
Mama Indri terlihat berpikir ketika mendengar perkataan Papa Ervan, tapi saat ini dirinya ingin sekali memisahkan Nayla dan Andri, terlebih lagi setelah mengetahui jika Andri membantu Nayla mengerjakan pekerjaan rumah, dan Mama Indri tidak terima, karena semenjak kecil Mama Indri tidak pernah menyuruh Andri membantunya melakukan pekerjaan apa pun.
Untuk sekarang aku harus berpura-pura menurut ketika di depan Papa, aku tidak mau kalau sampai Papa mengambil semua fasilitas yang telah dia berikan, aku harus bermain cantik di belakang Papa supaya Papa tidak mengetahui semuanya, ucap Mama Indri dalam hati.
"Tentu saja Mama tidak mau terjadi sesuatu yang buruk kepada Andri Pa."
"Kalau begitu sebagai orangtua, kita cukup bantu do'a saja untuk Anak-anak kita," ujar Papa Ervan."
Mama Indri beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum menjawab perkataan Papa Ervan.
"Baiklah," ucap Mama Indri yang terpaksa menyetujui perkataan suaminya.
"Ya sudah kalau begitu Papa ganti baju dulu, Papa harap Mama akan menepati perkataan Mama, karena sebentar lagi kita akan menjadi Kakek dan Nenek," ujar Papa Ervan, kemudian melangkahkan kaki ke dalam kamar.
"Aku tidak sudi memiliki Cucu dari perempuan kampung itu," gumam Mama Indri dengan mengepalkan kedua tangannya.
......................
Keesokan paginya, Nayla bangun lebih dulu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah supaya Andri tidak perlu repot membantunya terlebih dahulu sebelum berangkat kerja, apalagi Nayla kasihan karena semalam Andri harus begadang mempersiapkan presentasi, karena hari ini Andri akan meeting dengan Kevin Adhitama.
Setelah Nayla selesai Shalat Subuh, Nayla membangunkan Andri, karena saat ini Andri masih terlelap.
"Kasihan Mas Andri, semalam harus begadang untuk mempersiapkan presentasi meeting hari ini, tapi aku harus membangunkannya untuk Shalat Subuh," gumam Nayla yang melihat jam sudah menunjukan pukul lima.
Nayla duduk di samping ranjang, kemudian berbisik kepada Andri.
"Mas, bangun, sekarang sudah jam lima," ucap Nayla kemudian mencium pipi Andri.
Secara perlahan mata Andri mulai terbuka, dan Andri mengembangkan senyuman ketika melihat wajah cantik Nayla sudah berada di depan matanya.
"Sayang, maaf ya Mas sudah bangun kesiangan," ucap Andri dengan suara serak khas bangun tidur, kemudian Andri melingkarkan tangannya pada pinggang Nayla.
"Gak apa-apa Mas, kasihan semalam Mas sudah begadang untuk mempersiapkan presentasi meeting dengan Adhitama grup. Semoga semuanya lancar ya," ucap Nayla yang di Amini oleh Andri.
Andri bergegas ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu, kemudian Andri melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
"Sayang, kita makan di luar saja ya, maaf Mas gak keburu masak," ucap Andri dengan memeluk tubuh Nayla.
__ADS_1
"Nayla udah selesai masak sama mengerjakan pekerjaan rumah lainnya kok Mas. Sekarang kita tinggal makan."
"Sayang, Mas kan udah bilang kalau Nayla gak boleh terlalu cape."
"Tidak apa-apa Mas, Nayla juga hanya mengerjakan pekerjaan ringan."
Andri terlihat berpikir, sampai akhirnya Andi memiliki usul untuk mencari Asisten Rumah Tangga yang usianya sudah tua.
"Sayang, Mas bakalan cari Asisten Rumah Tangga, tapi Mas bakalan cari perempuan paruh baya supaya tidak banyak tingkah, soalnya Mas bakalan sering lembur dan pasti akan sangat sibuk setelah penandatangan kerjasama dengan Adhitama Grup. Kasihan kalau Nayla sendirian, apalagi harus mengerjakan pekerjaan rumah," ujar Andri.
"Nayla juga kasihan kalau Mas harus membantu pekerjaan rumah dulu sebelum berangkat ke kantor. Ya sudah, kalau begitu sekarang kita sarapan, supaya Mas semangat saat melakukan presentasi," ujar Nabila dengan menggandeng Andri menuju meja makan.
"Mas pasti semangat, karena masakan istri Mas sangat enak," puji Andri yang saat ini makan dengan lahap.
"Pelan-pelan makannya Mas."
"Habisnya masakan buatan Nayla selalu enak. Terimakasih ya sayang_" ucapan Andri terhenti karena Nayla menempelkan telunjuknya pada bibir Andri, kemudian Nayla mengelap sudut bibir Andri menggunakan jari tangannya.
