
Jefri mencoba menaiki pohon mangga yang cukup tinggi, meski pun Jefri kesusahan, tapi Jefri terus berusaha untuk mengabulkan keinginan Nayla.
"Hati-hati Mas Kevin," teriak Nayla, dan Jefri semakin semangat, meski pun saat ini tubuhnya dikerubuti oleh semut.
Nak, demi kamu, Ayah akan melakukan apa pun. Saat ini kamu masih dalam kandungan, tapi sepertinya kamu sudah senang sekali mengerjai Ayah, ucap Jefri dalam hati dengan terus mengambangkan senyuman.
"Sayang, maaf ya Mas gak bisa naik pohon mangga," ucap Andri.
"Gak apa-apa Mas, mungkin Anak kita ingin mangga yang di ambil sama Om nya," ucap Nayla yang sudah keceplosan, tapi Mama Marlina pura-pura tidak mendengarnya.
Jefri sudah berhasil mengambil beberapa mangga untuk Nayla, dan mata Nayla berbinar ketika melihat Jefri memberikan mangga tersebut kepada Nayla.
"Mas Kevin, makasih banyak ya, Anak kami pasti senang karena Mas Kevin berhasil mengambilkan mangga yang dia mau," ucap Nayla dengan tersenyum bahagia.
"Yang penting kamu bahagia, apa pun pasti akan aku lakukan Nay," ucap Jefri dengan tersenyum, dan Andri merasa cemburu sehingga memutuskan untuk membawa Nayla pulang.
"Sayang, sebaiknya kita pulang sekarang ya, kita juga harus belanja bulanan dulu," ajak Andri.
"Ma, Mas Kevin, kami pulang dulu ya, makasih banyak mangga mudanya," ucap Nayla dengan memeluk tubuh Mama Marlina, dan mereka akrab dengan cepat karena Mama Marlina langsung menyayangi Nayla seperti Putrinya sendiri.
"Hati-hati ya sayang, kapan-kapan kalian main lagi ke sini ya," ujar Mama Marlina.
"Insyaallah Ma, semoga semuanya diberikan kesehatan dan kelancaran," ucap Nayla yang di Amini oleh semuanya.
Setelah berpamitan, Andri dan Nayla melangkahkan kaki ke luar dari kediaman Adhitama, dan Andri langsung melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan untuk belanja bulanan.
......................
Jefri terus melihat ke arah mobil yang ditumpangi Andri dan Nayla, dan Jefri merasakan sesak dalam dadanya ketika melihat mobil yang ditumpangi oleh Nayla menghilang dari pandangannya.
"Nak, masih banyak perempuan di luar sana yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Nayla," ucap Mama Marlina dengan menggandeng Jefri untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Tapi saat ini Nayla sedang hamil Anak Kevin Ma, karena Kevin adalah Jefri," ucap Jefri, tapi Mama Marlina malah tertawa mendengar perkataan Jefri.
"Ma, kenapa Mama malah tertawa?" tanya Jefri yang merasa heran dengan respon yang diberikan oleh Mama Marlina.
"Nak, Mama tau kalau Kevin sangat mencintai Nayla, tapi Kevin tidak perlu mengaku-ngaku sebagai mendiang Jefri supaya bisa menikahi Nayla."
"Ma, kenapa Mama tidak percaya dengan yang Jefri katakan? aku Jefri bukan Kevin, dan aku ingin menjadi Jefri lagi supaya bisa membesarkan Anakku dengan Nayla."
"Nak, kalau Kevin bercanda jangan kelewatan. Kasihan mendiang Jefri jika kamu seperti ini."
"Ma, apa Mama ingat hari dimana Jefri meninggal dunia? hari itu bertepatan dengan Kevin kecelakaan, karena saat itu yang tabrakan dengan Kevin adalah Jefri, dan identitas kami tertukar, karena yang sebenarnya meninggal dunia adalah Kevin bukan Jefri."
Mama Marlina diam mematung mendengar perkataan Jefri, karena dari awal Mama Marlina merasakan kejanggalan pada diri Kevin, apalagi Kevin yang selalu bersikap cuek dan sombong berubah menjadi Kevin yang hangat dan juga bersikap sopan santun terhadap kedua orangtuanya.
"Nak, siapa pun kamu yang sebenarnya, kalian berdua tetap Anak kandung Mama, dan bagi kami, kamu tetap Kevin bukan Jefri, karena saat ini wajah yang berada di hadapan Mama adalah wajah Kevin," ucap Mama Marlina dengan memeluk tubuh Jefri.
Saat ini Mama Marlina menangis karena bagaimanapun juga Mama Marlina sedih karena telah kehilangan salah satu Putranya.
"Nak, maafkan Mama karena selama ini mama tidak pernah ada untuk Jefri, tapi mulai sekarang Mama akan selalu ada untuk Jefri, meski pun saat ini Jefri sudah menjadi Kevin."
"Semua orang pernah melakukan kesalahan, tapi Jefri bahagia karena sekarang Jefri bisa terus berada dekat dengan Mama."
