
Nayla merasa tersentuh dengan perlakuan Jefri kepadanya, karena Jefri ternyata memiliki sisi lain yang begitu lembut.
"Mas, mulai sekarang kita lupakan masalalu dan buka lembaran baru ya, semoga Mas Jefri mau belajar menjadi imam untuk Nayla."
"Nay, sebenarnya selama ini aku tidak pernah Shalat, bahkan aku tidak tahu bagaimana caranya melaksanakan Shalat," ujar Jefri tertunduk malu.
"Nanti kita beli panduan Shalat, supaya Mas Jefri bisa mulai belajar Shalat, asalkan ada kemauan pasti akan ada jalan."
"Makasih ya, aku merasa terharu karena ternyata masih ada orang yang peduli sama aku," ucap Jefri dengan memeluk tubuh Nayla.
Kenapa aku merasa nyaman saat dipeluk oleh Mas Jefri, rasanya seperti dipeluk oleh Abah, ucap Nayla dalam hati.
"Nay, kamu bisa masak kan? aku sudah lapar," ujar Jefri dengan cengengesan.
"Pantesan saja tadi Nayla dengar perut Mas Jef berbunyi. Memangnya ada beras sama bahan-bahan masakan di dapur?" tanya Nayla.
"Tidak ada sih," jawab Jefri dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dari sini ke Pasar deket kan Mas? bagaimana kalau kita belanja, Nayla juga gak ada baju ganti sama mukena, gak apa-apa kan kalau uang dari Mas Jef, Nayla belanjain?"
"Aku memang memberikan uang itu untuk kebutuhan kamu, nanti kalau habis tinggal bilang saja. Sebaiknya sekarang kita sarapan bubur dulu sebelum belanja," ujar Jefri dengan menggandeng tubuh Nayla ke luar dari basecamp yang saat ini akan menjadi rumah mereka.
Nayla dan Jefri memutuskan untuk sarapan di warung bubur dekat pasar, tapi ketika mereka berdua sarapan, Eliza datang ke sana, kemudian duduk di samping Jefri.
"Sayang, kamu kenapa sih sekarang berubah setelah bertemu dengan dia?" tanya Eliza dengan tatapan tidak suka kepada Nayla, dan Eliza hendak memeluk tubuh Jefri, tapi Jefri menepisnya.
"Maaf Eliza, saat ini aku adalah lelaki yang sudah beristri, tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu di hadapan istriku."
"Kamu kenapa sih Jef, biasanya juga kamu tidak keberatan kalau aku peluk," ujar Eliza.
"El, harus berapa kali aku bilang, kalau saat ini statusku sudah berbeda, dan dari dulu aku tidak pernah menganggap kamu sebagai perempuan spesial dalam hidupku."
"Kamu jangan munafik Jef, kamu sebenarnya cinta kan kepadaku? tapi karena ada perempuan kampung itu, makanya kamu berpura-pura menolak aku," rengek Eliza yang masih bersikeras ingin memiliki Jefri.
Nayla yang mulai kesal kepada Eliza akhirnya angkat suara juga.
__ADS_1
"Tidak seharusnya seorang perempuan merendahkan harga dirinya dengan mengejar-ngejar lelaki yang telah mempunyai istri," sindir Nayla.
"Memangnya kamu siapa berani-beraninya menceramahiku?" ujar Eliza.
"Nayla berhak berbicara seperti itu, karena Nayla adalah istriku," bela Jefri.
"Sudahlah Mas, kita tidak perlu meladeni dia, sebaiknya kita pergi saja dari sini," ujar Nayla dengan menarik tangan Jefri, kemudian pergi setelah membayar bubur yang mereka makan.
"Dasar perempuan kampung, bisa-bisanya dia merebut Jefri dariku. Lihat saja nanti, aku akan merebut kembali Jefri dari kamu," gumam Eliza dengan mengepalkan kedua tangannya.
......................
Setelah kepergian Nayla dan Jefri, Andri terus saja melamun, karena dia tidak pernah menyangka jika Nayla lebih memilih untuk pergi bersama Jefri.
"Sayang, Andri jangan sedih ya, nanti Mama pasti bakalan cari pendamping hidup yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Nayla."
"Tidak ada perempuan lain yang lebih baik dibandingkan Nayla, dan selamanya Andri hanya akan mencintai Nayla. Jika Andri tidak bisa memiliki Nayla, selamanya Andri tidak akan pernah menikah."
