
Bah Ujang yang mendengar perkataan Bu Fatimah jika Mama Indri tidak merestui hubungan Andri dengan Nayla menghela nafas panjang, karena bagaimanapun juga sebagai orangtua, Bah Ujang ingin melihat Nayla bahagia.
"Kasihan Nayla dan Nak Andri, padahal yang Abah lihat jika mereka berdua masih saling mencintai."
"Iya Bah, Ibu juga melihat seperti itu, apalagi selama ini Nak Andri selalu baik terhadap Nayla, dan Nak Andri terlihat sangat mencintai Nayla. Bahkan Nak Andri sampai menentang Ibu kandungnya sendiri demi Nayla. Apa Abah akan merestui pernikahan Nayla dan Nak Andri meski pun Bu Indri tidak merestui pernikahan mereka?" tanya Bu Fatimah.
Bah Ujang terlihat memikirkan semuanya sebelum menjawab pertanyaan Bu Fatimah.
"Jika memang tekad Nak Andri sudah bulat untuk menikahi Nayla, dan Nayla bersedia menerima pinangan Nak Andri, Abah akan menikahkan mereka meski pun Bu Indri tidak merestuinya, karena yang akan menjalani rumah tangga adalah Nak Andri dan Nayla, bukan Bu Indri atau pun kita sebagai orangtuanya," ujar Bah Ujang.
Bu Fatimah bernafas lega mendengar jawaban Bah Ujang, karena Bu Fatimah merasa kasihan terhadap Andri yang sudah mengorbankan semuanya demi Nayla.
"Ya sudah, sebaiknya sekarang kita tidur Bu, nanti kita bicarakan lagi semuanya dengan Nak Andri dan Nayla," ujar Bah Ujang.
......................
Keesokan paginya, setelah Andri dan Bah Ujang pulang dari Masjid melaksanakan Shalat Subuh berjamaah, Nayla sudah terlihat menyiapkan gorengan dan kopi di ruang tamu.
"Bah, Mas Andri, silahkan diminum kopinya," ujar Nayla.
"Makasih banyak Nay," ucap Andri, dan Nayla hanya menganggukkan kepalanya serta tersenyum sebagai jawaban.
Beberapa saat kemudian, Nayla tiba-tiba merasakan pusing dan Nayla merasakan gejolak hebat pada perutnya, sehingga Nayla berlari ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Andri yang merasa khawatir kepada Nayla, meminta ijin kepada Bah Ujang untuk menyusul Nayla.
"Bah, Andri lihat Nayla dulu ya, Andri takut Nayla kenapa-napa."
"Iya, silahkan Nak," ujar Bah Ujang.
Setelah sampai di depan pintu kamar mandi yang terbuka, Andri meminta ijin untuk masuk terlebih dahulu kepada Nayla, karena bagaimanapun juga, saat ini mereka belum menjadi muhrim.
__ADS_1
"Nay, kamu kenapa sampai muntah seperti ini?" tanya Andri dengan memijit tengkuk leher Nayla.
"Tidak tau Mas, Nayla tiba-tiba pusing dan mual. Mungkin Nayla masuk angin."
Andri terlihat berpikir, karena Andri merasa curiga jika saat ini Nayla tengah hamil Anak Jefri, karena dulu Jefri sudah pernah melakukan kekerasan sek*sual terhadap Nayla.
"Nay, sebaiknya kita periksa kondisi kamu ya, aku tidak mau kalau kamu sampai sakit," ujar Andri dengan membantu Nayla berjalan, karena saat ini Nayla merasa lemas.
"Nak, kenapa Nayla?" tanya Bu Fatimah yang melihat Andri membopong tubuh Nayla.
"Nayla barusan mual muntah Bu, mungkin Nayla masuk angin. Kalau begitu Andri akan membawa Nayla ke klinik dulu untuk berobat ya Bu."
"Maaf ya Nak, kami sudah merepotkan, Ibu lagi masak, jadi gak bisa mengantar kalian."
"Tidak apa-apa Bu, biar Andri saja yang mengantarnya. Bu, Bah, kami berangkat dulu ya," ujar Andri, kemudian mengucap Salam sebelum berangkat.
Lebih baik aku sendiri saja yang mengantar Nayla untuk diperiksa, karena jika Nayla hamil, aku yang akan menjadi Ayah dari bayinya, ucap Andri dalam hati.
