
Angela akhirnya kembali ke Kantor dengan di antar oleh Supir, dan Kevin berkata jika nanti dia akan menelpon Supir untuk kembali menjemputnya jika dirinya sudah merasa lebih baik.
"Tuan Andri kalau mau ke Kantor lagi tidak apa-apa, sebentar lagi juga saya akan pulang kalau sudah merasa lebih baik," ujar Jefri dengan membaringkan tubuhnya.
Jefri berusaha membuat Andri pergi ke Kantor supaya dia bisa berduaan dengan Nayla.
"Saya bisa menyelesaikan pekerjaan kantor di rumah, jadi Tuan Kevin tidak perlu khawatir," ujar Andri, kemudian mengeluarkan laptopnya dari dalam tas.
Andri sebenarnya merasa berat untuk meninggalkan Nayla, apalagi hanya berdua saja dengan Kevin, karena Andri melihat jika tatapan Kevin kepada Nayla, seperti tatapan mendiang Jefri.
Kenapa aku melihat jika tatapan Tuan Kevin terhadap Nayla seperti tatapan Almarhum Kak Jefri? mikir apa kamu Andri, jelas-jelas mereka adalah dua orang yang berbeda, ucap Andri dalam hati.
"Sayang, sebaiknya Nayla istirahat saja ke dalam kamar, kasihan bayi kita jika Bundanya sampai kecapean," ujar Andri dengan memeluk tubuh Nayla.
Deg
Jantung Jefri rasanya berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Andri.
Jadi saat ini Nayla sedang hamil Anak Andri? tapi aku tidak keberatan jika harus mengakui Anak Andri sebagai Anakku, karena aku akan mengambil kembali apa yang sudah menjadi milikku, ucap Jefri dalam hati yang sudah terobsesi terhadap Nayla.
Beberapa saat kemudian suara Bel rumah terdengar berbunyi, dan Andri bergegas melangkahkan kaki untuk membuka pintu, dan ternyata yang datang adalah Mama Indri yang membawa Bi Ijah.
"Mama, ada apa lagi Mama ke sini?" tanya Andri yang merasa curiga terhadap Mama Indri.
"Andri, kamu itu kalau ada orangtua datang yang sopan, bukan langsung berprasangka buruk terhadap Mama."
"Seandainya Mama bersikap baik terhadap istri Andri, Andri juga tidak akan merasa curiga terhadap Mama."
Jefri yang mendengarnya langsung mengembangkan senyuman, karena ternyata dugaan Jefri benar jika Mama Indri tidak merestui pernikahan Andri dengan Nayla.
Sepertinya Nenek sihir masih belum bisa merestui pernikahan Andri dengan Nayla. Apa aku ajak dia bekerjasama saja untuk memisahkan Andri dengan Nayla? atau aku suruh Pembantu barunya saja untuk membantu menghancurkan rumah tangga Andri dengan Nayla? ucap Jefri dalam hati.
"Mama datang ke sini membawa Asisten Rumah Tangga pesanan kamu."
Andri terlihat waspada dengan Asisten Rumah Tangga yang dibawa oleh Mama Indri, karena Andri curiga jika Mama Indri sudah menyuruh Asisten rumah tangga tersebut untuk berbuat jahat terhadap Nayla.
"Andri, kamu tidak perlu curiga kepada Bi Ijah, dia ini adalah saudara Bi Imah, kalau kamu tidak percaya kamu bisa telpon Bi Imah," ujar Mama Indri, dan Andri bisa sedikit bernapas lega, apalagi selama ini Bi Imah adalah orang yang baik, jadi Andri berpikir jika Bi Ijah sama baiknya dengan Bi Imah, padahal sebelumnya Bi Ijah sudah Mama Indri suruh untuk membuat keretakan di dalam rumah tangga Andri dan Nayla, dan Bi Ijah terpaksa menyetujuinya, karena saat ini dirinya sedang sangat membutuhkan banyak uang untuk pengobatan Suaminya.
__ADS_1
"Selamat datang di rumah kami Bi, semoga Bibi betah tinggal di sini," ucap Andri.
"Insyaallah saya akan betah tinggal di sini Tuan muda, apalagi saya sedang membutuhkan uang untuk biaya berobat Suami saya," ujar Bi Ijah.
Sepertinya Andri tidak curiga lagi setelah mendengar jika Bi Ijah adalah saudaranya Bi Imah. Bagus deh kalau seperti itu, berarti rencanaku akan berjalan dengan lancar, ucap Mama Indri dalam hati.
Mama Indri nyelonong masuk ketika melihat sosok Kevin yang teru saja menatap lekat wajah Nayla.
"Andri, apa Nayla membawa selingkuhannya ke rumah?" sindir Mama Indri.
"Mama kalau bicara yang sopan, bisa-bisanya Mama menuduh Istri Andri berbuat serendah itu," bisik Andri yang merasa geram terhadap perkataan Mama Indri, tapi Andri merasa tidak enak dengan keberadaan Kevin jika dirinya sampai ribut dengan Ibu kandungnya sendiri.
