
Halo, selamat hari jumat berkah, semoga yang like, vote dan komen diberikan kemudahan rezeki oleh Allah, aamiin. 🤲🏻
...***...
Sesampainya dirumah Camelia, Abra bergegas keluar dari mobilnya. Dengan langkah yang cepat, ia sudah sampai didepan pintu rumah Camelia. Tangannya pun terangkat hendak mengetuk pintu rumah bercat putih itu. Saat tangannya tinggal sedikit lagi menyentuh pintu rumah Camelia, saat bersamaan pintu rumah itu terbuka menampilkan sosok ibu yang terlihat begitu cemas.
"Tante!"
"Ya Allah, nak Abra. Syukurlah kamu datang disaat yang tepat."
"Tante kenapa?"
"Camelia masuk rumah sakit."
Sejam sebelumnya setelah Mama Rania dan Bella pulang, Camelia membersihkan meja yang tadi habis mereka tempati mengobrol santai. Saat tengah mengelap meja, tiba-tiba saja air matanya jatuh melewati pipinya. Air yang jauh sebelumnya ia coba tahan. Sungguh, ia mengira semuanya akan baik-baik saja mulai dari sekarang, tapi apa ini? Ia bahkan tidak bisa melupakan kejadian tadi.
Ia merasa begitu sesak didada. Sekali lagi harapan yang ia simpan dihati menghianatinya lagi. Ia tahu memang berharap pada orang lain akan menghasilkan kekecewaan. Namun ia tidak menyangka dirinya harus berada di keadaaan seperti ini lagi. Mengapa? kata-kata itu terus saja berputar-putar di kepalanya. Padahal jauh sebelumnya, ia sudah bertekad kalau dirinya tidak akan masuk lagi ke dalam lingkaran friendzone. Namun apa ini? Tekadnya yang kuat pun tidak bisa menahan perasaan yang berhembus seperti angin.
Camelia mendesah. Ia sudah tidak bisa lagi melanjutkan pekerjaannya ini. Ia lalu menghapus jejak air matanya dan berlalu masuk ke dalam ruangan istirahatnya. Riana yang berpapasan dengan Camelia pun hendak menyapanya. Namun, ia urungkan setelah melihat Camelia tidak memperhatikan keberadaannya.
"Mbak Cam kenapa lagi?" batin Riana.
Riana menggeleng, ia seharusnya tidak mencampuri urusan pribadi dari bosnya. Ia pun berlalu dari sana. Sedangkan Camelia telah masuk ke dalam ruangannya. Ia bersandar di belakang pintu. Sekali lagi, ia menangis.
"Mengapa, mengapa rasanya harus sesakit ini?"
Camelia terus memukul pelan dadanya yang begitu terasa nyeri. Ia luruh di lantai dengan air mata yang semakin banyak mengalir di pelupuk matanya. Ia menekuk lututnya, menenggelamkan wajah disana dan mencoba menguasai keadaan dirinya. Entah sudah berapa lama ia berada dikeadaan seperti itu saat Riana mengetuk pintu ruangannya.
"Mbak Cam?" panggil Riana.
Camelia mendongak lalu berdiri. Dengan tangan yang sedikit gemetaran, ia membuka sedikit cela pintu tanpa memperlihatkan wajahnya.
"Mbak Cam, Mas Abra ada diluar."
Camelia diam, ia tidak ingin menaggapi ucapan Riana dan kembali menutup pintu ruangannya. Riana pun kembali ke depan toko. Ia berpura-pura menata brownies saat Abra telah sampai disana.
"Ri," panggil Abra yang tidak memperhatikan sekelilingnya.
Riana yang melihat Abra pergi menghampirinya. Lalu ikut mendekat.
"Eh Mas Abra, cari Mbak Cam? Mbak Cam baru aja pulang mas. Katanya ada urusan mendadak."
__ADS_1
"Begitu. Baiklah, terima kasih infonya."
Riana mendesah saat melihat kepergian Abra. "Maaf mas, bukan maksud Riana berbohong sama mas, tapi dengan keadaan Mbak Cam yang seperti ini, Riana rasa Mbak Cam ngga bisa bertemu dengan mas saat ini," batin Riana.
Sungguh, ia tidak bermaksud untuk berbohong pada Abra. Ia tau, sekecil apapun suatu kebohongan, itu tetap saja kebohongan yang tentu saja akan mendapat balasan yang setimpal. Namun jika tidak seperti itu, maka ia tidak akan bisa menyembunyikan keadaan wanita yang telah memberinya banyak kebaikan itu.
"Maaf mas," ujar Riana pelan.
Tidak lama kemudian, Riana melihat Camelia keluar dari toko dengan tas salempang yang biasa dibawahnya. Ia menduga kalau Camelia pasti akan pulang sekarang.
"Mbak Cam!" panggil Riana.
Dengan wajah yang sudah sedikit segar, ia berbalik melihat Riana yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Iya, Ri. Ada apa?"
