
Ketukan pintu semakin terdengar pasti. Sesaat Camelia membuka pintu, Camelia sontak kaget saat secara tiba-tiba seorang anak perempuan berumur lima tahun berlari memeluknya dengan boneka berbie yang ada ditangan.
"Assalamualaikum bunda," ucap seorang anak perempuan berjilbab merah jambu seraya memeluk erat Camelia seakan tidak ada hari esok lagi.
"Sayang! Waalaikumsalam, sama siapa kesini?" tanya Camelia saat tidak melihat siapapun yang mengantar Carissa kerumahnya.
"Sama papa," ucap anak perempuyang bernama Carissa.
"Ayo masuk dulu," ucap Camelia sambil menggandeng tangan anak tersebut untuk masuk kedalam rumah. sesampainya didalam, Camelia melanjutkan pertanyaannya, "Papa mana, nak?"
"Papa lagi bayar taksinya bunda. Jadi Carissa masuk duluan," jawab Carissa.
"Kok kesini ngga bilang-bilang sama bunda. Kalau bunda tau, kamu mau datang kesini sama Papa, kan bunda bisa jemput di bandara, sayang," ujar Camelia seraya mengelus kepala Carissa.
"Bunda, kata papa ini kejutan upsss ...," ucapnya keceplosan sambil menutup mulut mungilnya.
"Mau beri kejutan buat bunda ya?" tanya Camelia sambil terus menciumi pipi Carissa sangking gemasnya.
"Bunda geli, nanti Carissa aduin sama Papa. Biar bunda dimarahi."
"Yakin mau ngadu sama Papa?"
"Engga, bunda Carissa rindu," ujarnya disela memeluk Camelia.
"Bunda juga rindu sayang."
"Tadi Risa sama Papa mau buat kejutan untuk bunda, tapi Carissa malah keceplosan," ujar Carissa disela kekehannya.
"Terima kasih sayang. Dengan kamu datang kesini itu udah cukup menjadi kejutan buat bunda kok," ucap Camelia
"Sini duduk di pangkuan Opah!" panggil Papa Carel yang baru menyahut karena ia tidak ingin menganggu pelepasan rindu antara anak dan ibu itu.
Carissa pun beralih menuju Papa Carel. "Carissa rindu Opah juga," ujarnya memeluk Papa Carel.
Papa Carel pun balas memeluk cucunya itu. Ia sangat senang akan kedatangannya. Papa Carel pun memangku Carissa.
Tidak lama kemudian, Mama Lia datang dengan membawa nampan yang berisi cangkir teh dan makanan di toples.
"Carissa, sayang kok baru datang kesini? Omah kangen banget loh," ucap Mama Lia seraya menaruh nampannya di atas meja.
"Carissa juga kangen sama omah tapi Papa baru punya waktu luang datang kesini," jawab Carissa.
"Sini sama Omah," panggil Mama Lia.
"Ma, Papa belum puas melepas rindu ini," protes Papa Carel.
"Biar, mama juga rindu kok. Sini nak, sama Omah," panggil Mama Lia seraya merentangkan tangannya.
Carissa pun turun dari pangkuan Papa Carel dan berlalu menuju Mama Lia. Sesampainya Carissa didekat Mama Lia, Carissa mendapati sekujur pipinya mendapat ciuman yang bertubi-tubi dari Mama Lia.
"Oh, kayak Mama, buat Carissa geli."
"Biarin, biar Omah puas."
Baru saja Mama Lia ingin menanyakan keberadaan papa Carissa, sudah terlebih dahulu seorang pria menghampiri mereka.
"Assalamualaikum," ucap Atha nama pria itu.
"Waalaikumsalam," jawab mereka kompak.
"Nak Atha, mari duduk disini," ajak Mama Lia.
Atha pun mengambil tempat duduk tepat disamping Carissa yang saat ini telah berada di pangkuan Mama Lia.
"Maaf ma, Atha baru bisa datang," ucap Atha.
"Tidak apa nak, oh iya kata Carissa, katanya kalian datang kesini naik taksi. Kenapa ngga nelpon kerumah biar Papa jemput," ucap Papa Carel.
