
Bah Ujang dan Halim pamit pulang ke kampung halamannya setelah selesai acara tahlil ke tujuh Almarhum Jefri, sedangkan Nayla dan Bu Fatimah masih berada di kediaman Papa Ervan, karena Nayla berniat untuk pulang ke kampung halamannya setelah selesai empat puluh hari acara tahlil mendiang Jefri.
Nayla meminta di antar oleh Bu Fatimah ke basecamp, karena Nayla ingin membereskan barang-barang Jefri.
"Nay sama Ibu mau berangkat kemana?" tanya Andri ketika melihat Nayla dan Bu Fatimah sudah bersiap untuk pergi.
"Nayla mau ke basecamp buat beresin barang-barang Mas Jefri, Mas."
"Kalau begitu biar Mas antar ya," ujar Andri.
"Memangnya tidak merepotkan?" tanya Nayla.
"Tidak sama sekali Nay," jawab Andri yang bersemangat untuk mengantar Nabila.
Bu Fatimah yang mendengar Andri ingin mengantar Nayla, berpura-pura tidak enak badan, karena ingin memberikan waktu kepada Nayla dan Andri supaya jalan berdua saja.
"Nak, Ibu gak usah ikut ya, perut Ibu tiba-tiba mulas."
"Ibu tadi makan apa bisa sampai mulas seperti itu?" tanya Nayla.
"Ibu makan angin," ucap Bu Fatimah, sehingga membuat Nayla dan Andri terlihat kebingungan.
"Eh, maksud Ibu, sepertinya Ibu masuk angin."
"Ya sudah, kalau begitu Nayla kerokin Ibu saja ya."
"Tidak perlu Nak, nanti Ibu minum jamu masuk angin juga sembuh."
"Bu, apa mau Andri antar ke Dokter?"
"Tidak usah Nak. Sebaiknya sekarang kalian berangkat mungpung masih siang," ujar Bu Fatimah.
Setelah mencium punggung tangan Bu Fatimah, Andri dan Nayla mengucap Salam, lalu pergi menuju basecamp.
Mama Indri yang melihat Nayla pergi berdua saja dengan Andri, merasa tidak suka, dan Mama Indri langsung saja melontarkan sindiran.
__ADS_1
"Ibu niat banget ya jodohin Anak saya sama Nayla? apa Ibu tidak sadar diri dengan status Nayla saat ini?"
"Maaf Bu, saya tidak bermaksud seperti itu, saya sangat sadar jika kami hanyalah orang miskin, dan Nayla juga seorang janda, tapi kami juga punya harga diri," ujar Bu Fatimah.
Papa Ervan yang mendengar perkataan Mama Indri merasa tidak enak kepada Bu Fatimah.
"Bu, mohon maaf jika istri saya telah menyinggung perasaan Ibu. Saya sama sekali tidak keberatan jika Andri dan Nayla menikah, karena mereka dari dulu saling mencintai bahkan jauh sebelum Nayla menikah dengan Jefri."
"Pa, kenapa sih Papa bukannya dukung Mama?" rengek Mama Indri.
"Ma, sebagai orangtua tidak seharusnya Mama berbicara seperti itu, Mama itu bukan Anak kecil lagi, pasti Mama bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Bagaimanapun juga Bu Fatimah adalah tamu sekaligus besan kita, dan kita harus menghormatinya. Apalagi Nayla adalah Menantu kita, dan sudah sepantasnya Nayla kita anggap sebagai Anak kandung kita sendiri."
"Tapi Pa, status Nayla saat ini adalah seorang Janda, dan Mama ingin Andri mendapatkan seorang gadis. Apa nanti kata oranglain jika mendengar Andri menikah dengan Nayla yang seorang Janda bahkan bekas Kakaknya sendiri? Mama pasti akan menjadi bahan olokan teman-teman Arisan sosialita Mama."
"Papa tidak habis pikir dengan pemikiran Mama, dulu saat mendiang Jefri masih hidup, Mama memaksa Jefri untuk menceraikan Nayla supaya Nayla bisa menikah dengan Andri."
"Tapi saat itu keadaannya berbeda Pa, Andri sedang sakit, dan dia sangat membutuhkan Nayla."
"Lalu apa Mama harus melihat Andri sakit dulu baru Mama akan merestui Andri menikahi Nayla?" tanya Papa Ervan, dan Mama Indri langsung diam tidak berkutik.
......................
"Bagaimana kondisi Anda Tuan Kevin?" tanya Dokter.
Kenapa Dokter memanggilku dengan sebutan Kevin? aku Jefri bukan Kevin, ucap Jefri dalam hati, tapi ketika Jefri hendak mengatakan semuanya tenggorokannya terasa sakit sehingga Jefri tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun.
