
Sejam sebelumnya, baik Abra maupun Rafa, sama-sama ingin pergi ke rumah Camelia. Entahlah, apa yang terjadi dengan mereka berdua. Apa karena semalam mereka tidak puas berbincang dengan Camelia, jadi mereka ingin pergi berkunjung ke rumahnya. Satu pertanyaan itu hanya mereka berdua yang bisa menjawabnya.
Bagai dua suasana yang berbeda, Abra dan Rafa pun menjalankan kendaraan mereka menuju ke rumah Camelia. Namun, yang sampai duluan di halaman rumah Camelia adalah Rafa. Rafa pun senyum, ia berkaca dulu merapikan sedikit penampilannya sebelum ia keluar dari mobil.
Sedangkan Abra baru tiba saat Rafa sudah berada didepan pintu rumah Camelia. Ia melihat kalau Rafa telah mengangkat tangan bersiap untuk mengetuknya.
"Tunggu," teriak Abra menghentikan pergerakan tangan Rafa yang sudah hampir mengetuk pintu. Rafa berbalik, ia mendelik melihat Abra yang kian mendekat ke arahnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Rafa.
"Pastinya untuk bertemu Camelia. Jangan bilang kamu juga datang untuk bertemu Camelia," tunjuk Abra.
"Kenapa kalau iya, sekarang adalah masa ku dan Camelia, karena masamu telah lewat bebrapa tahun yang lalu. Jadi aku sarankan, kamu mundur saja."
Abra tersenyum meremehkan, ia sudah menduga kalau Rafa pasti akan mengatakan hal ini cepat atau lambat. Jadi, ia tidak terlau terkejut dengan perkataan Rafa. Malah, ia hanya menganggapnya biasa saja.
"Ngga mempan aku sama omongan kamu, udah sana minggir."
Abra pun mengetuk pintu rumah Camelia. Rafa yang tidak ingin kalah, malah ikut mengetuk pintu juga yang malah membuat Mama Lia jadi cepat-cepat membuka pintu karena mendengar suara ketukan yang seperti tidak sabaran lagi.
Baru saja Mama Lia ingin memarahi orang yang mengetuk pintu rumahnya dengan begitu keras, jadi terhenti saat melihat Abra, teman lama anaknya berdiri disana.
"Nak Abra! Tante kira siapa," ujar Mama Lia.
"Assalamualaikum tan, maaf membuat suara bising disini," ujar Abra merasa tidak enak akibat ulah mereka berdua.
"Waalaikumsalam," jawab Mama Lia.
Baru saja Abra ingin menyalami tangan Mama Lia, Rafa malah mencuri star duluan. Meski Abra lah yang dikenal, ia juga tak mau kalah dalam hal ini.
"Tan, perkenalkan saya Rafa. Teman sekolah Camelia juga," ujar Rafa menyodorkan tangannya hendak bersalaman.
Mama Lia bersedekap, ia kini mengetahui sebab rumahnya diketuk begitu keras. Rafa yang tidak mendapat sambutan, akhirnya menarik tangannya. Ia menggaruk kepala yang tiba-tiba merasa ingin di pegang.
"Jadi, karena kalian berdua tidak akur akibatnya malah melampiaskannya sama pintu tante, gitu!" ujar Mama Lia membuat mereka terdiam sesaat.
"Maaf tan, kami tidak sengaja," ujar Abra.
Sedangkan Rafa, hanya diam menunggu Abra saja yang menyelesaikan kesalahpahaman ini. Bukannya ia pengecut, hanya saja, ia takut jika ia angkat bicara, nanti kesalahpahaman mereka akan tambah runyam.
"Lain kali, jika masih seperti ini, tante ngga akan menerima kalian."
"Iya Tan, kami janji."
"Baiklah, silahkan masuk."
Saat mereka berdua sudah berada diruang tamu Camelia, mereka berbincang sedikit meluruskan kejadian di pintu tadi sebelum Camelia tiba.
