
Jefri merasa tidak enak karena dirinya sudah mengingatkan Nayla pada Andri, karena saat ini Nayla kembali melamun setelah mendengar perkataan Jefri.
"Nay, apa kamu marah? kenapa kamu diam saja?" tanya Jefri dengan menatap lekat wajah Nayla.
Nayla tersenyum kepada Jefri, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Nayla tidak marah Mas. Semoga saja dengan seiring waktu Allah akan memberikan perasaan cinta pada kita berdua."
Rasa cinta itu sudah tumbuh dengan begitu cepat di hatiku Nay, ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk mencintai perempuan Saleha seperti kamu. Semoga suatu saat nanti aku bisa mencintaimu karena Allah, seperti yang kamu inginkan, ucap Jefri dalam hati.
"Semoga saja aku bisa menjadi imam yang baik untuk kamu Nay," ucap Jefri yang di Amini oleh Nayla.
Setelah semua masakan Nayla matang, Jefri membantu Nayla menghidangkan makanan di meja.
"Sepertinya masakannya enak nih," gumam Jefri.
Nayla mengisi piring kosong untuk Jefri dengan nasi dan lauk, dan Jefri terlihat begitu lahap memakan masakan Nayla.
"Masakan kamu enak banget Nay, aku pasti bakalan gendut jika setiap hari makan masakan kamu."
"Alhamdulillah kalau Mas Jefri suka, tapi Mas Jefri ingat kan kalau Mas Jefri punya hutang cerita sama Nayla."
"Iya ingat, nanti ya setelah kita selesai makan, aku pasti akan menceritakan semuanya sama kamu."
Setelah selesai makan, Jefri mengajak Nayla untuk berbicara, karena Nayla terus saja mendesak Jefri untuk menceritakan semuanya.
"Sebenarnya aku tidak enak menceritakan semuanya, tapi kamu terus saja memaksaku. Nay, apa kamu percaya jika aku sudah melakukan kebaikan?" tanya Jefri, karena selama ini keluarganya selalu menyebut Jefri berandalan, tanpa mengetahui apa yang selama ini Jefri lakukan di luaran sana.
__ADS_1
"Kenapa Mas Jefri bertanya seperti itu?"
"Kamu tau sendiri kan kalau selama ini keluargaku selalu memberikan cap berandalan dan biang onar kepadaku, jadi aku pikir kamu akan menilaiku sama seperti mereka."
"Nayla percaya kok kalau Mas Jefri sudah melakukan kebaikan, buktinya semua orang yang bertemu dengan Mas Jefri di Pasar mengucapkan terimakasih, hanya saja Nayla penasaran dengan kebaikan yang sudah Mas Jefri lakukan untuk mereka."
"Kamu mau aku cerita dari mana dulu?" tanya Jefri.
"Bagaimana kalau tentang Anak Panti Asuhan yang kangen sama Mas Jef," jawab Nayla.
"Sebenarnya dari semenjak aku masih kecil, aku selalu merasa kesepian, sampai akhirnya setiap hari setelah pulang sekolah, aku selalu bermain ke Panti Asuhan, dan di sana aku berbagi ilmu dengan Anak-anak Panti tentang apa yang aku pelajari di Sekolah, tapi saat pulang ke rumah, aku selalu dimarahi oleh Ibu tiriku, dan dia selalu mengadu kepada Papa kalau aku selalu keluyuran selepas pulang Sekolah."
"Subhanallah, Alhamdulillah ternyata Mas Jefri sudah melakukan amalan yang tidak akan terputus meski pun kita telah meninggal dunia."
"Kenapa seperti itu? aku hanya membantu membaca dan menulis saja kepada Anak-anak."
"Percuma aku menceritakan semuanya kepada mereka Nay, mereka juga tidak pernah percaya dan tidak mau tau apa yang aku lakukan selama ini."
"Terus apa yang Mas Jefri lakukan untuk teman-teman Mas Jefri, serta pedagang di Pasar, karena mereka terlihat bahagia ketika melihat Mas Jefri?"
"Awalnya aku mengantar Ibu Panti belanja ke Pasar, tapi dompet Bu Panti di copet oleh para preman di Pasar, dan semua teman-temanku yang kemarin berkumpul di sini, itu adalah mantan Preman di Pasar yang tadi kita kunjungi, termasuk Rahmat dan Ujang."
