
Sembilan tahun yang lalu seorang lelaki berbaju dongker baru saja tiba di Turki. Ia adalah seorang mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Ia datang ke Turki sebab hendak menimba ilmu. Ia akan berkuliah di negara yang terkenal akan keragaman objek wisata sejarah dan budaya.
Ia memang dari keluarga yang mampu, tapi ia memanfaatkan kecerdasan dan keberuntungannya agar ia bisa sampai mendapat beasiswa kuliah di negara ini.
Ya, dia adalah Muhammad Atharik Syam. Seseorang yang dekat dengan Camelia saat ia sudah hampir lulus di tempat kuliahnya. Saat itu, Camelia adalah mahasiwa baru yang di ospek oleh Atha sendiri. Karena berasal dari negara yang sama, mereka cepat akrab.
Kepribadian Atha pun tertutup bagi orang yang baru mengenalnya. Namun setelah bertemu dengan gadis tomboy beberapa hari lalu, ia mulai terbuka. Bahkan kepribadiannya yang tertutup itu berangsur hilang seiring berjalannya pertemanan mereka.
Ia juga tak tau mengapa hal itu bisa terjadi. Yang ia tau hanya berteman dengan gadis tomboy itu, ia bisa melupakan siapa dirinya dahulu.
"Cam," panggilnya.
"Mas Atha, ada apa?" tanya gadis tomboy itu yang tak lain adalah Camelia.
"Besok aku udah pelulusan. Kamu datang ya," ucapnya.
"Ngga ah, malu. Pasti diantara adek junior Mas, hanya aku yang datang."
"Ngga kok, banyak juga yang datang. Misalnya adik junior yang datang membantu gitu."
"Emm, baiklah. Aku kira, aku akan datang mengucapkan Mas selamat." ucap Camelia yang kembali menyeruput secangkir kopinya.
"Terima kasih." Atha bersyukur ada seseorang yang dekat dengannya dan menganggapnya sebagai keluarga dinegara ini. Meski banyak teman lainnya asal Indonesia, mereka semua tidak terlalu dekat dengannya. hanya Camelia, gadis berwatak tomboy itu.
Hari pelulusan pun tiba, Camelia ingat dengan kata-kata Abra yang harus mengubah penampilannya jika ada suatu acara yang khusus. Disinilah ia berdiri, didepan sebuah cermin memandangi dirinya dari atas kebawah.
"Masya Allah, Ca." Ia tersenyum saat memandangi dirinya. Senyuman yang tak dapat dilukiskan.
Ia sempat terpaku memandangi diri sendiri, bahkan ia tak sadar akan segini jadinya jika ia berdandan. Akhirnya Camelia pun tersadar dan mulai bersiap menghadiri acara pelulusan Atha.
Canggung itulah ia rasakan pertama kali saat ia menginjakkan kaki tempat pelulusan Atha berlangsung. Benar saja apa kata Atha. Banyak dari teman-teman seangkatannya datang ke acara tahunan ini. Akhirnya ia dapat bernafas lega. Namun kembali ia gugup tatkala mengingat penampilannya saat ini. Apakah ia akan ditegur lagi seperti terakhir kali kelulusannya atau malah sebaliknya.
"Ca ...," panggil seseorang dibelakang Camelia.
Seketika Camelia berbalik. Orang yang memanggil Camelia pun seketika juga kagum akan penampilan Camelia yang berbeda kali ini.
"Kamu Camelia kan?" tanyanya.
"Iya, Aku Camelia. Kenapa, mau menegur juga?" Camelia cemberut ia tak tau harus berdandan seperti apa lagi agar tidak kena tegur untuk kedua kalinya.
"Ngga, kamu cantik."
Blus, pipi Camelia memerah mendengar pujian itu.
"Udah, ayo masuk. Aku kira Mas udah terlambat," ujar Camelia mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
Mereka pun masuk kedalam dan menikmati acara pelulusan Atha yang berlangsung lama.