"Tuan muda tenang dulu, kami nanti akan melakukan operasi plastik kepada Tuan muda untuk memulihkan wajah dan tubuh Tuan muda," ujar Dokter dengan memeriksa kondisi tubuh Jefri.
Bagaimana ini, kenapa bisa identitasku dan Kevin tertukar? Aku tidak mau menjadi oranglain, karena mereka pasti akan mengoperasi wajahku dengan wajah Kevin. Nayla tolong aku, aku sangat mencintai kamu, dan aku tidak ingin berpisah denganmu, ucap Jefri dalam hati.
Nayla saat ini sedang membereskan barang-barang Jefri yang berada di basecamp. Akan tetapi, ketika Nayla melihat fhoto Jefri yang dipajang di dinding, tiba-tiba fhoto tersebut terjatuh.
Prang
"Astagfirullah, kenapa bisa fhoto Mas Jefri terjatuh?" gumam Nayla dengan mengambil fhoto Jefri dari atas lantai, tapi tangan Nayla tertusuk pecahan kaca.
__ADS_1
"Awww," teriak Nayla ketika tangannya berdarah.
Andri yang menunggu di lantai bawah karena tidak mau sampai terjadi fitnah jika berduaan dengan Nayla di dalam kamar, langsung berlari menghampiri Nayla.
"Nay, kamu kenapa?" tanya Andri.
"Jari tangan Nayla terkena pecahan kaca Mas."
Andri langsung menyesap darah yang terus mengucur dari tangan Nayla untuk menghentikan pendarahannya.
"Maaf Nay, aku sudah lancang. Aku hanya mencoba untuk menghentikan pendarahan pada tangan kamu."
"Makasih Mas," ucap Nayla dengan wajah tertunduk, bagaimanapun juga Nayla harus tetap menjaga pandangannya, apalagi saat ini jantung keduanya berpacu cepat.
Andri melepas pegangannya terhadap tangan Nayla setelah darah dari tangan Nayla berhenti ke luar.
"Nay, apa semuanya sudah selesai?" tanya Andri dengan salah tingkah.
"Udah Mas. Nayla menemukan sertifikat rumah ini, rekening tabungan Mas Jefri dan juga dompetnya. Mungkin saat kecelakaan, Mas Jefri tidak membawanya karena terburu-buru mengejar kita."
Saat terjadi kecelakaan, Jefri tidak membawa identitas apa pun, tapi saat itu dompet Kevin justru terjatuh di atas tubuh Jefri sehingga semuanya mengira jika Jefri adalah Kevin.
"Ya sudah sebaiknya Nayla simpan semua barang penting milik Kak Jefri, dan untuk pakaian Kak Jefri kita berikan saja kepada yang membutuhkan, apalagi kebanyakan pakaian Kak Jefri masih baru."
Andri membawa kardus pakaian Jefri untuk diberikan kepada Anak buah Jefri yang baru saja tiba di basecamp.
"Gimana Mas, apa masih ada yang bisa kami bantu?" tanya Rahmat.
"Alhamdulilah semuanya sudah selesai Mas Rahmat. Mas, ini semua pakaian mendiang Kak Jefri, siapa tau di antara Mas ada yang membutuhkan." ujar Andri.
"Apa boleh saya membagikannya dengan teman-teman yang lain? kami pasti akan memakainya, dan kami akan menjadikannya sebagai kenang-kenangan dari mendiang Bos Jefri," ujar Rahmat.
"Tentu saja, saya senang apabila semua ini bermanfaat untuk semuanya," ujar Andri dengan memberikan dus besar yang berisi pakaian tersebut kepada Rahmat.
"Kakak ipar, bagaimana dengan usaha Bos Jefri? apa Kakak ipar berniat untuk meneruskannya? apalagi saat ini modal uang Bos Jefri dari hasil penjualan masih ada di tangan kami?" tanya Rahmat.
__ADS_1
Nayla melihat Andri, dan Andri tau kalau Nayla tidak bisa melanjutkannya karena masih belum memahami semuanya, sehingga akhirnya Andri angkat suara.
"Maaf kalau saya sudah ikut campur, tapi untuk saat ini Nayla tidak bisa meneruskan usaha Kak Jefri, apalagi Nayla masih belum selesai masa iddah. Bagaimana kalau untuk sementara Mas Rahmat bantu Nayla untuk mengelolanya? jika memang ada keuntungannya, Mas Rahmat nanti tinggal transfer sebagian ke rekening Nayla, dan sebagian lagi Mas Rahmat berikan kepada Anak Yatim Piatu dan fakir miskin atas nama Almarhum Kak Jefri, supaya pahalanya terus mengalir untuk mendiang Kak Jefri," jelas Andri.