Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Anda Ditolak


__ADS_3

Keesokan harinya, berhubung hari ini adalah hari sabtu, jadi Camelia cepat-cepat berangkat ke tokonya untuk membuat brownies pesanan pelanggan dan untuk dijualnya. Karena besok baginya adalah hari mencuci sedunia. Jadi, ia harus tetap stand by dirumah. Membersihkan, mencuci, mengurus bunga-bunganya dan masih banyak lagi. Camelia pun keluar dari kamarnya yang telah siap untuk pergi bertempur didapur tokonya.


"Ma, Cam udah mau pergi."


"Iya nak, hati-hati dijalan. Kalau bisa usahakan pulang cepat ya," ujar Mama Lia.


"Iya Ma, Camelia usahain. Aku pergi dulu Ma. Assalamualaikum," ujar Camelia seraya mencium tangan Mama Lia.


"Waalaikumsalam."


Mama Lia terus memandangi anaknya sampai pada mobil yang biasa dikendarai oleh Camelia menghilang dari pandangannya. Mama Lia pun berlalu masuk kedalam Rumah.


Diperjalanan, Camelia singgah membeli beberapa bahan-bahan pembuatan brownies. Tidak disangka, ia malah bertemu dengan Revan yang juga membeli beberapa bahan untuk kedainya.


"Cam, kamu disini juga? Ngga nyangka ya, kita bisa ketemu disini. Jangan-jangan kita ...," ujar Revan sengaja menggantung ucapannya.


"Jangan-jangan kita temenan," kekeh Camelia membuat Revan ikut tertawa juga.


"Padahal aku ngga mau bilang gitu loh!"


"Kamu belanja untuk keperluan kedaimu?" ujar Camelia mengalihkan pembicaraan mereka.


"Iya. Pasti kamu juga," tebak Revan.


"Iya, baiklah. Aku kesana dulu, mau ambil bahan yang lain," ujar Camelia sebeljm pergi mengambil bahan-bahan lainnya.


"Hem."


Mereka berpisah. Masing-masing pergi ke rak bahan-bahan yang mereka butuhkan masing-masing. Setelah cukup membeli bahan brownies dan cup cake, Camelia pun pergi ke kasir untuk membayar semua belanjaannya.


Ia menghentikan langkah kakinya saat melihat Revan sedang berada di antara para antrian. Sedetik kemudian, Camelia kembali melangkahkan kakinya. Jadinya, Camelia persis berada dibelakang Revan.


"Halo Rev," sapa Camelia.


"Oh, hai Cam. Udah selesai belanja juga rupanya," ucap Revan seraya menoleh pada Camelia.


"Iya nih, untung bahannya mudah didapat. Jadi cepat belanjaannya. Oh Rev, maju!" tunjuk Camelia didepan Revan yang sudah kosong.


Revan melihat kedepan, lalu memajukan troli belanjaannya dan menyodorkan semua belanjaannya pada kasir untuk segera dihitung jumlah semuanya.


"Ini," ujar Revan seraya menyodorkan kartu kreditnya.


Petugas kasir itu pun menggesek kartu kredit dari Revan. Sambil menunggu, Revan sedikit membuka ponselnya, barang kali ada pesan mendesak yang masuk di penerimaan ponselnya.


"Maaf, kartu kredit Anda ditolak," ujar petugas kasir membuat Revan terkejut.


"Coba sekali lagi," ujar Revan.

__ADS_1


Petugas kasir itu sudah mencoba beberapa kali seperti instruksi Revan. Tapi, selalu saja hasilnya ditolak.


"Kok bisa? Kemarin masih bisa digunakan. Mana tidak bawa kartu debit lagi," ujar Revan.


"Pakai kartu ini aja, Mbak," ujar Camelia menyodorkan kartu atm-nya pada petugas kasih.


"Ngga usah Cam, aku belinya lain kali aja," tolak Revan.


"Udah ngga apa, gunakan kartu itu aja Mbak."


"Baiklah, pakai itu aja dulu Mbak," ujar Revan pada akhirnya.


Petugas kasir itu pun menggesek kartu atm Camelia.


"Terima kasih Cam, secepatnya aku akan kembalikan."


"Tidak juga tidak apa-apa, tapi setiap hari harus ada kopi di toko ku," canda Camelia membuat Revan tersenyum.


"Sudah selesai," ujar petugas kasir seraya memberikan kartu atm pada Camelia.


"Sekalian saya juga Mbak," ujar Camelia.


"Cam, aku keluar lebih dulu ya," ujar Revan diangguki oleh Camelia sebagai jawaban.


