
Halo, Assalamualaikum. Maaf ya baru sempat up lagi. biasanya sibuk didunia nyata saya. tapi jangan khawatir meski up cerita tidak seperti biasanya lagi, tapi Insya Allah saya akan tetap lanjutkan cerita ini sampai selesai. Baiklah sekian info dari saya.
Selamat Membaca 🤗
...***...
Lalu, dengan perlahan Papa Carel melanjutkan perkataannya, "kedua keluarga telah sepakat, dari datangnya kedua orang tuamu nanti - kami berniat menjodohkanmu dengan Camelia."
Atha tampak tak terkejut dengan perkataan Papa Carel barusan karena ia sudah menduganya tadi - sewaktu perjalanannya datang kemari. Berbeda dengan orang yang tengah berdiri dibalik pintu bercat kayu itu. Ia tidak menyangka hari seperti ini akan datang lebih cepat dari perkiraannya.
Ia adalah Camelia. Sebenarnya Camelia hendak membawakan teh untuk papa dan Atha. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar papa membicarakan maksud kedatangan kedua orang tua Atha kesini untuk perjodohan ini.
Perlahan matanya mulai berkaca-kaca sampai air mata itu telah meleleh jatuh melewati pipinya yang agak kemerah-merahan itu. Lalu, secepatnya ia menghapus jejak air mata itu, sehingga tidak ada orang yang sempat melihatnya.
Camelia berusaha menenangkan dirinya sebelum mengetuk pintu ruangan kerja sang papa. Tok ... tok ... tok ....
"Masuk."
Terdengarlah suara papa dari dalam ruangan kerja. Perlahan Camelia memutar knop pintu dan berlalu masuk kedalam dengan langkah biasa. Sesampainya disana, Camelia meletakkan cangkir berisi teh didekat papa dan Atha.
"Terima kasih nak," ujar Papa Carel.
"Iya pa. Cam keluar dulu."
Cemelia berlalu dari sana dan hendak pergi ke beranda kamarnya. Namun, sebelum kesana - ia melewati dua orang yang lagi menonton film yang lagi tayang.
"Bunda," panggil Carissa.
Camelia menoleh, ia tersenyum manis pada Carissa dan melanjutkan jalannya kembali.
"Bunda kenapa ya, uncle?" tanya Carissa pada Abra.
"Mungkin bunda lelah, mau istirahat sebentar."
Carissa mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Lalu ia pun kembali melanjutkan acara menonton tv-nya. Tanpa memperdulikan lelaki di sisinya yang terlihat gusar setelah kepergian Camelia. Merasa ia sudah cukup lama berada disini, Abra pun hendak pamit pulang pada Mama Lia.
"Omah Lia dimana nak?" tanya Abra.
"Omah ada di dapur uncle."
Abra mengangguk. Ia pun berlalu menuju dapur - hendak pamit pulang pada Mama Lia.
"Tan," panggil Abra pelan.
Mama Lia menoleh. "Iya nak."
"Abra pamit pulang dulu tan," ujar Abra seraya mengulurkan tangannya hendak berpamitan pada Mama Lia.
"Ya udah. Hati-hati dijalan ya nak."
__ADS_1
"Iya tan. Kalau gitu Abra pamit. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, maaf ya tante tidak mengantarmu sampai ke depan."
"Iya tan, tidak apa."
Setelahnya, Abra pun pergi dari sana dan berlalu keluar dari rumah Camelia. Carissa yang melihatnya berjalan keluar, mengikutinya sampai ke depan pintu.
"Hati-hati dijalan uncle. Besok kita latihan lagi ya."
Abra tidak mengangguk dan juga tidak mengiyakan karena ia tidak ingin membuat Carissa berharap lebih.
"Dada uncle," ujar Carissa seraya melambaikan tangannya. Abra pun ikut membalas lambaian tangan Carissa sebelum masuk ke dalam mobilnya.
...***...
Di beranda kamarnya, Camelia menikmati angin malam ini. Serasa kesesakan yang tadi dirasakannya berangsur menghilang tatkala angin malam membelai lembut dikulit-kulitnya. Ia sedikit tersentak kaget saat Carissa memanggil dirinya.
Camelia menoleh pada asal suara. "Sini," panggilnya pada Carissa agar mendekat.
"Bunda sedang apa?"
"Bunda hanya melihat-lihat saja. Uncle Abra udah pulang?"
"Iya, baru saja."
Camelia mengangguk dan membawa Carissa duduk didekatnya. Disana, Carissa memegang pagar pembatas beranda. Ia pun turut menikmati angin malam ini tanpa takut terserang flu keesokan harinya. Langit malam yang terlihat cepat ini mampu membuat bingang-bintang turut menemani mereka.
"Bunda, kapan ya bunda bisa tinggal lebih lama dengan papa dan Carissa?"
