
Semuanya sudah berangkat menuju pemakaman untuk mengantarkan Almarhum Jefri menuju tempat peristirahatan terakhirnya, kecuali Andri dan Bu Fatimah karena harus menunggu Nayla yang masih pingsan.
"Nak Andri, terimakasih banyak ya karena Nak Andri masih peduli kepada Nayla, meski pun kami sudah mengecewakan Nak Andri karena sudah menikahkan Nayla dengan mendiang Nak Jefri," ucap Bu Fatimah yang masih merasa tidak enak kepada Andri.
"Bu, Andri ikhlas melakukan semuanya, karena sampai kapan pun posisi Nayla di hati Andri tidak akan pernah tergantikan."
Ampuni hamba Ya Allah karena merasa bahagia dengan status Nayla saat ini yang sudah menjadi seorang Janda, tapi sedikit pun hamba tidak pernah berharap Kak Jefri meninggal dunia, ucap Andri dalam hati.
Bu Fatimah sangat mengerti dengan posisi Andri dan Nayla saat ini, karena Bu Fatimah tau betul jika Nayla dan Andri masih saling mencintai, tapi mereka berdua saat ini harus menjaga jarak sampai Nayla selesai masa iddah.
"Nak, Ibu tau kalau Andri dan Nayla masih saling mencintai, tapi Ibu harap kalian bersabar dulu ya sampai Nayla bubar masa iddah, kalau kalian berdua memang berjodoh, insyaallah tidak akan lari kemana," ujar Bu Fatimah.
"Iya Bu, insyaallah Andri akan sabar menunggu Nayla sampai Nayla benar-benar siap untuk kembali membina rumah tangga."
......................
Acara pemakaman Jefri banyak di hadiri oleh Anak buah serta teman-teman Jefri di Pasar, belum lagi Anak Panti yang juga datang untuk mendo'akan Jefri, sehingga membuat Papa Ervan terus saja menangis karena baru mengetahui jika Jefri adalah orang baik semasa hidupnya.
Maafin Papa Nak, selama ini Papa selalu menganggap Jefri seorang berandalan, tapi ternyata Jefri begitu baik, sehingga banyak orang yang datang untuk mendo'akan Jefri. Semoga kamu beristirahat dengan tenang Nak, ucap Papa Ervan dalam hati.
Ketika acara pemakaman berlangsung, datang seorang perempuan yang menangis histeris saat melihat Jenazah Jefri dimasukan ke dalam liang lahat, perempuan itu tidak lain adalah Marlina, yaitu Ibu kandung Jefri.
"Jefri, maafin Mama Nak, selama ini Mama tidak pernah merawat Jefri. Kenapa kamu pergi begitu cepat Nak?" teriak Mama Marlina yang sudah lama tidak pernah bertemu dengan Jefri, karena selama ini Mama Marlina tinggal di luar negeri.
Suami Mama Marlina mencoba untuk menenangkannya, apalagi saat ini bukan hanya Jefri yang meninggal dunia, tapi Anak Mama Marlina dari Papa Richard juga mengalami kecelakaan, dan orang tersebut tidak lain adalah Kevin Adhitama, hanya saja mereka masih belum mengetahui jika Jefri meninggal karena mengalami tabrakan dengan Kevin.
Selesai pemakaman, Mama Indri dan Papa Ervan menghampiri Mama Marlina dan Papa Richard.
"Puas kamu Marlina, sekarang Jefri sudah tidak ada kamu baru bisa menemuinya, padahal selama ini Jefri selalu ingin bertemu dengan kamu, tapi kamu tidak pernah mau menemuinya. kemana saja kamu selama ini? kamu bahkan tidak layak Jefri panggil Mama," sindir Papa Ervan, kemudian meninggalkan pemakaman.
__ADS_1
Mama Marlina terus saja menangis menyesali semuanya karena selama ini dirinya tidak pernah ada untuk Jefri, bahkan ketika Jefri sakit dan membutuhkannya.
"Pa, Mama bukan Ibu yang baik, sejak Jefri kecil, Jefri selalu menelpon Mama dan Jefri selalu ingin bertemu dengan Mama, tapi Mama tidak pernah mau menemuinya."
"Semuanya sudah terjadi Ma, sekarang percuma kita menyesal, karena Jefri sudah tidak ada. Dan yang saat ini masih bisa kita lakukan adalah mendo'akan Jefri supaya tenang di alam sana. Ma kita harus bergegas ke Rumah Sakit, kita harus segera melihat kondisi Kevin, karena saat ini Kevin juga membutuhkan kita," ujar Papa Richard.
