CAKA ( Cintai Aku Karena Allah )

CAKA ( Cintai Aku Karena Allah )
Bab 32 ( Serakah )


__ADS_3

Acara Tahlil empat puluh hari mendiang Kevin yang mereka kira sebagai Jefri berjalan dengan lancar, dan Nayla mencoba untuk ikhlas melepas kepergian Jefri, meski pun Nayla masih belum tau ke depannya akan menerima lamaran Andri atau tidak, karena Nayla sudah merasa tidak pantas bersanding dengan Andri, apalagi Mama Indri secara terang-terangan menentang hubungan Andri dengan Nayla.


Setelah acara Tahlil selesai, Papa Ervan mengajak semua keluarga untuk berkumpul karena ada yang ingin beliau bicarakan.


"Nak, Papa mengucapkan terimakasih karena Nayla selama ini sudah menjadi istri yang baik untuk mendiang Jefri, Papa harap Nayla akan tetap tinggal di rumah ini, dan Papa ingin menyerahkan hak Jefri kepada Nayla sebagai ahli warisnya."


Mama Indri yang mendengarnya langsung saja angkat suara.


"Tidak bisa Pa, Nayla tidak berhak mendapatkan saham perusahaan, karena Andri yang berhak menerima semuanya."


Andri merasa malu terhadap Nayla dan Ibunya, karena Mama Indri begitu serakah, padahal Andri tidak menginginkan sepeser pun harta milik Jefri.


"Ma, berapa kali Andri harus mengatakan, kalau Andri tidak butuh sepeser pun harta mendiang Kak Jefri, kenapa Mama begitu serakah menginginkan sesuatu yang bukan hak kita."


"Andri, Mama ingin yang terbaik untuk kamu Nak, dan Mama akan melakukan apa pun untuk membahagiakan kamu."


"Andri sudah merasa cukup dengan semua yang Andri miliki saat ini, dan harus Mama tau, kalau kebahagiaan Andri adalah Nayla. Jadi, kalau Mama ingin melihat Andri bahagia, Andri mohon restui hubungan kami."


"Sampai kapan pun Mama tidak akan pernah merestui kamu menikahi seorang Janda."


"Baiklah kalau itu keinginan Mama, berarti Mama sudah siap untuk kehilangan Andri, karena Andri akan tetap menikahi Nayla setelah nanti Nayla selesai masa iddah."


"Jadi kamu ingin menjadi Anak durhaka?" bentak Mama Indri.


Nayla mencoba menengahi perdebatan Antara Mama Indri dengan Andri.


"Ma, Mas Andri, Nayla mohon kalian jangan bertengkar."


"Kamu itu bukan siapa-siapa, jadi kamu tidak berhak ikut campur urusan keluarga kami," ujar Mama Indri.


"Nayla berhak ikut campur, karena Nayla adalah Calon istri dan Ibu dari Anak-anak Andri, suka atau tidak Andri akan tetap menikahi Nayla, dengan atau tanpa restu dari Mama," ujar Andri dengan menarik tangan Nayla untuk pergi dari kediaman Papa Ervan.


"Andri, mau kemana kamu?" tanya Mama Indri.


"Andri akan membawa Nayla pergi dari rumah ini, dan Andri akan segera menikahi Nayla."


"Mas, jangan seperti ini, kita bisa membicarakan semuanya baik-baik."

__ADS_1


"Tidak Nay, jika Mama tetap tidak merestui kita, lebih baik kita pergi dari rumah ini. Kita akan membuka lembaran baru, dan aku akan selalu membahagiakanmu. Bu, sebaiknya sekarang kita pulang ke Garut, Andri akan mengantarkan Ibu dan Nayla. Maaf kalau Ibu merasa tidak nyaman selama tinggal di sini."


Bu Fatimah dan Nayla mengikuti Andri, karena keputusan Andri sudah bulat, dan akhirnya mereka bertiga meninggalkan kediaman Papa Ervan.


Papa Ervan sengaja tidak mencegah kepergian Andri dan Nayla, karena Papa Ervan merasa kesal terhadap Mama Indri.


"Pa, kenapa Papa diam saja? kenapa Papa tidak mencegah Andri pergi dari rumah ini?" rengek Mama Indri.


"Mama sekarang sudah puas? bukannya itu yang Mama mau?" sindir Papa Ervan.


"Mama ingin Nayla dan Ibunya yang pergi dari rumah ini, bukan Anak kita."


"Papa kecewa dengan sifat Mama yang serakah, padahal jika Mama merestui Andri menikahi Nayla, harta milik Nayla akan menjadi milik Andri juga. Dengan atau tanpa ijin Mama, Papa akan tetap memberikan hak Nayla," ujar Papa Ervan, kemudian meninggalkan Mama Indri yang saat ini tengah marah-marah.