"Nak, apa Mama boleh minta permintaan? Mama harap Jefri tidak mengatakan identitas Jefri yang sebenarnya kepada Papa dan Kakek, karena Mama tidak mau jika Papa dan Kakek merasa sedih jika mengetahui Kevin telah meninggal dunia."
"Iya Ma, mulai sekarang Jefri akan menjadi Kevin, tapi bagaimana dengan Nayla? Jefri tidak bisa merelakan Nayla untuk hidup dengan Andri, apalagi jika kecurigaan kita benar kalau saat ini Nayla tengah hamil Anak Jefri."
"Nak, cinta tidak harus saling memiliki, jika memang Jefri mencintai Nayla, ikhlaskan Nayla untuk hidup bahagia dengan lelaki yang dia cintai, dan Mama yakin jika Jefri akan mendapatkan pengganti yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Nayla."
"Apa salah jika Jefri ingin mendapatkan apa yang sudah seharusnya menjadi milik Jefri? saat ini Jefri masih Suami Nayla, seandainya Jefri waktu itu tidak mengalami kecelakaan, pasti Jefri sekarang sudah hidup bahagia dengan Nayla."
"Nak, tidak ada seandainya di dalam hidup ini, karena percuma kita menyesal dengan semua yang telah terjadi dalam hidup kita, karena semua itu adalah takdir yang Allah SWT tuliskan untuk kita. Jefri harus tau jika dibalik musibah selalu ada hikmah yang tersembunyi, dan sekarang buktinya Jefri bisa dekat dengan Mama, dan kita bisa hidup bersama setelah selama puluhan tahun hidup terpisah."
__ADS_1
"Iya Ma, tapi maaf, karena Jefri akan kembali merebut Nayla dari Andri dengan cara apa pun juga."
"Semoga kamu tidak menyesal di kemudian hari Nak, karena Mama takut jika obsesi yang kamu miliki terhadap Nayla akan berbalik menjerumuskan Jefri dalam lubang dosa."
"Apa pun yang akan terjadi ke depannya, asalkan Jefri bisa hidup dengan Nayla dan Anak kami, Jefri tidak akan pernah menyesal."
"Kalau begitu Mama ke luar dulu ya, jika di depan Papa dan Kakek, Jefri jangan sampai keceplosan menyebut nama Kevin sebagai Jefri," ucap Mama Marlina, dan Jefri menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
Mama Marlina merasa khawatir dengan sikap Jefri yang begitu terobsesi terhadap Nayla, karena Mama Marlina takut jika sampai Jefri melukai oranglain.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuat Jefri mengikhlaskan Nayla? aku tau jika Jefri sangat mencintai Nayla dan berambisi untuk memilikinya, tapi aku melihat Nayla dan Andri saling mencintai, apalagi sekarang mereka terlihat bahagia, bahkan Andri rela mengorbankan dirinya dengan menikahi Nayla yang tengah hamil Anak Jefri, dan mereka tidak bersalah, karena mereka tidak tau jika Jefri masih hidup," gumam Mama Marlina.
......................
Andri dan Nayla saat ini telah sampai di pusat perbelanjaan, dan mereka tidak sengaja bertemu dengan Angela yang juga sedang berbelanja.
"Nona Angela sedang belanja juga?" tanya Nayla.
"Iya Nyonya Nayla. Oh iya, bagaimana Tuan Kevin, apa beliau sudah pulang?"
"Kevin baru saja kami antar pulang, dan Adik ipar Nayla tersebut kondisinya sudah baik-baik saja," ujar Andri yang berusaha menegaskan hubungan Nayla dengan Kevin kepada oranglain.
"Apa? jadi Nyonya Nayla adalah Kakak ipar Tuan Kevin. Berarti Nyonya Nayla pernah menikah dengan Kakak Tuan Kevin?"
Aku berniat supaya oranglain tidak mengira Nayla punya hubungan khusus dengan Kevin, tapi mereka jadi tau kalau Nayla pernah menikah dengan mendiang Kak Jefri. Kenapa semuanya jadi seperti ini sih, entah kenapa aku sangat cemburu ketika melihat Kevin menatap wajah Nayla, karena semua itu mengingatkan aku kepada mendiang Kak Jefri, ucap Andri dalam hati.
"Sudahlah kamu tidak usah kepo. Sayang, kita sudah selesai kan belanjanya? sebaiknya sekarang kita pulang, Mas sudah gerah sekali ingin mandi," ujar Andri dengan sebelah tangan yang mendorong troli, dan sebelahnya lagi menggandeng tubuh Nayla.
"Maaf ya Nona Angela, kami duluan," ujar Nayla yang merasa tidak enak terhadap Angela, karena sepertinya mood Andri sedang tidak baik, sehingga Andri bersikap ketus terhadap Nayla.
Tidak biasanya Mas Andri bersikap seperti itu terhadap oranglain, apa Mas Andri sedang memiliki masalah? batin Nayla kini bertanya-tanya.
__ADS_1