"Mas jangan mengucapkan terimakasih, karena semua itu sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk melayani Suaminya, dan semua yang Nayla lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang selama ini sudah Mas Andri lakukan untuk Nayla. Mas makan kok kayak Anak kecil sih sampai belepotan begini," ujar Nayla dengan membersihkan kotoran yang menempel pada sudut bibir Andri, dan semua itu membuat hati Andri menghangat, kemudian meraih tangan Nayla dan menciumnya.
Beberapa saat kemudian handphone Andri berbunyi, dan ternyata itu adalah telpon Papa Ervan yang menanyakan persiapan presentasi Andri untuk meeting, karena Papa Ervan takut Andri belum mempersiapkannya.
📞"Papa tenang saja, semuanya sudah siap. Sekarang Andri sedang sarapan."
📞"Alhamdulillah kalau semuanya sudah siap, sampai bertemu di kantor ya Nak."
📞"Pa, apa Papa punya kenalan perempuan paruh baya yang memerlukan pekerjaan sebagai Asisten Rumah Tangga?" tanya Andri.
📞"Jadi kamu mau ngikutin jejak Papa cari Asisten rumah tangga yang sudah tua?"
📞"Iya Pa, supaya istri Andri yang cantik ini tidak cemburu. Kasihan Nayla karena kita bakalan sibuk setelah menandatangani kerjasama dengan Adhitama Grup. Andri juga jadi gak bakalan bisa bantu pekerjaan rumah."
📞"Ya sudah, nanti Papa coba tanya Asisten Rumah Tangga di rumah Papa, siapa tau ada temannya yang sedang membutuhkan pekerjaan."
Mama Indri yang dari tadi menyimak percakapan Andri dan Suaminya, langsung terbesit ide untuk mencarikan Asisten Rumah Tangga yang bisa ia jadikan alat untuk membuat keretakan dalam rumah tangga Andri dan Nayla.
Aku sepertinya sudah punya cara untuk bermain cantik tanpa harus mengotori tanganku sendiri, ucap Mama Indri dalam hati.
__ADS_1
Papa Ervan hendak melangkahkan kaki menuju dapur untuk menanyakan kepada Asisten rumah tangganya siapa tau ada teman atau keluarga dari Asisten rumah tangganya tersebut yang membutuhkan pekerjaan, tapi Mama Indri langsung mencegahnya.
"Papa mau kemana?" tanya Mama Indri.
"Papa mau menanyakan sama Bi Imah, siapa tau Bi Imah punya saudara atau tetangga yang membutuhkan pekerjaan sebagai Asisten Rumah Tangga untuk bekerja di rumah Andri, tapi orangnya harus perempuan paruh baya seperti Bi Imah."
"Pa, biar Mama saja yang menanyakannya kepada Bi Imah, bukannya Papa takut kesiangan berangkat ke kantor? belum lagi jalanan sering macet kalau sudah siang. Hari ini Papa kan ada meeting dengan Adhitama grup."
"Mama benar juga. Ya sudah kalau begitu Papa berangkat dulu ya Ma. Do'akan semoga presentasi Andri berjalan dengan lancar, supaya kita bisa secepatnya menandatangani
kontrak kerjasama dengan Adhitama Grup."
"Iya Pa, Mama pasti akan selalu mendo'akan keberhasilan Papa dan Andri."
Papa Ervan mengucapkan Salam sebelum berangkat bekerja, kemudian Papa Ervan masuk ke dalam mobilnya.
"Papa hati-hati ya," ucap Mama Indri dengan melambaikan tangannya ketika mobil yang ditumpangi oleh Papa Ervan melaju meninggalkan halaman rumahnya.
Setelah Papa Ervan pergi, Mama Indri berteriak memanggil Bi Imah.
"Imah, cepat ke sini !!"
Bi Imah bergegas menghampiri majikannya sebelum Mama Indri marah.
"Iya Nyonya, ada apa memanggil saya?"
"Imah, apa ada kenalan kamu yang membutuhkan pekerjaan? tapi orangnya harus yang sudah tua seperti kamu."
"Memangnya Nyonya mau nambah pembantu ya?" tanya Bi Imah yang berharap majikannya akan menambah Pembantu, karena selama ini Bi Imah merasa cape harus mengerjakan semuanya sendirian.
"Kamu jangan berharap aku akan mencari Pembantu baru untuk membantu pekerjaan kamu, aku mencari Pembantu untuk bekerja di rumah Andri."
"Kalau begitu saya saja Nya," ucap Bi Imah dengan mata yang berbinar, karena Bi Imah tau kalau Nayla dan Andri pasti akan bersikap baik kepadanya.
Mama Indri langsung menatap tajam Bi Imah.
"Saya cuma bercanda Nya, kebetulan ada saudara saya yang sedang membutuhkan pekerjaan," ujar Bi Imah dengan tertunduk karena takut Mama Indri memarahinya.
__ADS_1
"Kalau begitu sekarang juga telpon saudara kamu dan suruh dia secepatnya datang ke sini, karena ada yang ingin aku bicarakan sebelum aku mengantarnya ke kediaman Andri dan Nayla," titah Mama Indri dengan tersenyum licik.