Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Truth or Dare


__ADS_3

"Kamu pilih apa, Ab? Truth or dare?" tanya Dilla.


"Truth," jawab Abra mantap.


"Yakin? Dilla ngga main-main loh kalau ada yang ingin dia ketahui," saran Camelia.


"Ngga papa, aku siap."


"Baiklah tuan pemaksa. Satu pertanyaan untukmu. Kenapa kamu belum nikah sampai saat ini?" tanya Dilla.


Abra dan Revan tercengang mendengar pertanyaan Dilla, tapi tidak untuk Camelia dan Kanaya. Mereka bahkan sudah tidak kaget lagi jika pertanyaan itu akan masuk salah satu daftar pertanyaan yang hinggap di kepala Dilla.


Itu untuk pertanyaan pada Abra. Sedangkan jawabannya, Camelia dan Kanaya bisa tiba menebaknya. Semuanya harap-harap cemas mendengar jawaban yang akan Abra berikan. Hingga, semua gadis seperti menahan nafas, saat Abra mulai membuka bibirnya untuk berbicara.


"Aku ... aku belum menikah sampai saat ini karena aku masih menunggu seseorang," jawab Abra.


Dilla manggut-manggut mendengar jawab Abra. Kanaya dan Revan pun berekspresi biasa saja. Sedangkan Camelia tiba-tiba jadi deg-degan setelah mendengar jawaban Abra.


"Semoga putaran keduanya, botol bisa mengarah sama Abra lagi," ujar Dilla diselingi tawa yang menggelegar.


"Kenapa?" tanya Revan yang memang tidak tau apa-apa.


"Dasar, jawaban Abra itu masih menimbulkan pertanyaan tau. Nah ini cuma truth, jawabnya sekali aja lagi!" jelas Dilla.


"Baiklah, sekarang giliran aku," ujar Kanaya mengambil botol dan mulai memutarnya.


Permainan mereka berlanjut cukup seru, bahkan orang yang memilih kata dare pun diberikan tantangan yang tidak tanggung-tanggung. Mulai dari tantangan menyanyikan lagu baby shark dan mengikuti gerakannya. Sampai berteriak mengatakan 'kamu mengenalku' pada orang yang sedang lewat dijalan.


Camelia yang menilai kalau kata dare akan memberikan tantangan yang aneh-aneh pun memilih menjawab truth saat botol yang diputar orang terakhir yang tidak lain adalah Revan menunjuk kearahanya.


"Hehehe, Cam. Sekarang giliran aku untuk bertanya. Hemm, pertanyaan apa ya, yang cocok buat kamu," ujar Revan sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuk di dagunya seperti berpikir keras untuk memberikan Camelia pertanyaan.


Tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Karena ia tau, kesempatan ini biasanya tidak datang dua kali.


"Lama banget, cepetan dong. Putaran kedua udah nunggu nih," ujar Dilla tidak sabar menunggu kembali gilirannya setelah melihat dan mendengar jawaban dan tantangan dari mereka semua.


"Iya ... iya, sabar. Baiklah, Cam. Apakah selama ini kamu mempunyai seorang lelaki yang sangat kamu cintai?" tanya Revan menaik turunkan alisnya.


Tidak Dilla, Revan juga malah ikut-ikutan bertanya terkait perasaan. Namun pertanyaan itulah yang membuat permainan ini semakin seru.


"Punya," jawab Camelia singkat.


"Loh kok singkat banget! Siapa, Cam? Jawabnya lengkap dong," komentar Dilla tidak puas akan jawaban Camelia.


"Lelaki yang sangat aku cintai selama ini adalah ... adalah, Papa-ku," jawab Camelia tersenyum.


Camelia berusaha menahan tawanya saat melihat ekspresi tidak menyangka dari ke empat orang ini. Bahkan Revan mengembuskan nafas kasar.

__ADS_1


"Kalau begitu jawabnya mah, aku percuma bertanya. Semua orang pasti tau. Aku ulang pertanyaannya ya," ujar Revan tertawa cengegesan.


"Mana bisa begitu," sewot Camelia.


"Yah, aku kira ... aku kira ...," ujar Dilla terpotong.


"Kamu kira apa?" tanya Camelia.


"Tidak, tidak. Baiklah sekarang putaran kedua," ujar Dilla.


"Kayaknya aku udah ngga bisa ikutan lagi," ujar Kanaya.


"Kenapa?" tanya Revan penasaran.


"Lihat," ujar Kanaya menujukkan layar ponselnya.


Mereka berempat secara otomatis melihat layar ponsel Kanaya.


"Astagfirullah, udah mau jam 10 lagi," ujar Dilla.


Karena keasikan main, mereka tidak sadar kalau jam sudah menujukkan waktu kalau permainan mereka harus segera berakhir.


