untuk kalian."


"Andri ingin mewujudkan impian Andri memberikan tempat tinggal untuk istri dan Anak Andri dengan hasil jerih payah Andri sendiri Pa. Meski pun Andri baru bisa membeli rumah yang berukuran kecil."


Kedua orangtua Nayla dan Papa Ervan merasa bangga terhadap Andri.


"Papa bangga sama kamu Nak."


"Iya Nak, kami juga bangga kepada Nak Andri," ujar Bah Ujang.


"Setelah menikah, memang seharusnya kalian tinggal terpisah, karena bagaimanapun juga dalam rumah tangga tidak boleh ada orang ketiga, meski pun itu orangtua atau saudara sendiri supaya tidak memancing permasalahan dalam rumah tangga, karena setiap orang pasti akan berbeda pendapat serta berbeda pemikiran," ujar Bu Fatimah.


"Iya Bu, dan Andri tidak mau jika Nayla merasa tidak nyaman jika tinggal bersama Mama," ujar Andri dengan menggenggam erat tangan Nayla, dan Nayla tersenyum mendengar perkataan Andri.


Setelah selesai sarapan, Papa Ervan dan Supirnya berpamitan menuju Jakarta.


"Kalau begitu Papa pamit dulu ya, semoga semuanya selalu diberikan kesehatan dan kelancaran dalam segala urusan," ujar Papa Ervan yang di Amini oleh semuanya.


Setelah kepergian Papa Ervan, Andri dan Nayla juga pamit ke dalam kamar untuk membereskan barang-barang Nayla.


"Bah, Bu, Andri sama Nayla ke kamar duluan ya, kami mau membereskan barang-barang Nayla buat dibawa besok."


"Iya Nak, kami mengerti, pengantin baru pasti ingin berduaan terus," ujar Bu Fatimah.


Andri dan Nayla tersenyum malu mendengarnya.

__ADS_1


"Udah Bu, gak usah digodain terus Anak-anaknya, Ibu kayak gak pernah muda saja. Sebaiknya sekarang kita ke kamar juga," ujar Bah Ujang.


"Abah mau ngapain pagi-pagi ngajakin ke kamar?" tanya Bu Fatimah.


"Abah mau saingan sama Nak Andri bikin Adik buat Nayla," goda Bah Ujang.


"Abah gak malu apa di depan Anak-anak bicara seperti itu?"


"Habisnya Ibu pake nanya segala, Abah mau minta dikerok sama dipijitin, badan Abah rasanya pegal-pegal semua."


Andri dan Nayla tersenyum melihat tingkah Bah Ujang dan Bu Fatimah, karena meski pun mereka sudah tua, tapi mereka tetap harmonis.


Andri kembali membantu Nayla menaiki tangga ketika hendak ke dalam kamar mereka.


"Sayang, semoga rumah tangga kita tetap harmonis seperti Abah dan Ibu ya," ujar Andri.


"Amin Mas, semoga saja."


Setelah sampai kamar, Andri membantu memasukan pakaian Nayla ke dalam tas, sedangkan Nayla tidak Andri perbolehkan untuk melakukan pekerjaan apa pun.


"Mas, Nayla bantu ya, biar cepat selesai."


"Tidak sayang, Nayla harus banyak istirahat, Ibu hamil tidak boleh sampai kecapean. Lagian semuanya sudah Mas masukin ke dalam tas," ujar Andri, kemudian merebahkan tubuhnya di atas paha Nayla.


"Sayang, Anak kita laki-laki atau perempuan ya?" tanya Andri dengan mengelus lembut perut Nayla.


"Laki-laki atau pun perempuan sama saja Mas, yang penting lahir dengan sehat dan selamat," jawab Nayla yang di Amini oleh Andri.


"Kalau perempuan pasti cantik seperti kamu, dan kalau laki-laki pasti akan tampan seperti Mas," ujar Andri dengan tersenyum, kemudian mengajak bicara bayi yang saat ini berada di dalam kandungan Nayla.


Nayla terus mengusap lembut kepala Andri sampai akhirnya Andri tertidur dengan memeluk pinggang Nayla.


"Kasihan Mas Andri, sepertinya Mas Andri kecapean," ujar Nayla.


Setelah Nayla mendengar dengkuran halus Andri, secara perlahan Nayla turun dari atas ranjang, setelah menggantikan pahanya dengan bantal pada kepala Andri.


Nayla mencari album pernikahannya dengan Jefri, kemudian Nayla memasukannya ke dalam tempat sampah dan mengambil korek untuk membakar semua fhoto dan surat yang Jefri tulis.


