
Papa Ervan memutuskan untuk pamit kepada Andri dan Nayla setelah selesai makan siang, karena di kantor masih banyak pekerjaan yang belum selesai, apalagi hari ini Andri tidak masuk kerja.
"Nak, terimakasih atas makan siangnya, masakan Nayla memang enak. Papa sepertinya bakalan sering makan siang di rumah kalian."
"Yang masak bukan hanya Nayla Pa, tapi Mas Andri juga bantuin, bahkan selama ini Mas Andri yang sering masak buat Nayla."
"Sejak kapan seorang Andri mau masuk dapur? biasanya untuk sekedar ngambil minum di dapur saja Andri gak pernah mau," sindir Papa Ervan.
"Sejak Andri jadi Suami Nayla, karena Andri ingin selalu membahagiakan Istri Andri, apalagi kami akan segera memiliki Anak," jawab Andri, dan Papa Ervan merasa bahagia dengan perubahan sikap Andri yang terlihat begitu menyayangi dan mencintai Nayla.
"Papa bangga sama kamu Nak, sekarang Andri sudah lebih dewasa dan bertanggung jawab sebagai kepala rumah tangga."
Beberapa saat kemudian, terdengar suara handphone Papa Ervan yang berbunyi, dan Papa Ervan begitu terkejut sekaligus bahagia ketika Perusahaan Adhitama Grup mengabarkan jika proposal kerjasama buatan Andri telah disetujui oleh Kevin Adhitama.
"Andri, Selamat Nak, proposal kerjasama kita akhirnya disetujui oleh Adhitama Grup," ucap Papa Ervan dengan memeluk tubuh Andri.
Andri terlihat bingung karena proposal itu sudah beberapa kali Andri ajukan selama satu tahun ini, tapi baru sekarang proposal buatannya disetujui oleh Adhitama Grup.
"Pa, padahal Andri sudah beberapa kali dalam satu tahun mengajukan kerjasama dengan Adhitama Grup, tapi baru sekarang mereka meliriknya."
"Mungkin ini rezeki bayi kalian Nak, kita beruntung karena akan mendapat keuntungan yang sangat besar jika bekerjasama dengan perusahaan besar seperti Adhitama Grup. Apalagi Papa dengar pewaris tunggal Adhitama Grup sangat sulit untuk di ajak kerjasama, tapi barusan Sekretarisnya mengabarkan jika Tuan muda Kevin sendiri yang menyetujui proposal yang kamu buat.
"Semoga saja Kevin Adhitama tidak mempersulit Andri, karena Andri dengar dia orang yang angkuh dan sering banyak permintaan."
"Tapi kita hanya mendengar perkataan orang Nak, semoga saja Kevin tidak seperti yang orang-orang bicarakan," ujar Papa Ervan.
"Iya Mas, Mas harus selalu semangat dan optimis, Mas pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan baik, dan kami akan selalu mendo'akan Mas."
__ADS_1
"Makasih sayang, kalian berdua memang pembawa keberuntungan untuk Ayah," ujar Andri dengan memeluk tubuh Nayla.
"Kalau begitu Papa kembali ke kantor sekarang ya, Papa tunggu presentasi kamu besok Nak," ujar Papa Ervan dengan menepuk bahu Andri, kemudian mengucap Salam sebelum pergi dari rumah Nayla dan Andri.
......................
Jefri tersenyum licik setelah selesai menelpon Sekretarisnya.
"Sebentar lagi aku pasti akan bertemu dengan kamu sayang," gumam Jefri dengan mencium sketsa wajah Nayla yang dia buat.
Jefri mempunyai rencana mengajak perusahaan Papa Ervan untuk bekerjasama supaya dia dapat mengetahui keberadaan Nayla, dan ternyata setelah menelpon Sekretarisnya, Sekretaris Kevin mengatakan jika Andri sudah beberapa kali mengajukan proposal kerjasama dengan Adhitama Grup, sontak saja semua itu membuat Jefri lebih mudah untuk bekerjasama dengan perusahaan Papa Ervan, apalagi Andri sendiri yang bertanggung jawab atas kerjasama tersebut.
"Sekarang kamu boleh tertawa bahagia karena akan mendapatkan keuntungan yang besar Andri, tapi sebentar lagi kamu akan menangis karena Nayla akan menjadi milikku," gumam Jefri dengan tertawa bahagia.
Mama Marlina yang mengintip Jefri dari balik pintu terlihat sedih karena saat ini Putra kesayangannya begitu terobsesi terhadap Nayla.
Semoga kamu tidak menyesal di kemudian hari Nak, cinta kamu terhadap perempuan yang bernama Nayla begitu besar, sehingga kamu terobsesi untuk memilikinya, ucap Mama Marlina dalam hati, kemudian mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar Kevin.
......................
Ketika Papa Ervan mengucap Salam, Mama Indri terlihat sibuk mengecat kukunya, dan telinganya memakai headset sehingga tidak mendengar Papa Ervan pulang.
