
Nayla merasa kasihan melihat mata Andri yang terlihat bengkak, tapi saat ini Nayla tidak mungkin mendekati Andri untuk menenangkannya.
"Nayla habis dari Mushola Mas, maaf jika Nayla membuat Mas Andri merasa khawatir. Sebaiknya Mas Andri istirahat lagi, insyaallah Nayla dan Mas Jefri tidak akan meninggalkan Mas Andri," ujar Nayla kemudian kembali duduk di sofa.
"Nay, sebaiknya kamu saja yang tidur di ranjang, biar aku yang tidur di sofa," ujar Andri.
"Tidak perlu Mas, Nayla tidak apa-apa kok tidur di sofa. Yang sedang sakit saat ini kan Mas Andri, jadi Mas Andri harus banyak istirahat supaya cepat sembuh."
"Aku lebih memilih sakit supaya bisa selalu bersamamu, karena kalau aku sembuh, kamu pasti akan kembali menjauh dariku," ucap Andri.
"Mas Andri tidak boleh berkata seperti itu," ujar Nayla.
Jefri yang mendengar perkataan Andri langsung saja angkat suara.
"Kalian anggap aku ini apa? bisa-bisanya kalian menjadikanku sebagai kambing conge," celetuk Jefri yang merasa kesal karena Andri masih saja terus berusaha mendekati Nayla secara terang-terangan.
"Andri kan sebelumnya sudah bilang kalau Andri akan kembali mengambil yang seharusnya jadi milik Andri, jadi kita akan bersaing untuk mendapatkan Nayla."
"Mas Andri, Mas Jefri, Nayla mohon kalian jangan terus berdebat, kalian ini adalah saudara, tidak seharusnya meributkan sesuatu yang tidak semestinya kalian ributkan. Kalau kalian masih saja ribut, lebih baik Nayla tidur di Mushola saja."
"Jangan," ucap Andri dan Jefri secara bersamaan, sampai akhirnya mereka bertiga mencoba untuk kembali memejamkan mata.
......................
Nayla terbangun ketika mendengar suara Adzan Subuh, tapi Nayla terkejut karena saat ini Andri tidak ada di ranjang pesakitan nya, sampai akhirnya Nayla membangunkan Jefri yang masih terlelap di sampingnya.
"Mas Jef bangun, Mas Andri hilang," ujar Nayla dengan menggoyangkan tubuh Jefri, tapi Jefri tidak kunjung bangun juga meski pun Nayla terus menggoyangkan tubuhnya.
"Aku cinta kamu Nay," ucap Jefri dengan mata yang masih terpejam, kemudian mengeratkan pelukannya kepada Nayla.
__ADS_1
"Mas Jefri kok susah sekali dibangunin sih, udah Subuh juga malah mengigau yang enggak-enggak," gumam Nayla, kemudian dengan perlahan melepaskan tangan Jefri yang memeluk erat pinggangnya.
"Apa aku lihat saja ya ke kamar mandi," gumam Nayla dengan mondar mandir, karena saat ini Nayla takut jika sampai terjadi sesuatu yang buruk kepada Andri, apalagi mengingat kondisi Andri yang masih lemas.
Ketika Nayla hendak mengetuk pintu kamar mandi, secara bersamaan Andri membuka pintu kamar mandi, sampai akhirnya kening Andri terkena ketukan tangan Nayla.
"Astagfirullah maaf Mas, Nayla tadinya berniat mengetuk pintu," ucap Nayla yang tidak sadar langsung mengelus kening Andri.
"Keningnya pasti sakit kan?" tanya Nayla yang terlihat khawatir.
"Iya Nay, sakit sekali," jawab Andri yang sengaja ingin mendapatkan perhatian Nayla.
Aku yakin kalau Nayla masih memiliki perasaan cinta untukku, buktinya dia masih saja peduli kepadaku, bahkan Nayla terlihat mengkhawatirkanku, ucap Andri dalam hati.
Nayla terpaksa membantu Andri berjalan menuju ranjang, karena saat ini Andri masih kesusahan untuk berjalan sendiri.
Andri yang masih merasa lemas mencoba memegang tubuh Nayla supaya tidak terjatuh, tapi Nayla tidak bisa menahan bobot tubuh Andri, sampai akhirnya mereka berdua terjatuh di atas ranjang dengan posisi Nayla di bawah tubuh Andri.
Jefri langsung menarik tubuh Andri dari atas tubuh Nayla, tapi pada saat Jefri hendak melayangkan tinju kepada Andri, Nayla menghalangi Jefri, sampai akhirnya pukulan Jefri mengenai wajah Nayla.