"Assalamualaikum, Camelia!" ujar mereka kompak.
"Waalaikumsalam, ada perlu apa kalian kemari?" tanya Camelia seraya duduk tak jauh dari mereka.
__ADS_1
Abra dan Rafa saling melihat, ingin mengetahui siapa dari mereka yang ingin berbicara duluan. Pasalnya, mereka tidak ingin kejadian tadi, kini terulang kembali didepan Camelia. Bisa-bisa citra mereka sebagai lelaki yang pantas, bisa tercemar.
"Abra, Rafa," panggil Camelia.
"Itu, kamu punya waktu luang besok?Aku ingin ngajakin kamu ke suatu tempat," ucap Rafa mengambil start duluan dari Abra.
"Aku sebenarnya punya, tapi itupun sore."
"Baiklah, aku akan datang kesini besok," ujar Rafa.
Kini Camelia beralih melihat Abra yang tetap diam menunggu urusan Camelia dan Rafa selesai.
"Abra, kamu ada perlu apa juga?"
"Oh itu ... itu aku ingin mengajakmu berbincang saja, tapi aku lihat kayaknya kamu sibuk. Jadi aku datang besok sore juga," ujar Abra tidak ingin Rafa dan Camelia tambah dekat.
"Kalian kenapa sih! Kalian mau datang bersama-sama lagi besok?"
Mereka dua menggelengkan kepala.
"Baiklah, kita selesikan sekarang. Siapa dari kalian yang duluan sampai kerumahku?" tanya Camelia menengahi.
"Aku," ucap Rafa.
"Rafa," ucap Abra membenarkan.
"Kalau begitu, berarti Rafa lah yang duluan punya kesempatan awal, kamu," tunjuk Camelia pada Abra, "kamu hari berikutnya," lanjut Camelia.
"Besok sore? Tidak kelamaan, Cam?" tanya Abra yang sebenarnya merasa hal itu kelamaan baginya.
"Baiklah, besok sore saja. Kalau begitu aku duluan. Assalamualaikum," ucap Abra pamit pulang duluan.
"Waalaikumsalam," jawab Camelia dan Rafa.
"Cam! Aku duluan juga ya. Besok aku datang," ujar Rafa pamit pulang tidak lama setelah Abra keluar dari rumah Camelia.
Seperginya mereka berdua, Camelia kembali kekamarnya untuk mengambil tas selempangnya. Baru setelahnya, ia bergegas ke toko browniesnya.
Ia tak habis pikir baru saja ia bertemu mereka berdua kemarin, malah hari ini mereka datang kerumah Camelia. Mengatakan ada hal yang ingin dibicarakan. Mau tak mau camelia membuat mereka bergantian untuk bicara.Camelia menggelengkan kepala, mengetahui tingkah mereka berdua.
...***...
Keesokan sorenya, seperti kata Camelia, Rafa bergegas ke rumah Camelia. Ia senangnya bukan main. Ia tak menyangka menjadi orang pertama yang dipilih Camelia untuk berbicara dengannya. Jika bukan karena ia yang pertama datang, entahlah apakah ia akan tahan menunggu hari berikutnya atau kembali menerobos kesepakatan mereka.
"Assalamualaikum. Ca, aku udah datang nih!" ucap Rafa seraya mengetuk pintu rumah Camelia sambil senyum-senyum sendiri.
"Waalaikumsalam, silahkan masuk, Raf," ucap Camelia yang langsung membukakan pintu.
Sesampainya di ruangan tamu, Rafa mulai mengungkapkan maksud kedatangannya kerumah Camelia.
"Apa yang ingin kamu omongin?" tanya Camelia membuka percakapan.
__ADS_1
"Jadi begini, aku mau ngajakin kamu nonton pertandingan basket di gedung remaja sport. Lagipula kamu suka bermain basket kan. Jadi aku ingin ajak kamu ke sana."
