
Saat ini keluarga Pasien yang mengalami tabrakan dengan Jefri, baru saja sampai di Rumah Sakit.
"Dok, bagaimana keadaan Tunangan saya?" tanya Adelia.
"Pasien mengalami luka bakar yang sangat parah, dan untuk memulihkannya kita harus melakukan operasi plastik yang hanya bisa dilakukan di luar negeri," jawab Dokter.
Adel begitu terkejut dengan jawaban Dokter, apalagi kecelakaan itu terjadi setelah Kevin memergoki Adel yang telah berselingkuh dengan temannya sendiri.
"Kek, kita harus bagaimana?" tanya Adel kepada Kakek William yaitu Kakeknya Kevin.
"Kamu tenang saja Adel, nanti Kakek akan membawa Kevin untuk berobat ke Singapura, dan Kakek akan melakukan Operasi plastik untuk menyembuhkan luka bakar Kevin."
Adel sudah terlihat khawatir, karena jika sampai Kevin sembuh, Kevin pasti akan mengatakan semuanya kepada Kakek William, dan pernikahan mereka pasti akan Kevin batalkan.
Bagaimana jika Kevin sampai mengatakan semuanya kepada Kakek kalau aku sudah berselingkuh dengan Arnold? bisa-bisa kedua orangtuaku akan murka jika sampai keluarga Adhitama membatalkan pernikahan aku dan Kevin, ucap Adel dalam hati.
Kevin Adhitama, laki-laki tampan berusia 25 tahun adalah pewaris tunggal keluarga Adhitama yang sudah dijodohkan dengan Adelia Wilhemina, yang merupakan Putri pemilik perusahaan Surya Grup yang berada dibawah naungan Adhitama Grup.
Kakek William menelpon kedua orangtua Kevin yang saat ini kebetulan sedang berada di Singapura supaya mempersiapkan Dokter terbaik untuk membantu pengobatan Kevin.
"Kek, Adel ikut ke Singapura ya, Adel ingin terus menemani Kevin," ucap Adel yang sengaja ingin mengambil hati Kakek William.
"Terimakasih ya Nak, karena kamu sudah bersedia menerima Kevin apa adanya, walau pun saat ini Kevin sudah cacat," ucap Kakek William.
......................
Di kediaman Papa Ervan, semuanya masih berduka atas meninggalnya Jefri, dan semua Anak buah Jefri yang mendengar berita tentang meninggalnya Jefri datang ke rumah duka untuk mengucapkan bela sungkawa.
__ADS_1
"Siapa kalian? mau apa orang kampung seperti kalian datang ke sini? maaf kami sedang berduka, jadi kami tidak bisa memberikan sumbangan," ujar Mama Indri yang melihat Anak buah Jefri datang menggunakan mobil pick up.
"Maaf Nyonya, kami datang ke sini bukan untuk meminta sumbangan, tapi kami ingin mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Bos Jefri," ucap Rahmat.
"Kalian pasti cuma mengaku-ngaku saja kan, mana mungkin Anak saya mempunyai teman seperti kalian," ujar Mama Indri dengan tatapan tidak suka.
"Maaf Nyonya, kami bukan hanya teman Bos Jefri, tapi kami adalah Anak buahnya," ujar Rahmat.
Nayla yang melihat kedatangan Anak buah Jefri, langsung menghampirinya ditemani oleh Andri yang selalu berada di sampingnya, meski pun harus sedikit menjaga jarak supaya tidak timbul fitnah, apalagi semua irang tau jika Nayla adalah mantan kekasih Andri.
"Maaf Ma kalau Nayla ikut campur, tapi mereka tidak berbohong, karena mereka semua adalah Anak buah Mas Jefri," ujar Nayla.
"Memangnya Jefri punya pekerjaan apa sampai mempunyai Anak buah segala? jangan-jangan mereka Preman Pasar yang disuruh malak atau mencopet oleh Jefri," celetuk Mama Indri.
"Ma tidak baik berkata seperti itu, bagaimanapun juga kita harus menghormati tamu," ujar Andri, dan Mama Indri langsung pergi begitu saja karena merasa kesal terhadap Andri yang selalu saja melawannya.
"Saya ucapkan terimakasih banyak kepada semuanya, mohon maaf jika selama hidupnya Mas Jefri pernah melakukan kesalahan," ucap Nayla yang kembali menangis.
