CAKA ( Cintai Aku Karena Allah )

CAKA ( Cintai Aku Karena Allah )
Bab 6 ( Nafkah Pertama )


__ADS_3

Saat ini Jefri mengajak Nayla menuju basecamp yang biasa digunakan oleh Jefri dan teman-temannya untuk berkumpul sekaligus bekerja, dan di sana sudah banyak pria bertato berbadan besar yang membuat Nayla ketakutan.


Nayla mengucap Salam ketika masuk, dan semua yang berada di sana menatap kagum melihat kecantikan yang Nayla miliki.


"Bos bawa barang baru ya?" tanya salah satu Anak buah Jefri yang berada di sana.


"Jaga mata kalian kalau tidak mau gue congkel, ini istri gue jadi jangan sampai seujung kuku pun kalian menyentuhnya," ujar Jefri, dan semua yang berada di sana membulatkan matanya karena tidak percaya jika Jefri sudah menikah dengan perempuan yang dari penampilannya saja sudah mencerminkan perempuan Saleha.


"Tadi kami kira Bos bawa Bidadari. Kalau yang model begini, gue juga mau Bos. Pastinya masih disegel," celetuk salah satu Anak buah Jefri, dan mereka semua langsung tertawa, sehingga membuat Nayla semakin merapatkan badannya kepada Jefri karena merasa ketakutan.


"Bagaimana, kalian sudah menyelesaikan tugas hari ini?" tanya Jefri.


"Beres Bos, kami sudah mengeksekusi kebun Pak Kades," jawab mereka dengan serempak.


Nayla sudah berprasangka buruk melihat penampilan serta cara bicara Teman-teman Jefri tersebut, dan Nayla mengira jika Jefri sudah menyuruh mereka melakukan tindakan kejahatan.


"Mas, apa yang sudah kamu lakukan? apa kamu telah berbuat kejahatan?" tanya Nayla.


Semua yang berada di sana kembali tertawa mendengar pertanyaan Nayla.


"Dengar ya istriku sayang, meski pun kami berandalan, tapi kami tau mana yang salah dan yang benar," ujar Jef.


"Iya Mbak, maksud kami mengeksekusi itu memanen sayuran dan buah Pak Kades."


"Bukannya memanen milik orang juga termasuk perbuatan mencuri?" tanya Nayla.


"Sebutan mencuri itu untuk orang yang mengambil tanpa ijin Nay. Sepertinya kamu sudah salah paham terhadap kami, karena kami membantu para Petani sekitar memanen sayuran serta buah-buahan untuk kami beli kemudian kami jual ke Pasar," jelas Jefri.


Nayla terlihat malu karena sudah salah paham terhadap Jefri.


"Astagfirullah, maaf semuanya, karena saya sudah berprasangka buruk," ucap Nayla dengan tersenyum malu.


Jefri mengajak Nayla duduk karena Jefri akan memeriksa laporan pemasukan dan pengeluaran yang diberikan oleh Anak buahnya.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai menyetorkan uang, Jefri memberikan uang lima juta rupiah kepada Nayla.


"Ini uang untuk kamu," ujar Jefri.


"Uang untuk apa?" tanya Nayla yang terlihat heran.


"Bukannya seorang Suami harus memberikan nafkah kepada Istrinya? dan ini adalah nafkah pertama yang aku berikan untukmu," ujar Jefri.


Nayla tertegun mendengar perkataan Jefri, karena ia tidak pernah menyangka jika Jefri sudah menganggap Nayla sebagai istrinya.


"Terimakasih," ucap Nayla.


"Kenapa kamu mengucapkan terimakasih? bukannya memberikan nafkah itu sudah menjadi kewajiban seorang Suami? kamu simpan uang itu untuk keperluan kamu, kalau kamu butuh apa-apa, kamu bilang saja padaku," ujar Jefri dengan tersenyum manis, dan entah kenapa semua perlakuan Jefri membuat hati Nayla terasa menghangat.


"Bos kita sepertinya sudah berubah."


"Benar, Bos Jefri sudah bucin sama istrinya," ledek Anak buah Jefri, dan Jefri hanya tersenyum menanggapinya.


Sesaat kemudian, datang perempuan cantik dan seksi yang selama ini selalu mengejar-ngejar Jefri, dan tidak lain perempuan itu adalah Eliza.


"El jangan begini, tidak enak dilihat orang," ujar Jefri yang merasa malu kepada Nayla.