__ADS_1
"Kejutan opah," ucap Carissa lagi-lagi.
"Kapan mau ke Semarang?" tanya Papa Carel.
"Insha Allah, entar sore pa," jawab Atha.
"Ngga bermalam dulu disini. Besok pagi baru berangkat ke Semarang. Nah kan kesininya naik taksi, jadi biar papa yang akan antar kalian kesana," ucap Papa Carel.
"Pa, kita bermalam dulu di sini. Besok baru kita pergi sama bunda, iya kan bunda? " ucap Carissa meminta pendapat Camelia
"Iya sayang," ucap Camelia sambil menatap lembut Carissa sangking rindunya.
"Tapi nanti merepotkan " ucap Atha tak enak hati.
"Ngga kok mas iya kan pa? Jadi besok kita berangkat," ucap Camelia.
"Baiklah," ucap Atha sambil tersenyum
Setelahnya, Papa Carel dan Mama Lia pun pun pergi dari sana. Mereka tidak ingin menganggu anak dan cucu mereka yang sedang bersama. Se-perginya Papa dan mama, Carissa pun langsung meminta makan pada Camelia karena ia telah lapar sejak di bandara tadi.
"Anak bunda lapar, em ... mau makan apa? Biar bunda masakin!" ucap Camelia.
"Itu bunda, seperti yang biasa bunda masak," ucap Carissa
"Nasi goreng nugget ayam?" tanya Camelia memastikan.
"Iya bunda," ucap Carissa sambil menganggukkan kepalanya senang
"Kalau mas, mau makan apa?" tanya Camelia pada Atha.
"Sama in saja dengan Carissa," ucap Atha.
"Baiklah, ayo kita ke dapur. Kita masak bareng, gimana mau?" ucap Camelia sambil mengandeng tangan kecil Carissa.
"Mau ... mau, nanti Carissa bantu bunda dengan doa," ujarnya disela cekikitannya. Mendengarnya, membuat Camelia tersenyum melihat kegemasan Carissa.
Sedang disisi lain, terlihat seorang pria yang tak lain adalah Abra sedang bersiap-siap menuju ke rumah Camelia untuk meminta maaf karena tidak datang menemui Camelia tepat waktu sesuai janjinya.
"Bermain basket boleh juga. Lagian di belakang rumahnya kan ada lapangan basket," ucap Abra pada dirinya sendiri saat ia baru saja ingin melajukan mobilnya menuju ke rumah Camelia.
Abra pun masuk kembali ke dalam rumahnya untuk mengambil bola basket karena ia mengira Camelia tidak mempunyai bola lagi. Lagian pula ini sudah sangat lama, sekalipun Camelia masih memilikinya, mungkin bola basket itu sudah mengeras dan tidak bisa di pakai bermain lagi.
Selesai mengambil apa yang dibutuhkannya, Abra pun bergegas kerumah Camelia sambil bersenandung kecil didalam mobil selama perjalanan. Mendengarkan lagu-lagu jaman dulu yang saat ini masih saja populer.
Perjalanan yang tidak terlalu memakan waktu dan tidak macet, membuat Abra sampai disana selama dengan cepat. Saat ini pun ia telah berada didepan pintu masuk rumah Camelia hendak mengetuk pintu.
"Assalamualaikum," ucap Abra yang terdengar dari dapur rumah Camelia.
"Bunda, kayaknya ada tamu," ucap Carissa.
"Tamu? Sayang disini aja ya sama papa. Bunda bukain pintu dulu," ucap Camelia.
"Biar Carissa aja bunda," ucap Carissa.
"Yakin?" ucap Camelia.
"Yakin bunda. Aku kan anak bunda. Biar bunda masak aja,"
"Baiklah. Gih bukain pintunya," ucap Camelia.
"Oke," ucap Carissa segera turun dari kursi dan bergegas membuka pintu rumah.
Sedangkan Abra, ini adalah ketiga kalinya ia mengucapkan salam. Baru saja ia hendak pergi, dari dalam rumah ia mendengar jawab dari salamnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Carissa seraya membuka pintu rumah.
