CAKA ( Cintai Aku Karena Allah )

CAKA ( Cintai Aku Karena Allah )
Bab 17 ( Debaran aneh dalam dada )


__ADS_3

Saat ini jantung Nayla berdetak lebih cepat, karena wajah Jefri begitu dekat dengan wajahnya, sampai akhirnya Nayla memejamkan mata karena sudah mengira jika Jefri akan menciumnya.


Pletak


Jefri menyentil dahi Nayla.


"Aww, kok disentil sih dahinya?" tanya Nayla.


"Kamu pasti mikir yang aneh-aneh kan udah nutup mata segala?" ujar Jefri, dan Nayla terlihat malu mendengar ucapan Jefri.


Aku sebenarnya ingin sekali melakukan semua itu Nay, tapi aku tidak akan melakukannya sebelum kamu benar-benar melupakan Andri, karena aku tidak ingin memaksamu, ucap Jefri dalam hati.


Jefri kemudian menuju dapur untuk mencuci piring dan wajan bekas Nayla masak.


"Mas, biar Nayla saja yang membersihkan semuanya."


"Tidak usah Nay, aku bisa kok, kamu beresin aja makanannya, biar makanannya gak basi, kamu masukin kulkas supaya besok bisa kita makan lagi," ujar Jefri.


Setelah mereka menyelesaikan semuanya, Jefri mengajak Nayla untuk tidur, karena saat ini sudah pukul sepuluh malam.


"Nay, kamu tidak apa-apa kan tidur satu kasur denganku?" tanya Jefri yang takut jika Nayla akan keberatan.


"Tidak apa-apa kok Mas, kita kan Suami istri," jawab Nayla.


"Nay apa aku boleh memelukmu?" tanya Jefri lagi.


"Kenapa Mas Jefri minta ijin terus, biasanya juga Mas Jefri tidak pernah meminta ijin kalau di depan Mas Andri," ucap Nayla, kemudian menutup mulutnya.


Jefri menghela nafas panjang, karena lagi lagi Nayla mengucapkan nama Andri.


Apa selamanya pernikahan kami akan selalu dibayang-bayangi oleh Andri? ucap Jefri dalam hati, kemudian membalikan badannya membelakangi Nayla.


Kenapa sih aku terus mengucapkan nama Mas Andri ketika bersama Mas Jefri? Mas Jefri pasti marah kan, Apa yang harus aku lakukan supaya Mas Jefri tidak marah lagi? ucap Nayla dalam hati.

__ADS_1


Secara perlahan Nayla mendekati tubuh Jefri, kemudian Nayla memeluk tubuh Jefri dari belakang.


"Aku tidak marah kok, jadi kamu tidak perlu berinisiatif memeluk ku," ujar Jefri.


"Kalau gak marah, kenapa Mas Jefri membelakangi Nayla?"


"Nay, sudahlah, kamu jangan nempel-nempel seperti ini, aku juga lelaki normal," ujar Jefri, sontak saja Nayla langsung melepaskan pelukannya kepada Jefri, karena Nayla masih belum siap, meski pun saat malam pertama mereka, Nayla tidak ingat kenapa dirinya sudah tidak mengenakan pakaian, bahkan banyak tanda merah pada tubuhnya.


"Aku tau kalau kamu masih belum sepenuhnya menerima pernikahan ini, makanya aku tidak mau memaksamu untuk memenuhi kewajiban kamu sebagai seorang istri," ujar Jefri menatap lekat wajah Nayla.


"Maaf Mas," ucap Nayla lirih.


"Secara perlahan aku akan belajar menjadi imam yang baik untuk kamu Nay, dan aku harap kamu mau belajar membuka hati untukku. Jujur awalnya aku tidak percaya dengan yang namanya cinta, tapi setelah beberapa hari aku berada di dekatmu, aku merasa nyaman, dan secara perlahan aku merasakan getaran aneh dalam dadaku. Aku tidak tau apa itu yang dinamakan cinta, karena sebelumnya aku tidak pernah merasakan semua ini kepada seorang perempuan," ujar Jefri.


"Insyaallah Nayla akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Mas Jefri," ujar Nayla, kemudian membuka jilbab yang masih ia kenakan.


"Aku beruntung bisa menikah dengan perempuan yang memiliki cantik luar dalam," ujar Jefri kemudian membawa Nayla ke dalam pelukannya.


......................


