CAKA ( Cintai Aku Karena Allah )

CAKA ( Cintai Aku Karena Allah )
Bab 19 ( Ada hati yang harus dijaga )


__ADS_3

Saat ini Andri sudah diperbolehkan untuk dipindahkan ke kamar perawatan, tapi Nayla tidak melihat keberadaan Jefri ketika Nayla membantu mendorong blangkar Andri ke luar dari ruang ICU.


"Pa, Mas Jefri kemana?" tanya Nayla.


"Jefri pulang Nak," jawab Papa Ervan.


Mas Jefri pasti marah sama aku karena aku tidak bisa menjaga harkat dan martabat sebagai seorang istri, bahkan di depan mata Mas Jefri aku sudah memeluk Mas Andri, ucap Nayla yang menyesali semuanya.


"Nayla, kamu jangan tinggalin Andri lagi ya, nanti kami akan mengurus perceraian kamu dengan Jefri," ujar Mama Indri.


Deg


Jantung Nayla berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Mama Indri. Meski pun Nayla belum mencintai Jefri, tapi Nayla dan Jefri sudah sepakat untuk mencoba membuka hati mereka, bahkan Jefri sudah berniat akan belajar menjadi imam yang baik untuk Nayla.


"Makasih ya Ma, Pa, Andri bahagia karena sebentar lagi bisa menikahi Nayla," ucap Andri, tapi Nayla hanya diam tanpa bisa berkata apa-apa.


Kenapa dengan hatiku, seharusnya aku bahagia karena nanti bisa menikah dengan lelaki yang aku cintai, tapi bagaimana dengan Mas Jefri? kenapa aku sedih hanya dengan membayangkan jika aku akan berpisah darinya? ucap Nayla dalam hati.


"Nay, kamu bahagia kan karena sebentar lagi kita bisa menikah?" tanya Andri, dan Nayla hanya menjawab pertanyaan Andri dengan senyuman.


Setelah Andri dipindahkan ke dalam kamar perawatan, Nayla meminta kepada Mama Indri supaya menemaninya menjaga Andri dengan alasan Nayla akan kesusahan jika membantu Andri ke dalam kamar mandi, padahal yang sebenarnya, Nayla tidak mau jika hanya berduaan dengan lelaki yang bukan muhrimnya.


"Nay, kamu kan tinggal minta Perawat untuk membantu kamu, apa susahnya sih, lagian Mama itu tidak kuat kalau harus lama-lama di Rumah Sakit."


Andri tau betul jika Nayla pasti tidak enak jika harus berduaan dengan dirinya, apalagi saat ini status Nayla masih istri Jefri.

__ADS_1


"Sayang, kamu tenang aja ya, aku juga gak bakalan macam-macam sama kamu, dari dulu kamu tau sendiri kan aku seperti apa?" tanya Andri, dan lagi-lagi Nayla hanya tersenyum tanpa bisa berkata apa-apa, karena saat ini dirinya berada dalam posisi yang sulit.


Papa Ervan dan Mama Indri pamit pulang setelah Nayla melaksanakan Shalat Subuh.


"Nak, kami titip Andri ya, nanti Papa akan coba menghubungi Jefri supaya dia ke sini lagi untuk menemani kalian," ujar Papa Ervan, dan Mama Indri terlihat melotot kepada Papa Ervan.


"Nayla, Mama minta tolong ya, kamu jangan tinggalin Andri lagi, kamu lihat sendiri kan kondisi Andri semakin parah saat kamu tinggalkan," ujar Mama Indri, kemudian menggandeng Papa Ervan untuk ke luar dari dalam kamar perawatan Andri.


"Papa ngapain sih pake bilang sama Nayla mau nelpon Jefri segala, padahal Mama sengaja ikut pulang supaya Nayla tidak meninggalkan Andri lagi."


"Mama lihat sendiri kan kalau Nayla terlihat cemas, Nayla pasti tidak enak karena harus berduaan dengan lelaki yang bukan muhrimnya, makanya Papa berkata seperti itu supaya Nayla merasa lebih tenang."


