
Mereka bertiga pun beranjak dari tempat duduk mereka. Namun saat Camelia hendak berdiri, tiba-tiba Camelia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya.
"Ab," ucap Camelia.
"Cam, kamu kenapa?" tanya Abra panik. Abra pun mendekati Camelia.
"Kaki, kaki aku keram," ujar Camelia.
Abra pun berlutut didepan Camelia hendak memijat kaki Camelia agar keram dikakinya cepat hilang. Saat Abra hendak menyentuh kaki Camelia, Camelia secepat mungkin menghalangi tangan Abra.
"Tidak jangan, itu tidak sopan jika kamu sampai memegang kakiku. Nanti juga reda sendiri kok," tolak Camelia yang sebenarnya tidak ingin disentuh oleh Abra.
"Baiklah kalau begitu. Del, duduk dulu ya, nanti kamu capek berdiri terus," panggil Abra menoleh pada Delia yang tidak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri.
Delia mengangguk, ia pun duduk ditempatnya kembali. Sedangkan Camelia masih berusaha menghilangkan keram di kakinya dengan memijitnya sendiri.
"Masih keram?" tanya Abra.
"Udah mulai reda. Kita pergi aja, nanti dijalan akan reda sendiri kok."
"Tapi ...."
"Udah ayo. Kasian Delia juga ikut menunggu. Mungkin dia ada urusan yang mendesak juga," potong Camelia.
Abra pun mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya. Begitu pula dengan Delia dan Camelia yang masih berusaha melangkahkan kakinya walaupun masih berjalan tertatih-tatih.
Sesampainya mereka didepan lift, keram di kaki Camelia akhirnya sudah mereda. Hingga ia bisa berjalan normal kembali.
"Udah baikan Cam?" tanya Delia saat mereka telah berada didalam lift.
"Iya nih, udah baikan. Maaf ya, gara-gara aku, kamu udah ikut terganggu."
"Ngga papa, urusanku ngga terlalu mendesak kok."
Selama berjalan menuju parkiran, tidak ada lagi percakapan yang terjadi diantara mereka bertiga. Entahlah apa yang membuat mereka semua bungkam. Apakah karena kejadian di lift tadi? Memang di lima menit sebelumnya, sempat terjadi keadaan yang tidak mereka inginkan.
Saat itu, mereka masih berada didalam lift yang berada di lantai 9 menuju lantai 8, tiba-tiba lift yang membawa mereka turun, sedikit terguncang membuat dua orang wanita yang tidak lain adalah Camelia dan Delia menjadi panik seketika.
Bahkan tanpa sengaja dua wanita itu berteriak memanggil nama Abra. Abra tentu saja kaget. Bukan karet karena guncangan. Namun, kaget karena dua wanita itu memanggil namanya.
"Kalian jangan khawatir. Tidak apa-apa. Ada aku disini," ujar Abra.
Camelia dan Delia pun mengangguk canggung. Abra tersenyum melihat wajah kekhawatiran yang nampak jelas di wajah mereka.
__ADS_1
Memikirkan, membuat Camelia menghembuskan nafas berat. Begitupula dengan Delia yang kini malu-malu hanya untuk sekedar menyapa Camelia.
Apalagi Camelia, ia bahkan tidak berani melihat Abra yang tanpa diketahui olehnya, kalau Abra selalu saja mencuri pandang padanya sambil tersenyum. Camelia bukannya tidak tau, hanya saja ia berusaha menghiraukannya.
Hingga sampai di parkiran, Camelia pun memberanikan diri pamit pulang lebih dahulu pada mereka berdua.
"Hati-hati dijalan Cam," ujar Abra.
"Iya hati-hati, kapan-kapan kita kumpul bareng lagi ya," ujar Delia.
Camelia mengangguk. "Kalau begitu aku pamit pulang, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Abra dan Delia hampir bersamaan.
Camelia pun memasuki mobilnya, setelah memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil, Camelia melajukan mobilnya menjauh dari Abra dan Delia yang masih berbicara.
Entahlah apa yang mereka bicarakan. Ia tidak ingin memikirkan lebih jauh lagi karena ia sudah tidak enak jika ingin tinggal lebih lama. Lagipula ia tidak ingin menganggu pembicaraan mereka lebih lama lagi.
Sebenarnya, Camelia sempat menduga kalau Delia tadinya ingin membicarakan sesuatu dengan Abra. Hanya saja dirinya ada juga disana, jadi Delia agak segan untuk berkata-kata lebih jauh. Memikirkan membuat Camelia menggelengkan kepalanya. Mencoba menepis segala kemungkinan yang ada.
"Apaan sih Cam, jangan bawa perasaan yang dulu-dulu lagi," ujarnya pada diri sendiri.