"Terus bagaimana bisa mereka berubah menjadi orang baik?"
"Saat aku tau kalau dompet Ibu Panti di ambil oleh mereka, aku mencoba berbicara baik-baik supaya mereka mengembalikan dompetnya, tapi mereka malah menantangku untuk berkelahi. Jika aku menang, mereka akan mengembalikan dompet Ibu Panti yang mereka ambil, mereka juga akan melakukan semua yang aku suruh, karena mereka pikir aku tidak akan berhasil melawan mereka yang berjumlah sepuluh orang, apalagi mereka mempunyai badan yang besar."
"Jadi Mas Jefri berhasil mengalahkan sepuluh orang itu?" tanya Nayla.
__ADS_1
"Iya, aku berhasil, dan mereka langsung memanggil aku dengan sebutan Bos, mereka juga menepati janjinya untuk mengikuti semua perintahku."
"Apa Mas Jefri menyuruh mereka bekerja untuk Mas Jefri?"
"Mana ada seperti itu, awalnya aku meminta mereka supaya tidak menjadi Preman lagi, bahkan mereka aku suruh menjaga keamanan di Pasar, makanya semua orang yang berada di Pasar mengucapkan terimakasih kepadaku karena sekarang sudah tidak ada kasus pencurian lagi di Pasar. Setelah aku mempunyai modal, aku memutuskan untuk mengajak mereka membantu menjual hasil panen dari para Petani, dan keuntungannya kita bagi-bagi, makanya Alhamdulillah sekarang kami sudah memiliki lima mobil pick up untuk mengantar sayuran dan buah-buahan ke Pasar."
Nayla begitu kagum dengan cerita Jefri, dan saat ini Nayla terus saja menatap wajah Jefri yang sedang bercerita.
"Biasa aja lihatnya, kamu terpesona ya lihat wajahku yang tampan ini," goda Jefri, dan Nayla memutar malas bola matanya.
"Terus apa yang sudah Mas Jefri lakukan untuk Ibu penjual baju itu? katanya Mas Jefri sudah membantu Suaminya yang sakit?" tanya Nayla.
"Aku hanya menyisihkan rezeki yang aku dapatkan untuk orang yang membutuhkan, dan kebetulan saat itu Suami Bu Tati sedang sakit, dan kami membawanya ke Dokter untuk berobat, karena saat itu Bu Tati belum dagang di Pasar. Bu Tati juga tinggal di dekat Panti, makanya Anak-anak titip pesan sama Bu Tati kalau mereka kangen sama aku. Biasanya satu bulan sekali aku sendiri yang mengantarkan buah dan sayuran, juga sedikit uang untuk membantu kebutuhan mereka, tapi sudah beberapa bulan ini aku menyuruh teman-teman yang lain untuk pergi ke sana sekalian lewat kalau nganterin sayuran ke Pasar, karena aku selalu sibuk."
"Alhamdulilah, amalan yang kedua juga sudah Mas Jefri lakukan, yaitu Sedekah. Nayla bangga sama Mas Jefri."
Jefri terlihat salah tingkah ketika Nayla mengatakan jika Nayla bangga kepadanya, karena selama ini tidak pernah ada orang yang mengatakan semua itu kepada Jefri.
"Makasih Nay, baru kali ini ada orang yang mengatakan bangga kepadaku. Amalan yang ketiga apa? kalau aku bisa aku pasti akan melakukannya."
"Yang ketiga adalah do'a Anak yang Saleh," jawab Nayla.
Jefri terlihat berpikir karena dirinya saat ini masih belum memiliki Anak, bahkan menikah dengan Nayla saja baru beberapa hari.
"Tapi apa mungkin kelak aku akan mempunyai Anak yang Saleh? sedangkan aku sendiri masih belum menjadi orang baik, bahkan dalam seumur hidupku aku belum pernah melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim."
"Mas Jefri kan sudah berniat akan belajar Shalat, jadi insyaallah nanti Anak kita pasti akan menjadi Anak yang Saleh."
__ADS_1
"Memangnya kamu sudah siap untuk mempunyai Anak?" tanya Jefri dengan mendekatkan wajahnya kepada Nayla.