
Tidakk lama kemudian anak dari klien-nya baru datang dari toilet dan mengambil tempat duduk disamping papanya
"Maaf pa, aku kelamaan," ucapnya.
"Kamu ...," ucap Abra terpotong.
"Abra ...," ucap seorang wanita.
"Lama tak bertemu. Apa kabar? " tanya Abra seraya mengulurkan tangannya.
"Alhamdulillah baik, kamu?" tanyanya balik.
"Alhamdulillah baik juga," jawab Abra.
Abra terdiam sejenak setelah berjabatan tangan dengannya.
"Mengapa kata-kata itu kembali mengusikku? Dari mana asalnya?" tanya Abra dalam hati saat ia kembali teringat kata-kata yang lansung ada didalam hatinya yang mengatakan 'Abra, apa kabar' entah dari mana asalnya kata-kata itu.
Tapi ia sangat yakin bahwa seseorang telah mengatakan seperti itu, namun ia tidak tau siapa orangnya.
"Apa mungkin delia? Tapi bagaimana bisa? kami telah bertemu sekarang!" lanjutnya lagi dalam hati
"Anda tak apa?" tanya pak Samuel.
"Aku tidak apa. Bisa kita mulai saja?"ucap Abra.
"Ya tentu," ucap pak Samuel.
Pak Samuel pun mulai menjabarkan penjelasan pada Abra agar Abra menyetujui kerjasama dengannya. Dua orang lelaki berbeda usia itu terlihat serius sekali. Delia yang berada disana, hanya bisa memainkan ponselnya saja.
Setelah hampir dua jam lamanya, pertemuan mereka telah usai. Pak Samuel pun pamit lebih dahulu, sedangkan Delia tinggal berbincang dengan Abra.
"Apa kamu sudah pernah bertemu Camelia?" tanya Delia saat sedikit lama membuka percakapan tentang Camelia.
"Tidak, sejak saat itu aku benar-benar kehilangan jejaknya, ditambah lagi tante Lia benar-benar menutup rapat tentang dia, dimana dia berada? Kapan dia kembali? Mengapa dia memilih pergi? Aku tidak tau. Dia bagaikan ditelan bumi, tidak ada informasi sedikit pun tentangnya. Aku tidak tau harus mencarinya kemana lagi."
"Maaf, semua gara-gara aku, kalian menjadi terpisahkan seperti ini."
"Tidak, bukan karena kamu Delia tapi karena aku. Aku yang bodoh saat itu, tidak menyadari betapa pentingnya dia bagiku."
"Biar bagaimana pun itu semuanya terjadi saat aku berada ditengah-tengah kalian kan? Jadi aku tetap merasa bersalah." ucap Delia tertunduk, merasa ikut bertanggung jawab.
"Aku dan dia hanya bersahabat tidak lebih jadi kamu tak salah apapun. Jangan salah paham," jelas Abra.
"Tapi ada sesuatu diantara kalian yang tidak bisa diungkapkan. Aku tahu itu," ucap Delia dalam hati.
"Maaf," ucap Delia sekali lagi.
"Lamu tak salah. Oh iya maaf tidak mengabarimu tentang kepergianku ke Singapura. Aku pergi tiba-tiba saja," ucap Abra.
"Tidak apa, yang penting sekarang kita sudah bertemu kan? Emm kamu tahu Dilla dan Kanaya kan?" ucap Delia.
"Oya tahu, ada apa dengan mereka?" tanya Abra penasaran. Pasalnya mereka adalah teman dekat Camelia juga.
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja mereka memberitahuku kalau Camelia sudah kembali ke sini dan katanya lagi, ternyata Camelia melanjutkan pendidikannya ke Turki. Itupun Camelia yang cerita sama mereka."
"Benarkah? Kamu tidak lagi bercanda kan?" tanya Abra Seakan tidak percaya.
__ADS_1
"Hem iya, benar Abra. Mana mungkin aku bercanda dengan berita sepenting ini."
"Terima Kasih atas infonya Delia," ucap Abra tanpa sengaja memegang tangan Delia.
Delia tersentak kaget. Perlahan Abra pun melepaskan pengangan tangannya pada Delia seraya berujar, "maaf Delia, aku spontan melakukannya."
"Tidak apa, kalau begitu aku duluan. tak apa kan kalau aku tinggal sendiri?"
"Oya, ini juga aku ingin pergi. Baiklah kapan-kapan kita bertemu lagi. Kamu mau kan?"
"Iya, tentu mau."
"Baiklah, aku tunggu ya."
"Iya, kalau gitu aku duluan Ab, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati dijalan."
"Iya, kamu pun begitu," ucap Delia sebelum benar-benar pergi dari sana.
Se-perginya Delia, Abra kembali ke kantornya. Diperjalanan, ia kembali terusik dengan kata-kata yang sempat hinggap didalam hatinya.
"Camelia, kamu kah itu?" tanya Abra dalam hati saat ia telah berada didalam ruangannya.
...***...
Camelia baru saja pulang dari menemani Papa Carel bertemu dengan teman bisnisnya. Ia terlihat sangat bersemangat tatkala baru menginjakkan kaki di pintu masuk.
Ia bahkan langsung saja menuju kamar karena ia ingin kembali melanjutkan membaca diarynya. Setelah mendapatkan posisi duduk yang nyaman, perlahan Camelia membuka buku usang yang menyimpan segala kenangan yang dulu didalam hidupnya.
Flashback sepuluh tahun yang lalu saat mereka kelas dua sma. Saat itu, baik Abra maupun Camelia, sedang berada diperpustakaan untuk mencari buku referensi dari mata pelajaran pak Ikbal.
