CAKA ( Cintai Aku Karena Allah )

CAKA ( Cintai Aku Karena Allah )
Bab 24 ( Kecelakaan maut )


__ADS_3

Jefri terus mengejar mobil Andri karena Jefri tidak mau berpisah dengan Nayla, dan Jefri beberapa kali menekan klakson motornya, tapi Andri tidak juga menepikan mobilnya.


"Andri, berhenti, aku mau bicara sama Nayla," teriak Jefri dengan menggedor kaca mobil Andri.


"Nay, apa kamu masih mau berbicara sama Kak Jefri?" tanya Andri.


"Tidak Mas, tidak ada yang perlu kami bicarakan lagi, semuanya sudah jelas. Jika memang Mas Jefri tidak mau menceraikanku, aku sendiri yang akan menggugat cerai Mas Jefri," jawab Nayla yang sudah tidak bisa mempertahankan rumah tangganya lagi setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Jefri, dan Andri hanya bisa menghormati keputusan yang Nayla pilih.


Jefri terus menjalankan motornya dengan kencang, sampai Jefri tidak menyadari jika dari arah berlawanan ada mobil yang juga melaju kencang, dan tabrakan pun tidak dapat terelakan lagi.


Duar


Suara ledakan terdengar begitu menggelegar, dan Nayla yang melihat kejadian tersebut dari kejauhan langsung berteriak menyebut nama Jefri.


"Mas jefri."


Pengendara mobil dan Jefri sama-sama terluka parah, bahkan wajah dan tubuh mereka berdua tidak dapat dikenali lagi karena mengalami luka bakar yang serius.


Setelah Polisi melakukan evakuasi korban, Andri dan Nayla mengikuti mobil Ambulance yang membawa Jefri dan pengendara mobil menuju Rumah Sakit.


Nayla dan Andri menunggu di depan ruang IGD dengan harap-harap cemas, karena saat ini Dokter sedang melakukan tindakan medis.


"Mas, semua ini adalah kesalahan Nayla," gumam Nayla dengan terus menangis.


"Tidak Nay, semua ini sudah takdir. Sebaiknya kita terus berdo'a untuk kesembuhan Kak Jefri dan orang yang mengalami tabrakan dengannya."


Beberapa saat kemudian, Dokter ke luar dari dalam ruang IGD karena salah satu dari korban kecelakaan telah meninggal Dunia.


"Dok, bagaimana dengan Suami saya?" tanya Nayla.


"Mohon maaf Nyonya, kami sudah melakukan yang terbaik, tapi kami tidak bisa menyelamatkan Pasien, dan saat ini Suami Anda telah meninggal dunia," jawab Dokter.


"Tidak mungkin, tidak mungkin Mas Jefri meninggal dunia," ujar Nayla


Nayla begitu syok mendengar perkataan Dokter, sampai akhirnya Nayla pingsan.

__ADS_1


Andri langsung menggendong Nayla dan membaringkannya di atas blangkar yang diberikan oleh Perawat, kemudian Andri menghubungi Papa Ervan dan Mama Indri untuk memberitahukan kabar meninggalnya Jefri.


Papa Ervan yang saat ini sedang berada di kantor begitu syok mendengar kematian Jefri, lain hal nya dengan Mama Indri yang tertawa bahagia, karena akhirnya tidak ada lagi penghalang untuknya mendapatkan semua harta kekayaan milik Papa Ervan.


"Akhirnya si biang onar itu meninggal dunia juga, dan semua harta milik Papa akhirnya akan jatuh ke tangan Andri," gumam Mama Indri dengan tertawa bahagia.


......................


Andri terus saja menangis dengan memegangi tangan Nayla yang masih pingsan, dan sebenarnya Andri merasa bersalah atas meninggalnya Jefri.


"Jika saja aku menepikan mobilnya, mungkin Kak Jefri tidak akan meninggal dunia, gumam Andri.


Andri teringat dengan kedua orangtua Nayla, kemudian Andri memberikan kabar tentang meninggalnya Jefri kepada mereka, karena bagaimanapun juga Jefri adalah Suami Nayla.


"Nay, bangun Nay, kamu harus kuat menghadapi semua ini, kita harus mengikhlaskan kepergian Kak Jefri," gumam Andri.


Satu jam kemudian, Nayla akhirnya sadar dari pingsannya, dan Nayla kembali menangis ketika mengingat Jefri yang telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Maafkan Nayla Mas, kenapa Mas Jefri pergi secepat ini," gumam Nayla.


