Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Dilema


__ADS_3

Maaf lahir & batin, ya. maaf baru bisa up lagi 🙏


...***...


"Terkait dengan kedatangan kedua orang tua mas Atha juga?" tebak Camelia sekali lagi. Namun kali ini papa tidak terkejut lagi dengan pertanyaan anaknya.


"Iya. Percayalah nak, papa tidak mungkin menyerahkan kamu pada orang yang salah."


"Cam percaya, tapi ... tapi ...," ujar Camelia terpotong oleh ucapan Papa Carel selanjutnya.


"Papa tau. Namun seiring berjalannya waktu perasaan itu akan timbul pada akhirnya, nak."


"Biar Cam pikirkan lebih jauh lagi pa."


"Iya. Kapanpun kamu mau bicara, papa akan siap. Istirahatlah lebih awal. Malam ini biar Carissa tidur dengan kami."


Camelia mengangguk. Camelia pun pergi dari hadapan papanya dan menuju ke kamarnya sendiri. Saat dirinya baru saja memutar knop pintu, dari arah yang berlawanan, knop pintu itu juga tengah bergerak ke bawah menandakan kalau ada juga yang tengah memutarnya.


Pintu terbuka, menampilkan Carissa dengan Mama Lia. Carissa heran saat melihat mata bundanya begitu sembab.


"Bunda, habis nangis?"


Camelia tersenyum menaggapi, namun senyumnya itu sedikit ia paksakan untuk menenangkan Carissa.


"Tidak apa. Oh iya, malam ini Carissa tidurnya sama opah dan omah ya."


"Iya bunda," ujar Carissa dengan begitu riangnya.


"Papa bilang?" tanya Mama Lia.


"Iya ma."


"Istirahat yang baik ya, sayang. Mama sama Carissa pergi dulu." Mama Lia pun menggandeng tangan Carissa untuk mengikutinya.


Seperginya Mama Lia dan Carissa, Camelia berlalu masuk ke dalam kamarnya. Disana, air matanya kembali mengenang di pelupuk matanya. Mengapa ... mengapa rasanya harus se-sesak ini. Rasanya ini jauh lebih menyesakkan saat tau ternyata Abra telah di jodohkan dengan Delia.


Ia tau, tidak seharusnya ia memendam perasaan seperti ini. Namun sekuat apapun ia mencoba menahannya, perasaan ini tidak bisa menjauh darinya. Perasaan ini bagaikan angin yang berhembus tak tentu arah yang bisa membuat siapapun harus waspada ataupun malah menikmatinya.


Camelia pun berjalan pelan meninggalkan pintu kamar dan menuju beranda kamarnya. Sesampainya disana, ia menghirup udara sebanyak mungkin untuk mencoba menghilangkan rasa sesak ini. Namun hasilnya tetap nihil. Seberapa banyak pun ia menghirup, rasanya akan tetap sama.


"Apakah rasanya harus se-sakit ini? Mengapa ... mengapa! Mengapa kami harus dipertemukan lagi, jika akhirnya harus seperti ini," lirihnya tanpa sadar.


Camelia membekap mulutnya dan berlari masuk kedalam kamar. Ia luruh dan sekali lagi menekuk lututnya menenggelamkan wajahnya disana - seperti kejadian tempo hari di ruangan pribadi di toko brownies-nya.


Ia tidak menyangka akhirnya ia juga seperti Abra. Dijodohkan dengan kedua orang tua masing-masing tanpa tahu menahu dari awal. Padahal jauh didalam impiannya, ia ingin menemukan sendiri seseorang yang benar-benar mau memperjuangkannya dan mau berbagi seluruh hidup dengannya.


Memang pastinya - jika suatu saat Atha menjadi Pria masa depannya, pasti Atha juga akan berbagi kisah hidup dengannya. Namun, apakah perasaan ini akan sama pada akhirnya? Satu pertanyaan itulah yang membuat Camelia enggan untuk berpikir lebih lanjut.


Ia lalu berdiri masuk ke dalam kamar mandi hendak membuat dirinya segar kembali dengan cara berwudhu. Selesai itu, ia pun beringsut naik ke tempat tidur. Mengistirahatkan diri dan pikiran yang lelah.


...***...


Keesokan paginya, seperti biasa Camelia sudah bersiap-siap untuk pergi ke toko brownies-nya. Carissa yang sudah siap juga pun kini telah berada di didepan tv menikmati tonton kartun anak kecil berbaju nan berpenutup kepala pink itu. Carissa sesekali cekikitan tatkala melihat anak kecil itu membuat seekor beruang kerepotan karena tingkahnya. Pandangannya baru teralihakan saat Camelia sudah berada didekatnya sambil mengelus pundaknya.

__ADS_1


"Bunda," panggilnya.


"Bunda udah mau pergi. Carissa masih mau nonton dulu?"


"Tidak, Carissa mau ikut bunda."


"Baiklah, gih salim dulu sama omah."


Carissa mengangguk patuh. Ia lalu berlari masuk kedalam kamar Mama Lia.


"Omah," panggilnya sambil mendekat.


"Udah mau pergi?"


"Iya, omah."


"Hati-hati disana ya. Jangan buat bunda kerepotan."


Sekali lagi Carissa mengiyakan perkataan Mama Lia seraya meraih tangan untuk diciumnya sebagai rasa sayang sekaligus tanda patuhnya pada Mama Lia.