"Semua ini gara-gara Nayla, aku tidak akan membiarkan Nayla meracuni Andri, pasti Andri sudah termakan hasutan dari Nayla," gumam Mama Indri dengan mengepalkan kedua tangannya.


......................


Andri, Nayla dan Bu Fatimah saat ini tengah berada dalam perjalanan menuju Garut, dan Nayla merasa tidak enak karena Andri sampai melawan Mama Indri karena membela Nayla.


"Mas, maaf ya gara-gara Nayla, Mas Andri jadi bertengkar dengan Mama."


Nak Andri rela ke luar dari rumahnya demi Nayla, semoga saja Nayla tidak sampai mengecewakan Nak Andri, ucap Bu Fatimah dalam hati.


Nayla, Andri dan Bu Fatimah, sampai di Garut pada pukul sepuluh malam, dan Bah Ujang sudah terlihat menunggu mereka bertiga di halaman rumah, karena sebelumnya Bu Fatimah sudah memberikan kabar tentang kepulangannya.


"Assalamu'alaikum Bah," ucap semuanya, kemudian bergantian mencium punggung tangan Bah Ujang.


"Wa'alaikumsalam, bagaimana kabar semuanya, sehat?" tanya Bah Ujang.


"Alhamdulillah, kami sehat Bah. Gimana kabar Abah?" tanya Andri.


"Alhamdulillah, Abah juga sehat Nak. Ayo semuanya masuk, kasihan pasti cape. Nay, siapkan kamar untuk Nak Andri," ujar Bah Ujang, dan Nayla merapikan kamar tamu untuk Andri tidur.


"Kamarnya sudah siap Mas," ucap Nayla kepada Andri setelah Nayla selesai merapikannya.


"Maaf ya Nay, aku udah ngerepotin," ucap Andri.

__ADS_1


"Mas Andri tidak merepotkan sama sekali, justru Nayla yang selama ini sudah banyak merepotkan Mas Andri."


"Bah, kalau begitu Andri istirahat duluan ya."


"Iya, silahkan Nak."


Andri di antar oleh Nayla ke kamar yang berada di lantai atas yang bersebelahan dengan kamarnya, dan Andri terlihat bahagia karena bisa terus berada dekat dengan Nayla.


"Nay, makasih banyak ya," ucap Andri ketika sampai di depan pintu kamar.


"Untuk apa?" tanya Nayla.


"Untuk semuanya, dan aku bahagia bisa selalu berada di dekatmu," ujar Andri, dan Nayla hanya tersenyum membalas perkataan Andri.


"Apa kamu juga bahagia?" tanya Andri kepada Nayla, dan Nayla hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, karena Nayla merasa malu menjawab pertanyaan Andri.


"Selamat istirahat ya, semoga kamu mimpiin aku," ucap Andri, dan Nayla langsung masuk ke dalam kamarnya karena saat ini jantung Nayla berdetak kencang.


Andri hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nayla yang selalu menggemaskan di matanya.


"Nayla, Nayla, kamu selalu membuat aku merasa gemas, dan aku sudah tidak sabar untuk menjadikanmu sebagai istriku," gumam Andri, kemudian masuk ke dalam kamar dengan perasaan bahagia.


......................


Bah Ujang bertanya kepada Bu Fatimah tentang semua yang telah terjadi, karena sebelumnya Bu Fatimah mengatakan jika akan pulang ke Garut besok.


"Bu, kenapa Ibu dan Nayla jadi pulang sekarang? bukannya kalian mau pulang besok?" tanya Bah Ujang.


Bu Fatimah terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan Suaminya, tapi Bagaimanapun juga Bah Ujang berhak mengetahui semua kebenarannya.


"Sebenarnya Nak Andri yang mengajak kami pulang karena Nak Andri bertengkar dengan Mamanya."


"Kenapa bisa seperti itu? memangnya ada masalah apa sampai-sampai Nak Andri mengajak Nayla kalian pulang ke sini?" tanya Bah Ujang lagi.


"Awalnya Pak Ervan memutuskan untuk memberikan harta mendiang Nak Jefri kepada Nayla, tapi Bu Indri menentangnya, dan Nak Andri merasa malu karena Bu Indri bersikap serakah."


"Padahal kita juga tidak memerlukan harta mereka Bu, kita juga masih bisa menghidupi Nayla tanpa pemberian dari mereka."

__ADS_1


"Bukan hanya itu Bah, tapi Nak Andri sudah berniat untuk menikahi Nayla setelah Nayla selesai masa iddah, dan Bu Indri tidak merestuinya."


__ADS_2