
Mama Marlina memutuskan untuk mengajak Jefri pulang, karena saat ini Kakek William dan Papa Richard menghawatirkan keberadaan Kevin, karena semalam Kevin tidak pulang, sampai akhirnya Mama Marlina mengatakan jika Jefri menginap di rumah Andri dan Nayla.
"Nak, sebaiknya kita pulang, Kevin bisa menceritakan semuanya saat kita di perjalanan, kasihan Kakek sama Papa, dari semalam mereka mengkhawatirkan Kevin. Jadi, Mama bilang saja kalau Kevin menginap di rumah Andri dan Nayla."
Setelah mengetahui jika Nayla pernah menikah dengan Jefri, Papa Richard dan Kakek William menganggap Nayla sebagai keluarga mereka sendiri, makanya mereka tidak keberatan jika Kevin sampai menginap di rumah Andri dan Nayla.
Setelah berada di dalam mobil, Mama Marlina memberikan sebotol air mineral kepada Jefri, supaya Jefri merasa lebih tenang, karena saat ini Jefri terlihat cemas.
"Nak, apa sekarang Kevin sudah merasa lebih tenang?" tanya Mama Marlina.
Jefri beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar, sampai akhirnya Jefri menceritakan semua yang telah terjadi semalam antara dirinya dan Angela kepada Mama Marlina.
"Ma, Kevin harus bagaimana? Kevin tidak bisa menikahi perempuan lain selain Nayla. Kevin sangat mencintai Nayla."
"Nak, Mama sudah sering memperingatkan Kevin, apa yang kita tanam itu juga yang akan kita tuai. Kevin dan Angela sudah berniat untuk mencelakai orang lain, dan pada akhirnya kalian sendiri yang masuk ke dalam jebakan yang kalian buat. Mama harap Kevin akan mempertanggung jawabkan semua yang telah Kevin dan Angela perbuat, karena Kevin telah merenggut sesuatu yang paling berharga bagi seorang perempuan."
"Tapi Kevin tidak mencintai Angela Ma, karena hanya Nayla yang Kevin cintai."
"Cinta akan datang dengan seiring waktu Nak, Mama takut jika Angela sampai hamil Anak Kevin. Nayla beruntung karena Andri mau menikahi Nayla dan menganggap Anak Nayla sebagai Anak kandung Andri sendiri, tapi bagaimana dengan nasib Angela? bagaimana jika tidak ada lelaki yang mau menikahinya setelah mengetahui jika Angela telah hamil di luar nikah?"
Jefri terlihat memikirkan semua perkataan Mama Marlina, di satu sisi Jefri kasihan memikirkan nasib Angela, tapi di sisi lain, Jefri masih saja berat untuk menikahi perempuan lain selain Nayla.
"Ma, beri Kevin waktu untuk berpikir, saat ini Kevin masih belum bisa mengambil keputusan."
"Ya sudah, kalau begitu Kevin pikirkan semuanya baik-baik, jangan sampai Kevin kembali menyesal setelah Angela menikah dengan orang lain," ujar Mama Marlina.
Mama tau kalau kamu tidak mencintai Angela Nak, tapi kamu lebih baik menikahi Angela yang masih lajang, karena Mama tidak mau kamu menjadi seorang Pebinor yang menghancurkan pernikahan Andri dan Nayla, ucap Mama Marlina dalam hati.
Jefri teringat dengan kejadian semalam saat Andri datang ke Klub, dan Andri terlihat buru-buru pergi setelah menerima telpon.
"Ma, semalam saat Andri pergi dari Klub, Kevin samar-samar mendengar jika Nayla mengalami kontraksi, apa mungkin semalam Anak Jefri sudah lahir? karena Kevin juga bermimpi jika Nayla melahirkan Anak kami."
__ADS_1
"Nanti Mama coba telpon Nayla ya untuk menanyakan apakah Nayla sudah melahirkan, jika benar Nayla telah melahirkan, kita harus menjenguknya, karena itu adalah Cucu pertama Mama. Meski pun Kevin tidak bisa mengakuinya sebagai Anak, tapi Mama harap Kevin akan bertanggung jawab dengan menafkahinya, dan sebaiknya kita mengatakan semuanya kepada Nayla dan Andri siapa Kevin yang sebenarnya."
Setelah sampai kediaman Adhitama, Jefri dan Mama Marlina mengucapkan Salam, kemudian mereka mencium punggung tangan Kakek William dan Papa Richard.
"Nak, apa benar semalam Kevin menginap di rumah Nayla dan Andri?" tanya Papa Richard.
"Benar Pa, semalam Nayla mengalami kontraksi, jadi Kevin menemani Andri untuk membawa Nayla ke Klinik."
"Lalu bagaimana sekarang kondisi Nayla? Apa Nayla sudah melahirkan?" tanya Kakek William.
"Alhamdulillah Kek, Nayla telah melahirkan bayi laki-laki tampan yang sangat mirip sekali dengan Kevin."
"Kamu itu ada-ada saja Nak, mana mungkin Bayinya mirip kamu, Ayahnya kan Andri, sudah pasti bayinya akan mirip dengan Andri," ujar Papa Richard.
"Nanti Papa lihat saja sendiri, jika Bayinya sangat mirip dengan Kevin," ujar Jefri yang bersikeras jika bayi Nayla mirip dengan dirinya.
"Mungkin saat hamil, Nayla membenci kamu Kevin," ujar Kakek William dengan terkekeh.
