
Jefri tertegun mendengar perkataan Mama Marlina, karena Jefri tidak ingin nasib yang dia alami terulang oleh Anak Nayla dan Andri jika sampai Jefri kembali merebut Nayla dari Andri, tapi rasa cintanya terhadap Nayla membuat Jefri menjadi egois, meski pun pada kenyataannya saat ini Nayla tengah hamil Anak Jefri, tapi semuanya mengira jika Jefri telah meninggal dunia.
"Kevin tidak akan membiarkan Anak Nayla dan Andri mengalami nasib seperti Kak Jefri, karena Kevin akan membawanya untuk tinggal bersama Kevin dan Nayla jika Kevin berhasil merebut Nayla dari Andri. Kevin juga akan menyayanginya seperti Anak Kevin sendiri."
Mama Marlina tidak bisa berkata apa-apa lagi, apa lagi Mama Marlina malu karena dulu Mama Marlina dengan teganya meninggalkan Jefri begitu saja dengan Papa Ervan.
"Mama tidak bisa berkata apa-apa lagi Nak, karena dulu Mama dan Papa telah melakukan kesalahan yang sama, tapi Mama masih berharap Kevin berubah pikiran, karena Mama tidak ingin kejadian di masalalu terulang kembali oleh Kevin."
"Maaf Ma, Kevin tidak pernah ada niat sedikit pun untuk mengingatkan Mama dengan kejadian di masalalu, tapi saat ini keputusan Kevin sudah bulat untuk merebut Nayla, meski pun Kevin masih belum tau hasilnya, karena Kevin masih belum yakin jika Nayla akan berpaling dari Suaminya."
"Semua keputusan ada di tangan Kevin, karena Mama yakin jika Kevin tau mana yang salah dan yang benar. Kalau begitu sekarang Kevin istirahat, supaya Kevin segera sembuh."
Mama Marlina ke luar dari dalam kamar Jefri setelah melihat Jefri berbaring dan menutup mata, padahal Jefri hanya berpura-pura tidur, karena saat ini Jefri tengah memikirkan cara untuk merebut Nayla.
"Aku harus mencari cara untuk merebut Nayla dari Andri, bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan Nayla," gumam Jefri.
Jefri teringat dengan Mama Indri karena Jefri sangat tau sifat Mama Indri yang tidak akan mudah merestui hubungan Andri dan Nayla.
Apa aku ajak Nenek sihir Mamanya Andri saja untuk bekerjasama denganku memisahkan Nayla dari Andri? aku sangat yakin jika Nenek Sihir tidak akan mudah menerima Nayla menjadi Menantunya, karena saat menikah dengan Andri, Nayla adalah seorang Janda, ucap Jefri dalam hati.
......................
Seharian Andri menemani Nayla, bahkan Andri tidak beranjak sedikit pun dari samping Nayla.
"Mas, jangan seperti ini, Nayla tidak akan kemana-mana."
"Tapi Mas takut kalau Nayla dan bayi kita sampai kenapa-napa. Mas tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kepada kalian, karena entah kenapa perasaan Mas gak enak terus."
__ADS_1
"Sebaiknya sekarang kita Shalat Dzuhur dulu, terus kita masak buat makan siang, daripada tiduran terus yang ada badan Nayla tambah melar."
"Gak apa-apa sayang, Mas justru senang kalau Nayla tambah gendut."
"Nayla gak mau terlalu gendut Mas, gimana kalau nanti Mas berpaling pada wanita lain."
"Tidak akan sayang, selamanya cinta Mas hanya untuk Nayla, tidak akan pernah ada yang kedua dan ketiga atau pun cinta untuk perempuan lain di dunia ini," ujar Andri dengan memeluk erat tubuh Nayla.
"Iya, iya, Nayla percaya, Suami Nayla ini kan Setia."
"Ya sudah kalau begitu kita mandi dulu sebelum Shalat," ujar Andri dengan menggendong Nayla menuju kamar mandi.
Nayla selalu bersyukur karena memiliki Andri dalam kehidupannya, karena di mata Nayla Andri adalah Suami yang sempurna.
"Mas, makasih ya," ucap Nayla dengan mencium punggung tangan Andri ketika mereka selesai Shalat.
"Makasih untuk apa?" tanya Andri yang merasa heran.
