
Jefri tertegun mendengar perkataan Nayla, karena tadi dirinya begitu emosi melihat apa yang telah dilakukan Nayla dan Andri.
"Aku minta maaf," ucap Jefri dengan lirih.
"Minta maaf untuk apa? bukannya Mas Jefri merasa benar dengan apa yang Mas Jefri lakukan?" sindir Nayla.
Kenapa aku bisa lepas kontrol sih, aku sudah menyakiti Nayla. Dia pasti marah kepadaku, ucap Jefri dalam hati dengan terus saja berdiri dan menyandarkan tubuhnya di tembok. Jefri sebenarnya ingin sekali mendekati Nayla dan Andri yang saat ini tengah duduk di sofa, tapi dirinya merasa malu setelah apa yang dia lakukan kepada Nayla.
Beberapa saat kemudian, Papa Ervan dan Mama Indri datang untuk melihat kondisi Andri, dan mereka begitu terkejut ketika melihat hidung Nayla yang terlihat bengkak serta masih mengeluarkan darah.
"Jef, kenapa hidung Nayla bisa sampai seperti itu?" tanya Papa Ervan yang langsung mencurigai Jefri.
"Nayla jatuh sampai akhirnya menabrak tembok Pa," jawab Nayla.
"Kamu tidak perlu menutupi kesalahanku Nayla," ujar Jefri.
"Apa maksud kamu? jadi kamu yang sudah menyakiti Menantu Papa?" tanya Papa Ervan dengan geram.
"Pa, semuanya hanya salah paham saja, Mas Jefri juga tidak sengaja melakukan semua itu," bela Nayla.
"Aku sudah bilang, kamu tidak perlu membelaku Nayla, ini semua juga karena kamu dan Andri yang sudah bermain gila di belakangku, jadi jangan membelaku hanya untuk menutupi semua kebusukan kalian," teriak Jefri.
"Dasar Anak tidak tahu diri, memangnya kamu pikir kami akan percaya dengan perkataan kamu? Andri dan Nayla tidak mungkin serendah itu," ujar Papa Ervan yang hendak memukul Jefri, tapi Nayla menghalanginya.
"Pa, jangan seperti ini, Mas Jefri juga hanya salah paham saja terhadap kami."
"Nak, kamu tidak perlu membela orang tidak tahu diri seperti Jefri, selama ini kerjaan dia hanya keluyuran saja, makanya dia tidak pernah menghargai oranglain," sindir Papa Ervan, dan Nayla merasa kasihan kepada Jefri yang selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang.
"Papa benar, selama ini Jefri hanya memberikan aib saja untuk keluarga kita, seharusnya dari dulu Jefri pergi dari rumah, karena di sana Jefri hanya di anggap sampah. Tapi harus Papa ingat, selama ini Jefri tidak pernah meminta sepeser pun uang dari Papa. Nay, sebaiknya kita pergi dari sini," ujar Jefri dengan menarik tangan Nayla.
"Tunggu Jefri, lepaskan Nayla, memangnya jika kamu membawa Nayla pergi, kamu bisa menafkahinya?" sindir Mama Indri.
"Sekarang Nayla adalah tanggung jawabku, karena dia adalah istriku. Jadi, aku akan membawanya kemana pun aku pergi," ujar Jefri.
__ADS_1
"Sekarang juga kamu ceraikan Nayla, karena kami akan menikahkannya dengan Andri," ujar Mama Indri, sontak saja semua itu membuat Jefri semakin merasa geram.
"Apa maksud kamu? jangan pernah bermimpi aku akan menceraikan Nayla semudah itu, apalagi harus menyerahkannya untuk dinikahi oleh Andri," teriak Jefri.
Nayla mencoba menengahi semuanya, karena bagaimanapun juga saat ini Jefri sudah menjadi Suaminya.
"Ma, Pa, saat ini Mas Jefri adalah Suami Nayla, dan Mas Jefri berhak membawa Nayla pergi kemana pun Mas Jefri mau. Maaf jika Nayla tidak bisa membantu merawat Mas Andri lagi, semoga Mas Andri bisa segera sembuh."
"Nay, aku mohon jangan tinggalkan aku, aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu," teriak Andri ketika melihat Nayla dan Jefri hendak ke luar dari dalam kamar perawatannya.