"Sayang, aku tuh kangen banget sama kamu, apalagi udah beberapa hari ini kita tidak bertemu," ujar Eliza.


Nayla yang melihat Eliza terus saja menempel pada Jefri, memutuskan untuk pulang, karena sebagai seorang istri dirinya merasa tidak dihargai.


"Nay, kamu mau kemana?" tanya Jef yang melihat Nayla pergi.


"Sayang, siapa sih perempuan kampung barusan?" tanya Eliza.


"Maaf El, aku harus mengejar Nayla, karena dia adalah istriku," ujar Jefri dengan berlari menyusul Nayla yang terlihat celingukan di pinggir jalan hendak menunggu angkutan umum yang lewat.


"Nay, kenapa kamu pergi meninggalkanku?" tanya Jefri dengan memegang tangan Nayla.

__ADS_1


"Maaf Mas lepas, aku tidak mau tangan kotor kamu menyentuh tubuhku," ujar Nayla.


Jefri yang mendengar perkataan Nayla langsung mengelapkan kedua tangannya ke bajunya.


"Tanganku sekarang sudah bersih, barusan sudah aku lap," ujar Jefri dengan polosnya.


"Mas, gak usah bercanda. Aku tidak mau dipegang olehmu setelah kamu disentuh oleh perempuan lain, karena sebagai seorang istri aku merasa tidak dihargai," ujar Nayla.


"Nay, Eliza bukan siapa-siapa aku," ujar Jefri dengan memegang bahu Nayla.


"Kamu tidak usah berbohong Mas, semalam aku mendengar sendiri saat kamu menelpon Eliza dengan begitu mesra, bahkan kamu sudah berjanji kepadanya untuk tidak menyentuhku," ujar Nayla yang tiba-tiba menangis.


"Nay, kenapa kamu menangis? apa kamu cemburu kepada Eliza?" tanya Jefri.


"Kamu gak usah kepedean, aku hanya kecewa saja sama kamu, karena dengan mudahnya Mas Jefri membuat janji kemudian mengingkarinya."


"Maaf, semalam aku hanya emosi dan kesal jika mengingat semua yang terjadi dalam kehidupanku, tapi aku bersumpah jika aku dan Eliza hanya berteman saja, tidak lebih. Selama ini aku memang sering bergonta-ganti pasangan, tapi aku juga tau batasan," ujar Jefri.


"Kamu tidak perlu bersumpah Mas, semalam saja kamu berjanji tapi langsung kamu ingkari. Jadi, aku tidak yakin dengan sumpah yang kamu ucapkan. Katakan saja dengan jujur, kalau kamu menerima perjodohan kita hanya karena kamu ingin balas dendam kepada Mas Andri kan?"


Jefri tidak dapat berkata apa-apa lagi, karena memang itu tujuannya menikah dengan Nayla.


Kenapa kamu jadi lemah seperti ini Jef, kamu menikahi Nayla hanya untuk balas dendam kepada Andri, dan kamu tidak boleh menggunakan perasaan. Tapi kenapa saat aku melihat Nayla menangis, hatiku merasakan sakit juga? batin Jefri kini bertanya-tanya.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku Mas?"


"Maaf Nay, aku tidak bermaksud menyakitimu."


"Tapi kamu sekarang sudah menyakiti kami Mas, apa sekarang Mas Jefri sudah puas membalaskan dendam Mas Jefri kepada Mas Andri? mungkin benar jika Mama Indri sudah menyakiti Mas Jefri dari semenjak Masih kecil, tapi apa kesalahanku dan Mas Andri? kenapa kami harus ikut menanggungnya juga?" tanya Nayla yang berusaha mengeluarkan uneg-unegnya.


"Awalnya aku memang melakukan semua itu untuk membalas dendam kepada Andri dan Mamanya. Andri memang tidak bersalah, bahkan dari semenjak kami kecil dia selalu bersikap baik kepadaku, tapi Andri telah merebut semua perhatian Papa, dan dia selalu menjadi kebanggaan keluarga. Apa aku salah jika aku juga ingin cinta dan kasih sayang yang tidak pernah aku dapatkan? dan sekarang sepertinya aku berubah pikiran karena aku_" ucapan Jefri terhenti ketika mendengar handphone Nayla berbunyi.


Nayla terlihat syok saat mengangkat telpon, dan Jefri langsung memeluk tubuh Nayla yang terlihat lemas bahkan hampir pingsan.

__ADS_1


"Nay, kamu kenapa?"


__ADS_2