
Jefri sudah mulai belajar Shalat serta memperdalam ilmu agama, tapi dirinya terus saja merasa gelisah karena tidak ada Nayla di sampingnya.
"Apa aku ke Rumah Sakit saja untuk menemani Nayla dan Andri? tapi aku takut tidak dapat mengontrol emosi, apalagi kalau mengingat Nayla yang memeluk Andri. Sebaiknya sekarang aku makan dulu, nanti aku pikirkan lagi," gumam Jefri.
Jefri memutuskan untuk menghangatkan masakan buatan Nayla, karena dirinya sudah merasa lapar.
"Belum satu hari saja aku sudah sangat merindukanmu, sepertinya aku sudah benar-benar jatuh cinta sama kamu Nay," gumam Jefri dengan terus mengembangkan senyuman ketika mengingat kebersamaannya dengan Nayla.
Ketika Jefri sedang mengaduk masakan di wajan, tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar pada pinggangnya.
"Nay, kamu sudah pulang sayang? kamu tau kalau aku sangat merindukanmu," ujar Jefri, kemudian membalikan tubuhnya.
Jefri terkejut karena ternyata yang memeluknya adalah Eliza, sehingga Jefri replek langsung mendorong tubuh Eliza hingga terjatuh.
"Mas Jefri kok tega banget sih pake dorong-dorong segala, kalau sampai El kenapa-napa gimana?" ujar Eliza dengan suara manjanya.
"Maaf El, aku hanya terkejut," ujar Jefri dengan membantu Eliza untuk berdiri.
"Mas, sekarang kan perempuan kampung itu tidak ada, jadi Mas Jefri tidak perlu pura-pura," ujar Eliza dengan bergelayut manja kepada Jefri.
"Maaf El jangan seperti ini, bagaimanapun juga aku adalah lelaki yang sudah memiliki istri. Meski pun Nayla tidak ada, tapi Tuhan melihat kita."
"Mas Jefri tidak usah munafik, Mas suka kan dengan semua yang aku lakukan?" ujar Eliza yang terus saja menempel pada Jefri.
"Eliza cukup, sekarang juga kamu ke luar dari sini," teriak Jefri.
"Mas Jefri sekarang sudah berubah, Mas Jefri tega membentak dan mengusir El hanya karena perempuan kampung itu."
"Berhenti menyebut istriku perempuan kampung, karena dia memiliki nama, dan aku mohon kamu jangan pernah dekati aku lagi El, karena aku tidak mempunyai perasaan apa pun sama kamu."
Sekarang kamu bisa menolakku Jefri, tapi lihat saja nanti, kamu pasti akan memohon-mohon untuk mendapatkan cintaku, ucap Eliza dalam hati, dan dengan terpaksa Eliza ke luar dari basecamp sebelum Jefri semakin murka.
......................
__ADS_1
Nayla saat ini merawat Andri dengan baik supaya Andri bisa segera sembuh dan dirinya bisa segera kembali bersama Jefri.
Kenapa aku terus saja memikirkan Mas Jef ya? apa saat ini dia sudah makan? ucap Nayla dalam hati.
"Nay, kamu juga makan dulu, aku tidak mau kalau kamu sampai sakit," ujar Andri.
Sebelumnya Mama Indri sudah menugaskan seorang OB untuk melayani Nayla membelikan makanan, bahkan Mama Indri juga sudah mengirimkan pakaian dan juga mukena supaya Nayla tidak kemana-mana.
Nayla makan dengan melamun, dan Andri tau betul jika Nayla pasti sedang memikirkan Jefri.
Apa aku egois jika menginginkan Nayla terus berada di sampingku? sepertinya Nayla sudah mulai mencintai Kak Jefri, ucap Andri dalam hati.
Semalam Nayla sudah mengirimkan pesan kepada Jefri, tapi Jefri tidak membalasnya.
Mas Jefri pasti marah kepadaku, sampai-sampai pesanku tidak ia balas, batin Nayla.
"Nay, kamu baik-baik saja kan?"
"Iya Mas, Nayla baik-baik saja kok, sekarang Mas Jefri makan buahnya ya," ujar Nayla yang sudah salah menyebut nama.
"Maaf Mas, Nayla tidak bermaksud seperti itu, tapi entah kenapa Nayla terus saja mengingat Mas Jefri."
"Sepertinya kamu sudah benar-benar jatuh cinta kepada Kak Jefri Nay," ucap Andri dengan lirih.