Revan pun pergi meninggalkan Camelia yang sedang menunggu barang belanjaannya di hitung.


"Cam," panggil Revan.


"Oh Rev, aku kira kamu udah pulang."


"Aku nungguin kamu, aku ingin minta nomor rekening mu. Biar nanti langsung ku transfer saja."


Camelia pun menyebutkan nomor rekening banknya pada Revan yang senantiasa mengetik nomor yang disebutkan Camelia.


"Pasti nilai poin aku di mata kamu sudah turun gara-gara insiden ini," ujar Revan.


Camelia terkekeh, ia tidak menyangka Revan akan mengangkat topik pembicaraan ini untuk membuatnya tertawa.


"Yakin di mata aku?" canda Camelia.


"Iya di mata kamu, secara kamu yang ada didepanku," ujar Revan gugup. Entah mengapa ia seketika gugup, padahal ia tau perkataan Camelia barusan adalah candaan saja.


"Aku kira ... aku kira di mata orang lain. Secara kan aku dan dia temenan."


Revan hanya tersenyum menanggapi candaan Camelia. "Baiklah, terima kasih telah menolongku."


"Sama-sama. Kalau begitu, aku pamit. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Sampai ketemu lagi."


Camelia mengangguk. Ia pun pergi meninggalkan Revan menuju mobilnya sendiri tanpa bertanya lebih lanjut mengapa kartu kredit Revan sampai ditolak. Ia berpendapat hal itu bukalah urusannya. Lagi pula, ia bukanlah orang yang suka mencampuri urusan orang lain dan ia juga bukalah orang dengan keingintahuan tinggi, jika menyangkut persoalan hidup orang lain.


Sesampainya di mobilnya, Camelia memasukkan barang belanjaannya di kursi belakang. Baru setelah itu, ia pun masuk kedalam mobil. Menyalakan mesin dan melajukannya.


Saat mobilnya melewati Revan, Camelia menurunkan kacanya dan melambaikan tangan pada Revan. Ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tokonya.


Sesampainya disana, Riana dan Sari begitu sigap membatu Camelia membawa barang belanjaan ke dapur. Ia seperti sudah dari tadi menunggu kedatangan bos kesayangan mereka.


"Terima kasih," ujar Camelia setelah barang belanjaannya sudah aman di dapur toko.


"Mbak Cam, jadi hari ini ngga terima pesanan untuk besok dong?" ujar Riana.


"Iya Ri, kalau mau berarti besok kamu harus melupakan hari istirahat seharianmu dirumah," ujar Camelia.


"Mbak Cam, selalu aja bercanda. Aku kan serius," sunggut Riana mengerucutkan bibirnya.


Camelia dan Sari otomatis tertawa. "Kamu sih! Udah tau besok libur, masih bertanya juga," sanggah Sari.


"Ya, siapa tau kan jadwalnya berubah gitu."


"Kayak hati kamu yang selalu berubah-ubah," ejek Sari bercanda.


"Udah, kayaknya aku ngga cocok berada didapur terus. Aku mau kedepan saja jaga toko. Siapa tau ada pembeli yang kepincut lihat aku. Kalau Sari didapur aja, berteman tepung dan bahan lainnya," kesal Riana.


Seketika Sari dan Camelia tertawa mendengar perkataan Riana. Untung saja Sari hanya menanggapi perkataan Riana sebagai Candaan. Kalau tidak, dapur Camelia akan menjadi ajang pertempuran dua karyawannya itu.


"Udah sana, lama-lama Mbak akan tugaskan kamu didapur juga," ancam Camelia yang sebenarnya hanya Candaan untuk Riana.


"Eh ... eh, Mbak Cam. Jangan dong, gimana rencana Riana mau berjalan lancar kalau Riana ada didapur. Riana pergi dulu deh!"


Riana yang baru sampai di depan toko, kembali masuk kedalam saat dirinya mengenali seseorang yang sedang menuju ke toko Camelia.


"Mbak Cam, Mbak Cam!" panggil Riana sepanjang menuju dapur.


Camelia yang mendengar panggilan Riana, secepat mungkin menghampirinya. Ia begitu terkejut dengan suara panggilan Riana yang begitu tidak biasa.


"Ada apa Ri?" tanya Camelia ikutan terkejut.


"Itu ... itu Mbak Cam. Aduh gimana ya, Mbak Cam ikut aku ajalah! ayo Mbak Cam," ajak Riana sambil menarik tangan Camelia agar mengikutinya kedepan toko.


...To be continued. ...


Jangan lupa like, vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca 🤗


...By Peony_8298...

__ADS_1


__ADS_2