"Carissa pergi dulu, assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam, sayang."


Carissa pun berlalu meninggalkan Mama Lia dan menuju ke arah Camelia.


"Ayo kita pergi bunda," ujar Carissa membentuk pelangi terbalik di wajahnya.


"Ayo," kata Camelia seraya meraih tangan Carissa. Mereka berdua pun pergi ke toko brownies Camelia.


Namun Camelia tau hal itu tidak akan pernah terwujud sebelum adanya ikatan diantara dirinya dan Atha. Tentu saja ia berkata seperti itu saat dengan tenangnya Carissa mengatakan mereka akan menginap dikamar yang sama.


Dengan mengatakan hal itu, membuat Camelia tersenyum lucu. Ia tidak mengira pemikiran Carissa akan sampai ke sana untuk ukuran umur anak sepertinya.


Selama perjalanan ini pula, tak jarang Carissa diam memandangi jalanan yang kian ramai oleh kendaraan lain. Carissa seperti tengah menikmati hal yang baru dilihatnya ini dengan angin sepoi yang masuk lewat jendela mobil yang terbuka itu. Carissa baru tersadar dari rasa kagumnya saat Camelia membelokkan mobil menuju tokonya. Camelia yang tau Carissa sedikit terkejut  pun memelankan laju mobilnya.


"Kenapa sayang?" tanya Camelia dengan pandangan masih terarah pada jalanan. Namun sekali-kali ia juga juga menoleh - hendak melihat apa yang dilihat oleh anak angkatnya itu.


"Tidak apa-apa bunda. Bunda, kita akan segera sampai?"


"Iya tidak lama lagi. Lihat didepan, toko bunda sudah kelihatan."


Carissa mengangguk dengan senang.


Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai didepan toko brownies Camelia. Camelia lalu memarkirkan mobilnya disamping toko. Baru sesudahnya, mereka bersama keluar dari mobil.


Saat Camelia baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko, tiba-tiba Riana yang melihatnya berlari memeluk Camelia.


"Alhamdulillah. Akhirnya mbak datang."


"Iya alhamdulillah, Ri. Gimana keadaan toko selama mbak ngga datang."


"Ngga ada yang perlu dikhawatirkan mbak. Semua berjalan lancar tanpa hambatan seperti saat Sari membuat brownies tanpa adanya mbak Cam."

__ADS_1


Camelia tertawa sambil menggelengkan kepalanya pelan. Sari yang mendengar namanya disebut, secepatnya berlari keluar. Sama seperti Riana, ia berlari memeluk Camelia.


"Aaa akhirnya mbak datang. Mbak udah ngga papa kan?" tanya Sari senangnya bukan main.


Saat Sari baru saja melepaskan pelukan mereka, Carissa terlonjak senang saat tanpa sengaja ia menoleh ke belakang dan malah melihat Abra berjalan ke arah mereka.


"Uncle," teriaknya sambil berlari ke arah Abra sambil merentangkan tangannya untuk mendapat gendongan dari Abra.


Abra dengan sigap membawa Carissa ke gendongannya. Dan karena gemasnya, ia mencium pipi Carissa bertubi-tubi tanpa memberi ampun hingga membuat Carissa kegelian.


"Amcayı durdur," kata Carissa yang malah membuat Abra melongo.


Camelia yang kian mendekat tersenyum lucu melihat ekspresi wajah Abra yang seperti orang kebingungan.


"Amcayı durdur?" ulang Abra dengan suara pelan.


Camelia yang sudah sampai didekat mereka langsung saja mengartikan ucapan Carissa tadi. "Berhenti uncle artinya dari bahasa Turki."


Carissa tertawa terbahak-bahak setelahnya.


"Kamu mengerjai uncle, ya!" kata Abra memberikan Carissa tatapan jail. "Terima ini dari uncle." Abra pun lanjut memberikan Carissa ciuman bertubi-tubi di pipinya.


Barulah aksi Abra itu berhenti setelah Camelia menyuruh mereka untuk duduk dulu.


"Anak nakal," kata Abra sambil menoel hidung Carissa. Lalu ia melanjutkan, "Suatu saat uncle pasti akan membalasnya."


"Tidak mungkin, karena Carissa dapat tau artinya," elak Carissa tertawa.


"Yakin uncle akan memakai bahasa Turki?"


Carissa diam sambil melihat wajah Abra yang tersenyum penuh kemenangan.


"Uncle mau pake bahasa apa?"


"Rahasia. Kalau udah beritahu Carissa nanti ngga seru," ujar Abra sambil membawa Carissa untuk duduk mengikuti Camelia yang telah mendahului mereka.


"Ada perlu apa kamu kemari?" tanya Camelia setelah Abra duduk.


"Aku kesini ingin membeli brownies mu, sekalian bertemu Carissa."


"Mau pesan berapa, biar aku ambilkan."


"Entar aja, Cam. Aku masih mau berlama-lama disini."


"Kalau gitu, kalian ngobrol aja," ucapnya pada Abra. Ia pun kemudian beralih pada Carissa dan mengatakan, "Sayang bunda masuk ke dalam dulu ya."


"Iya bunda."


"Cam," panggil Abra.


Camelia menoleh pada lelaki yang terlihat tampan dengan balutan jas kerjanya itu.


...To be continued ...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca. Maaf baru up sekarang 🙏


...By Zolovelypeony ...


__ADS_2