
Setelah selesai membeli baju, Nayla dan Jefri melanjutkan belanja sayuran dan daging serta sembako untuk kebutuhan mereka sehari-hari.
Saat pedagang sayuran dan daging melihat jika Jefri yang belanja, mereka memberikan gratis dagangan mereka, meski pun Jefri sudah menolaknya, sampai akhirnya banyak sekali belanjaan yang harus Jefri dan Nayla bawa pulang.
"Nay, maaf ya kalau aku hanya bisa membawa kamu belanja di pasar," ujar Jefri yang melihat Nayla diam saja, karena Jefri pikir Nayla seperti perempuan lain yang lebih suka belanja di Supermarket.
"Mas, Nayla seneng kok belanja di pasar, harga-harganya juga murah. Masalahnya saat ini Nayla bingung, bagaimana cara kita membawa pulang semua ini?" tanya Nayla yang kebingungan melihat sayuran serta bahan-bahan masakan lainnya yang begitu banyak diberikan kepada Nayla dan Jefri secara gratis.
Sesaat kemudian datang dua Anak buah Jefri menghampiri mereka.
"Kakak ipar tenang saja, biar kami yang membawakan semuanya menggunakan mobil pick Up," ujar Rahmat dan ujang yang kebetulan baru selesai memasok sayuran dan buah-buahan.
"Kalian memangnya sudah selesai bekerja?" tanya Jefri.
"Sudah Bos, kami baru saja selesai, kebetulan kami mau sekalian setor," ujar Rahmat dan Ujang dengan mengangkat karung yang berisi bahan makanan.
Jefri berpamitan serta mengucapkan terimakasih kepada para pedagang di Pasar sebelum pulang menuju Basecamp, dan sepanjang perjalanan, Nayla terlihat melamun karena masih merasa heran dengan semuanya.
"Kenapa melamun terus? kamu tidak lupa kan beli buku panduan Shalat?" tanya Jefri.
"Tidak Mas, bukunya sudah Nayla beli kok, hanya saja Nayla masih heran kenapa banyak orang yang memberikan semua yang kita butuhkan secara gratis."
"Kamu pasti masih curiga jika aku adalah kepala preman kan?"
"Maaf Mas, Nayla tidak bermaksud seperti itu," jawab Nayla yang merasa tidak enak karena sudah mempunyai pikiran negatif kepada Suaminya.
"Supaya kamu tidak bertanya-tanya terus, nanti aku ceritakan semuanya saat kita tiba di rumah, karena kalau aku menceritakan semuanya sekarang, kapan kita sampainya. Sekarang kamu pegangan, aku mau ngebut," ujar Jefri yang sengaja ingin mengerjai Nayla.
"Mas Jefri jangan ngebut bawa motornya," teriak Nayla dengan memeluk tubuh Jefri, dan Jefri hanya tersenyum ketika melihat wajah ketakutan Nayla dari kaca spion.
Beberapa saat kemudian, Jefri menghentikan motornya, karena saat ini mereka sudah sampai basecamp.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Mas Jefri tega banget sih, bagaimana kalau jantung Nayla sampai copot?" ujar Nayla dengan memegang dadanya.
"Nay, maaf banget ya, aku sengaja," ujar Jefri dengan tertawa, kemudian berlari masuk ke dalam rumah, karena saat ini Nayla sudah melotot ke arahnya.
Nayla mengejar Jefri, lalu menggelitik pinggangnya sampai Jefri berteriak minta ampun.
"Ampun Nay, ampun. Kok kamu bisa tau sih kalau aku gak kuat dikelitikin?" tanya Jefri dengan terus tertawa, karena saat ini Nayla masih belum berhenti menggelitik pinggang Jefri.
"Dulu kalau Mas Andri jahil, aku selalu menggelitik pinggangnya, karena itu adalah kelemahan Mas Andri," jawab Nayla yang tidak sadar sudah mengatakan tentang Andri kepada Jefri.
Jefri yang tadinya tertawa langsung diam seketika, bahkan Jefri meninggalkan Nayla yang masih diam mematung, lalu naik ke kamarnya yang berada di lantai atas basecamp, karena tiba-tiba hatinya terasa sakit ketika Nayla kembali menyebut nama Andri.
"Astagfirullah, apa yang telah aku katakan? Mas Jefri pasti marah kepadaku karena aku sudah keceplosan menyebut nama Mas Andri," gumam Nayla, kemudian menyusul Jefri ke kamar setelah menyadari kesalahannya.
