Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Gombalan Salah Sasaran


__ADS_3

Tidak lama kemudian, seseorang menghampirinya dan memicingkan mata serta berkata dengan nada bertanya,


"Camelia?"


Merasa namanya disebut, Camelia mengangguk mengiyakan. Ia juga ikut memicingkan matanya. Pasalnya, ia tidak mengetahui siapa wanita yang ada didepannya ini. Bahkan ia tidak mengetahui dari mana wanita ini  mengenal namanya.


"Aku yang memesan brownies punya Anda," ujarnya menjelaskan.


"Oh, maaf aku kira bukan Anda. Ini pesanannya," ujar Camelia hendak memberikan tas brownies itu.


Namun wanita didepannya menggeleng dan mengatakan untuk mengikutinya. Camelia pun lantas mengikuti wanita tersebut sampai di depan pintu ruangan terbesar yang ada di lantai empat belas tersebut.


"Silahkan masuk," ujar wanita tersebut.


Camelia membisu dan malah menujuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya, seperti mengatakan 'aku?' Wanita tadi kembali mengangguk dan mulai memutar knop pintu untuk mempersilahkan Camelia masuk kedalam.


Perlahan-lahan Camelia masuk ke dalam ruangan tersebut. Sesampainya didalam, tiba-tiba kekesalannya memuncak. Ia berjalan cepat kearah sofa, menaruh tas berisi brownies dan mengambil bantal sofa. Ia pun mengambil ancang-ancang untuk melemparkan bantal pada pemilik ruangan ini.


Benar saja, lemparannya itu tepat sasaran. Ruangan tersebut langsung riuh karena gema suara menjerit pada orang yang mengenai bantal sofa yang Camelia lemparkan.


Camelia tersenyum, kini kekesalannya telah terbalaskan. Ia tidak demam sebenarnya. Hanya saja, ia ingin memberi pelajaran pada orang yang seenak jidat melihat rambutnya tanpa izin darinya. Bukannya sok suci, hanya saja ia ingin menjaga aurat-nya dari orang yang bukan mahromnya.


"Cam," jeritnya mengaduh kesakitan.


"Apa!" tantang Camelia berdecak pinggang.


"Akhirnya kamu kembali," ujar lelaki yang terkena lemparan bantal sofa itu. Ia kini tersenyum karena sifat dulu Camelia telah kembali.


"Aku tidak kembali, aku masih seperti yang dulu," sunggut Camelia.


Melihat lelaki dihadapannya ini tersenyum, Camelia pun ikut tersenyum juga. Kini kekesalannya telah terbalaskan. Sedangkan wanita yang telah mengantar Camelia tadi, saat mendengar suara jeritan atasnya, ia jadi cepat-cepat berlari kembali ke ruangan.


Sesampainya disana, ia membekap mulutnya tidak percaya akan apa yang telah dilihatnya.


Abra menoleh pada sekretaris dan memberikan kode tangan kalau dirinya baik-baik saja. Sekretarisnya pun mengangguk lalu pergi meninggalkan kedua pasang yang sifatnya saling bertolak belakang itu.


"Itu pendapatmu Cam. Aku rasa selama ini kita selalu jaga jarak walau jarak kita sangat dekat."


"Apa maksudmu?" Camelia memicingkan matanya.


"Maksudku, sepertinya kamu selalu menjaga perilakumu jika bersamaku, tapi jika bersama yang lain, kamu sepertinya menganggap mereka biasa saja saat bersamamu."


"Aku tidak mengerti."


"Bisakah kita seperti dulu? Saat-saat dimana kita masih sma. Saat dimana kamu tertawa, sedih bahkan konyol sekalipun, kamu tidak memperdulikan keberadaanku. Maksudku, apa yang ingin kamu katakan, kamu katakan. Apa yang ingin kamu lakukan, kamu lakukan. Seperti tadi kamu melempariku bantal sofa. Tanpa banyak bicara, kamu melakukannya," jelas Abra panjang lebar.


Camelia terdiam, kini ia paham maksud Abra. Abra hanya tidak ingin ia merasa canggung saat bersamanya saja.


"Tidak, kita tidak bisa kembali disaat seperti itu. Ini lah diriku, aku tidak bisa memaksa diriku untuk menjadi seperti keinginanmu," ujar Camelia sendu.

__ADS_1


Abra terdiam tidak tahu harus merespon seperti apalagi. Ia pun melangkah mendekati Camelia.


"Kalau begitu, ayo kita sama-sama belajar dan untuk belajar dengan cepat, apapun yang aku lakukan padamu, kamu setidaknya tidak protes," ujar Abra kembali tersenyum.


Camelia mendelik, namun akhirnya mengangguk juga dan berkata, "Tergantung perlakuanmu. Jika kelewatan, maka siap-siap saja kamu babak belur," ujar Camelia membuat Abra bergidik ketakutan. Namun itu Hanya sesaat sebelum Abra mengangguk.


"Baiklah, ayo kita makan brownies yang telah ku pesan. Browniesnya enak loh, manis seperti membuatnya."


"Sari? Dia manis juga sih! Anaknya cantik."


"Eh?"


Camelia tersenyum karena telah berhasil membuat Abra tidak berkutik lagi. Namun itu hanya sesaat, karena Abra dengan cepat menguasai keadaan lagi.


"Kalau gitu yang manis, adalah pengantarnya," ujar Abra tersenyum penuh kemenangan.


"Udah gombalnya, apa satu lemparan bantal ngga cukup? Mau nambah lagi?"


Abra mengangguk. Camelia lantas kembali mengambil bantal sofa untuk dilemparkannya pada Abra. Tapi ia kalah cepat karena Abra telah berhasil merebut bantal yang hampir ia layangkan pada wajah Abra.