"Andri, apa kamu sudah gila sampai-sampai kamu berbicara seperti itu?"
"Kenapa kamu malah nyalahin Mama, padahal semua yang Mama lakuin itu demi kebahagiaan kamu."
"Mama bohong, yang Mama pikirkan hanya harta, Mama tidak pernah memikirkan perasaan Andri."
"Andri, tutup mulut kamu, bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu terhadap Ibu kandung kamu sendiri," teriak Mama Indri, karena Mama Indri tidak mau kalau sampai Andri mengatakan semua ambisinya untuk mendapatkan harta milik Jefri di depan Papa Ervan.
"Sudahlah Ma, berikan Andri waktu, saat ini Andri masih belum bisa menerima semua kenyataan tentang pernikahan Jefri dan Nayla. Semoga saja dengan kepergian Jefri dan Nayla dari rumah, secara perlahan Andri bisa melupakan Nayla."
"Papa salah, karena semakin kita jauh, maka rasa cinta yang Andri rasakan untuk Nayla akan semakin besar, karena saat dua tahun berhubungan saja kami jarang bertemu."
Papa Ervan semakin merasa bersalah, karena ternyata Andri begitu mencintai Nayla, tapi Papa Ervan tidak mungkin meminta Jefri menceraikan Nayla untuk Andri, karena hubungannya dengan Jefri pasti akan semakin memburuk jika Papa Ervan menyuruh Jefri melakukan semua itu.
Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Jefri dan Andri sama-sama Anak kandungku, dan aku tidak akan mungkin memihak kepada salah satunya, apalagi Jefri juga terlihat mencintai Nayla, ucap Papa Ervan dalam hati.
......................
__ADS_1
Sebelum membeli sayuran, Nayla mengajak Jefri membeli pakaian terlebih dahulu, dan Jefri hanya tersenyum dengan terus mengikuti langkah Nayla.
Nayla sebenarnya merasa heran karena banyak sekali orang yang menyapa Jefri.
"Mas, kenapa sih di sini banyak sekali orang yang kenal sama Mas?"
"Aku kan Bos Preman di sini, kamu pasti mengira seperti itu kan?" ujar Jefri, dan Nayla hanya nyengir kuda menanggapinya.
"Tentu saja karena aku adalah pemasok sayuran, pasti mereka kenal sama aku, karena aku juga sering ikut mengantar buah dan sayuran ke setiap pasar," ujar Jefri.
Nayla memilih beberapa pakaian untuknya dan untuk Jefri, tapi Jefri melarang Nayla membelikan pakaian untuknya.
"Nay, beli pakaiannya buat kamu saja, aku masih banyak kok di basecamp, soalnya aku sering tidur di sana kalau lagi males pulang."
Nayla nampak berpikir, sampai akhirnya Nayla memutuskan untuk membelikan Jefri kemeja dan celana saja.
"Kamu beli yang banyak, kalau uangnya kurang biar aku yang bayar," ujar Jefri dengan membantu Nayla memilih pakaian.
"Lho, ini Mas Jefri kan? Terimakasih ya Mas, karena saat Suami saya sakit, Mas Jefri sudah banyak membantu kami," ucap Ibu penjual baju.
"Sudah seharusnya sebagai sesama manusia kita saling membantu Bu," ujar Jefri.
"Anak-anak di Panti Asuhan juga terus saja menanyakan Mas Jefri, mereka katanya kangen karena Mas Jef sudah lama tidak main ke sana."
"Kapan-kapan saya akan nyempetin main ke sana Bu."
"Oh iya, Mbak cantik ini istrinya ya? baru kali ini saya lihat Mas Jef jalan sama perempuan."
"Iya Bu, ini istri saya."
"Ya sudah, Mbak nya silahkan pilih mana pakaian yang Mbak suka, nanti saya kasih diskon," ujar Ibu penjual baju.
"Makasih banyak Bu," ucap Nayla dengan tersenyum.
Saat ini banyak sekali pertanyaan pada hati Nayla tentang sosok Jefri yang masih misterius.
__ADS_1
Siapa Mas Jefri sebenarnya, kenapa banyak sekali orang yang mengucapkan terimakasih sama dia, bahkan Ibu penjual baju tadi mengatakan jika Anak-anak di Panti Asuhan kangen sama Mas Jefri? batin Nayla kini bertanya-tanya.