Camelia yang hendak kembali ke toko, jadi menghentikan laju mobilnya saat ia melihat seorang ibu yang tengah kesulitan menyeberang jalan akibat banyaknya pengemudi mobil dan motor yang berlalu lalang.
"Mari bu, saya bantu menyeberang."
Ibu berbaju abu itu menoleh, ia tersenyum karena ada juga orang yang ingin membantunya menyeberang jalan yang terlihat menakutkan bagi dirinya yang tidak lagi terlihat muda.
...***...
Terlihat Papa Fauzi dan Mama Rania berada di taman kecil samping rumah sedang membicarakan perjodohan Abra dan anak teman Papa Fauzi yaitu Delia yang akan mereka adakan seminggu lagi di kediaman mereka.
Namun ditengah pembicaraan, Mama Rania jadi teringat dengan Camelia, ia rindu akan senyuman anak yang telah membuatnya jatuh hati juga seperti anaknya yang sudah tidak bisa bangkit lagi.
Ia tersenyum kala mengingat betapa sopan dan mandirinya Camelia. Ia seakan ingin menjadikan Camelia saja sebagai menantunya dan tidak menginginkan wanita lain.
Jika mengingat perkataan Papa Fauzi malam itu, sepertinya Mama Rania ingin memarahi Papa Fauzi habis-habisan bahkan mungkin sampai mendiamkannya. Namun, jika mengingat apa yang ingin dilakukannya dikemudian hari, membuat Mama Rania jadi tidak ingin mempermasalahkan hal ini lebih lanjut.
Bahkan Mama Rania ingin sekali berterima kasih pada suaminya yang telah menciptakan sebuah ide besar di kepalanya. Mama Rania tersenyum kala mengingat rencananya seorang diri yang akan ingin ikut mendukung rencana papa menjodohkan Abra dengan Delia.
"Sayang," tegur Papa Fauzi saat melihat Mama Rania senyum-senyum sendiri.
"Hem, kenapa? Mama sedang memikirkan orang lain yang telah membuat mama jatuh hati lagi."
__ADS_1
"Hah, Mama bermain dibelakang Papa?" Papa kaget, bagaimana bisa Mama Rania dengan entengnya mengatakan kalau Mama Rania sudah jatuh hati lagi pada orang lain.
"Huss, Papa mikirnya kok sembarang. Emang cuma lelaki yang bisa membuat perempuan jatuh hati? Emang jatuh hati bisa dianggap jatuh cinta juga?" tanya Mama secara beruntun membuat papa menggeleng. Tidak membenarkan semua pertanyaan Mama Rania.
"Ya, ngga juga sih, Ma!"
"Makanya Papa jangan cemburu buta. Nanti jatuhnya sakit hati. Apa papa pernah lihat Mama deket sama laki-laki lain?"
"Pernah sama siapa tuh namanya. Walau Mama sudah punya Abra dan Bella. Dia masih tetap ngejar Mama, kan!"
"Hehehe, namanya juga cinta mati, Pa. Ya, gitu jadinya," ujar Mama Rania yang mendapat pelototan mata dari Papa Fauzi.
"Tapi kan, hati Mama cuma untuk Papa seorang," lanjut Mama Rania mencoba menenangkan sang suami.
"Udah, Papa ngga mau bahas ini lagi. Bisa-bisa tekanan darah Papa naik."
"Ya sudah, ya sudah. Papa harusnya ngalah dari tadi," ujar Mama disela mengambil minumnya. "Emmm, segarnya. Papa mau?" lanjut Mama Rania menawarkan.
"Papa ngga minat."
"Yakin? Ini enak lho Pa dan ini yang terakhir yang mama buat. Ngga mau? Ya udah, Mama habiskan."
Baru saja Mama Rania hendak mendekatkan gelas ke bibirnya, Papa Fauzi sudah merebut gelas yang tinggal sedikit lagi bersentuhan dengan bibir Mama Rania.
"Gimana Pa? Enak kan!" ujar Mama Rania setelah Papa Fauzi meminum minuman segera itu.
"Papa beruntung banget ya bisa dapatkan Mama," ujar Papa.
"Yang ada, mama lah yang beruntung dapatkan papa."
"Ya, kita sama-sama beruntung," ujar papa menarik mama untuk bersandar padanya.
"Emmm Pa, nanti anterin mama pergi pesan brownies untuk acara perjodohan anak kita ya," ujar Mama Rania.
"Apapun untukmu," ujar papa sambil mencium pucuk kepala Mama Rania.
Mama Rania tersenyum, ternyata perjodohan yang dilakukan kedua orang tua mereka dulu berjalan indah sampai hari ini.
...To be continued....
Jangan lupa like, vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca 🤗
...By Peony_8298...
__ADS_1