Rafa yang mengatakan gedung remaja sport, membuat Camelia jadi teringat kejadian tujuh tahun lalu. Kejadian yang sangat menyakiti hatinya.
Pada tujuh tahun lalu, saat itu Camelia sedang berada didepan gedung remaja sport. Ia pun merogoh ponselnya di saku jaket yang tengah ia kenakan. Ia bermaksud ingin mengunjungi Abra, mengajaknya bermain basket bersama.
Sudah beberapa kali Camelia menghubungi Abra. Namun, tetap saja sambungan ponselnya tetap tidak diangkat. Saat Camelia ingin menyerah, malah Abra yang kembali menghubungi Camelia. Camelia lantas, menjawab panggilan Abra.
"Assalamualaikum Cam, ada apa?" tanya Abra.
"Kamu ada di mana Abra?" tanya Camelia.
"A ... aku ada disekolah kenapa?"
"Oh aku kira lagi dirumah baiklah, kalau gitu aku tutup dulu."
Camelia pun memutuskan sambungan telponnya dengan Abra dan bergegas masuk kedalam gedung. Didepan pintu masuk, Camelia tertegun melihat Abra yang tengah bermain basket dengan Delia.
Camelia lantas kembali merogoh ponselnya dan menghubungi Abra. Tidak lama setelahnya, panggilan Camelia pun diterima oleh Abra.
"Abra, kamj beneran lagi ada disekolah? Kamu ngga bohong sama aku? Ngga ada yang lagi disembunyikan kan?" tanya Camelia berturut-turut hanya ingin memastikan kejujuran Abra.
"Ngga lah, Cam. Mana mungkin aku bohongin kamu!"
"Jadi, kamu lagi sama siapa disana?"
"Aku sendiri. Emang kamu ada dimana sekarang?"
"Aku ... aku... udah dulu ya, Ab. Assalamualaikum," ucap Camelia mengakhiri percakapannya dengan Abra. Ia kan bertambah kecewa jika masih melanjutkan perbincangan mereka.
"Waalaikumsalam," jawab Abra heran.
Setelah sambungan telepon Camelia dan Abra berakhir, tiba-tiba tanpa diduga, air mata Camelia jatuh ke pipinya dan untuk pertama kalinya semasa sma ia kembali menitihkan air matanya.
"Kenapa kamu harus bohong Abra?" ucap Camelia kecewa pada Abra yang telah membohonginya.
Pertama Abra bilang, kalau dia lagi berada disekolah, tapi nyatanya dia lagi berada di remaja sport. Kedua Camelia ingin meluruskan, tapi Abra masih saja berbohong. Ketiga Camelia sekali lagi ingin meluruskan. Namun, masih ada saja yang Abra sembunyikan. Terakhir, Abra mengatakan kalau dia lagi sendiri, tapi apa ini! Abra saat ini sedang bersama Delia, mengajarinya bermain basket.
Siapa coba yang tidak kecewa jika di bohongi sebanyak itu? Tidak ada kan! Sama yang seperti Camelia rasakan. Dari pada bertambah kecewa, Camelia bergegas keluar dari remaja sports menuju ke motornya meninggalkan rencana awalnya sewaktu datang tempat ini.
Camelia tersentak saat Rafa memanggil dirinya, "maaf Raf, aku tidak bisa menemanimu kesana," ucap Camelia
"Ayo lah, Cam. Kapan lagi kita bisa nonton basket lagi," ajak Rafa.
Camelia tetap menggeleng, menolak ajakan Rafa. "Maaf, aku tetap tidak bisa."
"Baiklah tidak apa, tapi lain kali jika aku ajak, kamj harus mau," ucap Rafa pada akhirnya tidak bisa membujuk camelia lagi.
"Nanti aku pertimbangkan."
...To be continued. ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote & komentarnya ya readers. Sebagai timbal balik dari yang kalian baca 😅
...By Peony_8298...