"Baiklah kita sudahi saja permainan ini," ujar Abra.


"Tapi ... tapi. Baiklah, daripada kena marah Mama," ujar Dilla.


Mereka pun menyudahi permainan truth or dare ini.


"Cam, kami pamit pulang dulu ya," ujar Dilla. "ayo, Kay," lanjutnya. Dua perempuan itupun berlalu dari sana.


"Cam, aku juga pergi ya, selamat malam," ujar Revan.


Camelia mengangguk. Kini tinggallah Camelia dan Abra yang masih duduk menikmati cahaya bulan yang amat terang ini.


"Kamu udah mau masuk?" tanya Abra.


"Bagaimana mau masuk, tamuku pun belum pulang juga," canda Camelia.


"Baiklah, kalau gitu aku pulang dulu. Kamu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk telponku," ujar Abra.


"Iya, terima kasih udah datang."


"Kamu masuklah lebih dulu, baru aku pergi."


Camelia mengangguk, ia pun berlalu meninggalkan Abra. Setelah melihat Camelia masuk, Abra pun juga ikut meninggalkan toko brownies Camelia.


Sepanjang jalan, Abra memikirkan jawaban truth dari Camelia tadi. Ia tidak puas akan jawaban yang telah Camelia berikan. Sebenarnya ia ingin berkomentar tentang jawaban Camelia karena ia tau pasti, setiap anak perempuan pasti mencintai papa mereka.

__ADS_1


Namun, apalah daya, ia terlalu malu untuk sekedar mengungkapkan isi hatinya. Ia tidak ingin menjadi bahan kecurigaan dari ke empat teman mainnya tadi.


"Argh, tenang Ab, tenang. Pasti suatu saat kamu akan mendapat jawaban yang ingin kamu dengar," ujar Abra terus fokus menyetir mobil menuju rumah.


Tidak jauh berbeda dengan Abra, Camelia juga terus saja memikirkan jawaban yang telah Abra katakan tadi. Ia bertanya-tanya siapa wanita beruntung yang selama ini telah Abra tunggu-tunggu.


Jauh didalam lubuk hatinya, ia merasa jika wanita yang dimaksudkan Abra adalah dirinya. Namun, ia takut akan kecewa untuk kedua kalinya. Jadi, ia pun terus menyangkal jika rasa itu kembali mengusik ketenangannya.


Camelia lantas pergi mengambil air wudhu, suatu rutinitas yang biasa ia lakukan menjelang tidur.


...*** ...


Sesampainya Abra di halaman rumahnya, ia melajukan mobilnya masuk kedalam garasi. Baru setelah itu, ia pun berlalu masuk kedalam rumah.


"Assalamualaikum," ujar Abra.


"Waalaikumsalam, abis dari mana? Kok pulangnya jam segini?" tanya Mama Rania.


Abra seketika menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Eh, Mama. Abra kira Mama udah tidur tadi."


"Habis dari mana?" Kini tangan Mama telah bersedekap didepan dada.


"Abra tadi abis kumpul bareng temen, Ma."


"Ya sudah sana, masuk tidur."


"Iya, Ma."


Abra pun berlalu masuk kedalam kamarnya. Didalam kamar, ia mengelus dadanya, lega karena Mama tidak mengomelinya lagi. Pasalnya, ia berjanji akan pulang cepat. Tapi apa ini? Karena keasikan main game sama mereka, Abra sampai lupa waktu. Untung saja Kanaya tidak sengaja melihat jam di ponsel.


Abra pun masuk ke dalam walk-in closet untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur. Setelahnya, ia masuk kedalam kamar mandi untuk berwudhu dan bersiap untuk tidur.


Nihil, mata Abra tidak mau terpejam. Ia sudah berusaha memejamkan matanya, namun semua usahanya sia-sia. Ia pun berlalu dari kamar menuju dapur untuk mengambil minum. Baru Setelah itu, ia pun kembali lagi ke kamarnya.


Sambil menunggu matanya lelah, Abra sibuk membaca dokumen penting perusahaan yang harus dirapatkan besok bersama semua ketua divisi perusahaan.


Saat ia sangat sibuk membuka dan membaca lembaran demi lembaran dokumen itu. Ditengah kesibukannya, akhirnya rasa kantuk itu pun menghampirinya juga.


Abra lantas menaruh dokumen itu diatas nakas dan menepuk tangannya dua kali. Setelahnya, seluruh kamarnya pun menjadi gelap gulita. Ia pun berlalu pergi ke alam mimpi seperti Camelia.


...To be continued. ...


Jangan lupa like, vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca.


...By Peony_8298...

__ADS_1


__ADS_2