Detik, jam, minggu bahkan bulan. Mereka lewati sebagai seorang sahabat. Namun kini saatnya mereka harus berpisah karena Atha harus segera pulang ke Indonesia sedangkan Camelia masih harus tetap menyelesaikan masa studinya di negara ini.
Sebagai seorang sahabat yang baik, Camelia mengantarkan Atha ke bandara internasional. Bahkan Camelia tetap disana sampai ia melihat pesawat yang ditumpangi Sahabatnya itu sudah lepas landas.
"Sampai jumpa lagi Mas," Ucapnya dalam hati melepas kepergian Atha.
...***...
__ADS_1
Sudah berjam-jam Atha berada di pesawat. Ia heran dengan seorang gadis disampingnya yang gelisah sedari tadi. Ingin menegur, ia takut kalau-kalau ia akan dianggap kurang ajar. Ingin tak menegur ia kasihan melihat gadis berambut sebahu itu disampingnya.
Lama menimbang, akhirnya Atha memberanikan diri untuk mengajak bicara wanita disampingnya.
"Permisi ...."
Belum juga Atha menyelesaikan ucapannya, gadis disampingnya itu menatapnya tajam.
"Ada apa, kamu punya masalah?" tanyanya Sangar.
"Ti ... tidak, hanya saja aku lihat dari tadi kamu gelisah," jawab Atha.
"Ngga kok, kamu-nya aja yang gelisah," ucapnya berkilah.
Setelahnya, Atha kembali diam. Diam-diam memperhatikan gadis disampingnya ini. Bukan karena ia ingin berbuat macam-macam hanya saja kelakuan gadis disampingnya ini tidak bisa membuatnya tidur walau sejenak. Jika Atha hendak terlelap, ada saja kelakuan gadis itu yang bisa membuatnya terbangun.
Hingga akhirnya masa penderitaan Atha pun lepas saat pesawat yang membawanya sudah mendarat di bandara internasional soekarno hatta.
"Hei tunggu, kamu kan yang tadi duduk disebelahku?" tanya gadis itu ngos-ngosan mengejar langkah kaki Atha yang cepat.
"Iya, ada apa?" tanya Atha.
"Aku mau minta tolong."
Atha heran gadis sejutek dia, masih bisa minta tolong!
"Minta tolong apa?" tanya Atha pada akhirnya karena kasihan melihat gadis jutek ini.
"Kamu lihat dua orang berbaju hitam di pintu keluar itu?" Tunjuknya pada dua orang berkepala botak nan berbadan besar itu.
"Iya kenap ...." Belum juga Atha menyelesaikan ucapannya, gadis itu sudah menariknya dari sana.
"Udah tenang aja, Aku orangnya baik kok. Aku Ngga bakalan berani macam-macam. Lagian kamu juga bukan tipeku," ucapnya tersenyum sambil melihat Atha yang terkejut akibat tindak dan ucapannya yang tiba-tibanya.
Diam, Atha terpesona melihat senyum gadis jutek itu. Namun Atha segera memalingkan-malingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, berharap pikirannya kali ini salah.
"Kamu tunggu disini, Aku akan kembali dalam dua menit. Tunggu, jika aku keluar dan tak melihatmu. Awas saja ya!" ancamnya yang tak membuat Atha takut. Malah Atha tersenyum. Si gadis jutek ini ternyata bisa membuat Atha tersenyum.
Seperti katanya, gadis itu pun keluar dari toilet wanita dengan sudah merubah penampilan yang tadinya rambut sebahu itu masih terlihat, sekarang tidak terlihat lagi.
Bahkan Atha tidak mengenali kalau gadis didepannya ini adalah gadis yang sama. Gadis yang membuatnya tak karuan.
"Hei, ini aku, Sabila!" ucap gadis jutek itu. Atha mengernyit heran.
"Oh ya ampun. Ini aku yang tadi menarikmu kesini," jelasnya setelah sadar bahwa ia sebelumnya belum memberitaukan siapa namanya.
"Apa?"
"Namaku Sabila, orang yang tadi menarikmu kesini. Sudah terkejutnya? Kalau sudah, ayo ikut aku dan jangan terpesona kamu bukan tipe cowok idamanku." Kembali gadis jutek berambut sebahu itu menarik tangan Atha untuk kembali mengikutinya.