Saat ini Jefri terlihat berdiri di balkon, dia sadar betul jika dirinya hanyalah orang ketiga dalam hubungan Nayla dan Andri, dan Nayla pasti tidak akan mudah untuk melupakan sosok cinta pertamanya tersebut.
Nayla memberanikan diri menghampiri Jefri, kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang Jefri, sehingga membuat Jefri merasa terkejut.
"Mas, maafin Nayla, sedikit pun Nayla tidak ada maksud untuk menyebut nama Mas Andri di depan Mas Jefri."
"Maaf Nay, aku tau kalau kamu pasti masih belum bisa melupakan Andri, tapi aku terus saja memaksamu untuk berada di sampingku."
"Mas Jefri tidak bersalah, karena Mas Jefri adalah Suami Nayla, dan tidak seharusnya Nayla masih memikirkan lelaki lain di masalalu Nayla."
"Nay, melupakan itu tidak semudah membalikan telapak tangan, dan aku akan tetap menunggu sampai suatu saat nanti kamu membuka hatimu untukku," ujar Jefri dengan mengecup kening Nayla, sampai akhirnya Jefri berniat mencium bibir Nayla, baru saja Jefri mendekatkan bibirnya, tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil Rahmat dan ujang yang sudah tiba di depan basecamp, sehingga Jefri langsung melepaskan tangannya dari tubuh Nayla, dan mereka berdua terlihat salah tingkah.
"Maaf Nay, aku sudah lancang," ucap Jefri.
"Mas Jefri adalah Suami Nayla, jadi Mas Jefri tidak perlu meminta maaf."
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita ke bawah, Rahmat dan Ujang pasti sudah membawa barang belanjaan kita," ujar Jefri dengan menggandeng Nayla, karena Jefri selalu merasa nyaman saat berada di dekat Nayla.
__ADS_1
Jefri membuka kunci rumahnya, dan di depan pintu, sudah terlihat Rahmat dan ujang yang berdiri membawa belanjaan.
"Bos kok lama banget sih buka pintunya? ini masih siang lho," goda ujang, dan Jefri hanya tersenyum malu ketika Ujang dan Rahmat terus saja menggodanya.
Nayla terlihat membawa tiga cangkir kopi ke ruang tamu.
"Mas Ujang, Mas Rahmat, terimakasih banyak ya sudah membawakan belanjaannya. Silahkan diminum kopinya," ujar Nayla.
"Kakap ipar tidak usah sungkan, seharusnya kami yang berterimakasih kepada kalian. Kakak ipar pasti belum tau yang dilakukan oleh Bos Jefri untuk kami."
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi ke dapur lagi ya. Mas Jefri masih punya hutang penjelasan sama aku," ujar Nayla.
"Iya sayang, nanti malam kita lanjut lagi," ujar Jefri yang sengaja menggoda Nayla, sehingga Nayla berlari ke dapur.
"Hadeuh pengantin baru, lagi anget-angetnya," celetuk Ujang.
"Iya Jang, gue jadi pengen lagi," ujar Rahmat.
"Awas saja kalau kalian sampai macem-macem, aku bakalan bilang sama istri kalian, biar burung kalian disunat lagi," ujar Jefri dengan tertawa.
"Aduh Bos, jangan gitu, nanti habis dong," celetuk kedua Anak buah Jefri tersebut.
Ketika Jefri menghitung uang yang disetorkan kedua Anak buahnya, Nayla memasak nasi serta daging dan sayur untuk nanti mereka makan, tapi ketika Nayla mengaduk masakan, Nayla terlonjak kaget saat ada tangan kekar yang melingkar pada pinggangnya.
"Astagfirullah, Mas jefri bikin kaget saja. Kenapa malah ke dapur? kok ada tamu malah ditinggalin," ujar Nayla.
"Mereka sudah aku usir kok," ujar Jefri dengan cengengesan, dan Nayla memutar malas bola matanya.
"Padahal tadinya Nayla mau ngajak makan Mas Ujang dan Mas Rahmat, makanya Nayla sengaja masak banyak."
"Enak aja mereka disuruh makan masakan kamu, aku saja baru kali ini kamu masakin, bisa-bisa nanti aku tidak kebagian karena pasti mereka bakalan menghabiskan masakan kamu Nay."
__ADS_1
"Mas Jefri kan bisa Nayla masakin setiap hari, jadi kita harus berbagi."
"Tapi aku tidak mau berbagi meski pun dengan Adikku sendiri," ujar Jefri, dan Nayla hanya diam, karena sudah tau maksud dari perkataan Jefri.