Apa iya kalau aku sudah jatuh cinta sama Mas Jefri? aku sendiri belum yakin ini perasaan cinta atau kasihan, karena aku selalu merasa kasihan terhadap Mas Jefri yang begitu mengharapkan kasih sayang dari seseorang, batin Nayla.
"Entahlah Mas, Nayla sendiri tidak tau perasaan apa yang Nayla rasakan untuk Mas Jefri, tapi seharusnya Nayla bisa mencintai Suami Nayla sendiri kan."
"Lalu bagaimana denganku? apa kamu tidak memikirkan perasaanku Nay?"
"Mas Andri, Nayla sangat yakin kalau Mas Andri akan mendapatkan perempuan yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Nayla. Lupakan Nayla Mas, mungkin Nayla bukan jodoh terbaik untuk Mas Andri."
"Tidak Nay, selamanya cintaku hanya untuk kamu dan tidak akan pernah ada perempuan lain dalam hatiku. Meski pun kamu berpaling kepada Kak Jefri sekali pun, aku akan tetap mencintaimu hingga nafas terakhirku," jelas Andri, sehingga Nayla tidak bisa berkata apa-apa lagi.
__ADS_1
......................
Eliza yang saat ini merasa kesal karena dirinya ditolak oleh Jefri, tiba-tiba mendapatkan telpon dari Ibunya yang menyuruh untuk segera datang ke Rumah Sakit, karena saat ini Ayahnya mengalami kecelakaan.
"Kenapa sih hari ini aku sial sekali? semua ini pasti gara-gara perempuan kampung itu, awas saja Nayla, aku pasti akan membalas semua perbuatanmu," gumam Eliza dengan mengepalkan tangannya.
Ketika Nayla menyimpan nampan bekas sarapan Andri ke depan kamar perawatan Andri, Eliza tidak sengaja melihatnya.
"Bukannya itu perempuan kampung istrinya Mas Jefri? sedang apa dia di sini?" gumam Eliza.
Eliza yang merasa penasaran langsung mengintip dari luar kamar perawatan Andri, dan Eliza langsung menyunggingkan senyuman ketika melihat Nayla yang hanya berdua saja dengan Andri dalam satu ruangan.
"Beruntung sekali perempuan kampung itu, dia dikelilingi oleh pria tampan, dan aku yakin jika lelaki yang saat ini sedang bersama Nayla bukanlah saudaranya, karena aku melihat tatapan cinta dari lelaki tersebut," gumam Eliza.
Eliza terus saja mengawasi Nayla dan Andri, dan Eliza bergegas memotret Nayla yang saat ini tengah dipeluk oleh Andri.
"Aku akan menunjukan semua ini sama Mas Jefri, dan Mas Jefri pasti akan segera menjadi milikku," ujar Eliza dengan tersenyum penuh kemenangan, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar perawatan Ayahnya.
......................
Nayla terkejut karena Andri tiba-tiba memeluk tubuhnya.
"Mas, tolong jangan begini, kita bukan muhrim, jadi tidak pantas melakukan semua ini, kita akan sangat berdosa Mas," ujar Nayla yang mencoba melepaskan pelukan Andri.
"Nay, aku sangat mencintai kamu, kenapa kamu dengan mudahnya berpaling kepada Kak Jefri?" tanya Andri dengan airmata yang terus menetes pada pipinya.
"Mas, ikhlaskan semuanya, mungkin kita tidak ditakdirkan untuk hidup bersama," ujar Nayla yang sebenarnya merasa tidak tega kepada Andri, apalagi saat ini nama Andri masih tersimpan dalam hatinya.
"Jujur padaku Nay, apa namaku sudah tidak ada lagi dalam hatimu?" tanya Andri dengan menatap lekat wajah Nayla.
"Nama Mas Andri masih tersimpan dalam hati Nayla, tapi Nayla akan menguburnya dalam-dalam."
"Kenapa kamu tega melakukan semua itu Nay?" tanya Andri dengan mendekatkan wajahnya dengan wajah Nayla, tapi Nayla langsung mendorong kuat tubuh Andri, sampai akhirnya Andri jatuh di atas ranjang.
__ADS_1
"Kenapa sekarang Mas Andri berubah? mana Mas Andri yang selalu menghargai Nayla? mana Mas Andri yang selalu menjaga Nayla dengan do'a? Nayla tau jika Mas Andri sakit dengan semua ini, begitu juga dengan Nayla Mas, tapi cinta tidak harus saling memiliki," ujar Nayla dengan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, kemudian menumpahkan airmata yang sudah tidak dapat ia bendung lagi.