
Keesokan harinya, Kanaya dan Dilla kembali mengunjungi Camelia saat jam istirahat kantor. Tentu saja dengan memanfaatkan jam istirahat kantor yang lumayan singkat itu. Jauh sebenarnya tentang jam kantor, hal itu bukanlah masalah buat Dilla. Hanya saja, jika itu menyangkut Kanaya, maka dia pun tidak bisa apa-apa juga. Bagaimana tidak, Kanaya bahkan tidak diberikan jam istirahat lebih dikantor seperti ditempat kerja Dilla.
Dilla sesekali menoleh pada Kanaya yang sesekali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia tau pasti penyebab dari sahabatnya selalu melihat jarum jam berganti. Tentu saja agar nanti Kanaya tidak terlambat masuk kerja lagi. Dilla sebenarnya ingin membuat Kanaya pindah kerja saja, tapi mengingat Kanaya yang telah menandatangani kontrak kerja, membuatnya harus pasrah dan tidak melakukan apa-apa.
"Kay," panggil Dilla pelan.
"Iya, kenapa?"
"Kita balik aja ya, nanti kalau telat kamu kena marah lagi."
"Ngga papa. Waktunya masih ada kok. Lebih baik kamu perhatiin jalan saja, agar kita cepet sampai."
Dilla mengangguk. Ia pun kembali fokus ke jalanan raya. Karena jarak antara tempat kerja mereka berdua tidak terlau jauh dengan rumah sakit tempat Camelia dirawat, mereka tiba dengan cepat. Mereka kini melanjutkan perjalanan kekamar inap Camelia. Sesampainya mereka disana, mereka mengernyit heran saat tidak mendapati Camelia berada disana.
"Camelia belum pulang kan?" tanya Dilla.
"Ngga mungkinlah, kan kamu dengar sendiri dokter bilang apa kemarin?"
"La, terus Camelia kemana?"
Saat mereka masih sibuk berdebat, tiba-tiba pintu kamar inap Camelia perlahan-lahan terbuka yang membuat mereka terlonjak kaget.
"Astagfirullah, siapa itu?" gumam Dilla refleks memegang lengan Kanaya.
"Jangan buat aku takut juga dong, Dil," balas Kanaya dengan suara pelan.
Meraka berdua saling memegang tangan satu sama lain. Hingga, sedikit demi sedikit pintu itu akhirnya terbuka lebar menampilkan sosok yang mampu membuat mereka mendesah lega. Seketika itu juga mereka berlari mendekat dan langsung memeluk orang yang tengah memandang heran kedua gadis didepannya ini.
"Aaa, aku kira siapa," rengek Dilla.
"Ada apa dengan kalian?"
"Aaa tante, kok bilang gitu?" ujar Dilla semakin merengek. Pasalnya memang dia adalah orang yang penakutan.
"Kami terkejut tan, kami kira siapa," jelas Kanaya.
"Oalah, jadi kalian takut? Masa udah gede masih takut?"
Seketika Dilla melepaskan rangkulan tangannya dari Mama Lia. Ia tertunduk malu. Mau bagaimana lagi? Hal itu sudah mendarah daging pada dirinya. Untuk dihilangkan pun akan susah.
"Kalian mau bertemu Camelia?"
Mereka kompak mengangguk.
"Iya tan. Camelia kemana? Kami sudah mengelilingi kamar ini, tapi tidak menemukannya," ujar Kanaya.
"Dia bosan dikamar terus, jadi tante membawanya ke taman. Gih kesana, temani dia."
Kanaya dan Dilla mengangguk. Mereka pun menuju taman rumah sakit yang telah dikatakan Mama Lia tadi. Saat mereka tiba disana, Camelia sibuk memandangi pasien lainnya yang juga ada disana. Sesekali Camelia tersenyum kala melihat seorang anak kecil yang berlari kesana kemari.
Dilla dan Kanaya yang melihatnya juga lantas ikut tersenyum. Namun bukan tersenyum karena melihat anak kecil itu, melainkan tersenyum melihat sahabat mereka yang mulai membaik meski cairan infus masih terpasang di tangannya.
"Cam," panggil Dilla pada akhirnya.
Camelia tersenyum. Ia melambaikan tangannya pada kedua sahabatnya itu, lalu memanggilnya, "sini."
Kanaya dan Dilla lantas mendekat. Mereka berjalan di rerumputan pendek yang memang di khsusukan untuk taman rumah sakit. Sesampainya mereka didekat Camelia, mereka lantas duduk disamping Camelia.
"Udah baikan?" tanya Kanaya.
"Alhamdulillah udah."
"Jadi besok kamu udah bisa pulang dong?"
__ADS_1
"Iya, mungkin pagi."
"Yaa ... aku ngga bisa anterin kamu kalau gitu," sesal Kanaya. Pasalnya, ia harus masuk kerja besok. Ini pun ia curi-curi waktu untuk menjenguk sahabatnya ini.
"Kok kita samaan, jangan-jangan kita ...," canda Dilla sengaja tidak melengkapi perkataannya.
"Jangan-jangan kita jo ...."
Belum juga Kanaya melengkapi perkataannya, sudah lebih dahulu ada seorang lelaki yang sudah seperti teman mereka, malah memotongnya.
"Jodoh."