"Nay, kita harus mengikhlaskan kepergian Kak Jefri supaya Kak Jefri tenang di alam sana," ucap Andri.


......................


Setelah sadar dari pingsannya, Papa Ervan di antar oleh Anak buahnya menuju Rumah Sakit, karena Papa Ervan akan membawa jenazah Jefri untuk dikebumikan, dan Papa Ervan juga menyuruh Mama Indri supaya mempersiapkan penyambutan jenazah di rumah duka, tentu saja Mama Indri begitu antusias mempersiapkan semuanya.


Papa Ervan yang melihat Andri dan Nayla di depan ruang IGD langsung memeluk tubuh keduanya.


"Nak, kita harus ikhlaskan kepergian Jefri ya, Papa tau jika semua ini berat untuk Nayla," ucap Papa Ervan karena melihat Nayla yang terus saja menangis.


"Nak, dimana Jenazah Jefri sekarang?" tanya Papa Ervan.


"Jenazah Kak Jefri sudah dipindahkan ke kamar mayat Pa, tapi Andri belum sempat mengurus administrasinya, karena Nayla baru saja sadar dari pingsan."


"Tidak apa-apa Nak, Papa sudah menyuruh Asisten Roy mengurus semuanya."

__ADS_1


Sebelum kedatangan Papa Ervan, Andri dan Nayla sudah sepakat untuk tidak memberitahukan kejadian sebelum Jefri meninggal dunia kepada siapa pun juga, sebab itu semua merupakan sebuah aib bagi Jefri, karena yang mereka berdua tau bahwa Jefri sudah melakukan perbuatan tidak senonoh dengan Eliza.


Setelah Papa Ervan mendapatkan telpon dari Asistennya bahwa administrasi kepulangan Jefri sudah selesai, Papa Ervan mengajak Nayla dan Andri pulang.


Ketika Nayla, Andri dan Papa Ervan hendak melangkahkan kaki untuk ke luar dari Rumah Sakit, Pasien yang mengalami tabrakan dengan Jefri ke luar dari ruang IGD untuk dipindahkan ke ruang ICU.


Seluruh tubuh Pasien mengalami luka bakar yang sama parahnya dengan yang dialami Almarhum Jefri, sehingga wajahnya tidak dapat dikenali lagi, tapi entah kenapa hati Nayla menghangat ketika melihat Pasien kecelakaan tersebut.


Kenapa hatiku merasa jika dia adalah Mas Jefri? batin Nayla.


"Nay, kamu baik-baik saja kan?" tanya Andri yang melihat Nayla melamun.


"Mas, kenapa Nayla merasa jika Mas Jefri masih hidup, dan Nayla merasa jika Pasien yang barusan dibawa ke ruang ICU adalah Mas Jefri."


"Istighfar Nay, kamu hanya belum bisa menerima semua kenyataan yang menimpa Kak Jefri, makanya kamu mempunyai perasaan seperti itu," ucap Andri dengan menggandeng tubuh Nayla untuk pulang.


Mobil Andri mengikuti ambulance yang membawa Jenazah Jefri ke rumah duka, dan setelah sampai rumah duka, Mama Indri sudah berakting menangis menyambut kedatangan Jenazah Jefri.


Orangtua Nayla dan Kakaknya yang sudah sampai juga di rumah duka, langsung menghampiri Nayla, kemudian memeluk tubuh Nayla yang masih saja terlihat menangis.


"Nak, yang ikhlas ya, Ibu tau semua ini berat untuk Nayla," ujar Bu Fatimah.


Nayla menangis pilu dalam pelukan orangtuanya, karena bayangan kebersamaannya dengan Jefri terus saja berputar-putar dalam pikirannya.


"Nak, semua ini sudah takdir yang digariskan oleh Allah SWT, dan kita harus ikhlas menerima semuanya," ujar Bah Ujang.


"Iya Bu, Bah, insyaallah Nayla akan ikhlas menerima semuanya."


Andri menyarankan kepada Bu Fatimah supaya membawa Nayla masuk ke dalam kamar, karena Andri takut jika Nayla kembali pingsan.


"Bu, sebaiknya Ibu mengajak Nayla istirahat ke kamarnya, karena Andri takut jika Nayla sampai pingsan lagi."


"Bah, Kak Halim, mari masuk," ujar Andri kepada Ayah dan Kakaknya Nayla.


Mama Indri menangis histeris ketika melihat Jenazah Jefri yang diturunkan dari dalam ambulance dan Andri hanya menggelengkan kepalanya karena tau jika Mama Indri hanya berakting saja di depan para pelayat.

__ADS_1


__ADS_2