Mama Marlina dan Papa Richard langsung menunggu Rumah Sakit untuk menemui Kevin, bahkan mereka ke Indonesia membawa Dokter spesialis kulit terbaik dari Singapura untuk membantu menyembuhkan luka Kevin, karena saat ini kondisi Kevin masih kritis, sehingga belum bisa dibawa ke luar negeri.
"Pa, bagaimana keadaan Kevin? kenapa Kevin bisa sampai kecelakaan?" tanya Papa Richard kepada Kakek William.
"Yang Papa tau, Kevin tabrakan dengan pengendara motor, bahkan pengendara motor yang tabrakan dengan Kevin sampai meninggal dunia," jawab Kakek William.
"Apa Papa sudah mengirimkan orang kita untuk mengucapkan bela sungkawa?" tanya Papa Richard.
"Sudah Nak, kita juga sudah memberikan uang duka. Marlina, Papa juga turut berduka cita atas meninggalnya Anak kamu, kamu harus sabar karena saat ini kamu sudah kehilangan Jefri, tapi kamu harus kuat demi Kevin," ucap Kakek William.
Beberapa saat kemudian, Dokter dari luar negeri ke luar untuk menemui keluarga Kevin.
"Dok, bagaimana kondisi Anak kami?" tanya Mama Marlina.
"Pasien saat ini belum melewati masa kritisnya, dan luka bakar yang di derita Pasien sangat parah, tapi sekarang peralatan medis sudah canggih, jadi kita bisa melakukan operasi plastik kepada Pasien untuk mengembalikan wajah pasien serta mengobati tubuhnya yang terbakar, meski pun akan memakan waktu yang cukup lama," jawab Dokter.
"Lakukan yang terbaik untuk Pewaris tunggal kami Dok, berapa pun biayanya saya pasti akan membayarnya," ujar Kakek William.
"Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk Pasien, semoga saja pasien bisa segera melewati masa kritisnya supaya kami bisa segera melakukan tindakan operasi. Kalau begitu kami permisi dulu."
Beberapa saat kemudian, Adel kembali datang setelah sebelumnya dia pergi untuk menemui selingkuhannya.
"Kek, bagaimana keadaan Kevin sekarang?" tanya Adel yang pura-pura terlihat khawatir.
__ADS_1
"Kamu tenang saja Adel, Kevin pasti akan baik-baik saja, bahkan kami sudah mendatangkan Dokter terbaik dari Singapura," jawab Kakek William.
"Ma, Pa, bagaimana kabarnya?" tanya Adel kepada Mama Marlina dan Papa Richard.
"Seperti yang kamu lihat Adel, tapi sebaiknya kamu jangan memanggil kami dengan sebutan Mama dan Papa, karena kamu masih belum menjadi Menantu kami," jawab Mama Marlina yang sejak dulu tidak suka kepada Adel. Semua itu bukan tanpa alasan, karena Kevin selalu mengatakan jika Kevin tidak mencintai Adel.
"Maaf Tante, Adel sudah lancang," ucap Adel, dan saat ini Adel semakin geram karena tidak ada yang membelanya.
Saat ini aku harus sabar untuk bisa mendapatkan hati Tante Marlina, apalagi Kakek William dan Om Richard selalu memperlakukan Tante Marlina seperti Ratu, bahkan mereka sampai rela menjadi mualaf demi memenuhi keinginan Tante Marlina. Lihat saja nanti setelah aku masuk ke dalam keluarga Adhitama, posisi kamu sebagai Ratu akan aku geser, ucap Adel dalam hati.
......................
Ketika Nayla bangun dari pingsannya, Nayla langsung berteriak menyebut nama Jefri.
"Mas Jefri," teriak Nayla, kemudian kembali menangis.
"Nak, ikhlaskan kepergian Nak Jefri, supaya Nak Jefri tenang di alam sana," ucap Bu Fatimah dengan memeluk tubuh Nayla.
"Bu, sebaiknya Ibu berikan Nayla minum," ucap Andri dengan memberikan segelas air putih kepada Bu Fatimah untuk minum Nayla.
"Makasih Nak," ucap Bu Fatimah.
"Mas, Nayla yakin kalau Mas Jefri masih hidup, dan Nayla sangat yakin jika identitas Mas Jefri sudah tertukar dengan Pasien yang mengalami tabrakan dengannya."
*
*
Mohon dukungannya untuk Karya receh Author, jangan lupa like dan hadiahnya, 🙈 Sehat dan Sukses selalu untuk semuanya, 🤲🙏
__ADS_1