Sepanjang jalan, Atha menahan tawanya yang hampir meledak saat gadis jutek itu mengatakan dia bukan tipe idamannya.
"Kamu masih ingat dua orang di pintu keluar itu?"
Atha mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Jadi ceritanya, nanti kita berpura-pura sebagai sepasang kekasih gitu. Supaya dua orang itu tidak mengetahui aku," Jelasnya singkat.
"Apa? Ngga mau," tolak Atha.
"Ayo lah, tolong aku kali ini saja," ucapnya memelas mengatupkan kedua tangannya didepan dada.
"Sebelum kamu mau ku tolongi, coba jelaskan siapa kamu dan siapa dua orang yang ingin kamu tipu itu," ucap Atha malah bersedekap.
"Ceritanya panjang. Aku Udah ngga ada waktu lagi. Cepat, kamu mau nolongin ngga? Kalau ngga ya udah. Jangan beri aku harapan palsu gini dong," ujar Sabila.
Atha dibuat tambah heran, sejak kapan ia memberikan gadis ini harapan! Harapan palsu lagi. Saat Sabila hendak pergi, Atha menahan tangannya
"Akan aku bantuin, tapi setelah itu kamu harus jelaskan hubunganmu dengan dua orang itu."
"Janji," ucapnya tegas.
Mereka berdua pun berjalan bak keluarga yang habis pulang dari berlibur. Agar dua orang yang berbaju hitam itu percaya, Atha pun menggenggam tangan Sabila. Sabila terkejut, ia tak menyangka Atha akan bertindak sejauh ini dengan menolongnya.
Akhirnya rasa deg-degan Sabila pun hilang setelah mereka berhasil melewati dua orang berbaju hitam itu.
"Akhirnya, terima kasih ya," ucap Sabila tulus.
"Sama-sama. Eh jangan langsung pergi gitu aja, kamu masih punya utang janji," ucap Atha saat Sabila hendak beranjak pergi.
"Oh iya, aku kelupaan sangking senangnya. Aku akan menjelaskannya saat sudah di mobil," ucapnya cengegesan.
"Mobil kamu?" tanya Atha.
"Ngga lah, mobil kamu tau. Mana aku punya mobil disaat kabur begini," ucapnya kembali jutek.
"Aku ngga punya mobil."
"Oh ya ampun, baiklah terserah kamu mau naik apa. Nanti aku jelaskan disana."
Mereka telah sampai di halte bus, sambil menunggu bus tiba, Sabila pun mulai menceritakan tentang dirinya dan dua orang berwajah sangar itu.
"Dua orang yang di pintu keluar tadi adalah orang suruhan ibuku."
"Kamu habis kabur dari rumah?" potong Atha
"Iya, aku kabur karena ibu tidak mengizinkan aku pergi jalan-jalan keluar negeri. Aku kan sudah gede. Ngga suka di atur-atur lagi. Kayak anak kecil saja."
"Terus."
"Ibu tau, hari ini aku tiba. Jadi dia mengirim anak buahnya untuk menjeputku di bandara. Aku belum mau pulang takut dimarahi. Makanya aku kabur lagi," ucapnya cengegesan setelah mengutarakan masalahnya.
"Jadi sekarang kamu mau kemana?" Tanya Atha.
"Ngga tau," ucapnya tertunduk. "Tapi kamu tenang aja. Aku ngga bakalan maksa kamu buat nolongin aku lagi," lanjutnya
"Kamu ngga boleh terus begini, masalah tuh harus di hadapi bukan malah dihindari. Mana bisa masalahmu kelar sendiri tanpa kamu mengurusnya, ngga kan!" ucap Atha memberikan Sabila saran.
"Kamu benar, baiklah. Kalau gitu aku pergi dulu. Terima kasih atas saranmu," ucapnya sebelum pergi meninggalkan Atha yang mulai terpesona akan kepribadian Sabila.
...To be continued....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca ya readers.
...By Peony_8298...