"Eh!" Abra kaget melihat anak kecil setinggi pinggangnya. Ia tak menyangka ternyata yang membukakan pintu untuknya adalah seorang anak kecil yang imut.
__ADS_1
"Camelia ada?" tanya Abra.
"Bunda? Ada kok uncle, mari masuk," ajak Carissa.
"Bunda?" tanya Abra dalam hati.
"Tunggu sebentar. Carissa panggilin bunda dulu," ucap Carissa.
"Iya."
Carissa bergegas pergi memanggil Bunda-nya. Untung saja Camelia sudah selesai dengan masakannya. Jadi ia bisa meninggalkan dapur.
"Sayang, kamu makan sama papa ya! Bunda temui tamu dulu."
Carissa hanya dapat mengangguk karena mulutnya kini telah dipenuhi oleh makanan kesukaannya.
"Anak pintar, baiklah bunda pergi."
Camelia melangkahkan kakinya menuju ruangan tamu. Sesampainya disana, ia terkejut melihat tamu yang telat datang ini.
"Oh ternyata kamu, Abra. Ada perlu apa?" tanya Camelia seraya mengambil tempat duduk didepan Abra.
"Aku minta maaf ngga bisa datang tepat waktu karena mendadak aku punya kerjaan yang tak bisa aku tinggalkan."
"Oh itu ... ngga papa kok. Santai aja."
"Emm ... ada yang ingin aku tanyakan tapi sebelumnya aku minta maaf," ucap Abra harap-harap cemas karena yang ingin ia tanyakan tak lain adalah tentang Carissa yang memanggil Camelia dengan sebutan bunda.
Sungguh kata itu terlalu mengusik ketenangan pikiran Abra sejak tadi dan kini ia sudah bertekad untuk menanyakannya walaupun ia tahu itu tidak terlalu penting bagi Camelia tapi tidak baginya. Baginya itu penting sekali.
"Apa ... apa ... anak kecil yang tadi memanggilmu dengan sebutan bunda itu anak kamu?" tanya Abra hati-hati.
"Emm ... iya dia anak aku. Cantikkan?" ucap Camelia.
"Beneran dia anak kamu?" tanya Abra serasa tak puas dengan jawaban Camelia.
"Iya beneran. Kamu ngga percaya? Dia baru tiba tadi pagi sama papanya dari Turki makanya waktu kamu datang, kamu ngga ngelihat dia," terang Camelia.
Abra cukup terdiam lama mencerna kata-kata Camelia barusan.
"Apakah sudah terlambat?" tanya Abra dalam hatinya
Abra tersadar dari pertanyaan hatinya saat ia mendengar suara Carissa memanggil Camelia dengan sebutan bunda lagi.
"Kamu dipanggil sama anak kamu tuh!"
"Mungkin dia mau minum," ucap Camelia pelan namun masih dapat didengar oleh Abra.
"Kamu pergi aja, aku tidak apa sendiri kok."
"Baiklah, aku tinggal dulu."
Saat Camelia hendak berdiri, Carissa kembali bersuara, "bunda ngga usah. Udah ada papa," teriak Carissa dari dapur.
"Camelia kalau begitu aku permisi pulang."
Jujur saja, Abra sudah tidak tahan ingin terus berlama-lama disini. Apalagi ia tau kalau suami dan anak Camelia telah datang dari Turki.
"Yakin hanya itu yang ingin kamu katakan tadi?" ucap Camelia sambil menaikkan satu alisnya menerka-nerka apa yang sebenarnya ingin lebih diketahui oleh Abra
"Sebenarnya bukan itu saja. Aku juga ingin ajakin kamu main basket. Tapi melihat kamu lagi kumpul keluarga, aku merasa tidak enak. Baiklah aku pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Abra
"Waalaikumsalam. Hati-hati dijalan," ucap Camelia.
...To be continued....
Jangan lupa Like, Vote & komentarnya ya readers. Sebagai timbal balik dari yang kalian baca 😅
__ADS_1
...By Peony_8298...