Papa Ervan membuka headset yang menempel pada telinga Mama Indri, kemudian Papa Ervan langsung angkat suara.
"Ma, ada yang perlu kita bicarakan."
"Kalau Papa mau bahas tentang Menantu kesayangan Papa, Mama malas membahasnya."
__ADS_1
"Ma, apa Mama sadar kalau Mama sudah sangat keterlaluan terhadap Nayla? seharusnya sesama perempuan Mama bisa mengerti posisi Nayla saat ini, apalagi Nayla sedang hamil Cucu kita Ma."
"Mama tidak yakin jika itu adalah Anak Andri, bisa saja itu adalah Anak dari mendiang Jefri atau Kevin Adhitama," celetuk Mama Indri.
"Kenapa Mama bisa mengenal Kevin Adhitama?" tanya Papa Ervan yang merasa heran.
"Karena tadi Kevin Adhitama datang ke sini, dia mengaku sebagai teman Andri, dan Kevin Adhitama pingsan setelah mendengar Andri menikah dengan Nayla. Jadi, pasti Kevin Adhitama memiliki hubungan khusus dengan Nayla di masalalu."
"Apa Mama bertemu langsung dengan Kevin Adhitama?"
"Tidak, Mama hanya mendengar dari cerita Satpam."
"Sepertinya Mama sudah salah paham terhadap Nayla, dan tadi Kevin Adhitama datang ke sini karena ingin mengabarkan jika proposal yang di ajukan oleh Andri telah disetujui olehnya, padahal Andri sudah mengajukan proposal tersebut selama satu tahun, bahkan Andri sampai melakukan revisi berkali-kali supaya proposal nya disetujui oleh Kevin. Papa rasa kehamilan Nayla membawa keberuntungan untuk Andri, karena tidak mudah bekerjasama dengan Adhitama Grup, apalagi nanti kita akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari kerjasama tersebut."
Untung saja aku belum menemui Kevin Adhitama untuk mengajaknya bekerjasama supaya memisahkan Nayla dengan Andri, karena Papa pasti akan sangat murka jika sampai aku menggagalkan kerjasama perusahaannya dengan Kevin Adhitama. Aku juga terlalu berpikir tidak masuk akal, mana mungkin perempuan kampung seperti Nayla mengenal orang hebat seperti Kevin Adhitama, ucap Mama Indri dalam hati.
"Pa, keberuntungan Andri tidak ada sangkut pautnya dengan Nayla, Andri saja yang memang hebat karena bisa mendapatkan tender yang besar."
"Ma, sekarang Papa melihat sikap Andri sudah lebih dewasa, bahkan Andri tidak segan-segan membantu Nayla memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah."
"Apa? jadi Nayla menjadikan Anak kita sebagai seorang Pembantu? benar-benar keterlaluan perempuan kampung itu. Selama ini Andri mana pernah memegang peralatan dapur dan peralatan rumah tangga lainnya. Mama tidak akan membiarkan Nayla memperbudak Anak kita," ujar Mama Indri yang hendak berdiri, tapi Papa Ervan mencegahnya.
"Tunggu Ma, Papa kecewa dengan sikap Mama, bisa-bisanya Mama mempunyai pemikiran seperti itu, Papa justru bangga sama Andri karena itu adalah bukti dari tanggung jawab serta kasih sayang Suami terhadap istrinya. Apa Mama lupa kalau dulu Papa juga sering membantu pekerjaan Mama di rumah pada saat Mama tidak ingin memakai jasa Asisten Rumah Tangga, karena Mama selalu cemburu dengan Asisten Rumah Tangga kita."
"Pa, tapi selama ini kita selalu memanjakan Andri, dan Mama takut kalau Andri sampai kenapa-napa. Bagaimana kalau tangan Andri sampai tergores atau lecet? Mama pokoknya tidak rela Pa."
"Ma, Andri saat ini telah menjadi seorang Kepala keluarga dan juga seorang Imam dalam rumah tangganya, dan kita tidak boleh ikut campur dengan urusan rumah tangga Andri. Jika Mama masih bersikeras untuk ikut campur, Papa tidak akan segan-segan menarik semua fasilitas yang telah Papa berikan," ancam Papa Ervan.
__ADS_1
"Jadi Papa berani mengancam Mama demi Nayla si perempuan kampung itu? Papa benar-benar keterlaluan," ujar Mama Indri dengan menangis.
"Ma, Papa hanya ingin Mama sadar, jika Anak kita sekarang sudah bahagia, dan seharusnya Mama bersyukur, bukan malah menyuruh Nayla meninggalkan Andri. Apa Mama lupa saat kejadian Nayla menikah dengan Jefri? Andri sampai sakit dan tidak memiliki semangat hidup. Apa Mama mau kejadian dulu terulang lagi?"