Maafkan aku Mas Andri, meski pun semua ini berat untuk kita, tapi aku harus tetap melakukannya. Semoga dengan kita hidup berjauhan, secara perlahan kita akan bisa saling melupakan, ucap Nayla dalam hati dengan terus melangkahkan kakinya mengikuti Jefri.
Setelah sampai di parkiran, Jefri mengajak Nayla untuk berbicara terlebih dahulu sebelum mereka pergi dari Rumah Sakit.
"Nay, apa kamu yakin akan ikut denganku? apa kamu siap untuk hidup susah?" tanya Jefri.
"Aku akan ikut kemana pun Suamiku pergi."
"Saat ini kita masih di Rumah Sakit, jika kamu berubah pikiran, kamu bisa kembali kepada Andri, dan aku akan mengurus perceraian kita, karena jika kamu sudah ikut denganku, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi," ujar Jefri yang akhirnya memberikan pilihan kepada Nayla, sehingga membuat Nayla berada dalam dilema.
Nayla melihat wajah Jefri, dan entah kenapa Nayla merasa kasihan kepada Jefri yang selalu saja di pandang sebelah mata oleh orang lain, bahkan keluarganya sendiri.
"Aku akan ikut Mas Jefri, karena saat ini Mas Jefri adalah imam ku," ucap Nayla dengan mantap, dan Jefri begitu bahagia mendengar perkataan Nayla.
"Terimakasih Nayla," ucap Jefri dengan lirih, bahkan nyaris tidak terdengar, karena Jefri merasa malu mengatakannya.
"Mas Jefri barusan bilang apa?" tanya Nayla.
"Enggak, aku cuma bilang, ayo berangkat sekarang," jawab Jefri dengan memasangkan helm pada kepala Nayla.
Jefri kembali membawa Nayla ke basecamp, karena Jefri akan mengajak Nayla untuk tinggal di sana.
"Mas, apa kita akan tinggal di sini?" tanya Nayla ketika Jefri menghentikan motornya.
__ADS_1
"Iya, apa kamu keberatan?" tanya Jefri.
"Memangnya Teman-teman Mas tidak akan marah jika kita tinggal di sini?" tanya Nayla.
"Aku yang membuat basecamp ini, lagian mereka semua sudah berkeluarga, dan mereka datang ke sini hanya untuk menyetorkan uang hasil penjualan sayuran dan buah-buahan saja kepadaku."
"Mas Jefri tidak memalak mereka kan supaya setor kepada Mas Jefri?"
"Jadi kamu pikir aku ini kepala preman? apa aku memiliki tampang seperti itu? kamu lihat tubuhku, aku tidak memiliki tato kan?" ujar Jefri dengan membuka bajunya sehingga Nayla menutup mata.
"Kenapa kamu menutup mata? kamu juga tidak akan berdosa meski pun melihatnya."
"Mas, malu kalau sampai dilihat oranglain," ujar Nayla yang masih menutup matanya.
"Sekarang buka matanya, aku juga sudah memakai bajuku lagi," ujar Jefri yang sengaja berbohong.
Nayla membuka matanya, tapi ternyata Jefri masih belum juga memakai bajunya.
"Astagfirullah, ternyata Mas Jefri berbohong."
"Aku cuma memperlihatkan roti sobek ku saja kepadamu," ujar Jefri dengan terkekeh.
"Memangnya ada ya roti sobek di dalam tubuh Mas Jefri?" tanya Nayla dengan polosnya.
"Kamu pegang, ini roti sobeknya," ujar Jefri dengan mengarahkan tangan Nayla pada perutnya yang kotak-kotak.
"Mas Jefri apa-apaan sih, bagaimana kalau nanti ada yang lihat."
"Ya sudah, supaya tidak ada yang lihat, sebaiknya sekarang kita masuk," ujar Jefri, kemudian mengangkat tubuh Nayla.
"Mas turunin, aku malu."
"Kenapa kamu protes terus sih," ujar Jefri dengan mendudukkan Nayla di atas sofa, kemudian Jefri berjongkok di depan tubuh Nayla.
__ADS_1
"Mas mau ngapain? jangan seperti itu," ujar Nayla yang merasa malu karena Jefri terus menatapnya dengan menggenggam erat tangan Nayla.
"Nay, maafkan aku karena telah melukaimu, dan terimakasih karena kamu sudah mau ikut denganku," ucap Jefri dengan mencium tangan Nayla.