"Istighfar Mas, semua yang Mas Jefri lihat tidak seperti yang Mas Jefri pikirkan," ujar Nayla dengan memegang hidungnya yang mengeluarkan darah.
"Nay, hidung kamu berdarah," ujar Andri dengan mengelap hidung Nayla menggunakan ujung bajunya, tapi tetap saja darah dari hidung Nayla tidak berhenti.
"Kak Jefri, cepat panggil Dokter, jangan diam saja. Apa Kakak tidak lihat hidung Nayla sampai berdarah karena perbuatan Kakak," teriak Andri sehingga menyadarkan Jefri yang masih diam mematung.
Jefri berlari memanggil Dokter, dan setelah Dokter masuk ke dalam kamar perawatan Andri, Nayla langsung mendapatkan pertolongan medis.
"Kenapa hidung Nona sampai berdarah seperti ini?" tanya Dokter ketika mengobati Nayla.
__ADS_1
"Tadi saya terjatuh Dok," jawab Nayla berbohong, karena Nayla tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
"Sebaiknya Nona terus duduk, dan jangan tiduran dulu sebelum darahnya berhenti, karena jika dalam posisi tidur, takutnya darah akan masuk ke dalam otak," jelas Dokter.
"Iya Dok, terimakasih banyak," ucap Nayla.
"Sama-sama Nona, kalau ada apa-apa Anda bisa panggil saya," ujar Dokter, kemudian ke luar dari dalam kamar perawatan Andri.
Andri merasa geram terhadap Jefri karena Jefri tidak bisa menahan amarahnya sehingga menyebabkan Nayla terluka.
"Puas Kak, Nayla sampai terluka karena Kak Jefri," ujar Andri dengan duduk di samping Nayla, karena Andri tidak mau meninggalkan Nayla yang terlihat pucat.
"Lagian salah sendiri, kenapa menghalangiku untuk memukul kamu," ujar Jefri dengan menahan sesak dalam hatinya, karena Jefri merasakan sakit juga ketika melihat Nayla kesakitan, apalagi yang menyebabkan semua itu adalah dirinya.
"Kak, semua yang Kakak lihat tidak seperti yang Kakak pikirkan, Nayla hanya membantu Andri untuk berjalan menuju ranjang, karena tadi Andri baru saja dari dalam kamar mandi, tapi Nayla tidak kuat menahan bobot tubuh Andri, sampai akhirnya kami berdua terjatuh di atas ranjang."
"Kalau memang dia kesulitan membantu kamu, kenapa dia tidak membangunkanku?" ujar Jefri.
"Harus berapa kali aku membangunkan Mas Jefri? dari tadi aku sudah mencoba membangunkan Mas Jefri, tapi Mas Jefri tidak bangun juga," ujar Nayla.
"Tidak usah mencari alasan, kalian mengaku saja kalau kalian memang tidak sanggup berpisah, makanya kalian berdua bermain gila di belakangku."
"Demi Allah Kak, Nayla hanya membantu Andri," ujar Andri yang tidak mau kalau Jefri terus saja salah paham, apalagi sampai merendahkan Nayla.
"Kamu tidak perlu membawa nama Tuhan Andri, kalau memang salah, akui saja kesalahan kalian, tapi dengan adanya kejadian seperti ini, jangan harap aku akan melepaskan Nayla dengan mudah, karena aku akan terus memaksa Nayla supaya berada di sampingku. Aku akan membuat Nayla merasa tersiksa dalam seumur hidupnya karena harus hidup dengan lelaki yang tidak dia cintai," tegas Jefri.
"Kak, jangan pernah berpikir Kakak bisa menyakiti Nayla, karena Andri tidak akan pernah membiarkannya. Kakak bisa melampiaskan semuanya kepada Andri, tapi jangan pernah membawa Nayla dalam masalah kita, karena Andri tau betul alasan Kakak menikahi Nayla, Kak Jefri ingin membalaskan rasa sakit hati Kak Jefri kepada Mama dan Andri kan?"
Nayla yang semakin merasa pusing karena mendengar perdebatan antara Andri dan Jefri, kembali angkat suara.
__ADS_1
"Mas Andri, biarkan Mas Jefri melakukan semua yang dia mau. Terserah dia mau percaya atau tidak dengan semua perkataan kita, karena Tuhan tidak pernah tidur, dan Tuhan tau apa yang kita lakukan, meski pun kita menyembunyikannya sekali pun."