"Kakak ipar, kami sudah mendengar tentang kejadian sebelum kecelakaan, dan kami sudah menangkap dalangnya, yaitu Eliza dan temannya. Semalam Bos Jefri sudah mereka jebak, dan Bos Jefri mereka bius, makanya Bos Jefri tidak sadarkan diri. Kakak ipar jangan percaya perkataan Eliza, karena Eliza sudah mengakui semua perbuatannya, bahkan darah yang ada di sprei adalah obat merah yang sengaja ia teteskan supaya Bos Jefri mengira jika Bos Jefri sudah menodainya," ujar Rahmat.
Degg
Jantung Nayla rasanya berhenti berdetak, Nayla semakin merasa bersalah karena telah salah paham terhadap Jefri, sampai akhirnya Nayla kembali pingsan, untung saja Andri langsung menangkapnya.
"Mas semuanya, silahkan masuk, maaf karena saya harus membawa Nayla ke kamar dulu," ujar Andri.
Andri menggendong Nayla untuk membawanya ke dalam kamar, dan keluarga Nayla yang melihatnya langsung membantu Andri.
__ADS_1
"Nak, kenapa lagi dengan Nayla?" tanya Papa Ervan yang baru ke luar dari dalam kamar setelah bersiap untuk mengantar Jenazah Jefri menuju peristirahatan terakhirnya.
"Nayla pingsan lagi Pa, mungkin Nayla masih belum percaya dengan meninggalnya Kakak. Oh ya Pa, di depan ada Anak buah Kak Jefri, coba Papa temui mereka dulu," ujar Andri.
Papa Ervan yang mendengar Jefri mempunyai Anak buah merasa terkejut, dan banyak pertanyaan yang saat ini berada dalam benaknya.
"Sebaiknya aku tanyakan langsung kepada Anak buah Jefri tentang pekerjaan Jefri selama ini," gumam Papa Ervan kemudian menghampiri Anak buah Jefri.
Setelah berjabat tangan dengan semua Anak buah Jefri, Papa Ervan langsung saja angkat suara.
"Atas nama Papa dari mendiang Jefri, saya mengucapkan terimakasih banyak atas kedatangan semuanya, saya juga meminta maaf jika selama Jefri hidup, Jefri pernah melakukan kesalahan," ucap Papa Erfan.
"Pak, selama ini Bos Jefri adalah orang baik, bahkan dia yang sudah membawa kami menuju jalan yang benar, Bos Jefri juga sudah memberikan kami pekerjaan, dan kami semua merasa kehilangan Bos Jefri," ujar Rahmat yang mewakili semuanya.
"Memangnya kalau boleh tau apa pekerjaan Jefri selama ini? karena sebagai orangtuanya, saya bahkan tidak mengetahui apa yang dilakukan Anak saya selama ini," ujar Papa Ervan.
Semuanya bergantian menceritakan tentang semua kebaikan Jefri dari awal pertemuan mereka dengan Jefri, mereka juga mengatakan jika semenjak Jefri masih kecil, Jefri selalu mengajarkan Anak-anak di Panti Asuhan membaca dan menulis, makanya Jefri selalu pulang sore.
"Astagfirullah, maafin Papa Nak, ternyata selama ini Papa telah salah paham terhadap Jefri," gumam Papa Ervan dengan menangis.
Mama Indri yang mendengar Papa Ervan menangis, bergegas menghampirinya.
"Apa yang sudah kalian lakukan kepada Suami saya sampai Suami saya menangis seperti ini?" tanya Mama Indri.
"Ma, selama ini kita telah bersalah kepada Jefri, ternyata Jefri tidak seperti yang kita tuduhkan, sejak kecil Jefri selalu membantu oranglain, bahkan Jefri mengajarkan membaca dan menulis kepada Anak-anak di Panti Asuhan, padahal kita selalu menuduh Jefri keluyuran tidak jelas, kita juga selalu menuduh Jefri sebagai biang onar dan berandalan. Maafin Papa Nak, maafin Papa," ucap Papa Ervan yang terus saja menangis menyesali semuanya.
"Pa semuanya telah terjadi, Mama juga menyesal karena selama ini telah menuduh Almarhum Jefri yang tidak-tidak. Sebaiknya sekarang kita mendo'akan mendiang Jefri ya, semoga tenang di alam sana," ujar Mama Indri yang kembali berakting menangis.
__ADS_1