"Maafin Nayla Mas Jefri, tapi saat ini Nayla sudah menikah dengan Mas Andri, dan Nayla ingin membuka lembaran baru tanpa bayang-bayang Mas Jefri," ujar Nayla yang tidak ingin Andri salah paham jika Nayla masih menyimpan semuanya.

__ADS_1


Ketika Nayla membakar semua fhoto dirinya dan Jefri, dilain tempat Jefri merasakan sesak dalam dadanya.


Kenapa dadaku terasa sesak? aku merasakan sakit seperti saat Nayla pergi meninggalkanku, ucap Jefri dalam hati.


Beberapa saat kemudian Dokter dan keluarga Kevin masuk ke dalam ruang perawatan Jefri, karena hari ini perban pada wajah Jefri akan dibuka.


Semua keluarga Kevin sudah berkumpul dengan harap-harap cemas, dan mereka berharap wajah Kevin akan kembali seperti semula.


Secara perlahan Dokter membuka perban yang menutupi semua bagian wajah Kevin, dan semuanya mengucap Hamdalah ketika melihat wajah Kevin sudah kembali.


"Alhamdulillah Nak, sekarang wajah Kevin sudah kembali lagi," ujar Mama Marlina dengan memberikan kaca pada Jefri.


Tangan Jefri gemetar ketika melihat wajahnya telah berubah menjadi wajah Kevin, dan buliran bening lolos begitu saja dari mata Jefri.


"Sayang, Kevin baik-baik saja kan? Kevin lihat kan, sekarang wajah Kevin semakin tampan,"


Bagaimana ini, sekarang aku sudah menjadi Kevin, dan Nayla tidak akan mengenaliku lagi, ucap Jefri dalam hati.


"Kevin hanya bahagia Ma, karena akhirnya wajah Kevin sudah kembali lagi. Makasih banyak Ma, Pa, Kek," ucap Kevin.


"Kamu adalah Pangeran Mahkota kami Kevin, dan kamu adalah pewaris tunggal keluarga Adhitama, kami akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan kamu Nak," ucap Kakek William dengan memeluk tubuh Kevin.


Jefri merasa bahagia saat menjadi Kevin, karena Jefri banyak mendapatkan kasih sayang, dari Kakek dan juga kedua orangtuanya, berbeda saat dirinya menjadi Jefri yang selalu dihina dan dimarahi.


Apa kalian akan tetap menyayangiku jika mengetahui kebenaran bahwa aku bukanlah Kevin? mungkin aku selamanya harus menjadi Kevin supaya aku bisa mendapatkan kasih sayang dari kalian, juga tidak membuat kalian sedih jika mengetahui Kevin sudah meninggal dunia, dan aku akan membuat Nayla jatuh cinta kepada Kevin, ucap Jefri dalam hati.


Beberapa saat kemudian, Adel tiba-tiba masuk ke dalam kamar perawatan Jefri, kemudian memeluk tubuh Jefri dengan erat, tapi Jefri langsung mendorong tubuh Adel.


"Jangan menyentuhku Pengkhianat," teriak Jefri.


Apa Kevin sudah ingat jika aku telah mengkhianatinya sebelum Kevin mengalami kecelakaan? ucap Adel dalam hati, padahal kenyataan yang sebenarnya Jefri mengetahui Adel yang berkhianat dari cerita Mama Marlina yang sengaja membuat cerita karangan tentang Adel yang berselingkuh, dan kebetulan Jefri ingin memutuskan pertunangannya dengan Adel, jadi Jefri mempunyai alasan untuk memutuskan Adel.


"Kevin, aku meminta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Adel, dan semuanya terkejut mendengar Adel yang membenarkan jika dirinya telah berselingkuh.


Jadi benar jika Adel telah berselingkuh? padahal aku hanya mengarang cerita saja. Bagus deh jika memang semuanya benar, jadi Kevin bisa mempunyai alasan memutuskan pertunangannya dengan Adel, ucap Mama Marlina dalam hati.


"Sekali selingkuh, tetap selingkuh, dan aku tidak akan pernah memaafkanmu Adel. Mulai sekarang, kita putus, dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku," teriak Jefri.


Adel terus memohon karena dia takut dimarahi oleh kedua orangtuanya jika sampai Kevin memutuskan pertunangannya.

__ADS_1


"Kek, tolong bantu Adel, Adel janji tidak akan mengulanginya lagi."


"Kakek kecewa sama kamu Adel, sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum Kakek menyuruh pihak keamanan untuk menyeret kamu ke luar dari sini."


__ADS_2