
Setelah acara Pernikahan Nayla dan Andri selesai, Andri membantu Nayla untuk berjalan ke dalam kamar pengantin mereka.
"Hati-hati sayang, Mas tidak mau kalau Anak kita sampai kenapa-napa," ucap Andri.
"Nayla beruntung karena memiliki Suami setampan dan sebaik Mas Andri."
"Sejak kapan seorang Nayla pintar menggombal?" tanya Andri.
"Sejak hari ini," ujar Nayla dengan tersenyum malu.
Andri mengangkat tubuh Nayla, saat mereka tiba di dalam kamar, dan Nayla terlihat gugup ketika Andri membaringkannya di atas ranjang pengantin mereka.
"Kenapa wajah Nayla merah seperti itu?" tanya Andri.
Andri mendekatkan wajahnya dengan wajah Nayla, dan debaran jantung pada keduanya berpacu cepat, tapi ketika Andri hendak mencium Nayla, tiba-tiba tubuh Nayla gemetar ketakutan karena Nayla teringat kembali dengan bayangan Jefri yang memaksa Nayla untuk melampiaskan hasratnya.
"Jangan sakiti Nayla, Mas."
"Sayang, kamu kenapa? Mas tidak akan menyakiti Nayla," ucap Andri dengan memeluk tubuh Nayla.
"Nayla takut Mas, kenapa bayangan itu tiba-tiba muncul lagi, Nayla takut ketika Mas Jefri memaksa Nayla untuk melayaninya, Nayla takut Mas," ujar Nayla dengan menangis dalam pelukan Andri.
Kasihan Nayla, sepertinya traumanya kambuh saat mengingat perlakuan Kak Jefri kepadanya dulu, ucap Andri dalam hati, kemudian membantu Nayla berbaring.
"Sebaiknya sekarang Nayla tidur, Nayla tenang ya, Mas tidak akan pernah menyakiti Nayla," ujar Andri kemudian berdiri, tapi Nayla menahan pergelangan tangan Andri.
"Mas mau kemana? apa Mas marah kepada Nayla?"
"Tidak sayang, Mas hanya mau mengganti pakaian saja. Apa Nayla ingin ganti pakaian juga?" tanya Andri, dan Nayla menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Andri membantu Nayla untuk duduk, kemudian Andri juga membantu Nayla mengganti pakaian.
Ketika Andri melihat keindahan tubuh Nayla untuk yang pertama kalinya, Andri mati-matian menahan hasratnya, karena Andri tidak ingin memaksa Nayla untuk melakukannya.
"Mas Andri kenapa wajahnya merah? apa Mas Andri sakit?" tanya Nayla dengan memegang dahi Andri.
"Tidak Nay, hanya saja aku_" ucapan Andri terhenti karena Nayla membungkamnya dengan ciuman.
Kamu pasti bisa Nayla. Saat ini Mas Andri adalah Suami kamu, dan kamu mempunyai kewajiban untuk melayaninya, ucap Nayla dalam hati.
"Nay, jangan seperti ini, karena Mas tidak akan kuat menahannya."
"Kenapa Mas Andri tidak mau melakukannya? apa Mas Andri jijik terhadap Nayla?" tanya Nayla dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sayang, kamu jangan salah paham, hanya saja Mas takut menyakiti Anak kita, bukannya sebelum usia kandungan Nayla tiga bulan, kita tidak boleh melakukannya? dan tadi Nayla gemetar ketakutan, jadi Mas takut menyakiti Nayla dan bayi kita," ujar Andri.
Nayla merasa terharu karena ternyata Andri begitu memikirkan dirinya.
"Makasih banyak Mas, karena Mas sudah mengerti Nayla. Sebenarnya Nayla sempat baca-baca artikel di internet, katanya meski pun masih trimester pertama, jika kandungannya kuat, kita bisa melakukannya, asalkan dengan pelan-pelan," ujar Nayla dengan tertunduk malu.
"Memangnya Nayla sudah siap?" tanya Andri, dan Nayla menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Andri secara perlahan kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Nayla, dan Nayla mencoba memejamkan matanya supaya rasa takut itu tidak muncul lagi, mereka saling meraba dan membelai, sehingga hasrat pada keduanya sudah mulai bangkit dan saat ini mereka sudah sama-sama polos, sampai akhirnya Andri dan Nayla melewati malam pertama mereka dengan indah.
"Terimakasih sayang, malam ini adalah malam paling bahagia untukku," ucap Andri dengan membawa Nayla ke dalam pelukannya, kemudian mereka tertidur karena merasa kelelahan.
......................
Keesokan paginya, Andri terbangun lebih dulu ketika mendengar suara Adzan Subuh, dan Andri mengembangkan senyuman ketika melihat wajah perempuan yang dicintainya masih terlelap di dalam dekapannya.
Andri tidak tega membangunkan Nayla, sampai akhirnya Andri memutuskan bangun terlebih dahulu untuk membersihkan diri, dan melaksanakan Shalat Subuh.
