
Semuanya masih diam mematung termasuk Jefri yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Jefri merasakan sesak dalam dadanya karena terus melihat Andri dan Nayla yang berpelukan.
"Non, Tuan, masakannya sudah matang," ucap Bi Ijah.
"Bibi simpan saja di meja makan. Sekarang Nayla mau istirahat atau mau makan siang dulu?" tanya Andri.
Nayla sebenarnya sedang tidak napsu makan, tapi Nayla merasa kasihan kepada Andri karena jika Nayla tidak makan, Andri tidak akan mau makan juga.
"Kita makan siang saja dulu Mas. Tuan Kevin, Bi Ijah, mari kita makan siang dulu," ajak Nayla.
"Non, Bibi nanti saja belakangan," ujar Bi Ijah yang merasa tidak enak jika harus makan satu meja dengan majikan.
"Bi, Bibi tidak perlu merasa sungkan, bagi kami Bibi adalah keluarga kami juga, jadi apa yang saya makan, Bibi harus ikut makan juga," ujar Nayla dengan tersenyum, dan Bi Ijah menitikkan airmata karena merasa terharu dengan sikap Nayla terhadapnya.
Jefri memilih duduk di kursi samping Nayla, sehingga posisi Nayla saat ini berada di tengah-tengah Jefri dan Andri, sedangkan Bi Ijah duduk di kursi yang berada di depan mereka bertiga.
Jefri dan Andri memberikan piring kosong kepada Nayla secara bersamaan.
"Tuan Kevin sama Tuan Andri kompak sekali, ngasih piring sama Non Nayla saja sampai barengan seperti itu," sindir Bi Ijah.
Nayla mengambil piring dari tangan Andri dan Jefri secara bersamaan, tapi yang pertama kali Nayla isi adalah piring Andri, karena Andri adalah Suami yang sudah seharusnya Nayla layani.
Nayla masih saja menomor satukan Andri, sedangkan dari dulu, aku hanya nomor dua bagi Nayla, ucap Jefri dalam hati.
Bi Ijah merasa heran dengan raut wajah Jefri karena saat ini Jefri terlihat sedih.
Kenapa aku merasa jika Tuan Kevin menyukai Non Nayla? saat Non Nayla terlebih dahulu mengisi piring Tuan Andri, Tuan Kevin terlihat sedih. Apa itu hanya perasaanku saja ya? batin Bi Ijah kini bertanya-tanya.
"Makasih Nyonya Nayla," ucap Jefri ketika Nayla memberikan piring yang sudah diisi lauk kepada Jefri.
"Sama-sama Tuan Kevin," ujar Nayla.
"Non Nayla ternyata tau kalau saya lebih suka daging Ayam daripada daging sapi," ujar Jefri dengan tersenyum, karena Nayla mengisi piring Jefri dengan daging Ayam, sedangkan piring Andri dengan daging sapi.
"Maaf Tuan, saya hanya asal mengisi saja. Apa Tuan Kevin ingin rendang daging sapi juga?" tanya Nayla.
"Tidak perlu Nyonya, ini juga sudah cukup."
__ADS_1
Kenapa saat mengisi makanan untuk Tuan Kevin aku jadi teringat dengan Mas Jefri yang tidak suka dengan rendang sapi ya? tapi ternyata selera Tuan Kevin dan mendiang Mas Jefri juga sama. Kenapa semuanya bisa kebetulan? batin Nayla kini bertanya-tanya.
Semuanya makan dengan lahap, tapi beberapa saat kemudian, suara handphone Nayla berbunyi, dan ternyata itu adalah telpon dari Rahmat yang ingin mengabarkan jika Rahmat akan mentransfer uang keuntungan dari penjualan Buah dan sayuran.
Nayla sengaja me-loud speaker handphonenya supaya Andri tidak berpikir macam-macam jika mendengar pembicaraannya dengan Rahmat.
"Assalamu'alaikum Mas Rahmat," ucap Nayla saat mengangkat telpon.
"Wa'alaikumsalam Kakak Ipar. Saya mau mengabarkan jika saya akan mentransfer uang hasil keuntungan penjualan sayuran dan Buah-buahan," ujar Rahmat.
"Apa Mas Rahmat sudah memberikan separuh dari keuntungannya untuk Panti Asuhan?" tanya Nayla.
"Sudah Kakak Ipar, seperti biasa, saya mengatasnamakan mendiang Bos Jefri yang bersedekah," jawab Rahmat.
Degg
Jantung Jefri berdetak kencang, karena Jefri sedikit pun tidak mengira jika Nayla masih peduli padanya, bahkan Nayla masih memberikan santunan kepada Panti Asuhan atas nama mendiang Jefri.
Ternyata Nayla masih peduli padaku, bahkan Nayla masih memberikan santunan kepada Panti Asuhan atas namaku, ucap Jefri dalam hati, dan Jefri merasa tersentuh atas semua yang telah Nayla lakukan untuknya.
Andri angkat suara ketika melihat Nayla yang terus saja melamun.