"Tidak sayang, Anak dalam kandungan kamu adalah Anak Mas, dan Mas tidak akan rela jika Nayla menyebut nama lelaki lain sebagai Ayah dari Anak kita," ujar Andri dengan memeluk tubuh Nayla.
Entah kenapa Nayla selalu merasa takut jika sampai ada yang mengetahui tentang semua kebenaran yang dirinya dan Andri sembunyikan, Nayla takut jika suatu saat nanti ada orang yang merebut Anaknya.
Kamu tidak boleh takut Nayla, tidak akan ada yang merebut Anak kamu, apalagi Ayah kandungnya telah meninggal dunia. Tapi bagaimana dengan Mama Indri? Mama Indri pasti akan semakin berusaha untuk memisahkan aku dari Mas Andri jika mengetahui yang sebenarnya, ucap Nayla dalam hati.
"Mas, Nayla sangat beruntung karena memiliki Mas Andri. Nayla tidak tau apa jadinya jika tidak ada Mas Andri yang selalu berada di samping Nayla."
"Sayang, justru Mas yang bersyukur karena impian Mas terwujud. Sejak pertama kali bertemu dengan Nayla, impian Mas adalah menjadi imam untuk Nayla. Ya sudah, kalau begitu sekarang kita mulai memasak, kasihan bayi Ayah pasti sudah merasa kelaparan," ujar Andri dengan mengelus dan mencium perut Nayla yang sudah mulai terlihat membesar, karena saat ini usia kandungan Nayla sudah menginjak bulan keempat.
__ADS_1
Andri membantu Nayla memasak, dan beberapa saat kemudian terdengar suara bel rumah mereka yang berbunyi.
Nayla hendak membuka pintu, tapi Andri melarangnya.
"Biar Mas saja yang buka," ujar Andri kemudian melangkahkan kaki untuk membuka pintu, dan ternyata yang datang adalah Papa Ervan.
"Pa, tumben ke sini siang-siang, memangnya di kantor lagi gak banyak kerjaan?" tanya Andri.
"Sekarang kan jam makan siang, jadi Papa sekalian saja ke sini buat minta makan gratis," ujar Papa Ervan dengan terkekeh.
"Mana mungkin seorang CEO tidak memiliki uang untuk membeli makanan," ujar Andri dengan tersenyum.
"Nak, sebenarnya Papa tidak enak dengan sikap Mama terhadap Nayla, makanya Papa sengaja datang ke sini untuk meminta maaf, sekalian nengokin Menantu sama calon Cucu Papa. Papa sudah tidak sabar ingin segera menimang Cucu dari kalian," ujar Papa Ervan dengan tersenyum.
Andri mengajak Papa Ervan menuju meja makan, karena saat ini masakan Andri dan Nayla sudah matang.
Nayla yang melihat Papa Ervan, langsung menghampiri serta mencium punggung tangan Papa Ervan.
"Pa, gimana kabarnya, sehat?" tanya Nayla.
"Alhamdulillah Nak, bagaimana dengan Nayla, apa ngidamnya tidak terlalu parah?" tanya Papa Ervan.
"Alhamdulillah Pa, Nayla sudah tidak terlalu mual muntah," apalagi saat ini kandungan Nayla sudah memasuki trimester kedua. Maafkan kami, karena kami membohongi kalian, lanjut Nayla dalam hati.
"Nak, Papa datang ke sini untuk meminta maaf, karena Papa merasa tidak enak dengan sikap Mama yang sudah keterlaluan terhadap Nayla."
"Pa, Papa tidak perlu meminta maaf, Nayla sangat mengerti kenapa Mama bersikap seperti itu. Semua ini hanya masalah waktu saja, semoga suatu saat nanti pintu hati Mama terbuka, dan Mama bisa menerima Nayla sebagai Menantu Mama," ucap Nayla yang di Amini oleh Papa Ervan dan Andri.
__ADS_1
"Makasih banyak ya Nak, Nayla memang istri yang saleha, dan Andri beruntung mendapatkan Nayla sebagai pendamping hidupnya."
"Nayla yang beruntung karena mendapatkan Mas Andri Pa. Kalau begitu sekarang kita mulai makan mungpung makanannya masih hangat," ujar Nayla, kemudian mengisi piring kosong dengan nasi dan lauk untuk Suami dan Ayah Mertuanya.