CAKA ( Cintai Aku Karena Allah )

CAKA ( Cintai Aku Karena Allah )
Bab 22 ( Mengalami Trauma )


__ADS_3

Nayla sudah lama berada di dalam kamar mandi, dan Jefri begitu mengkhawatirkan kondisi Nayla, sampai akhirnya Jefri memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi.


"Nay, kamu baik-baik saja kan?" tanya Jefri yang mulai panik, karena tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi.


Jefri memutuskan untuk mendobrak pintu kamar mandi, dan ternyata saat ini Nayla sudah tergeletak di atas lantai kamar mandi sehingga membuat Jefri semakin cemas.


"Nay, maafkan aku Nay," ucap Jefri dengan menggendong Nayla ke luar dari dalam kamar mandi, kemudian membaringkannya di atas kasur.


Saat ini badan Nayla panas, dan Jefri semakin merasa bersalah ketika melihat tubuh Nayla yang penuh dengan tanda kepemilikan yang dibuat olehnya secara brutal, belum lagi pergelangan tangan Nayla terlihat memar karena tadi Jefri menarik tangan Nayla secara kasar.


Jefri memutuskan untuk membawa Nayla ke Rumah sakit setelah sebelumnya memakaikan pakaian serta jilbab pada Nayla,


Jefri memesan taksi online untuk membawa Nayla ke Rumah Sakit, dan setelah taksi online yang dipesan oleh Jefri sampai, Jefri bergegas menggendong Nayla yang saat ini masih pingsan.


Sepanjang perjalanan, Jefri merasa khawatir, dan Jefri terus menyalahkan dirinya sendiri karena telah menyakiti Nayla.


"Pak cepetan bawa mobilnya," teriak Jefri kepada Supir taksi online, karena suhu tubuh Nayla semakin panas.


Sesampainya di Rumah Sakit, Jefri berlari menggendong Nayla menuju ruang IGD.


"Dok, tolong selamatkan istri saya," ujar Jefri.


"Silahkan Anda ke luar dulu, kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk Pasien," ujar Perawat dengan menutup pintu ruang IGD.


......................


Andri yang sudah merasa lebih baik, memutuskan untuk berjalan-jalan ke Taman, tapi Andri terkejut ketika melihat Jefri yang berlari menggendong Nayla menuju IGD, sampai akhirnya Andri menghampiri Jefri yang saat ini sedang duduk di depan ruang IGD.


"Kak, kenapa dengan Nayla? kenapa Nayla bisa sampai masuk IGD?" tanya Andri yang terlihat panik, tapi Jefri hanya diam saja tanpa mau menjawab pertanyaan Andri.


Sesaat kemudian Dokter ke luar dari dalam ruang IGD, dan Jefri langsung berdiri untuk menanyakan kondisi Nayla.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Jefri.


"Sepertinya istri Anda telah mengalami kekerasan sek*sual, dan Pasien mengalami trauma dengan kejadian yang telah menimpanya," jawab Dokter.


Andri yang mendengar perkataan Dokter langsung menarik baju Jefri.

__ADS_1


"Katakan, apa yang sudah Kakak lakukan terhadap Nayla?" tanya Andri dengan wajah yang memerah karena menahan amarah.


"Semua ini salahku, karena aku terlalu cemburu kepada kamu dan Nayla, aku juga sudah menuduh Nayla tidur denganmu, sampai akhirnya aku memberikan hukuman kepada Nayla," jawab Jefri dengan lirih.


Brugh Brugh


Andri memberikan bogem mentah kepada Jefri, karena Andri merasa geram dengan semua yang dilakukan oleh Jefri.


"Suami macam apa yang sudah menyakiti istrinya sendiri? Aku memang mencintai Nayla, bahkan sangat mencintainya, tapi aku tidak mungkin merusak kehormatannya," teriak Andri.


Petugas keamanan mencoba melerai Andri yang terus saja membabi buta memukul Jefri hingga babak belur, tapi Jefri hanya diam tanpa membalas pukulan Andri, karena dirinya memang sudah bersalah kepada Nayla.


Setelah semuanya merasa lebih tenang, Dokter kembali angkat suara.


"Saat ini Pasien sudah bisa dipindahkan ke kamar perawatan."


"Pindahkan Nayla ke kamar perawatan saya, supaya saya bisa menjaganya," ujar Andri, dan Jefri hanya diam saja tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


Setelah Nayla dipindahkan ke kamar perawatan Andri, Andri terus berada di samping Nayla dengan menggenggam erat tangan perempuan yang dicintainya tersebut, sedangkan Jefri terlihat duduk di sofa dengan terus mengacak rambutnya secara kasar.