Beberapa saat kemudian, Nayla terbangun karena merasakan gejolak hebat pada perutnya, sehingga Nayla berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Andri yang baru selesai melaksanakan Shalat Subuh langsung menyusul Nayla dan memijit tengkuk lehernya secara perlahan.
"Sayang, kasihan banget sih, kenapa Nayla masih suka mual muntah ya?" tanya Andri.
Nayla menghirup aroma tubuh Andri dalam-dalam, dan anehnya rasa mual pada Nayla langsung berkurang.
"Sayang, kamu lagi ngapain?" tanya Andri.
"Kok aneh ya Mas, saat Nayla mencium aroma tubuh Mas Andri, mual yang Nayla rasakan tiba-tiba hilang?"
"Mungkin bayi kita ingin dekat terus dengan Ayahnya, atau mungkin Ibunya yang pengen deket-deket terus?" goda Andri, dan Nayla tersenyum malu mendengarnya.
"Kalau begitu Nayla mandi dulu Mas," ucap Nayla dengan melepaskan tubuhnya dari pelukan Andri.
"Gak mau sekalian dimandiin?"
"Nanti yang ada malah lama mandinya Mas," ujar Nayla.
"Katanya pengen deket-deket terus."
"Mas ke luar dulu ya, takutnya waktu Subuh keburu habis," ujar Nayla, dan terpaksa Andri ke luar dari dalam kamar mandi.
Setelah Nayla selesai Shalat Subuh, Nayla menghampiri Andri untuk mencium punggung tangannya, dan Andri langsung mencium kening Nayla, bahkan tidak hanya itu, karena Andri langsung menyambar bibir Nayla dengan rakus.
__ADS_1
Setelah merasa pasokan oksigen pada keduanya habis, Andri melepas ciumannya.
"Mas, jangan seperti ini, masih pagi juga. Sebaiknya sekarang kita ke bawah, gak enak kalau Nayla gak bantuin Ibu masak."
"Berarti kalau malam boleh ya," ujar Andri yang terlihat enggan melepas pelukannya.
"Mas, lepasin dulu pelukannya, Nayla mau bantuin Ibu masak."
"Memangnya Nayla udah kuat mencium aroma masakan?" tanya Andri, karena sebelumnya Nayla akan mengalami mual muntah jika mencium aroma masakan.
"Kan ada Mas Andri, jadi kalau Nayla merasa mual, Nayla bisa mencium aroma tubuh Mas Andri," ujar Nayla dengan tersenyum malu.
"Ya sudah, kalau begitu Mas bakalan nempel terus sama kamu supaya Nayla gak mual," ujar Andri dengan cengengesan, dan Nayla memutar malas bola matanya.
Ketika Nayla dan Andri turun, ternyata semuanya sudah berkumpul di meja makan.
"Bu, maaf ya Nayla gak bantuin Ibu masak," ucap Nayla yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Nak, Ibu mengerti, kalau pengantin baru pasti bangun kesiangan," goda Bu Fatimah.
"Ibu jam berapa bangun? kok jam segini Ibu udah selesai masak?"
"Ibu cuma menghangatkan makanan saja, karena masakan yang kemarin saat pernikahan kalian juga masih banyak. Ya sudah, sebaiknya sekarang kita mulai sarapan supaya kalian bisa cepet-cepet ngasih Cucu buat kami," goda Bu Fatimah.
Andri terlihat melamun ketika mendengar perkataan Bu Fatimah.
Nayla sebentar lagi akan memberikan kalian Cucu, tapi bukan dari benih Andri. Meski pun seperti itu, Andri akan selalu menyayanginya seperti Anak kandung Andri sendiri, ucap Andri dalam hati.
"Mas Andri kenapa?" tanya Nayla yang melihat Andri terus saja melamun.
"Tidak apa-apa sayang, Mas hanya sudah merasa lapar saja. Kalau begitu sekarang Nayla duduk," ujar Andri dengan menarik kursi untuk Nayla duduk.
Nayla mengambilkan Andri nasi dan juga lauk, dan mereka berdua terlihat bahagia sehingga senyuman mengembang pada bibir kedua orangtua Nayla dan juga Papa Ervan ketika melihat Anak-anak mereka bahagia.
"Nak, kapan Andri akan kembali ke Jakarta?" tanya Papa Ervan.
"Mungkin besok Pa, soalnya kasihan Nayla masih cape setelah acara kemarin. Memangnya Papa rencananya pulang kapan?" tanya Andri.
"Papa pulang ke Jakarta sekarang Nak, soalnya nanti sore ada meeting dengan klien penting," jawab Papa Ervan.
"Maaf ya Pa, Andri sudah beberapa minggu ini tidak membantu pekerjaan Papa."
"Tidak apa-apa Nak, ada Roy dan yang lainnya yang membantu Papa menghandle semua pekerjaan kantor, kalian nikmati saja masa-masa menjadi pengantin baru," ujar Papa Ervan dengan tersenyum.
__ADS_1