"Awas saja ya Pa kalau Papa sampai hubungi Jefri," ancam Mama Indri.


"Tapi kalau Jefri sendiri yang berniat untuk datang ke sini, masa kita melarangnya sih Ma. Semalam saja Jefri sudah rela mengantarkan Nayla, dan Jefri juga sudah mengatakan ikhlas jika Nayla merawat Andri, seharusnya Mama berterimakasih kepada Jefri."


......................


Nayla merasa canggung karena saat ini dirinya hanya berdua dengan Andri.


"Nay, kenapa kamu diam saja, apa kamu tidak senang bisa berdua denganku?" tanya Andri menatap lekat wajah cantik yang saat ini duduk di sampingnya.


"Maaf Mas, saat ini status kita sudah tidak seperti dulu lagi, bahkan saat ini aku sudah menjadi Kakak ipar Mas Andri, dan ada hati yang harus aku jaga," jawab Nayla.


"Nay, apa kamu juga tidak akan bersedia jika harus bercerai dari Kak Jefri? apa kamu tidak mau menikah denganku?"

__ADS_1


"Maaf Mas, aku belum bisa memberikan keputusan, karena aku harus membicarakan semuanya dengan Mas Jefri."


"Sepertinya kamu sudah jatuh cinta kepada Kak Jefri," ujar Andri yang merasa kecewa terhadap Nayla.


"Melupakan seseorang yang berarti dalam hidup kita sangatlah sulit Mas, begitu juga dengan aku yang tidak akan mudah untuk melupakan cinta kita, tapi aku tidak mau bahagia di atas penderitaan oranglain."


"Nay, kamu jujur saja kalau Kak Jefri sudah mengungkapkan perasaannya kan sama kamu? pasti tidak akan sulit untuk jatuh cinta kepada perempuan yang cantik dan saleha seperti kamu, begitu juga dengan aku saat dulu, karena aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihatmu."


"Sebenarnya aku dan Mas Jefri sudah sepakat untuk saling membuka hati kami, bahkan Mas Jefri akan belajar menjadi imam yang baik untukku."


"Jadi aku sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk memilikimu Nay?" tanya Andri dengan tatapan sendu.


"Mas, dari dulu aku selalu memimpikan untuk menikah dengan lelaki yang aku cintai, dan aku ingin menikah satu kali dalam seumur hidupku."


"Aku tau semua itu Nay, tapi apa susahnya kamu bercerai dengan Kak Jefri supaya kita bisa menikah."


"Sebuah pernikahan bukanlah mainan yang bisa dibuang ketika kita sudah merasa bosan, dan aku tidak mau menjadi orang egois."


"Apa karena Kak Jefri sudah memberikan nafkah batin sama kamu, sehingga kamu takut kalau aku tidak bisa menerima kamu apa adanya? kamu salah Nay, di mataku kamu akan tetap suci, aku tidak pernah peduli dengan semua itu. Aku mencintaimu karena Allah Nay."


Mas Andri begitu tulus mencintaiku, tapi kenapa sekarang justru aku yang merasa ragu dengan diriku sendiri, apa karena aku merasa tidak pantas untuk Mas Andri? batin Nayla kini bertanya-tanya.


"Pagi itu aku melihat sendiri Kak Jefri sedang mencumbui kamu Nay, karena sepertinya Kak Jefri sengaja membuka pintu kamar kalian supaya aku melihatnya."


"Astagfirullah, maaf Mas, aku benar-benar tidak tau tentang semua itu, bahkan aku tidak mengingatnya karena setelah Shalat Subuh aku tertidur."

__ADS_1


"Nay, aku tau kalau Kak Jefri menikahi kamu karena ingin balas dendam terhadap aku dan Mama. Aku juga tau kalau semenjak kami kecil Mama selalu berbuat tidak adil kepada Kak Jefri, dan aku selalu merasa kasihan dengan nasib Kak Jefri, tapi aku tidak bisa jika harus melepaskan perempuan yang aku cintai untuknya, karena bagiku, kamu adalah cinta pertama dan cinta terakhirku Nay."


__ADS_2