"Ok, ok. Aku minta maaf. Aku hanya bercanda saja," ujar Abra.


Abra pun mengatakan pada Camelia agar duduk duluan di sofa. Sedangkan dirinya, ingin keluar dulu untuk memberikan kelebihan brownies yang dibelinya untuk karyawannya yang lain.


"Kamu tunggu disini ya, aku keluar dulu sebentar."


Camelia mengangguk. Abra pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya. Sesampainya didepan pintu, Abra mengambil pot bunga yang berada didepan ruangannya untuk menahan pintu agar tetap terbuka.


...***...


Di lain tempat, terlihat seorang wanita berkisar umur duapuluh tahunan lebih dan seorang pria paruh baya sedang membicarakan sesuatu yang membuat wanita tersebut jadi tersenyum lebar penuh semangat.


Wanita itu tidak menyangka kalau akhirnya ia bisa lebih dekat dan bahkan sampai dijodohkan dengan lelaki yang disukainya sejak masa sma.


Sangking senangnya, ia sampai melompat-lompat kegirangan mengetahui hal sebesar ini dari sang Ayah yang juga ternyata berteman dengan ayah lelaki yang hendak di jodohkan dengannya.


"Udah ... udah nanti kamu jatuh, nak!"


"Delia seneng banget, Yah. Terima kasih," ujar wanita tersebut yang ternyata adalah Delia.


"Sama-sama nak, apapun Ayah akan lakukan demi kebahagiaan mu," ujar Ayah Samuel.


Delia lantas memeluk sang Ayah. Jika saja ibu masih hidup, pasti Ibunya ikut senang mendengar ia akan dijodohkan dengan seseorang yang telah tersimpan didalam hatinya.


Merasa Delia mengingat sang Ibu membuat Ayah Samuel mengusap lembut kepala Delia. Ia akan lakukan apapun demi kebahagiaansang putri satu-satunya.


"Baiklah, Ayah mau kerja dulu. Masih tetap temani Ayah kan?"


Delia menggeleng. " Tidak, Delia mau pergi menemui Abra, pasti dia juga udah tahu. Kalau gitu Delia Pamit. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam, hati-hati dijalan Nak."


"Sampai ketemu dirumah Ayah," ujar Delia sebelum pergi meninggalkan Ayah Samuel.


Saat Delia baru saja masuk kedalam mobil, tiba-tiba Delia ingin bertemu dengan Abra secepatnya. Mumpung ia juga sedang berada di Bandung dan ia juga ingin mengatakan perihal tentang perjodohan mereka.


Memikirkan akan bertemu dengan Abra, membuat Delia senang. Ia pun melajukan mobilnya menuju kantor Abra yang tidak terlalu jauh dari kantor Ayahnya.


Limabelas menit berkendara, akhirnya Delia sampai dipelanataran parkir kantor Abra. Ia lantas mencari tempat parkir untuk mobilnya. Setelah mendapatkan parkiran mobil yang kosong, Delia pun melajukan mobilnya ke tempat itu.


Delia mengernyit heran saat ia tidak sengaja menoleh ke samping dan melihat mobil yang dikenalinya.


"Bukannya ini mobil Camelia? Atau mungkin mobil ini milik salah satu karyawan Abra. Bisa jadi kan? Karena mobil ini banyak peminatnya juga," ujar Delia acuh.


Ia pun keluar dari mobilnya. Sesampainya didepan gedung kantor, Delia terus saja ke resepsionis hendak menanyakan keberadaan ruangan Abra.


"Maaf, tapi sebelumya apakah Mbak sudah punya janji ketemuan dengan Bapak Abraham?" tanya si resepsionis.


"Tidak, kalau bisa tolong hubungi Abraham saja. Katakan kalau temannya, Delia meminta untuk bertemu."


Si resepsionis mengangguk. Ia pun menghubungi sekretaris Abra lewat intercom.


"Mbak, ada yang ingin ketemu sama Bapak Abraham. Katanya Mbak bernama Delia ini adalah teman Bapak. Sekiranya Mbak memberitahukan Bapak."


Beberapa menit kemudian, si resepsionis tadi pun mengarahkan agar Delia naik lift sampai ke lantai empat belas. Dari sana, ia akan diarahkan oleh sekretaris Abra. Delia pun mengangguk dan berterima kasih.


"Sama-sama," ujar si resepsionis.


Delia pun menuju lift. Tidak menunggu lama, Delia telah masuk kedalam lift yang akan membawanya ke lantai empat belas.


Dengan kecepatan lift, ia sampai dengan hitungan beberapa menit saja. Delia lantas keluar. Benar kata si resepsionis tadi, Delia kini dihampiri oleh seorang wanita yang ia yakini adalah sekretaris Abra.


"Mari ikut saya."


Delia mengikuti wanita yang menjabat sebagai sekretaris Abra itu. Entah mengapa perasaannya semakin tidak enak tatkala langkah kakinya semakin dekat menuju ruangan Abra.


Baik Delia dan si sekretaris mengernyit heran saat melihat pintu ruangan Abra terbuka sepenuhnya gara-gara terganjal sebuah pot bunga. Namun, mereka tidak juga mempercepat langkah kaki mereka.


Sesampainya didepan ruangan Abra, sekretaris Abra pun pamit undur diri.


"Terima kasih telah mengantarku," ujar Delia.


"Sama-sama," jawab si sekretaris.


Sebelum masuk kedalam, Delia terlebih dahulu mengetuk pintu. Camelia yang memang telah berada didalam, akhirnya beranjak dari duduknya dan pergi melihat siapa yang telah mengetuk pintu ruangan Abra.


"Camelia!" seru Delia tidak menyangka.


...To be continued ....

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca 🤗


...By Peony_8298...


__ADS_2