Sontak ke tiga gadis itu berbalik melihat siapa yang telah memotong ucapan Kanaya. Saat Kanaya melihatnya, ia mencebik tidak suka.
"Kamu lagi, kamu lagi. Kamu kenapa sih selalu saja buat aku kesal!" gerutu Kanaya.
"Ya karena itu adalah hobi baruku sekarang," ujarnya sambil memaksakan senyumnya.
Saat Kanaya ingin mengomentarinya lagi, Camelia dengan sigap melerainya. "Kay, udah."
Akhirnya Kanaya mengalah, ia tidak ingin Camelia bertambah sakit saja karena dirinya. "Iya, Cam. Maaf ya. Bukannya kesini buat kamu rileks, malah buat kamu jadi terganggu."
"Udah ngga papa."
"Oh iya Rev, dapat kabar dari mana kalau Camelia masuk rumah sakit?" tanya Dilla.
"Jaringan aku kan luas, jadi ngga perlu waktu lama aku bisa mengetahuinya."
"Aku serius Rev, jangan nunggu sepatu ku melayang dulu baru kamu mau bilang."
"Eh, eh jangan dong. Ntar aku ngga tampan lagi. Kamu mau tanggung jawab apa?"
"Makanya jawab."
"Jadi mana bingkisannya?" tanya Dilla sambil mengulurkan tangannya, meminta bikisan yang pastinya Revan bawa.
"Oh itu, ada di kamar Camelia."
"Disana ada apa aja?"
"Dil," tegur Camelia pada aksi tanya-tanya dadakan Dilla.
"Ngga papa, Cam. Aku tadi cuma bawa buah-buahan untuk Camelia saja," jawab Revan pada akhirnya.
"Buah-buahan aja? Kopi kedai kamu mana?"
"Ya ampun Dil, dia tuh mau jengukin Camelia. Bukan kamu," kekeh Kanaya.
"Tumben kamu bener," ujar Revan.
"Rev, jangan mulai lagi deh. Capek tau tiap bertemu bertengkar mulu," ungkap Kanaya.
"Ok, ok, ok. Aku minta maaf."
Dilla melongo saat mendengarkan Revan meminta maaf. Sungguh ia tak menyangka Revan akan mengatakan tidak kata itu.
"Kamu lagi kesambet apa, Rev?" tanya Dilla tanpa sadar.
"Aku kesambet kamu," jawab Revan cepat. Setelahnya, ia malah mendapatkan pukulan telak di lengannya oleh Dilla.
"Eh, eh, sakit tau Dil. Aku kan cuma bercanda."
"Tapi jangan gitu juga dong, takut tau."
__ADS_1
Bukannya simpati, Revan malah menertawakan Dilla yang begitu saja sudah merasa ketakutan.
"Eh, minggir dikit dong. Aku juga mau duduk. Capek tau berdiri terus."
"Ini duduk ditempatku aja, tapi tunggu beberapa saat dulu," ujar Kanaya. Revan mengangguk paham maksud dari Kanaya.
Kanaya memberikan kode mata pada Dilla. Dilla yang paham maksud Kanaya pun ikut berdiri.
"Cam," panggil Kanaya pelan.
"Iya aku paham. Gih sana, kalau ada waktu datang lagi nanti."
"Ok, ngga janji ya."
"Iya."
"Kalian udah mau pergi? Aku baru datang loh ini," komen Revan.
"Kanaya udah harus masuk kerja," balas Dilla.
"Kalau kamu?"
"Sebenarnya masih lama, tapi aku mau antar Kanaya dulu."
Revan mengangguk. Ia pun berdiri. "Biar kamu disini aja, nanti aku yang antar Kanaya balik. Ayo Kay."
Belum juga Dilla dan Kanaya mencerna perkataannya, Revan sudah lebih dahulu membawa Kanaya pergi bersamanya dengan memegang tangan Kanaya.
Kanaya sesekali menoleh belakang. Bukannya mendapat dukungan, ia malah mendapat senyum jahil kedua sahabatnya.
"Rev lepasin, " ujar Kanaya saat mereka tiba di parkiran.
"Hah, oh maaf aku tidak sadar."
"Awas lain kali," ancam Kanaya.
"Iya iya. Masuklah, aku akan mengantarmu."
Revan pun mengantar Kanaya ke tempat kerjanya. Selama perjalanan, Kanaya bolak balik melihat jam tangannya yang terus berputar. Ia semakin cemas tatkala jam istirahatnya telah usai, tapi dirinya masih belum tiba di kantor.
"Tenang saja ada aku."
"Duh Rev, gimana mau tenang. Aku sudah telat ini."
"Percaya padaku."
Entah mengapa, setelah Revan mengatakan dua kata itu dan melihatnya, memberikannya ketenangan. Ia seperti tidak merasa cemas lagi. Kanaya pun berangsur tenang kembali.
Sesampainya mereka di parkiran kantor. Kanaya berterima kasih pada Revan dan bergegas keluar dari mobilnya.
"Kay tunggu," ujar Revan ikut keluar dari mobilnya.
Kanaya berhenti dan balik melihat Revan. "Duh Rev, kenapa kamu ikut keluar juga. Aku udah telat ini."
"Baiklah, sampai jumpa lagi."
Kanaya mengangguk, ia pun meninggalkan Revan.
...To be continued ...
Jangan lupa like vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca.
...By Peony_8298...
__ADS_1