Nayla hanya bisa pasrah, dan tidak banyak bertanya ketika Andri membawanya untuk diperiksa ke dalam ruang Dokter kandungan, karena saat ini kepalanya masih terasa pusing, dan badannya masih merasa lemas.
"Silahkan berbaring Bu," ujar Dokter, dan Nayla dibantu berbaring oleh Perawat.
Setelah Dokter mengoleskan gel pada perut Nayla, Dokter mulai menggerakkan alat USG.
"Selamat ya Bu, Pak, kalian akan menjadi orangtua, dan saat ini usia kandungan Ibu sudah memasuki minggu ke enam," jelas Dokter.
Degg
Jantung Nayla dan Andri rasanya berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Dokter bahwa saat ini Nayla tengah hamil.
Nayla langsung menumpahkan tangisannya, karena Nayla tidak percaya jika saat ini dirinya tengah hamil Anak Jefri.
__ADS_1
Kenapa aku hamil setelah Mas Jefri meninggal dunia? bagaimana nasib Anakku yang harus terlahir tanpa seorang Ayah? ucap Nayla dalam hati.
Andri menghela nafas panjang karena Andri sudah menduga tentang semua itu.
Meski pun saat ini Nayla bukan hamil Anakku, tapi aku akan menganggap bayinya sebagai Anak kandungku sendiri, dan aku akan merahasiakan semua kebenarannya dari semua orang, karena jika sampai Mama mengetahui Nayla hamil Anak mendiang Kak Jefri, Mama pasti akan semakin menentang hubungan kami, ucap Andri dalam hati.
Setelah Dokter menuliskan resep untuk mengurangi mual muntah, dan juga pusing, serta menjelaskan pantangan apa saja yang tidak boleh dilakukan oleh Ibu hamil pada trimester pertama kehamilan, Andri berpamitan kepada Dokter.
"Terimakasih banyak Dok, saking bahagianya istri saya sampai menangis. Kalau begitu kami permisi dulu," ucap Andri dengan kembali membopong tubuh Nayla, dan Nayla terkejut ketika mendengar perkataan Andri yang sudah mengakuinya sebagai istri.
Setelah selesai mengantri obat, Andri memutuskan untuk terlebih dahulu membawa Nayla ke sebuah tempat sebelum mereka pulang, dan saat ini Nayla masih saja terlihat menangis.
Setelah Andri menepikan mobilnya, Andri mengajak Nayla untuk turun.
"Nay, sekarang kita turun, ada yang harus kita bicarakan," ujar Andri.
Andri mengajak Nayla berbicara di sebuah kedai yang berada di tengah sawah supaya mereka bisa lebih leluasa untuk berbicara, dan Andri memesan minuman dan makanan yang segar supaya Nayla tidak merasa mual saat memakannya.
"Apa yang akan Mas Andri bicarakan?" tanya Nayla yang sudah merasa yakin jika Andri akan mengurungkan niat untuk menikahinya.
"Sebaiknya sekarang kamu makan dulu, Ibu hamil harus banyak makan, nanti setelah kita selesai makan, aku akan membicarakan semuanya," ujar Andri, kemudian menyuapi Nayla makan, dan mata Nayla berkaca-kaca melihat perlakuan Andri terhadapnya.
Setelah mereka selesai makan, Andri beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum angkat suara.
"Nay, kamu jangan sedih ya, aku tau perasaan kamu saat ini, kamu pasti memikirkan nasib bayi yang saat ini sedang kamu kandung kan? apa pun yang terjadi, kita akan menghadapi semuanya bersama, dan aku akan menikahi kamu serta menjadi Ayah dari bayi dalam kandunganmu."
"Tidak Mas, aku tidak mau Mas Andri mengorbankan diri Mas Andri dengan menikahiku, karena ini adalah Anak mendiang Mas Jefri. Sebaiknya mulai sekarang Mas Andri lupakan Nayla, Mas Andri berhak mendapatkan perempuan yang masih suci."
"Nay, bagiku kamu tetap suci, dan aku akan tetap menikahi kamu, dan kita akan membesarkan Anak kita bersama-sama. Aku akan menyayangi Anak mendiang Kak Jefri seperti Anak kandungku sendiri."
"Mas, apa nanti kata orang jika Mas Andri menikahi perempuan hamil?"
__ADS_1
"Sebaiknya sekarang kita merahasiakan kehamilan kamu dari semua orang, bahkan dari kedua orangtua kita, supaya semuanya nanti mengira jika bayi yang kamu kandung saat ini adalah Anakku," ucap Andri dengan memeluk tubuh Nayla.