"Mbak, Riana bisa minta tolong?"
"Bisa, mau minta tolong apa?"
"Riana kepengen makan mi ayam yang biasa Mbak belikan itu."
"Emm, baiklah. Mbak pergi belikan dulu."
Matanya sukses membulat sempurna saat ia melihat begitu banyak panggilan tak terjawab oleh Abra. Namun sedetik kemudian, ia mengabaikannya dengan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas salempang. Tidak lama kemudian, penjual mi ayam itu memberikan pesanan Camelia. Setelah membayarnya, Camelia membawakan mi ayam untuk Riana dan Sari.
"Wah, terima kasih Mbak Cam," ujar Riana saat menerima dua bungkusan mi ayam dari tangan Camelia.
"Sama-sama. Kalau gitu, mbak pulang dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, mbak. Hati-hati dijalan."
Camelia mengangguk. Saat Camelia hendak berbalik, ia merasa seperti sekelilingnya ikut berputar. Tidak lama kemudian, ia kembali merasakan ada sebuah cairan yang keluar dari hidungnya. Ia tidak tau apa itu karena setaunya saat ini dirinya tidak merasakan flu sedikitpun.
Refleks, tangannya terangkat memegang cairan kental yang keluar dari kedua lobang hidungnya itu. Ia terbelalak kaget saat melihat cairan itu berwarna merah.
"Darah?" ujarnya pelan, tapi masih dapat didengar oleh Riana.
"Mbak Cam." Riana lantas mendekat, ia memegangi Camelia yang hampir linglung. "Ayo mbak, kita duduk dulu."
Riana mengajak Camelia untuk duduk terlebih dahulu. Namun, belum juga mereka sampai, Camelia sudah lebih dulu kehilangan kesadaran. Ia lalu ambruk jatuh ke tanah.
__ADS_1
"Mbak Cam," teriak Riana begitu keras.
Sari yang mendengar teriakan Riana lantas berlari keluar. Ia kaget melihat Camelia yang sudah tergeletak di tanah. Seketika juga Sari berteriak minta tolong.
...***...
"Maaf, mas. Riana ngga bermaksud membohongi mas Abra," cicit Riana.
Jujur saja, ia semakin merasa bersalah melihat keadaan Camelia yang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit dengan cairan infus yang terpasang di tangannya. Riana menangis, menyesali kebohongannya. Jika saja ia jujur, mungkin keadaan Camelia tidak akan jadi seperti ini.
"Udah ngga papa. Mas tau, kenapa kamu bisa sampai berbohong."
Riana mendongkak menatap Abra tidak percaya. Ia tidak menyangka kalau Abra akan memaafkannya dengan mudah. Pasalnya, ia tadi sudah menduga kalau ia akan mendapat amarah karena telah berbohong. Dengan sesegukan, Riana terus saja mengatakan kata maaf.
"Udah, kamu istirahat juga. Pasti kamu lelah."
Riana mengangguk. Ia pun berlalu dari hadapan Abra dan berjalan menuju sofa ruang inap Camelia. Ia duduk disana dengan kepala yang masih tertunduk. Mama Lia yang melihat Riana masih saja merasa bersalah, lantas pergi menghampirinya.
"Jangan merasa bersalah terus nak. Camelia udah ngga papa. Malah seharusnya tante berterima kasih padamu karena telah membawa Camelia kesini," ujar Mama Lia menenangkan Riana sambil menganggam tangannya. Riana, Karyawan anaknya yang sudah ia anggap juga sebagai anak sendiri.
"Tapi ini semua karena Riana."
"Tidak nak. Lihat, Camelia sudah baik-baik saja."
Riana melihat Camelia yang masih tertidur nyenyak dengan Abra yang senantiasa berada disampingnya. Ia pun berangsur menganggukkan kepalanya. Tidak lama kemudian, Riana pun pamit kembali ke toko.
"Biar nak Abra yang mengantarmu pulang."
"Riana bisa naik angkot, tan."
"Biar mas mengantarmu, ayo," ajak Abra yang sudah berjalan mendekatinya. Mau tak mau, Riana pun mengangguk setuju. Ia pun pamit pulang pada Mama Lia dengan mencium tangan Mama Lia sebagai tanda hormatnya.
"Kalau gitu, Riana pamit pulang dulu, tan. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati dijalan nak," jawab Mama Lia.
Abra dan Riana keluar dari ruangan inap Camelia. Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju tempat parkir mobil Abra. Dari kejauhan, Abra memicingkan matanya. Ia seperti mengenal dua orang yang tengah berjalan ke arahnya saat ini. Tidak, lebih tepatnya ke arah ruang inap Camelia.
...To be continued...
Selamat hari jumat berkah, semoga yang like, vote dan komen diberikan kemudahan rezeki oleh Allah, aamiin. 🤲🏻
__ADS_1
...By Peony_8298...