Mama Indri dan Papa Ervan yang saat ini menunggu Andri di Rumah Sakit, tidak tau harus berbuat apa, karena mereka tidak mengetahui keberadaan Nayla dan Jefri.


"Pa, kita harus bagaimana? suhu badan Andri panas sekali, dan hanya nama Nayla yang selalu Andri panggil."


"Papa juga tidak tau Jefri membawa Nayla kemana Ma, selama ini kita tidak pernah tau Jefri pergi kemana saja, dan melakukan apa saja di luar sana."


Mama Indri kembali menekan tombol yang berada di atas ranjang pesakitan Andri untuk memanggil Dokter, dan beberapa saat kemudian, Dokter datang untuk memeriksa keadaan Andri yang masih saja memanggil nama Nayla.


"Sepertinya hanya perempuan bernama Nayla yang dapat membantu kesembuhan Pasien, karena saat ini Pasien sudah kehilangan semangat hidupnya," ujar Dokter.


Papa Ervan yang mendengar penjelasan Dokter berusaha untuk menghubungi Jefri, tapi Jefri tidak mengangkat panggilan telpon Papanya tersebut karena handphonenya ia silent, begitu juga dengan Nayla, karena saat ini baterai handphonenya habis, sampai akhirnya Papa Ervan mengirim pesan kepada Jefri.


📤" Jefri, Papa mohon Nak, tolong Andri. Saat ini kondisinya semakin memburuk, suhu badan Andri sangat panas, dan dia terus saja memanggil nama Nayla. Dokter bilang hanya Nayla yang dapat menyembuhkannya, karena saat ini Andri telah kehilangan semangat hidupnya."

__ADS_1


Jefri dan Nayla ketiduran, apalagi Jefri merasa sangat nyaman saat memeluk tubuh Nayla.


Ketika tengah malam Jefri terbangun karena ingin buang air kecil, dan Jefri begitu bahagia ketika melihat wajah Nayla yang saat ini terlelap dalam pelukannya.


Setelah dari kamar mandi, Jefri memeriksa handphonenya, dan ternyata banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Papa Ervan, bahkan Papa Ervan mengirimkan pesan.


"Apa benar Andri separah itu setelah ditinggalkan oleh Nayla?" gumam Jefri, kemudian memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa sakit.


Nayla yang sudah terbiasa bangun pada tengah malam untuk melaksanakan Shalat tahajud, mencari keberadaan Jefri yang saat ini tidak ada di sampingnya, dan ternyata Jefri tengah melamun di balkon luar kamarnya.


"Mas Jefri kenapa?" tanya Nayla yang melangkahkan kaki untuk menghampiri Jefri.


"Nay, kondisi Andri semakin parah, aku takut sesuatu yang buruk terjadi kepada Andri, karena bagaimanapun juga Andri adalah Adikku."


"Kita terus berdo'a ya untuk kesembuhan Mas Andri, Mas Andri pasti baik-baik saja," ujar Nayla yang sebenarnya mencemaskan kondisi Andri.


"Sebaiknya sekarang juga kita ke Rumah Sakit Nay, aku ikhlas jika kamu merawat Andri."


Nayla sebenarnya merasa tidak enak kepada Jefri, tapi ini sudah menyangkut nyawa seseorang, apalagi saat ini Andri sudah menjadi Adik iparnya.


"Setelah seorang perempuan menikah, ridha Allah ada pada ridha Suaminya, jika memang Mas Jefri ikhlas, Nayla akan menuruti semua kemauan Mas Jefri."


Sebenarnya aku berat untuk melepaskanmu merawat Andri, tapi aku akan merasa sangat berdosa kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk kepada Andri, batin Jefri yang saat ini berada dalam dilema, karena ini adalah pilihan yang sulit untuknya.


"Nay, sebaiknya sekarang kita berangkat menuju Rumah Sakit, entah kenapa perasaanku saat ini tidak enak."


Nayla sudah bersiap, begitu juga dengan Jefri, tapi Nayla tidak memakai jaket karena tadi siang dia tidak membelinya.


"Nay, apa kamu tidak memiliki jaket?"


"Semua pakaianku masih di rumah Papa Ervan Mas."


Jefri mengambil jaketnya dari dalam lemari, kemudian ia memakaikannya kepada Nayla.

__ADS_1


"Nay, sebaiknya kamu pakai dulu jaketnya, aku tidak mau kalau kamu sampai sakit," ujar Jefri, dan perhatian yang Jefri berikan, selalu membuat hati Nayla merasa hangat.


__ADS_2