Apalagi pak ikbal terkenal dengan julukan mr. Arogan. Siapa yang melanggar aturannya, siap-siap diberikan hukuman atau bahkan lebih parah, dipermalukan didepan semua siswa dengan sebuah gardos yang bertuliskan 'aku tidak taat aturan' memalukan bukan? Itulah sebab mereka berada disana.
"Udah dapat belum, entar lagi masuk nih," ucap Abra yang lagi duduk karena lelah mencari buku yang dimaksudnya.
"Belum, eh tunggu-tunggu. alhamdulillah akhirnya dapat juga. Tapi bukunya sisa satu bagaimana ini, Ab!" ucap Camelia cemas.
"Udah biar itu saja kitakan bisa berdua."
"Baiklah, ayo pergi."
Selesai dari perpustakaan, mereka bergegas ke ruangan kelas. Tak lama setelah sampainya mereka, Pak Ikbal terlihat masuk kedalam kelas. Membuat anak-anak sma itu, menahan nafas sejenak.
"Selamat pagi anak-anak," ucap Pak Ikbal.
"Selamat pagi pak," ucap keseluruhan siswa.
"Yang tidak mempunyai buku silahkan keluar," ucap Pak Ikbal setelah duduk dimeja kebesarannya.
Tiba-tiba Abra mengangkat tangannya hendak mengatakan sesuatu.
"Iya Abraham, ada apa?" tanya Pak Ikbal seraya menurunkan sedikit kacamatanya untuk melihat Abra.
"Begini pak, aku dan Camelia berbagi buku bersama. Boleh?" ucap Abra ragu-ragu.
"Berapa waktu yang bapak berikan untuk mencari buku itu?" tanya Pak Ikbal.
__ADS_1
"Hampir seminggu, Pak," jawab Abra.
"Jadi?" tanya Pak Ikbal.
"Maaf pak," ucap Abra tahu akan maksud Pak Ikbal yang bertanya seperti itu.
Semenit kemudian, Abra berjalan keluar kelas. Camelia terkejut, ia hendak protes tapi segera dicegah oleh Abra.
"Jangan khawatir," ucap Abra menenangkan.
Se-keluarnya Abra dari kelas, ia langsung menjalani hukumannya. Ia pun berlari mengelilingi lapangan basket.
Sedangkan didalam kelas sendiri, Camelia tampak cemas dengan Abra. Bagaimana tidak, Abra harus mengelilingi lapangan basket itu sampai pelajaran selesai. Yah, memang lapangan basket itu tidak terlalu luas tapi jika menunggu sampai pelajar selesai, berapa kali harus mengelilinginya kan?
"Semoga kamu baik-baik saja, Abra," doa Camelia dalam hati.
Seakan mempunyai kontak batin, Abra merasakan kalau Camelia sedang mendoakannya.
"Terima Kasih, Camelia," batin Abra. Ia tersenyum.
Sama seperti Abra tadi, Camelia pun dapat merasakan kalau Abra menyebut namanya. Baru setelah itu, fokus Camelia sepenuhnya ada pada penjelasan pak ikbal.
Satu setengah jam kemudian, pelajaran pak ikbal baru selesai. Belum juga Pak Ikbal keluar dari ruang kelas, Camelia sudah berlari keluar menuju ke lapangan basket menemui Abra.
"Udah, stop. pelajaran Pak Ikbal sudah selesai. Sekarang kamu bisa istirahat," ujar Camelia.
"Ah, lelahnya. Ayo kekantin aku lapar nih," ucap Abra
"Ayo."
Mereka pun bergegas ke kantin, tapi belum juga mereka sampai, Pak Ikbal kembali memanggil mereka.
"Iya pak," ucap mereka hampir bersamaan.
"Kalian bisa tolong antar dia ke ruangan pak kepala sekolah?. Bapak sedang buru-buru ada urusan penting."
"Dia siapa pak?" tanya Camelia.
"Dia siswa baru. Namanya Delia. Mungkin kalian akan sekelas nantinya jadi akrab-akrab lah kalian dengan Delia," terang Pak Ikbal.
"Iya pak," ucap mereka bersamaan.
"Yuk ikut kami, kami akan mengantarmu ke ruangan pak kepala sekolah," ajak Camelia.
Delia hanya mampu menganggukkan kepalanya karena dia masih malu dengan mereka berdua. Berbeda dengan Camelia yang cepat akrab, ia langsung saja merangkul Delia menuju ke ruangan pak kepala sekolah. Sambil berbincang santai. Seperti menanyakan dari mana dia berasal, tinggal di mana.
Untuk Abra sendiri, sejak Pak Ikbal meninggalkan mereka bertiga, pandangan Abra tak lepas dari Delia. Abra terus melihat Delia hingga ia tak sadar kalau ada tembok didepannya. Hampir saja Abra menabraknya jika saja Camelia tidak menegurnya.
"Kamu lihat apa sih? Hampir saja jidat kamu dicium tembok. emang mau!" ucap Camelia.
"Aku ... aku lihat jalan lah," elak Abra untuk menyembunyikan rasa malunya karena sudah ketahuan oleh Delia. "Suddah-sudah, nanti ke buru masuk. Sebelum kita mengantar Delia," lanjut. Abra.
"Baiklah, ayo Delia. Kamu hiraukan" saja kejadian tadi," ucap Camelia membuat Delia mengangguk dan tersenyum.
...To be continued....
Jangan lupa like, vote & komennya ya ...
__ADS_1
...Salam hangat dariku...
...By peony_8298...