Beberapa saat kemudian, secara perlahan Nayla membuka matanya, tapi Nayla langsung ketakutan ketika melihat Jefri.


"Sayang, maafin aku," ucap Jefri, tapi Nayla langsung memeluk tubuh Andri ketika Jefri berusaha mendekatinya.


"Mas, Nayla takut, dia orang jahat, dia sudah menyakiti Nayla," ucap Nayla dengan mengeratkan pelukannya kepada Andri.


"Nay, kamu tenang dulu ya, Kak Jefri bukan orang jahat, dia Suami kamu," ujar Andri.


"Bukan, dia bukan Suami Nayla, dia orang jahat," ujar Nayla yang masih terlihat ketakutan ketika melihat Jefri, dan Jefri langsung menjatuhkan tubuhnya ketika melihat Nayla yang merasa takut kepada dirinya.


"Nay, kamu jangan menghukumku seperti ini, aku menyesal telah menyakitimu Nay," ucap Jefri dengan menangis.


"Pergi kamu dari sini, pergi," teriak Nayla dengan histeris, sampai akhirnya Dokter masuk ke dalam kamar perawatan Nayla dan Andri.


"Dokter, suruh orang itu pergi, dia orang jahat, dia pasti ingin menyakiti saya lagi," ujar Nayla dengan menangis.


Dokter akhirnya memberikan suntikan penenang kepada Nayla yang terus saja menangis histeris seperti orang yang sudah kehilangan kewarasannya.

__ADS_1


"Maaf Mas, sebaiknya Mas jangan mendekati Pasien dulu, karena saat ini Pasien merasa ketakutan ketika melihat Mas, dan saya takut kondisi Pasien akan semakin memburuk," ujar Dokter kepada Jefri


"Tapi dia istri saya Dok," ucap Jefri.


"Suami macam apa yang sudah menyakiti istrinya sendiri," sindir Andri.


"Saya mohon pengertiannya, saat ini Pasien membutuhkan ketenangan, dan nanti Mas bisa kembali menemuinya setelah kondisi Pasien lebih baik, dan sepertinya Pasien harus mendapatkan penanganan dari Psikiater untuk memulihkan traumanya," jelas Dokter.


Jefri semakin terpukul mendengar perkataan Dokter, dan dengan berat hati akhirnya Jefri mengalah dan pergi dari kamar perawatan Nayla dan Andri.


Jefri memutuskan untuk kembali ke basecamp, dan dia begitu murka ketika melihat Eliza yang sudah duduk di depan teras basecamp.


"Mas, kamu habis darimana?" tanya Eliza yang hendak memeluk tubuh Jefri, tapi Jefri menghalangi Eliza dengan kedua tangannya.


"Jangan dekati aku El, semua ini gara-gara kamu," teriak Jefri.


"Memangnya apa yang telah aku lakukan sama kamu Mas? aku justru membantu kamu untuk membongkar kebusukan perempuan kampung itu."


"Tutup mulut kamu Eliza, sekali lagi kamu menghina istriku, aku tidak akan segan-segan untuk menyakitimu," ancam Jefri, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah, dan membanting pintu serta menguncinya.


Eliza yang kembali mendapatkan penolakan dari Jefri, memutuskan untuk pulang, dan memikirkan cara lain untuk mendapatkan Jefri.


"Sial, kenapa aku gagal menghasut Jefri. Sebaiknya aku menjebak Jefri supaya mau menikahiku, dan aku akan mencari waktu yang tepat supaya perempuan kampung itu sendiri yang meminta cerai dari Jefri," gumam Eliza dengan tersenyum licik


......................


Dua jam kemudian, Nayla kembali sadar, dan saat ini Nayla merasa lebih tenang karena tidak lagi melihat Jefri berada di kamar perawatannya.


"Nay, kamu makan dulu ya supaya lekas sembuh," ujar Andri dengan menyuapi Nayla.


"Makasih ya Mas," ucap Nayla dengan lirih.


"Kamu tidak perlu mengucapkan terimakasih, karena aku tulus melakukan ini semua. Sebelumnya kamu yang sudah merawatku, dan sekarang giliranku yang merawat kamu, supaya kita berdua bisa segera ke luar dari Rumah Sakit," ujar Andri.


"Mas, Nayla ingin pulang ke kampung saja, Nayla takut berada di Jakarta," ucap Nayla yang kembali ketakutan ketika mengingat Jefri yang sudah bersikap kasar terhadapnya.


"Nanti Mas bakalan antar Nayla setelah kondisi Nayla lebih baik ya," ujar Andri dengan mengelus lembut kepala Nayla.

__ADS_1


"Mas tidak memberitahukan semua ini kepada siapa pun kan?"


__ADS_2