Camelia pun turut melihatnya dan mengusap kepalanya sambil tersenyum. "Emm bunda tidak tau."
"Semoga secepatnya. Aamiin," doanya yang tiba-tiba itu.
Lalu, sekali lagi pintu kamar Camelia terbuka. Menampilkan sosok Mama Lia yang ekspresi wajah nya tidak dapat Camelia mengerti.
"Mama,"
"Bisa ikut mama sebentar?"
"Iya ma."
"Mama tunggu didepan tv ya. Carissa, yuk ikut omah," ujar mama seraya mengulurkan tangannya agar Carissa mau ikut dengannya.
Sambil berjalan dengan langkah kakinya kecil, Carissa pun mengikuti langkah mama menuju lantai bawah. Sampainya mereka di lantai dasar, Carissa berlari menemui papanya.
"Papa sudah mau pulang?"
"Iya, dirumah jangan buat omah, opah dan bunda repot ya."
__ADS_1
"Iya pa. Carissa janji."
"Baiklah, Papa pulang dulu," ujarnya seraya mencium secara bergantian pipi anaknya. "Ma, Atha pulang dulu. Assalamualaikum," lanjutnya pada Mama Lia.
"Waalaikumsalam."
Tidak lama setelah kepergian Atha, Camelia baru keluar dari kamarnya - menuju tempat papa dan mama menunggunya untuk membicarakan sesuatu hal yang penting. Saat Camelia baru mencapai anak tangga pertama, ia sedikit terhenti saat kembali mengingat pandangan yang Abra berikan padanya - sewaktu Atha menolong dirinya yang hampir terjatuh.
Entahlah, tatapan itu terus saja mendatanginya tanpa henti. Bahkan sudah lewat beberapa jam, namun tatapan itu masih saja membuatnya teringat. Camelia pun menepis pikiran itu dengan kembali melanjutkan perjalanan menuju depan tv, tempat biasa keluarganya berkumpul.
"Nak, sini dekat papa," panggil Papa Carel menepuk sofa di sebelahnya. Camelia mengangguk. Ia pun mengambil tempat duduk disamping papanya.
"Papa mau membicarakan sesuatu tentang masa depan mu, nak," ujar Papa Carel seperti merasa berat untuk mengatakannya pada putri semata wayangnya ini.
"Tentang perjodohan Cam?" tebak Camelia yang memang sudah tau apa yang hendak dikatakan oleh papanya.
Papa Carel tentu terkejut, namun papa bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya dengan sangat baik. Papa lalu mengambil tangan Camelia untuk digenggamnya.
"Ma, bisa bawa Carissa menjauh dulu?"
Mama pun membawa Carissa ke beranda kamar Camelia. Untung saja Carissa adalah tipe anak yang penurut. Jadi saat mama mengajaknya, ia mengikuti langkah mama menjauh dari dua orang yang ia sayangi.
"Kamu mendengar pembicaraan papa tadi?"
"Iya, maaf Camelia tidak sengaja. Cam tadi mendengarnya saat Cam membawakan papa teh."
"Jadi kamu sudah mendengar semuanya?"
"Tidak. Cam hanya mendengar sedikit saja," ujarnya masih terus menunduk - tidak ingin papa melihat perubahan mimik wajahnya.
"Kamu anak papa satu-satunya. Untuk itulah papa tidak ingin memberikan putri papa ini bukan pada orang yang tepat."
Camelia mengangguk dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Entah, ia tidak tau harus merespon apa dengan nada bicara papa seperti tidak ingin melepaskannya.
"Papa tau, kamu hanya menganggap nak Atha sebagai teman saja tidak lebih. Tapi melihat kecocokan kalian selama ini, papa rasa nak Atha cocok denganmu. Apalagi Carissa juga sudah sangat denganmu."
"Iya pa." Dengan suara yang sedikit serak, Camelia menjawab Papa Carel.
Papa Carel pun mengelus lembut kepala Camelia sayang. Jujur sebagai orang tua laki-laki dari seorang putri dan anak satu-satunya, Papa Carel mau tidak mau harus memikirkan masa depan putrinya dengan sangat matang. Untuk itulah, papa menerima perjodohan anaknya dengan Atha saat kedua orang tua Atha mengusulkan hal tersebut.
Lama terdiam, papa pun kembali melanjutkan perkataannya, "Ada satu hal yang papa belum beritahukan padamu," ujar Papa Carel membuat Camelia mendonggakkan kepalanya, melihat tepat di manik mata papa.
"Terkait dengan kedatangan kedua orang tua mas Atha juga?" tebak Camelia sekali lagi. Namun kali ini papa tidak terkejut lagi dengan pertanyaan anaknya.
"Iya. Percayalah nak, papa tidak mungkin menyerahkan kamu pada orang yang salah."
"Cam percaya, tapi ... tapi ...."
...To be continued ...
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen ya gais.
...By Zolovelypeony...