"Sayang, sebenarnya ada apa dengan Nayla? kenapa dari tadi Mas lihat Nayla terus saja melamun?"
"Mas, sebenarnya Nayla dari tadi ingat terus sama Mas Jefri, apa Mas Andri bisa mengantar Nayla ke Makam Mas Jefri setelah kita selesai makan siang?" tanya Nayla.
"Bagaimana kalau nanti sore saja? sekarang kan gak enak ada Tuan Kevin di sini, masa kita tinggalin tamu," ujar Andri.
Jefri yang mendengar Nayla ingin pergi ke makam yang sebenarnya adalah makam Kevin, berniat untuk ikut berziarah juga.
"Tuan Andri, apa boleh saya ikut ke makam saudara Tuan Andri? sekalian saya ikut numpang pulang," ujar Jefri yang sebenarnya ingin berziarah ke makam Kevin.
"Boleh saja Tuan, lagi pula dari makam mendiang Kak Jefri ke rumah Tuan Kevin juga tidak terlalu jauh, saya juga sudah lama tidak mengajak istri saya jalan-jalan, jadi sekalian saya akan mengajak Nayla belanja bulanan juga" ujar Andri.
Setelah selesai makan siang, semuanya bersiap menuju pemakaman.
"Bi, kami pergi dulu ya, Bibi istirahat saja, jangan dulu mengerjakan pekerjaan rumah," ujar Nayla.
__ADS_1
"Iya Non, hati-hati ya," ujar Bi Ijah, kemudian Nayla, Andri dan Jefri melangkahkan kaki menuju mobil Andri yang sebelumya sudah di antar oleh Supir Kantor, karena tadi saat pulang Andri ikut naik mobil Kevin.
"Tuan Kevin duduk di depan saja, biar saya duduk di belakang," ujar Nayla, dan Andri membukakan pintu untuk Nayla.
Setelah semuanya masuk, Andri melajukan mobilnya menuju pemakaman, dan mereka bertiga sampai setelah menempuh setengah jam perjalanan.
Andri dan Nayla membeli bunga untuk ditabur di makam mendiang Jefri, begitu juga dengan Jefri yang membeli bunga untuk mendiang Kevin.
"Assalamu'alaikum Mas, maaf ya Nayla baru bisa datang lagi, tapi setiap selesai Shalat, Nayla selalu mendo'akan Mas Jefri. Mas, maafin Nayla ya jika selama Mas hidup, Nayla sudah membuat banyak kesalahan. Semoga Mas Jefri tenang di alam sana," ujar Nayla dengan menitikkan airmata, begitu juga dengan Jefri.
Nay, aku Jefri, aku masih hidup Nay, karena yang meninggal adalah Kevin Adikku. Maafin Kakak Kevin, karena Kakak sudah memakai identitas kamu. Semoga kamu tenang di alam sana, ucap Jefri dalam hati.
Setelah selesai membaca Surat Yasin, semuanya ke luar dari pemakaman menuju kediaman Adhitama untuk mengantar Kevin.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Adhitama, ketiganya sibuk dengan pemikiran masing-masing, sampai akhirnya mereka bertiga sampai si halaman rumah Keluarga Adhitama yang begitu megah.
Mama Marlina yang kebetulan sedang berada di halaman langsung menghampiri mobil Andri yang berhenti tepat di depannya.
"Sayang, kenapa Kevin baru pulang?" tanya Mama Marlina ketika melihat Jefri turun dari mobil.
"Tadi Kevin sakit perut Ma, jadi Kevin numpang istirahat dulu di rumah Tuan Andri dan Nyonya Nayla."
Andri dan Nayla ikut turun juga ketika melihat Mama Marlina, karena mereka berniat untuk menyapa Mama Marlina terlebih dahulu sebelum pulang.
"Assalamu'alaikum Nyonya," ucap Nayla dan Andri secara bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," ucap Mama Marlina degan tersenyum.
Bukannya Nayla adalah perempuan yang dicintai oleh Kevin? apa perempuan cantik ini adalah Nayla yang sama? ucap Mama Indri dalam hati.
"Bagaimana kabarnya Nyonya?" tanya Nayla dengan mencium punggung tangan Mama Marlina, begitu juga dengan Andri.
"Alhamdulillah saya baik. Nak, siapa Nak Nayla dan Nak Andri ini?" tanya Mama Marlina.
"Tuan Andri adalah rekan bisnis Kevin yang baru Ma, dan Nyonya Nayla adalah istrinya," jawab Kevin dengan tersenyum dan terus menatap lekat wajah Nayla.
Sepertinya Nayla yang Kevin cintai adalah Nayla yang cantik ini. Pantas saja Kevin begitu tergila-gila, wajah Nayla begitu cantik dan terlihat teduh, Nayla juga sepertinya perempuan saleha, tapi bagaimanapun juga Nayla sudah memiliki Suami, dan aku tidak mau Kevin menjadi seorang Pebinor, ucap Mama Marlina dalam hati.
__ADS_1