Kenapa Kevin mengatakan jika Nayla telah melahirkan? padahal dia sendiri belum tau kebenarannya, batin Mama Marlina, kemudian bergegas menelpon Nayla untuk menanyakan semuanya, dan Mama Marlina terkejut, karena semua perkataan Jefri benar jika semalam Nayla telah melahirkan bayi laki-laki.
"Mama kenapa menangis?" tanya Jefri dengan menghampiri Mama Marlina.
"Kevin, kamu benar Nak, semalam Nayla sudah melahirkan bayi laki-laki," ujar Mama Marlina, dan Jefri meneteskan airmata ketika mendengar perkataan Mama Marlina.
"Jadi sekarang Jefri sudah menjadi seorang Ayah Ma? sekarang juga kita harus berangkat untuk melihat bayi Jefri Ma."
"Iya Nak, tapi Mama harap kamu akan mengikhlaskan bayi kamu untuk di akui sebagai bayi Andri, karena bagi semuanya Jefri sudah meninggal dunia."
Setelah Jefri dan Mama Marlina mengganti baju, mereka pamit kepada Kakek William dan Papa Richard untuk pergi menjenguk Nayla dan bayinya.
"Nak, kalian mau kemana lagi?" tanya Papa Richard yang melihat Anak dan Istrinya sudah bersiap untuk pergi.
__ADS_1
"Kami mau melihat Nayla dan bayinya Pa," jawab Mama Marlina.
"Sampaikan salam kami untuk Nayla dan Andri ya, maaf Papa sama Kakek belum bisa melihat bayi mereka, karena saat ini kami masih banyak pekerjaan."
"Iya tidak apa-apa Pa, nanti Mama sampaikan kepada Nayla dan Andri. Kalau begitu kami pergi dulu ya," ujar Mama Marlina yang saat ini bergantian dengan Jefri mencium punggung tangan Kakek William dan Papa Richard sebelum berangkat.
Setengah jam kemudian, mereka berdua sampai di klinik bersalin tempat Nayla melahirkan.
Mama Marlina dan Jefri datang dengan membawa banyak hadiah untuk Nayla dan bayinya yang sudah mereka persiapkan jauh-jauh hari, dan setelah mereka mengetuk pintu kamar perawatan Nayla, Jefri dan Mama Marlina masuk untuk menghampiri Nayla dan Andri yang terus saja memandangi bayi yang saat ini berada di dalam box.
"Alhamdulillah, selamat ya Nak, Mama bahagia karena akhirnya Nayla melahirkan juga. Semoga bayi kalian menjadi Anak yang Saleh, panjang umur, sehat selalu, banyak rezeki serta membawa kebahagiaan di Dunia dan Akhirat," ucap Mama Marlina yang di Amini oleh semuanya.
"Ma, Mas Kevin, terimakasih banyak ya sudah datang ke sini, Nayla jadi ngerepotin."
"Nayla sama sekali tidak merepotkan Nak, karena Nayla sudah Mama anggap sebagai Anak kandung Mama sendiri. Oh iya, kemana orangtua kalian? kenapa mereka belum datang ke sini?" tanya Mama Marlina dengan memeluk tubuh Nayla.
"Kami belum sempat memberitahu mereka Ma," ucap Nayla yang terlihat gugup.
"Nak, apa ada sesuatu yang Nayla dan Andri sembunyikan? kalian bisa percaya kepada Mama dan Kevin, dan kami tidak akan menceritakan kepada siapa pun juga."
Nayla dan Andri saling berpandangan, mereka sepakat untuk menceritakan semuanya kepada Mama Marlina dan Kevin jika bayi yang Nayla lahirkan adalah Anak mendiang Jefri, karena bagaimanapun juga Mama Marlina adalah Ibu kandung Jefri.
"Ma, Mama tau sendiri kan jika pernikahan kami baru tujuh bulan, tapi Nayla sudah melahirkan. Jadi, Nayla takut jika kedua orangtua kami mengira Nayla dan Mas Andri telah melakukan perbuatan yang tidak senonoh sebelum kami menikah, padahal sebenarnya bayi yang Nayla lahirkan adalah Anak kandung Mas Jefri, dan Nayla beruntung karena Mas Andri mau menikahi Nayla dan mengakui Anak mendiang Mas Jefri sebagai Anak kandung Mas Andri sendiri, dan kami berencana untuk merahasiakan semuanya dari semua orang."
Mama Marlina menghela napas panjang, sedangkan tubuh Jefri bergetar hebat ketika mendengar kebenarannya secara langsung dari mulut Nayla.
"Ternyata dugaan Mama selama ini benar jika bayi yang Nayla lahirkan adalah Cucu kandung Mama. Terimakasih Nak Andri karena Nak Andri sudah bersedia mengakui Anak kandung Jefri."
Jefri melangkahkan kaki menuju box bayi yang berada di samping Nayla, dan jantung Jefri berdetak kencang ketika melihat bayi Nayla yang memiliki wajah begitu mirip dengannya, begitu juga dengan Mama Indri yang menangis bahagia karena teringat dengan wajah Jefri saat pertama kali lahir ke dunia ini.
"Nak, ini Ayah," ucap Jefri dengan menangis, kemudian menjatuhkan tubuhnya di depan Box bayi, sontak saja semua itu membuat Nayla dan Andri merasa terkejut.
__ADS_1
"Apa maksud kamu Kevin? kenapa kamu mengaku-ngaku sebagai Ayah dari Anakku?" tanya Andri.
"Aku bukan Kevin, tapi aku Jefri."