Kevin mengulurkan tangannya kepada Mama Indri.
"Perkenalkan Nyonya, Nama saya Kevin Adhitama, kebetulan saya sedang ada pekerjaan dengan Tuan Andri.
Mama Indri terkejut karena ternyata yang saat ini berada di hadapannya adalah Kevin Adhitama, dan Mama Indri takut jika sampai Kevin Adhitama membatalkan kerjasamanya dengan Perusahaan Papa Ervan jika sampai Kevin Adhitama tersinggung dengan perkataan Mama Indri tadi.
Kenapa ya aku merasa familiar dengan Kevin, ketika aku melihat tatapan mata Kevin, aku jadi teringat dengan tatapan mata Jefri. Mikir apa aku ini, si biang onar Jefri kan sudah tidak ada di lagi di Dunia ini, lagian mana bisa orang hebat seperti Kevin dibandingkan dengan Berandalan seperti Jefri, ucap Mama Indri dalam hati.
Setelah kepergian Mama Indri, Andri meminta maaf kepada Kevin.
"Tuan Kevin, saya minta maaf ya atas perkataan Mama saya tadi," ucap Andri.
"Tidak apa-apa Tuan Andri, sepertinya Mama Anda hanya salah paham saja," ujar Jefri dengan tersenyum.
Nayla yang melihat Bi Ijah bergegas menghampirinya.
"Bi, selamat datang di rumah kami ya, semoga Bibi betah tinggal di sini," ucap Nayla, kemudian mencium punggung tangan Bi Ijah, dan Bi Ijah merasa tidak enak dengan perlakuan Nayla.
"Maaf Nona jangan seperti ini, Bibi tidak enak, Bibi hanya Pembantu di sini," ujar Bi Ijah.
"Bibi tidak boleh berbicara seperti itu, di mata Allah SWT manusia itu sama, yang membedakan hanya keimanannya saja, dan sudah seharusnya Nayla menghormati orang yang lebih tua."
Nayla masih saja bersikap baik terhadap siapa pun. Aku semakin mencintai kamu sayang, ucap Jefri dalam hati.
"Mas, Nayla antar Bi Ijah dulu ya ke kamarnya," ujar Nayla.
__ADS_1
"Iya," ucap Jefri dan Andri secara bersamaan, dan Andri merasa heran karena Kevin bisa mengatakan iya secara bersamaan dengan dirinya.
"Maaf Tuan Andri maksud saya iya bukan kepada Nyonya Nayla, tapi saya hendak membicarakan masalah pekerjaan kita," ujar Jefri yang berusaha untuk mencari alasan.
"Hati-hati ya sayang, jalannya jangan cepat-cepat," ujar Andri.
"Iya Mas," ujar Nayla dengan menggandeng Bi Ijah menuju kamar tamu.
Bi Ijah merasa tidak tega kepada Nayla dan Andri, karena dirinya sudah menerima tawaran Mama Indri supaya membuat keretakan dalam rumah tangga Nayla dan Andri.
Ternyata benar kata Imah, kalau Non Nayla dan Tuan muda Andri begitu baik. Tega sekali Nyonya yang ingin menghancurkan rumah tangga Anaknya sendiri, dan orang macam apa aku yang sudah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Apa sebaiknya aku kembalikan lagi uang sepuluh juta pemberian Nyonya Indri? batin Bi Ijah kini berada dalam dilema.
"Bi, ini kamar Bibi, dan yang sebelahnya kamar saya," ujar Nayla dengan mengajak Bi Ijah masuk ke dalam kamar tamu.
"Non, apa Non Nayla tidak salah menyuruh saya tidur di kamar sebagus ini?" tanya Bi Ijah tang merasa terharu.
"Tidak apa-apa Bi, kamar di sini kan banyak, lagian bagi Nayla, Bibi adalah keluarga Nayla sendiri. Kalau bisa Bibi panggil saja Nayla tidak perlu pake embel-embel Non segala."
"Tidak Non, saya tidak berani," ujar Bi Ijah.
"Ya sudah kalau begitu sekarang Bibi istirahat saja dulu," ujar Nayla.
"Apa Non Nayla sudah masak untuk makan siang?" tanya Bi Ijah.
"Belum Bi," jawab Nayla.
"Kalau begitu Bibi mending masak saja untuk makan siang," ujar Bi Ijah yang merasa tidak enak jika harus istirahat.
"Memangnya Bibi gak cape? Bibi kan baru datang."
"Bibi gak cape kok Non."
"Ya sudah, kalau begit Nayla antar Bibi ke dapur, sekalian Nayla bantuin Bibi masak."
"Tidak perlu Non, Bibi jadi tidak enak sama Non Nayla."
"Bibi tidak perlu merasa sungkan, kita kan keluarga," ujar Nayla yang merasa bahagia karena sekarang Nayla mempunyai teman di rumahnya jika Andri berangkat kerja.
__ADS_1